Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.
Showing posts with label media massa. Show all posts
Showing posts with label media massa. Show all posts

Wednesday, 30 May 2018

[Cerpen]: "Permainan Api" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Minggu Pagi edisi Jumat, 25 Mei 2018)
 
    Tak ada jalan lain selain menghabisi lelaki itu, jika aku mau selamat. Aku ingin ke rumah dan menemui istriku dan berjanji tidak akan selingkuh lagi. Sekarang semua itu seperti mimpiku semasa kecil: jadi seorang pilot. Aku tidak pernah tahu dan tidak terlalu yakin apakah kelak aku bisa menjadi pilot. Pikiranku, yang ketika itu masih sangat lugu, berkata, "Aku bisa terbang seperti burung dalam khayalanku, tapi belum pernah melihat pilot bekerja."
    Di sebuah lemari antik, tubuhku kuselipkan di antara gantungan baju-baju rombeng yang baunya tidak enak. Aku tidak tahu lemari ini milik siapa, serta tidak tahu baju-baju yang mengurungku pernah dipakai siapa saja. Tetapi lelaki itu, sang suami yang sejak awal kuremehkan keberaniannya, berdiri di luar lemari dengan sebilah kapak yang siap menjebol otakku.

[Cerpen]: "Balas Dendam Paling Aneh" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto edisi Minggu, 6 Mei 2018)
 
    Kepala saya pusing, tetapi Maria menyuruh saya berbaring. Kamu jangan bangun, sebab barusan tukang sihir mengoperasi otakmu yang belakangan dikuasai hantu-hantu. Lalu Maria menata selimut di dada saya dan tersenyum manis.
    Saya heran kenapa Maria bicara seaneh ini? Dia perempuan paling skeptik yang saya kenal, namun kali itu sosok lain seakan masuk ke badannya dan mengontrol Maria sepenuhnya. Maria tidak berhenti tersenyum sampai saya mencoba bangkit dari tempat tidur. Dia hampiri saya dan dengan jengkel berkata, "Kamu mau otakmu bocor?!"
    Maria meraih cermin di sisi tempat tidur dan menyerahkannya kepada saya. Lebih baik kamu bercermin, katanya, lalu meminta saya berjanji untuk tidak kaget, karena dia masih mencintai saya dan berharap dapat menikah bersama saya dan kami punya anak banyak dan hidup bahagia selamanya.
    "Maria, kamu tidak seaneh ini? Sejak kapan kamu cinta saya?"

[Cerpen]: "Ajal Kolektor Buku" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Padang Ekspress edisi Minggu, 22 April 2018)
 
    Pada suatu hari seorang hartawan yang merasa dirinya akan mati membuka pintu rumahnya untuk semua orang yang menginginkan buku-buku koleksinya. Perpustakaan pribadi yang dibangun secara khusus di satu bagian taman di belakang rumah tersebut sangat luas. Ada beribu buku di sana; dari yang paling berkualitas hingga yang kaum kritikus sebut sebagai barang rombeng, semua ada.
    Aku dan Marcel turut ke sana setelah kunjungan terakhir kami ke suatu pantai tak menghasilkan apa pun, karena kami dirampok. Seluruh isi tas beserta dompet dirampas oleh perampok laknat. Terbengong di kantor polisi membuat kami merasa bagai orang goblok, sehingga membaca pengumuman tentang adanya pembagian buku oleh seorang hartawan, kami pun tergerak datang.
    Seorang polisi berkata, setelah mendengar kami ingin pergi ke sana, "Ya, pergilah. Nanti buku-buku itu bisa dijual untuk mengganti beberapa hal yang perlu diganti."

