Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Tuesday, 31 May 2016

[Cerpen]: "Kunjungan Mantan Pacar yang Menjadi Hantu" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto, edisi Minggu, 29 Mei 2016)






Mohon maaf, cerpen ini sengaja dihapus karena dimasukkan ke dalam buku terbaru saya yang berjudul Museum Anomali. Buku tersebut berupa kumpulan cerpen bertema horror kontemporer. Jika ingin membaca cerpen ini, yang juga akan dihimpun bersama cerpen-cerpen lainnya (baik yang sudah terbit atau belum dipublikasikan sama sekali), segera pesan buku tersebut. Harga 49 ribu belum termasuk ongkos kirim Terima kasih. :)  Untuk pemesanan Museum Anomali, bisa klik Tentang Penulis.

[Cerpen Remaja]: "Penggemar Rahasia" karya Ken Hanggara

 
    (Dimuat di Harian Analisa, edisi Minggu, 29 Mei 2016)

Sekali lagi surat itu kuterima. Tak tahu siapa penulisnya. Tiba-tiba sudah di laciku. Seminggu terakhir, hampir setiap hari, selepas jam istirahat, aku temukan amplop pink dengan aroma jeruk.
    Sepertinya orang itu tahu bagaimana aku, yang begitu menggilai warna pink, serta menyimpan potongan kulit buah jeruk di tas untuk sesekali kuhirup jika jam pelajaran berlangsung. Aku suka sekali aroma jeruk.
    "Mungkin penggemar rahasia," celetuk Yuni, teman sebangkuku.
    Penggemar rahasia? Mana mungkin aku punya penggemar rahasia? Gadis tertutup sepertiku, tidak cantik, tidak berprestasi. Cuma orang kurang kerjaan yang bisa seperti itu. Bukankah untuk digemari harus memiliki syarat, minimal, fisik yang bagus? Dan aku sama sekali tak memenuhi itu.
    "Yah, mungkin dia liat sisi lainmu."
    "Sisi lain?"
    "Kejujuranmu, mungkin. Atau kamu cewek yang baik, suka membantu teman."
    Aku bertanya-tanya; kelakuan baik macam apa yang pernah kulakukan? Memang sesekali aku membantu teman. Itu pun tidak istimewa. Setiap orang pasti membantu teman-temannya.
    Aku tak percaya surat itu benar-benar untukku.
    "Okelah, kalau kamu nggak percaya. Toh surat itu datang!"
    "Buat orang lain, Yun."
    "Buatmu. 'Kan di lacimu!"
    "Salah alamat kayaknya. Ini bukan buatku."
    Yuni bilang, meski surat itu tidak mencantumkan nama penerima, ia percaya surat itu untukku, karena amplopnya pink dan beraroma buah jeruk. Di kelas, semua orang juga tahu itu ciri khasku. Aku suka aroma jeruk dan tidak ada teman sekelas yang tidak tahu soal ini.

Thursday, 26 May 2016

[Cerpen]: "Ada Timo di Depan Kamar" karya Ken Hanggara


(Dimuat di Tabloid Apakabar Indonesia Plus Edisi #06 Thn. 21 Mei - 3Juni 2016)

