Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.
Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts

Friday, 17 November 2017

[Cerpen]: "Otobiografi Pohon" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Majalah Femina edisi 30/2017)
 
Pohon-pohon ingin bicara, tetapi mereka tidak punya keberanian. Kalau saja semua pohon di dunia berani bicara, mungkin dunia akan berbeda. Sayangnya, pohon-pohon menahan diri untuk bicara. Dan kau cuma bisa dengar daun-daunnya bergesekan. Itulah cara pohon menggumam, bukan bicara. Dan bila kau melihat pohon bergoyang-goyang, maka ia sedang berpikir.
Jangan sebut angin, karena ia tidak tahu urusan. Di kota ini, pepohonan bergerak atas kehendak pohon itu sendiri. Memang benar angin mampir ke pucuk daun, tapi ia sekadar bergelayut sebelum pergi. Asal kau tahu, angin sangat tolol. Kerjaannya main ke sana kemari dan kalau salah jalan, jadi kambing hitam.
Teman Ibu mengajariku berbagai nama angin yang aneh. Namanya sulit disebut, karena saking bagusnya, tapi nasib angin tidak lebih baik dari toilet. Angin tidak cuma dibenci, tetapi juga dikutuk karena membunuh banyak nyawa. Semua mati oleh angin. Aku rasa, ia pantas dibenci. Dan teman Ibu itulah angin, meski bukan hanya dia angin di kehidupan kami.

[Cerpen]: "Warisan Terakhir Kolektor Gigi" karya Ken Hanggara


(Dimuat di Tribun Jabar edisi Minggu, 5 November 2017)
 
Cukup lama juga Brenda menjadi kolektor gigi. Ia mengaku mendapat banyak gigi ketika masa perang masih berlangsung. Itu bertahun-tahun lalu, ketika dia masih sangat muda, karena sekarang kami sudah menyebutnya bau tanah.
Orang-orang tidak suka Brenda. Dari dulu hampir selalu begitu. Brenda penganut aliran sesat, Brenda si pemuja setan, dan lain-lain. Tuduhan serius tidak pernah Brenda masukkan hati. Sejak muda sudah tidak punya banyak teman, dan saat tubuhnya menua, kurasa ia tidak lagi memiliki teman, kecuali aku.
"Mereka hanya tidak betul-betul mengerti," katanya selalu, ketika ada yang cukup dekat dengannya mengingatkan akan kebencian semua orang terhadapnya. Brenda tidak pernah cemas memikirkan itu.

Wednesday, 8 November 2017

[Cerpen]: "Cara Mati yang Sulit Dipercaya" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Radar Mojokerto edisi Minggu, 5 November 2017)
 
Aku tidak yakin akan pulang malam ini. Bahkan, aku juga tidak yakin apakah bisa pulang dalam beberapa hari atau bahkan beberapa bulan ke depan. Secara tidak sengaja, setelah ketahuan mencuri perhiasan di rumah mantan majikanku, aku bunuh dua orang. Mereka satpam dan pembantu yang memergokiku sesudah beraksi.
Tentu aku tidak berniat menghabisi siapa-siapa. Aku hanya masuk rumah mewah mantan majikanku demi sekotak perhiasan, yang kukira sebagian besarnya adalah hakku. Sejak dulu aku bekerja pada orang yang tidak manusiawi dan sering menahan hakku sebagai body guard-nya. Jadi, mencuri sedikit hartanya kurasa tidak akan masalah.
Sayangnya, aku sial. Si satpam dan pembantu yang berbuat tidak senonoh di salah satu kamar memergokiku keluar dari kamar majikan mereka. Sebelum mereka membuat kebisingan, kuhabisi dua orang itu dengan pedangku. Di ruang lain, kudengar mantan majikanku berteriak dan meminta sang istri untuk sembunyi di kamar.

