Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Friday, 9 June 2017

[Cerpen]: "Sampai Tua dan Mati" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Lombok Post edisi Minggu, 4 Juni 2017)
 
    Setiap malam aku selalu berjalan berkeliling rumah mewah peninggalan almarhum suamiku. Biasanya satu malam kuhabiskan menelusuri ruang tertentu dalam rumah, tapi aturan itu tidak selalu berlaku. Kadang-kadang aku hanya suka berjalan saja dari ruang satu ke ruang berikut, tanpa memikirkan apa-apa, sampai azan subuh terdengar.
    Rumah ini memang sangat besar. Setiap ruangnya bahkan dapat menampung lebih dari lima puluh orang, jika memang dibutuhkan. Hanya saja, sejak kami menikah, sebab aku tidak bisa mengandung bayi, rumah ini tetap sepi. Beberapa pembantu memang ikut tinggal di sini, tapi mereka tidak dapat meramaikan rumah.
    Suatu ketika, sebelum meninggal, suamiku mengeluh, "Betapa sia-sianya rumah ini. Kita tidak bisa memenuhi ruang-ruangnya dengan banyak orang, kecuali tamu-tamuku yang kadangkala datang sekadar untuk keperluan bisnis."
    Aku sendiri tahu aku tumbuh dari keluarga tak berpunya. Beberapa kerabatku gila, dan semua orang tahu itu, sehingga pergaulan di desa dengan orang-orang sekitar tidak memberiku banyak kenyamanan. Keluargaku sendiri tidak peduli soal itu, meski semua orang menganggap kami keluarga tertutup dan tidak bisa diharapkan.

[Cerpen]: "Hotel Tua" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto edisi Minggu, 4 Juni 2017)
 
    Ada yang tidak beres di kepala resepsionis yang memberiku kunci kamar nomor 21. Ia tidak ramah dan tidak sepenuhnya mengerti yang kukatakan, dan hanya mengangguk sekenanya saat kubilang, "Teman saya tadi datang."
    Tentu kujelaskan identitas temanku tersebut, beserta segala ciri, yang kutahu sangat mudah dihafal oleh siapa pun yang tidak temanku kenal. Temanku itu memang unik; dia seniman yang senang menyebut coretan-coretan tak berarti sebagai barang berharga dan suatu hari nanti dapat digunakan untuk membeli dunia. Ia juga senang bicara dan pamer bahwa karyanya sering dipamerkan secara eksklusif di tempat-tempat terkenal, di dalam maupun luar negeri. Intinya, tidak ada yang harusnya merasa kesulitan mengenali orang macam temanku.
    Bagaimana dapat kusebut beres? Bahkan, untuk mengenali seniman seunik itu saja, seorang resepsionis tidak mampu? Ia cuma menggeleng dan mengangkat sebelah tangan tanda tidak tahu.
    Tetapi, aku tidak protes atau bertanya lagi pada resepsionis aneh itu. Aku putuskan langsung ke kamar nomor 25, yang tidak jauh dari nomor kamar yang kusewa. Temanku baru saja mengirim pesan, "Di kamar 25."
    Tepat saat itu, resepsionis yang kubicarakan justru mengangkat telepon dan mulai mengobrol panjang lebar dalam bahasa santai, seakan-akan tidak ada tamu di depannya. Seakan-akan aku tidak dianggap atau seakan-akan hotel ini semacam toilet umum yang dapat dipakai sesuka hati oleh siapa pun dan untuk keperluan apa pun. Aku tidak tahu hotel macam apa yang kusinggahi sebagai tempat bermalam ini, tapi mungkin memang cocok untuk tujuanku kemari. Dan barangkali memang hotel rusuh macam inilah yang temanku dambakan.