    Timo duduk di depan kamar kostku dan berjanji tidak pergi sebelum kuberikan apa yang ia minta. Dasar sinting. Orang ini benar-benar bikin pusing. Sudah kubilang, mau dia tiduran di situ sampai kiamat pun, aku tidak peduli.
    Timo bukan pergi; ia dengan sepenuh hati mengambil selimut dari buntalan kain, menggelarnya di teras kamar dan dengan penuh ketenangan berbaring melingkar seperti trenggiling.
    Tetangga kamar kostku tidak ada yang bereaksi, kecuali bisik-bisik. Sebagian pergi ke toilet, yang aku yakin sebagai tanda kesungkanan tertawa terang-terangan karena aku mahasiswi yang dihormati berkat otakku. Tapi sesudah ini, berkat si Timo gila, apa kata orang tentangku, ya?
    Tentu aku tidak mungkin mengabulkan permintaan itu: memberi seluruh hidupku untuknya dalam pernikahan. Kubilang pada Timo, menikah tidak sesederhana beli es teh, yang tidak dipikir matang-matang, tetapi begitu dapat langsung disosor sampai tandas. Menikah butuh pertimbangan, bukan cuma rasa suka semata.
    Kau tahu, saat mengatakan itu, jantungku berdegup kencang tak keruan. Takut si gila marah sewaktu-waktu dan memukul kepalaku dengan balok kayu di dekat kakinya.
    "Siapa bilang kamu es teh?" katanya panik.
    Timo bingung mencari bahan pembelaan. Ia meringkuk semakin dalam dan mulai menangis. Lalu ia bicara soal masa lalu. Ia dulu selalu menungguku pulang dari sekolah. Saat itu Bapak belum membeli motor, jadi kubiarkan saja si gila ini menjadi ojek gratis. Lumayan juga. Banyak teman yang iri, tetapi tidak sedikit yang mengingatkan bahwa mungkin suatu hari nanti Timo minta balas budi.

Tuesday, 17 May 2016

[Cerpen]: "Para Peneror" karya Ken Hanggara

cara membuat link pada gambar

(Dimuat di Koran Pantura edisi Jumat, 13 Mei 2016)

    Aku bersumpah dua orang itu pernah datang ke rumahku dan meminta pertunjukan digelar. Waktu itu kubilang kepada mereka, bahwa aku bukan promotor tinju. Aku tidak tahu maksud mereka dengan 'pertunjukan', tapi salah seorang membawa seekor monyet dan duduk menerawang langit di atas pohon jambu. Aku menduga dua orang ini putus asa. Tentu saja, topeng monyet bukan barang menarik di desa ini.
    Sekali itu saja mereka datang dengan monyetnya. Aku tidak memenuhi permintaan soal 'pertunjukan', yang kuyakin maksudnya adalah: mengundang anak-anak tetangga. Bila itu terjadi, pukul dua siang di halaman rumahku yang luas, yang penuh pepohonan jambu dan mangga, akan penuh sampah plastik dari permen dan snack. Akan ada banyak anak kecil di halamanku dan mereka melonjak riang menonton seekor monyet ditarik rantai di lehernya. Aku tidak suka melihat binatang disiksa, betapapun jeleknya binatang itu, dan aku benci membersihkan sampah yang diakibatkan anak-anak berbau keripik.

Monday, 2 May 2016

[Cerpen]: "Ada Neraka di Kepala Maria" karya Ken Hanggara

Ilustrasi cerpen "Ada Neraka di Kepala Maria" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Riau Pos edisi Minggu, 1 Mei 2016)
 
    Sudah seharian Maria di gudang. Tidak boleh keluar karena harus membayar mahal atas kematian Lili. Sungguh bodoh si gila itu, menyelipkan Lili, anak anjing saya, ke roda mobil tetangga dalam keadaan terikat. Anjing itu hanya mengaing-ngaing dan pada saatnya ia berhenti karena mati. Maria berteriak girang dan menari-nari seperti orang baru menangkap maling.
    Saya tanya, "Kenapa senang?"
    "Lili masuk neraka, Kak! Aku yang bikin neraka. Biar tahu rasa!" kata Maria.
    Begitu tubuh gepeng Lili diseret dari bawah mobil, diiringi tatapan jijik dan tidak tahu apa-apa tetangga kami yang sudah tua dan agak tuli, saya menjerit dan bersumpah dalam hati bahwa Maria tidak boleh bernasib lebih baik dari ini.
    Maria memang seharusnya tidak pernah bernasib baik. Sejak pertama kali ia datang kemari, ia sudah mencuri kebahagiaan saya. Dunia ini terlalu lebar untuk diisi orang seperti Maria. Saya kesal, tapi Papi bilang, "Itu saudaramu, Nak, bukan setan." Terus menerus Papi bilang begitu, sekalipun banyak yang bilang, bahwa Maria itu anak setan.