[Cerpen]: "Sebuah Tempat yang Barangkali Tak Ada di Peta" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Minggu Pagi edisi Jumat, 3 November 2017)
 
Ada sejuta hal yang membuat seseorang memutuskan lari dari rumah dan kampung halamannya dan tak pernah kembali, tetapi jika saja alasan-alasan itu berupa batu-batu kerikil, aku hanya akan memungutnya satu, dan batu kerikil tersebut tidak lebih menarik ketimbang yang lain.
Aku lari dari rumah dengan alasan sederhana: aku bosan dengan kehidupanku. Aku yakin di luar sana ada banyak peluang yang memungkinkanku tumbuh menjadi sosok yang lain dari ibu atau ayahku. Aku yakin kehidupanku tersita di suatu tempat yang jauh dari kampung halamanku, bahkan sesaat setelah Tuhan menitipkan ruhku ke janin yang mulai siap di rahim ibuku.
Aku tidak tahu dari mana pikiran ini datang, tetapi aku percaya tempat ini bukanlah tempatku dan aku tidak akan dapat mencapainya dengan hanya duduk pasrah. Akhirnya, aku kabur pada suatu malam dengan membawa barang-barang seadanya.

Sunday, 29 October 2017

[Cerpen]: "Surga Kiriman Tuhan" karya Ken Hanggara

(Dimuat di basabasi.co pada Jumat, 27 Oktober 2017)
 
    Aku terbangun dan menemukan tubuhku berada di tepi jurang. Jurang ini bukanlah jurang biasa, karena dalamnya sungguh tak terkira, sehingga yang bisa kulihat hanyalah kegelapan di bawah sana. Kubayangkan seseorang akan hancur serupa bubur kalau saja jatuh dari atas sini. Dan kurasa sebaiknya aku harus pergi sesegera mungkin agar tidak tersandung.
    Aku tidak tahu dari mana pikiran macam ini datang: kesialan selalu datang tanpa disangka-sangka. Siapa tahu, entah karena angin badai atau mendadak tanah di bagian tepi jurang ini ambrol, pada akhirnya aku jatuh dan hancur lebur di bawah sana?
    Aku mundur beberapa langkah, lalu berjalan setelah membalikkan badan dan tahu betapa sejauh mata memandang hanya ada pasir. Aku tidak ingat apa pun yang terjadi sebelum ini. Barangkali seseorang menculikku atau apa, tetapi itu mustahil. Aku tidak terlibat kejadian-kejadian yang bisa menjadi alasan bagi siapa pun untuk mencelakaiku. Aku juga bukan orang kaya.

[Cerpen]: "Pemasungan Mudakir" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Sulbar, Sabtu, 21 Oktober 2017)
 
    Dalam suatu kebakaran empat tahun silam Mudakir selamat, tetapi otaknya tidak seberes dahulu. Dia menjadi gila setelah melihat pacarnya sendiri terbakar hidup-hidup, sementara dirinya cedera dan tidak berdaya menolong siapa pun.
    Pada saat kejadian itu, aku tidak di kota ini. Aku masih memiliki pekerjaan di kota lain sebagai asisten editor di majalah ternama, namun setelah ditimbang ulang mengenai keadaan ibuku yang kesepian, sebab seluruh saudaraku telah menikah, aku pun kembali ke kota ini dengan pekerjaan baruku di sebuah kantor periklanan.
    Perkenalanku dengan Mudakir sebenarnya bukan terjadi baru-baru ini. Tentu saja, dia teman lamaku. Aku lahir dan tumbuh di kota ini, sehingga ketika kembali ke rumah yang berisi ibuku seorang, lalu kudengar kabar teman lamaku itu menjadi gila, aku pun sedih.
    Ibu bercerita dengan begitu jelas bagaimana Mudakir menjalani hari-hari awalnya setelah kebakaran. Anak itu murung dan sering bicara sendiri, bahkan tidak jarang dia memukul kepalanya dengan batu bata.
    Suatu kali, karena dikhawatirkan Mudakir tidak mampu menahan hasrat melukai diri dengan benda-benda yang jauh lebih berbahaya, keluarga dan warga sepakat untuk memasungnya.