[Cerpen]: "Perjaka Tua" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Simalaba Online edisi 21 April 2018)
 
    Sekaya apa pun Han, tidak sekali-kali seorang perempuan ia peristri. Di kepalanya telanjur terpajang tulisan: bukan untuk dibeli. Betapa tidak berpikir sekonyol itu, kalau bukan saking banyaknya telepon masuk semenjak sang bapak, dengan penuh emosi, menempel selebaran bergambar pas foto beserta nomor ponsel Han tadi pagi. Seakan- akan ia dijual. Seakan-akan ia benda mati.
    "Saya bukan barang dan saya manusia," katanya penuh ketenangan.
    Bapak yang keras kepala tambah muak mendengar. Sedari tadi ponsel di atas meja bergetar dan bergetar, tetapi Han tak sekali pun tergerak. Setidaknya menjawab sepatah dua patah kata. Alasannya, saya tidak kenal. Dan bapaklah yang selalu mengangkat dan mendorong Han agar mau bersuara, sekadar menyahut meski sedikit. Usaha yang sia-sia, karena Han tetaplah Han.
    "Mau sampai kapan?" Kali ini Ibu menimpali. Raut kusutnya, makin kusut melihat kegemingan putra semata wayang bagai arca di suatu gunung keramat yang tidak boleh diganggu gugat eksistensinya.

[Cerpen]: "Bukan Ayahmu" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Analisa Medan edisi Minggu, 22 April 2018)
 
    Aku ke sekolah dengan semangat pagi itu. Uang yang kusimpan di tasku kubekap erat. Uang itu kubawa pagi ini dan kuserahkan pada Doni. Aku tahu ibu Doni sakit. Ia butuh uang untuk membawa ibunya ke ruang operasi. Kemarin aku janji meminjamkan uang untuknya, agar ia tidak usah ke rumah rentenir.
    Doni sudah pasti berdiri di terasnya dan menungguku dengan cemas. Ibunya pasti bingung dan bertanya-tanya dalam hati. Ibu Doni sangat penyabar. Aku mengenal beliau sedekat keponakan dengan bibi kandungnya, padahal kami bukan keluarga. Ia begitu baik, dan dahulu sebelum sakit sering membuatkanku nasi goreng.
    Nasi goreng ibunya Doni khas dan enak. Tapi, itu dulu. Sejak dokter bilang beliau mengidap penyakit, pekerjaan-pekerjaan rumah semua diwarisi oleh Doni, yang hanya tinggal berdua dengan ibunya. Tidak ada lagi nasi goreng. Tidak ada ajakan Doni agar aku mampir, sekadar main Play Station atau bicara tentang komik dan film animasi. Lagi pula, ibu Doni sakit bersamaan dengan dipenjaranya ayah Doni.

[Cerpen]: "Legenda Sumar Mesem" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Bromo edisi 8 April 2018)
 
    Mantan pesepakbola itu ditemukan mati gantung diri setelah bertahun-tahun hidup sebatang kara. Tidak ada yang menemaninya di masa tuanya. Kalau pernah mendengar sebuah hikayat, tidak akan heran saat semua bahkan jadi jauh lebih buruk dari itu; tidak ada yang bersimpati padanya, kecuali segelintir tetangga, sehingga hari pemakamannya pun amat sepi. Orang-orang datang hanya karena itu kewajiban yang memuakkan, yang memang harus dilakukan sebagai tetangga, dan sesudah itu, pergi begitu saja. Tidak ada bunga-bunga tanda duka dan segala macam. Doa-doa pun terasa singkat. Begitu kontras dengan betapa tenarnya almarhum semasa hidup.
    Ali Sumarlin, demikian nama pesepakbola itu, atau yang pada masa mudanya lebih dikenal dengan sebutan Sumar Mesem (ya, Sumar Mesem, bukan Semar Mesem), mulai dikenal gara-gara tendangan pisangnya ke gawang timnas Thailand di tahun yang telah lama lewat. Pada saat itu, saya masih terlalu dini disebut sebagai orang yang menggilai sepakbola. Saya bahkan belum paham bedanya pemain winger dan center back.