[Cerpen]: "Pohon Uang" karya Ken Hanggara


Gambar dari pixabay.com
(Dimuat di litera.id pada Sabtu, 21 Oktober 2017)

    Sejak keluar dari penjara, sulit bagiku mencari pekerjaan. Aku berkeliling ke setiap bagian kota kecil ini, tetapi tidak satu pun orang sudi mempekerjakanku. Akhirnya, aku hanya berakhir di depan televisi busukku, satu-satunya harta berharga yang tak disentuh oleh siapa pun selama aku dipenjara (karena benda itu sudah tua dan tidak mungkin laku dijual), dan menonton acara-acara tidak bermutu, lalu tidur sambil menahan lapar dari waktu ke waktu.
    Uang tabunganku selama bekerja menggotong tumpukan kertas atau membungkus produk-produk mebel di penjara tidak akan bertahan lebih dari dua tahun. Pada akhirnya semua uangku akan habis, dan jika itu terjadi, bagaimana caraku melanjutkan hidup?
    "Andai saja di dunia ini ada pohon uang, tentu tidak akan ada penjara. Orang-orang bisa menanam pohon uang mereka sendiri sehingga tidak perlu ada kekacauan di muka bumi," pikirku suatu ketika.

[Cerpen]: "Gadis Cenayang" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Bromo, Minggu, 22 Oktober 2017)
 
    Kenakalan Lili belum sampai di vas bunga Oma yang pecah. Ia tidak juga berhenti setelah pembantu kami terpincang-pincang dengan kaki berlumur darah; berkat pecahan beling vas yang sengaja Lili pasang di bawah tempat tidur Bi Minah.
    Anak itu anak setan, itu yang Mama bilang. Mulanya kukira aku salah dengar, tapi Mama mengulang lagi dan lagi, "Memang anak setan, ya." Selalu begitu. Dan anehnya, Lili tidak pernah merasa terganggu dengan ucapan ini, atau ia justru terlihat bahagia dan semakin menjadi-jadi.
    Aku tujuh belas tahun, Lili empat tahun di atasku. Semua teman-teman Lili, tentu saja sibuk mengejar apa yang mereka cita-citakan, tapi tidak kakakku. Ia sibuk bermain bunga di teras rumah kami sejak putus sekolah beberapa tahun silam. Atau setengah hari ia habiskan waktu di halaman belakang untuk memberi makan ikan-ikan.
    Lili seakan hidup di dunianya sendiri dan kami tidak bisa mencegahnya, atau tidak bisa memberinya batas antara nyata dan khayal, antara kebenaran dan fantasi. Lili tidak akan bisa sembuh, itulah yang Papa katakan.

Tuesday, 17 October 2017

[Cerpen]: "Masih Bernyawa" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Banyuwangi, Minggu, 15 Oktober 2017)
 
    Tubuhku sudah sangat rusak dan aku tahu itu. Aku dapat merasakan sesuatu yang jahat menggerogoti tubuhku menit demi menit, dan mungkin besok lusa aku sudah mati. Kubayangkan organ tubuhku habis dimakan benda jahat yang entah berbentuk apa, yang berada di rongga badanku, kemudian aku seperti mumi. Aku tahu, jika aku mati tidak ada yang peduli. Aku membusuk dengan cepat dan mengering seperti daun rontok. Tak ada yang menangis.
    Aku masih hidup. Heran juga. Kenapa tidak ada yang membunuhku saja? Kenapa aku hidup jika harus semenderita ini? Di sini tidak ada tempat hangat. Semua rumah dan gedung menutup diri dari gelandangan sepertiku. Aku bukan penjahat, tetapi Anda tidak boleh percaya begitu saja kepada orang yang datang tanpa pekerjaan, juga tanpa sanak famili. Memang begitu seharusnya. Kiranya orang-orang sangat tepat memperlakukanku begitu. Hei, manusia, jangan pedulikan aku agar kalian tidak celaka! Seakan itulah yang kemudian ingin kukatakan ke seluruh orang yang kutemui.
    Di kota ini aku sendirian dikarenakan satu hal yang tidak bisa kukatakan. Aku tidak punya tempat tinggal tetap karena uangku habis. Sebelumnya aku bekerja di satu tempat yang membuat tenagaku terkuras. Aku membungkus dan membungkus kado setiap hari. Aku berangkat selepas subuh dan pulang dua belas jam kemudian. Aku pergi ke pabrik pengemasan laknat itu, dan di sana aku terus membungkus. Kertas-kertas kado itu tidak berguna, kataku dalam hati, tetapi terus saja kubungkus berbagai kado dan kulihat setiap lembar kertas tertawa di depanku. Aku tahan emosiku. Kalau aku tidak membungkus, aku dipecat dan tidak makan.

Monday, 9 October 2017

[Cerpen]: "Surga Pembangkang" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Kompas, Minggu, 8 Oktober 2017)
 
    Herman bermain-main di dalam tubuhku. Ia bajak laut dan aku cangkang raksasa. Ia membawa sepuluh prajurit terakhir di hari menjelang kiamat, lalu bersembunyi dalam cangkang—dalam aku—bersama kesepuluh prajuritnya.
    "Sekarang kamu putuskan sebaiknya mengusir kami atau tidak. Sebab kalau sudah telanjur sembunyi, sampai sembilan bulan kami tidak keluar," kata Herman padaku.
    Aku tidak ingin dia pergi, maka kukatakan terserah pada mereka.
    Begitulah, Herman dan sepuluh lelaki gagah perkasa tidur dalam cangkangku pada satu malam. Tubuh mereka hangat dan basah. Aku sesak napas karena tubuhku ini tidak terlalu luas untuk menampung terlalu banyak manusia.
    Suatu hari Herman bertanya kenapa aku merenung. Kujawab aku lelah, tetapi tidak sekali-kali membayangkan ingin membuang Herman dari hidupku. "Kau jadi bagianku, aku bagianmu," kataku.
    Herman menambahkan betapa kami memang satu, sekalipun sepuluh prajurit yang ia bawa turut bersembunyi dalam cangkangku.

[Cerpen]: "Tentang Api, Anjing, dan Nabi" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Koran Tempo, Sabtu, 7 Oktober 2017)
 
    Seandainya aku Nabi Ibrahim, pastilah tubuhku tidak matang dilahap api. Aku dan api kawin di bawah perjanjian abadi. Kulit, daging, tulang belulang, dan api menyatu. Dalam suatu hukuman, aku bersenang-senang, namun pura-pura mati. Begitulah. Aku segar tapi bergetar. Aku girang tapi mengerang. Bisakah?
    Dari sana, dari tubuh manusiaku, darah memancar memandikan bumi orang suci. Seakan lidahku menggeliat—padahal pisau belum kering menebas indera perasa —kata-kata sumbar berserakan: Bakar, bakar, bakar!
    Aku tidak takut—seandainya aku nabi dan kondisi seburuk itu datang: orang-orang menggotong kayu buat membakarku. Aku tidak takut sebagaimana dulu saat Ayah mengancam mengikatku semalam di bawah pohon nangka karena kedapatan merokok.

[Cerpen]: Roh-roh di Tangan Mariana" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Bali Post, Minggu, 8 Oktober 2017)
 