Wednesday, 28 March 2018

[Cerpen]: "Rumah Hutan" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Cendananews pada Sabtu, 3 Maret 2018)
 
    Sejak hutan yang kutinggali digunduli, aku beserta keluargaku pindah ke kota-kota besar. Kami tidak pernah bertahan selama lebih dari lima hari di suatu kota dan itu yang membuatku kemudian mengira betapa hidupku akan berakhir sial. Di hutan, di sebuah komunitas pencinta alam dan pembenci kehidupan modern serta alat-alat elektronik, aku dibesarkan dengan keyakinan bahwa manusia harus menyatu sepenuhnya dengan alam dan kami dilarang memakai alat-alat temuan zaman modern untuk pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan oleh tangan kami sendiri.
    Tentu saja, dengan kehidupan yang seperti ini, aku tidak mengerti banyak hal yang harus dimengerti oleh siapa pun yang tinggal di kota. Aku adalah anak sulung dari lima bersaudara dan ayahku telah meninggal. Akulah pemimpin di kelompok kami, sebab komunitas di hutan itu telah terpecah belah dan masing-masing kepala keluarga sepakat untuk tak lagi hidup beriringan seperti dulu.

[Cerpen]: "Rahasia di Lantai 4" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 18 Februari 2018)
 
    Aku pindah ke hotel ini dua hari lalu setelah diusir istriku yang curiga bahwa aku telah selingkuh. Sebenarnya aku tidak selingkuh, tetapi aku terpaksa pergi dari rumah dan menyelesaikan masalah kami dengan baik-baik tanpa ribut. Jadi, kupikir, menginap di luar rumah adalah solusi terbaik. Istriku tidak akan bisa berhenti mengomel saat dia sedang kalap.
    Hanya saja, sejak check-in sampai detik ini aku belum bisa tidur. Ada yang aneh di salah satu kamar pada lantai teratas, yang berada persis di atas kamarku. Tiap malam di jam tertentu kudengar keributan di sana. Seakan-akan diadakan semacam pesta dan para penghuni kamar itu bebas berlompatan ke sana kemari. Seakan-akan mereka tidak tahu bahwa siapa pun yang menginap di hotel ini juga butuh istirahat.
    Pada awalnya, tentu aku tidak terganggu dan berpikir, bahwa kebetulan saja diriku check-in ke hotel ini di saat yang bersamaan dengan diadakannya pesta mereka. Tetapi, sampai pagi berikutnya, setelah aku pergi mencari sarapan dan kembali ke kamar, orang -orang itu tetap tidak berhenti berpesta.
    Aku memang tidak mendengar ada suara musik di sekitar kamar itu, karena lantai yang membatasiku dengan kamar tersebut terlalu tebal, sehingga yang kudengar hanya gebukan beberapa kaki yang tampaknya dengan sengaja melompat terus menerus, dan dari sinilah aku menyimpulkan orang-orang itu mungkin berpesta.

[Cerpen]: "Memilih Cara Mati" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 11 Februari 2018)
 
    Melompat ke jalan adalah satu-satunya pilihan yang dapat kuambil saat itu. Jadi, tanpa sedikit pun bicara, kulemparkan tubuhku ke jalanan dan menyambut truk panjang yang entah berbobot berapa ton. Tubuhku hancur setengah, berguling-guling, dan pada saat itu juga nyawaku melayang di angkasa. Kupandangi mendung yang menurunkan air hujan. Kupandangi darahku yang mengalir menuju selokan. Orang-orang bergerumbul di situ, dan truk yang melibasku, yang sudah berhenti belasan meter jauhnya setelah aku tewas, meninggalkan warna kemerah-merahan di aspal yang barusan dijejak bannya. Di atas sini, aku tidak bisa mendengar suara-suara mereka. Aku hanya bisa berkata kepada diriku sendiri, bahwa: "Aku sudah mati."
    Setelah ini, apa lagi?
    Aku sudah mati. Karena bosan hidup, kuputuskan sebaiknya aku mati saja. Sebuah truk adalah cara yang paling cepat sekaligus sensasional, kalau Anda ingin mati dan jadi perhatian warga. Koran-koran akan mencetak berita tentang ini. Media-media online tak ketinggalan akan memuat kisah kematianku. Bahkan, bibir orang-orang yang tidak juga kukenal turut menyampaikan soal mampusnya seorang mahasiswi akibat secara sengaja melompat menyambut truk yang sedang melaju kencang.
    Apakah orang-orang ini akan menganggap beritaku penting?