    Di tangan Mariana bersemayam roh-roh dari zaman purba. Roh-roh itu keluar pada malam hari dan mencari makan. Apa yang kau pikirkan soal makanan dan roh jahat? Ya, roh-roh di tangan gadis manis itu, yang entah berjumlah berapa puluh, amat sangat jahat. Tidak ada seorang pun—betapapun mereka berusaha—bisa selamat seandainya satu roh di suatu malam berjanji menelan jiwa seseorang.
    Mariana mula-mula tidak sadar kemampuannya—atau lebih tepat disebut kutukan? Ia gadis biasa yang bekerja menjaga toko bunga di tepi suatu kota. Ia juga tidak punya kepentingan apa-apa, sementara banyak orang di sekitar membicarakan soal raja baru mereka yang rakus dan tamak.
    "Itu tidak penting buat saya," katanya santai. "Selama saya masih bisa makan, raja boleh bersikap semaunya."
    Tentu Mariana tidak sekejam yang orang bayangkan, jika mereka tahu di tangan dia ada roh-roh jahat yang keluar untuk makan, serta jika mereka juga tidak tahu betapa gadis itu belum sadar akan keberadaan roh-roh itu, sedangkan mereka dengar kalimat itu. Orang pasti akan menudingnya dan membawanya ke lapangan kota untuk diikat dan dibakar ramai-ramai. Tapi, tidak banyak yang orang ketahui di sini, kecuali kematian demi kematian yang terjadi setiap malam. Dan di setiap kematian, tak ada satu pun jejak dapat kau baca.
    Roh-roh jahat bekerja dengan sangat rapi dan tersembunyi. Bahkan, si gadis yang tangannya disemayami mereka sejak belasan tahun silam, tidak tahu padatnya aktivitas para roh jahat pemakan jiwa manusia.
    Mariana mendengar selentingan—karena ia tinggal di tepi kota, dekat desa tempat kaum marginal bermukim—bahwa para saudagar yang dekat dengan raja, mati tiba-tiba. Tubuh mereka digantung di puncak gedung paling tinggi dan bergoyang-goyang tertiup angin karena kering. Tubuh-tubuh itu tak ubahnya bunga yang terisap saripatinya hingga kerontang. Para petinggi kerajaan, termasuk raja, marah dan curiga. Ada konspirasi di luar sana, begitu yang mereka pikir, sehingga banyak orang tidak bersalah ditangkap dan dihukum mati tanpa bukti.

[Cerpen]: "Stasiun Berhotel" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 1 Oktober 2017)
 
    Aku tidak ingat pernah naik ke sebuah kereta, tetapi malam itu seseorang di sisiku membangunkanku dan bilang kalau kereta sampai di stasiun terakhir. Aku bangkit dari kursiku dan melihat punggung beberapa penumpang terakhir turun dari gerbong ini, gerbong yang tidak pernah kuingat pernah masuk ke dalamnya. Tetapi, aku berada di dalamnya.
    Untuk beberapa saat aku berdiri dan menoleh ke sana kemari sambil memegangi kepalaku yang berat. Aku bayangkan aku bermimpi dan belum seutuhnya sadar, hingga seseorang lain, yang ada di dunia nyata, membangunkanku ulang. Tetapi lelaki di sisiku masih di sana dan berkata, "Kau gila, Bung?"
    Ia mengajakku turun dan menganggapku gila. Kereta itu, katanya, tidak berangkat, kecuali ke neraka. Jika Anda tetap di gerbongnya, Anda dibawa ke neraka dan tidak bisa balik. Anda mau di neraka selamanya? Ia bilang, itulah kenapa di stasiun terakhir semua orang turun dan buru-buru pergi. Tidak ada yang tidak, sekalipun sangat mengantuk dan ingin tidur.

Friday, 29 September 2017

[Cerpen]: "Hukum Para Kurcaci" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Padang Ekspres, Minggu, 24 September 2017)
 
    Para kurcaci tidak cukup dengan hanya kau beri sebutir dua butir kelereng; mereka meminta lebih, bahkan yang mustahil bisa kau beri, sampai kau tak bisa lagi memberi.     Tentu Maria tak tahu hukum itu. Ia hanya tahu bahwa kaum kurcaci mungil tak berdaya. Ia bisa menang sekali tepuk, begitu ia pikir. Anak itu benar-benar celaka kalau saja ia tak punya jepit rambut, sesuatu yang belum pernah para kurcaci miliki.
    "Itu buat kami!" kata mereka menunjuk puncak kepalanya.
    Maria tersesat di dunia aneh. Dunia yang seperti alam mimpi, tetapi terasa nyata. Anak itu yakin sedang bermimpi. Bertemu puluhan kurcaci yang lucu, bahkan kadang tolol, sehingga bisa dibayangkan betapa dia akan menjadi ratu yang boleh menyuruh ini-itu.
    Maria bosan disuruh-suruh. Di rumah disuruh Mama mengerjakan segala jenis hal, dari yang wajib hingga yang bahkan seekor semut tidak akan mati bila ia tidak lakukan. Maria tak mengerti kenapa Mama suka sekali memberi perintah.

[Cerpen]: "Pasca Kematian Ikan-ikan" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Rakyat Sumbar edisi Sabtu-Minggu, 23-24 September 2017)
 
    Ikan-ikan di akuariumnya mati. Ia pikir, memang bukan saatnya lagi memelihara ikan. Selain karena daya hidupnya sebagai orang terbuang kian menipis, ia juga tak lagi punya banyak uang buat mengurus ikan-ikan hias.
    Sejak itu, Mudakir, sang mantan buangan, memutuskan hidup sebatang kara seperti seharusnya, atau seperti yang selayaknya terjadi sejak bertahun-tahun silam. Ikan-ikan yang sudah mati itu, demi Tuhan, jadi kawan terakhir Mudakir.
    Mudakir tidak punya kawan lagi sejak bebas dari penjara, kecuali berbagai macam hewan rumahan yang ia pelihara, yang datang pergi silih berganti karena maut. Di sini, di tempat yang belasan tahun ia tempati, orang tidak tahu ia salah apa di masa mudanya. Hidup begitu lama, terlalu lama bagi seorang bermasa lalu kelam. Ia malas menghidupi hari dengan makanan sehat dan pola hidup beriman.
    Mudakir biasa bangun jam delapan atau sembilan pagi, menguap lebar-lebar dan membuka jendela kamar sampai cahaya matahari membuat mata tuanya pedih. Lalu, memakai singlet dan celana pendek, ia ke warung di pertigaan. Pertigaan itu dekat gang utama, dan rumah yang Mudakir tempati berjarak tiga rumah dari gang yang dimaksud.

[Cerpen]: "Tetangga" karya Ken Hanggara




(Dimuat di Solopos, Minggu, 10 September 2017)
 
    Aku terpaksa harus pindah kamar kost setelah suatu hari seorang gadis ditemukan tewas di kamar kostnya, yang hanya berjarak semeter dari kamar lamaku. Aku yang tak tahan dengan cerita hantu, segera cuti, dan menghabiskan esoknya untuk berkeliling ke sekitar pabrik demi mencari kost baru.
    Memang, kematian gadis yang dilatarbelakangi dendam itu belum tentu membawa cerita mistis, tapi dia dekat denganku, dan kami sering berbagi problem. Misalnya suatu hari gadis itu mendapat masalah dengan pacarnya dan wajahnya dipukul dengan keras sampai lebam. Tak ada yang tahu itu, kecuali aku.
    "Lapor saja ke polisi," saranku, sebagaimana biasanya.
    "Aku sayang dia, dan tidak mungkin kubiarkan dia dijebloskan ke penjara."
    Sungguh sebuah jawaban yang membuatku jengkel sekaligus kasihan padanya. Tak tahu berapa banyak jawaban serupa yang selalu kudengar, dan tak tahu juga bagaimana bisa aku tahan terhadap cerita-cerita yang hampir selalu berakhir sama.