Wednesday, 14 February 2018

[Cerpen]: "Penjaga Marni" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Solopos edisi Minggu, 11 Februari 2018)
 
    Aku belum pulang, meski dua jam duduk. Tiga gelas kopi plus sepiring singkong dan pisang goreng tandas, tapi satu-satunya yang membuatku datang belum tercapai.
    Marni, dengan wajah polos dan tubuh sintal, ke sana kemari membersihkan gelas dan piring-piring kotor. Sesekali ia jawab pertanyaan pengunjung warung. Kuamati dari pucuk rambut sampai kaki. Dada indah, pinggul ideal, betis mulus, kulit sehalus gading. Semua menarik perhatian dan membuat darah lelaki berdesir.
    Satu per satu orang datang dan pergi. Satu per satu Marni menjawab total harga, dengan suara halus yang bila diimajinasikan bisa menjadi cabul. Para pengangguran di balai-balai dua hari lalu, begadang dan cekikikan semalam demi membahas keuntungan apa yang bisa mereka ambil andai Marni mau diajak pergi.
    Aku tahu mereka bercanda dan tidak benar-benar mengajak Marni keluar, misalnya ke losmen murah untuk diajak pesta—satu wanita, tujuh lelaki. Minumannya dipasangi obat tertentu sehingga si gadis tidak sadar kesuciannya terancam. Satu demi satu biadab pun menikmati raga surgawi.

[Cerpen]: "Tamu Misterius Pembawa Pesan" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Padang Ekspres edisi Minggu, 4 Februari 2018)
 
    Suatu malam kudengar ketukan di pintu rumahku. Aku keluar dan memeriksa siapa yang bertamu di jam yang kurang sopan ini, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Aku lalu kembali ke kamar dan sekali lagi mendengar ketukan dari pintu depan. Kukira mungkin anak-anak dusun sedang bercanda, dan memang beberapa tetangga yang belum lama ini kukenal, karena aku warga baru di kompleks ini, mengeluh bahwa anak-anak dusun itu senang memanjat pagar perumahan dan membuat masalah-masalah.
    Salah satu tetangga mencoba mengingatkanku, "Anak-anak itu putus sekolah dan kebanyakan mereka dilahirkan sebagai kriminal. Anda harus mulai jaga diri."
    Tentu aku tidak tahu bagaimana menanggapi saran semacam itu, tapi tetangga yang berkata begitu tampaknya bisa dipercaya. Orangnya bukan sejenis penyebar gosip yang bermulut tanpa rem; tetanggaku ini terlihat pendiam dan sering menoleh ke kiri dan kanan ketika ngobrol denganku di hari perkenalan itu. Ketika itu aku berpikir, mungkin baiknya kulihat dulu beberapa kejadian yang membuktikan ucapan orang ini benar.
    Masuk hari ketiga, setelah semua penghuni kompleks kukenal, tidak ada keraguan bahwa aku memang harus terus waspada. Tidak kurang dari tujuh tetangga memberiku peringatan soal anak-anak dusun di luar kompleks.

[Cerpen]: "Dunia Silver" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Takanta edisi Minggu, 4 Februari 2018)
 