[Cerpen]: "Ikan-ikan di Balik Jendela Bulat" karya Ken Hanggara

(Dimuat di detik.com, Sabtu, 9 September 2017) 

  Aku melihat jendela bulat itu. Ikan-ikan berkejaran. Biru jernih melenakan. Sama seperti dulu. Hanya mungkin tidak ada anak-anak. Tidak ada teriak dan gelayut manja.
    "Ikan-ikan itu mungkin seperti kita, saling bertanya bagaimana cara makhluk di balik jendela ini makan, atau apa yang mereka pikirkan tentang kita?"
    Aku tidak bisa melupakan kalimat itu. Kalimat yang kamu pakai untuk membuat anak-anak terpana, merajuk ingin melihat pemandangan lain dari sudut lain, yang lebih menakjubkan dan ajaib.
    Ah, ikan-ikan penuh warna. Keindahan bahari kusuka, tapi kamu jelas salah meski lebih pintar. Aku malu. Apa yang kamu tanyakan padaku? Apa aku seorang peneliti? Kacamata tebal ini kudapat karena terlalu sering aku berpikir soal uang. Kerja, kerja, kerja. Dan aku bukan peneliti. Setiap manusia harus memberi jaminan untuk dirinya sendiri. Jaminan bahagia di hari tua.

Thursday, 7 September 2017

[Cerpen]: "Identitas Eksekutor" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Majalah Simalaba edisi 02/31 Agustus 2017)
 
    Lemari itu dulu milik lelaki Belanda yang gila. Orang itu menyimpan kepala para pribumi dalam lemari tersebut selama beberapa tahun. Tentu setelah kepala-kepala itu dicuci dan diawetkan ke stoples berisi cairan khusus. Tidak ada satu orang pun tahu di lemari itu terdapat banyak kepala, bahkan para pembantu yang berjumlah tujuh. Tidak ada yang tahu pula apa motif si Belanda menyimpan kepala orang pribumi yang mati ia bunuh.
    Ketika pria Belanda itu ditemukan meninggal dan tubuhnya setengah membusuk di kamar, mereka menguburnya dan menemukan dalam lemari tua itu ada puluhan kepala manusia. Para pembantu tidak mau mengurus rumah dan lemari mengerikan itu, tetapi mereka mengambil beberapa keping emas sebagai pesangon. Tidak ada anak dan istri membuat rumah si Belanda sinting terbengkalai. Semak belukar dan binatang-binatang liar merajai tempat itu.

Thursday, 31 August 2017

[Cerpen]: "Bus Menuju Peradaban" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 27 Agustus 2017) 

    Seandainya semua bus di dunia hilang, apakah mungkin Mariana masih pergi dari sini? Aku tidak dapat membayangkan sepelik apa urusan mereka yang senang mencari masalah, tetapi enggan menghadapi dan lebih memilih lari, jika semua bus di dunia ini hilang?
    Seandainya itu terjadi, aku tentu senang. Ketika bus-bus tersebut mendadak lenyap, mereka yang akan lari dari tanggung jawabnya akan berpikir ulang, "Kiranya aku dapat mencuri mobil!"
    Barangkali kesialan macam itu tidak terjadi di tempat lain, tapi aku tahu, di dusun ini, kekayaan adalah hal mustahil, kecuali seseorang membawa ilmu sihir di tubuhnya. Sayangnya, orang-orang terlalu beriman untuk tidak tahan terhadap godaan yang tidak terlalu berpengaruh dalam hidup mereka. Sebuah mobil, misalnya, tidak akan memiliki arti di sini, di suatu dusun yang bahkan untuk mengayuh sepeda pun tidak semulus yang kita bayangkan.

[Cerpen]: "Biar Hilang Ditelan Bumi" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Malang Voice, 27 Agustus 2017)
 
    Aku berharap di sekitar sini, suatu hari nanti, terjadi gempa bumi, sehingga kerak bumi retak dan menelan Jeni ke dalamnya. Aku benar-benar berharap kejadian buruk itu terjadi, meski mencintainya.
    Sebenarnya sejak lama aku mencintai Jeni, tapi kurasa dia tak terlalu suka padaku. Dia selalu mengabaikanku di depan orang-orang dan memaksaku merahasiakan seluruh hubungan kami. Tentu saja, 'seluruh' seharusnya kurang tepat, tetapi karena Jeni punya penyakit, kadangkala aku harus berperan menjadi sosok yang lain.