    Sarimin merasa dirinya berada di cermin. Anehnya, dia melihat tubuhnya sendiri berbaring di tempat tidur yang letaknya persis di depan cermin. Bagaimana dia ada di dalam cermin kamarnya, serta bagaimana bisa melihat tubuhnya sendiri padahal merasa tidak tidur, ia tidak tahu.
    Sarimin mengira ini pasti mimpi.
    "Aku harus keluar. Kalau tidak, nanti telat," pikirnya mengingat-ingat janji temu dengan Suketi, pacar barunya.
    Namun, ketika hendak keluar dengan melompat, kepalanya terbentur. Dikiranya di mimpi, seseorang tidak terluka meski melompat menembus cermin. Ia terpental sampai punggungnya membentur dinding.
    Sarimin bangkit dan melihat sekeliling.
    Di luar bingkai cermin ini, semua benda berwarna silver, dari mulai lemari tempat cermin itu berada, meja belajar, kursi, jendela, foto-foto, jam, sampai tempat tidur yang kini ia tumpangi. Semua serba silver.
    Sarimin pusing tujuh keliling. Dia sadar dia bermimpi, walau aslinya seperti bukan mimpi. Bagaimana mungkin orang tidur, lantas bermimpi, kemudian merasakan sakit di kepala yang menimbulkan benjol? Padahal seharusnya tidak ada rasa sakit di mimpi, apalagi benjol!

[Cerpen]: "Sartini" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Bromo edisi Minggu, 4 Februari 2018)
 
    Jatuh cinta pada janda penjual dawet membuat hidup Mugeni agak berantakan. Di depan teras kontrakanku, pada suatu subuh, bocah pengangguran ini tersungkur dengan mulut berdarah-darah.
    Kutanya ada apa, lalu dia bilang: "Jatuh cinta membuat hidup ini ribet!"
    Tentu saja aku paham yang Mugeni maksud adalah Sartini, si penjual dawet yang berjualan sejak jam enam pagi itu, dan remaja sembilan belas tahun sepertinya jelas tak bakal mendapat jalan mulus untuk mencumbu seorang janda, tanpa mendapat omongan sana-sini yang tak sedap. Namun, bagaimana bocah ini bisa babak belur begitu, aku tak benar-benar tahu.
    Aku baru tahu setelah di hari yang sama, tepat jam delapan pagi, ibu-ibu yang hobi ngerumpi sedang berkumpul di balai dusun untuk mengimunisasi anak-anak mereka.
    Di antara ibu-ibu bermulut lancip itu, kudengar Bu Markonah berkata, "Wah, wah, Mugeni itu memang suka cari masalah. Sudah tahu pacar orang, masih dikejar-kejar juga!"
    "Memangnya bagaimana ceritanya, Bu?" sahutku yang akan berangkat kerja, yang membuat ibu-ibu itu segera memandang penuh antusias.

Wednesday, 31 January 2018

[Cerpen]: "Penjual Mata" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi Minggu, 28 Januari 2018)
 
    Sudah berhari-hari aku berkeliling untuk menjual bola mataku, tapi tidak ada yang sudi membeli. Katanya, bola mataku terlalu suci untuk orang-orang seperti mereka yang selama ini kerap mempergunakan anugerah penglihatan untuk mengeruk banyak dosa.
    Aku tidak tahu kenapa orang-orang ini begitu sadar dan tidak malu mengakui dosa yang mereka perbuat. Meski sebenarnya mereka butuh mata cadangan, sebab aku hanya menjual mataku untuk orang-orang yang kehilangan satu atau dua bola mata gara-gara karma atau (menurut dugaanku) kecelakaan, mereka tetap merasa bola mataku terlalu suci.
    Sebenarnya, penjual bola mata di negeri ini bukan hanya aku. Hampir setiap hari ada saja orang yang bola matanya tiba-tiba copot begitu saja, dan jika insiden semacam itu terjadi, siapa pun yang bersangkutan kemungkinan berpikir soal karma. Aku tidak tahu apa mereka benar-benar yakin bahwa karma memang bekerja, tapi dari pengakuan orang terakhir yang kudatangi dalam beberapa hari ini, memang itulah yang bakal dia dan orang-orang sejenisnya pikirkan.

[Cerpen]: "Reuni" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Tabloid NOVA No. 1561/XXX - 22-28 Januari 2018)
 
    Pianis yang duduk di pojok aula itu piawai mengiringi bintang di acara malam ini, seorang pria berbadan jangkung dengan wajah teduh. Cukup dengan piano, tanpa gitar, apalagi drum, tembang One Last Cry sudah membuat bulu kuduk Dina berdiri. Ia duduk tegap dan sesekali mengusap keringat di dahinya. Kalau bukan karena sifat alamiah bola mata, barangkali dia lebih suka tidak ada kedipan untuk sisa malam ini. Ia tidak lupa, dulu lelaki itu adalah bintang.
    Dan akan selalu menjadi bintang sampai malam ini.
    Dina juga tidak lupa kejadian yang menyakitkan itu. Dia lirik seseorang di kiri jauh, kira-kira sebelas kursi jaraknya. Seorang wanita tampak menikmati suguhan lagu dari si jangkung. Wanita yang dulu pernah menjadi bagian dari hidup Dina. Pernah? Ya, dan tidak bisa lebih dari pernah, meski kini wajah itu terlihat jauh berbeda. Apanya? Cantik? Diam-diam rasa iri menyelinap di hati. Bagaimanapun, memutar kenangan bisa menjadi sangat sulit.
    Sang bintang masih bersenandung.
    Dina menyapukan pandangan ke sudut lain. Dia tidak mau tenggelam terlalu lama. Biar kenangan berlalu, begitu dia membatin, dan selalu begitu sejak belasan tahun lalu. Tapi malam ini semua harus tuntas.

Wednesday, 27 December 2017

[Cerpen]: "Menyembelih Kenangan" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto edisi Minggu, 24 Desember 2017)
 
    Suatu hari dalam sebuah mimpi, seorang kekasih menyembelih Kenangan sehingga kenangan meronta-ronta sebelum kejang, lalu kepalanya menggelinding ke kolong meja. Kau tahu bentuk Kenangan? Ia serupa makhluk bawah tanah, namun lebih seram dan menjijikkan. Lebih buruk dari iblis jahanam.
    Ketika Kenangan berjaya—sebelum disembelih dahulu kala—ia suka berjoget dan bikin ribut di ruang tengah. Sang kekasih, yang mendengkur di dunia nyata, mendelik tak keruan di alam mimpi sembari membawa pedang.
    "He, Kenangan!" pekiknya penuh murka. "Kau harus mati sekarang!"
    Tapi Kenangan licik, sehingga sulit dibunuh. Ia menggelinjang dan menjelma apa saja. Benar-benar busuk! Kadang serupa bocah mungil tanpa dosa. Kadang bayi kucing yang mengeong sehingga kekasih—yang tekadnya bulat mau menyembelih—tidak tega, lalu masuk kamar dan menutup kuping dengan bantal.

Wednesday, 13 December 2017

[Cerpen]: "Bus Gaib" karya Ken Hanggara

 (Dimuat di Rakyat Sumbar edisi Sabtu-Minggu, 9-10 Desember 2017)

    Saya tidak tahu apakah bus itu milik setan atau malaikat atau kaum bidadari. Yang pasti, saat duduk di bangkunya, saya tidak merasa ada yang aneh. Di kanan kiri, juga depan belakang, para penumpang diam. Mungkin seperti saya, mereka lelah.
    Sudah dua tahun ini saya berangkat dan pulang kerja naik bus. Karena lelah, tak memperhatikan plat nomor bus (saya hampir tidak pernah melakukannya; lagi pula, pentingkah?). Saya naik begitu saja dan mencari bangku kosong, karena berpikir harus segera sampai super market depan gang rumah. Lily, anak saya, besok ulang tahun. Dan dia minta boneka Barbie plus sekantung cokelat.
    Satu-satunya suara di bus—yang biasa saya tumpangi—adalah datang dari kenek. Ia berdiri di pintu depan atau belakang, melambai ke para pejalan kaki, meneriakkan arah tujuan bus. Kadang suara kenek beradu nyanyian pengamen. Di bus, saya jarang dengar pengamen bersuara merdu. Biasanya cempreng, bahkan cenderung tidak paham nada, yang dua menit kemudian menyodorkan bungkus permen setengah memaksa demi beberapa receh.
    Tapi di bus ini tidak ada kenek atau pengamen.

Sunday, 10 December 2017

[Cerpen]: "Madrim" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Haluan, Minggu, 3 Desember 2017)
 
    Tengah malam saya terbangun. Saya pungut satu per satu kesadaran yang rontok ke bantal. Saya cari kacamata dan memasangnya. Ini kelewat batas. Bukan baru sekali saya bangun tengah malam. Entah berapa kali.
    "Sudah waktunya diberi pelajaran!"
    Saya bangkit. Di pinggir kasur ada kursi. Di situ setumpuk buku tentang satu tokoh berpengaruh di kota ini saya taruh; pagi sebelumnya saya ke perpustakaan dan pinjam buku-buku buat bahan menulis novel sejarah. Saya pindah setumpuk buku itu ke kasur dan saya geser kursi biar ada tempat longgar.
    Mau tidak mau, karena pekerjaan ini—buku-buku lumayan berat, ada kali sepuluh kilo—rasa kantuk saya pelan-pelan lenyap. Kalau diibaratkan hape, barangkali baterai saya dua puluh persen, dan nambah walau tidak di-charge. Demi hal satu ini, malam ini saya rela waktu tidur terpotong. Tak lagi seperti malam-malam terdahulu yang berakhir dengan tutup kepala oleh bantal, karena saya tidak mau badan saya pegal-pegal sebab kurang tidur.

Friday, 17 November 2017

[Cerpen]: "Otobiografi Pohon" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Majalah Femina edisi 30/2017)
 
Pohon-pohon ingin bicara, tetapi mereka tidak punya keberanian. Kalau saja semua pohon di dunia berani bicara, mungkin dunia akan berbeda. Sayangnya, pohon-pohon menahan diri untuk bicara. Dan kau cuma bisa dengar daun-daunnya bergesekan. Itulah cara pohon menggumam, bukan bicara. Dan bila kau melihat pohon bergoyang-goyang, maka ia sedang berpikir.
Jangan sebut angin, karena ia tidak tahu urusan. Di kota ini, pepohonan bergerak atas kehendak pohon itu sendiri. Memang benar angin mampir ke pucuk daun, tapi ia sekadar bergelayut sebelum pergi. Asal kau tahu, angin sangat tolol. Kerjaannya main ke sana kemari dan kalau salah jalan, jadi kambing hitam.
Teman Ibu mengajariku berbagai nama angin yang aneh. Namanya sulit disebut, karena saking bagusnya, tapi nasib angin tidak lebih baik dari toilet. Angin tidak cuma dibenci, tetapi juga dikutuk karena membunuh banyak nyawa. Semua mati oleh angin. Aku rasa, ia pantas dibenci. Dan teman Ibu itulah angin, meski bukan hanya dia angin di kehidupan kami.

[Cerpen]: "Warisan Terakhir Kolektor Gigi" karya Ken Hanggara


(Dimuat di Tribun Jabar edisi Minggu, 5 November 2017)
 
Cukup lama juga Brenda menjadi kolektor gigi. Ia mengaku mendapat banyak gigi ketika masa perang masih berlangsung. Itu bertahun-tahun lalu, ketika dia masih sangat muda, karena sekarang kami sudah menyebutnya bau tanah.
Orang-orang tidak suka Brenda. Dari dulu hampir selalu begitu. Brenda penganut aliran sesat, Brenda si pemuja setan, dan lain-lain. Tuduhan serius tidak pernah Brenda masukkan hati. Sejak muda sudah tidak punya banyak teman, dan saat tubuhnya menua, kurasa ia tidak lagi memiliki teman, kecuali aku.
"Mereka hanya tidak betul-betul mengerti," katanya selalu, ketika ada yang cukup dekat dengannya mengingatkan akan kebencian semua orang terhadapnya. Brenda tidak pernah cemas memikirkan itu.