Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Monday, 27 June 2016

Lima Tahun Mengubah Banyak Hal

Kira-kira seminggu yang lalu saya membuat janji bertemu dengan seorang teman lama yang dulu saya kenal di Jakarta. Jam sembilan pagi, setelah mengurus perpanjangan SIM (Surat Izin Mengemudi) di Bangil, saya langsung bertolak ke Malang.

Sudah sejak tahun 2012 lalu (kalau tidak salah), saya berjanji suatu hari akan mampir ke Malang jika sempat. Dan tentu, sejak 2012 hingga medio 2016 ini sudah tak terhitung lagi seberapa sering saya ke Malang. Hanya saja, saya tidak pernah sempat datang ke tempat kost teman saya yang satu ini.

Dia bernama Yusuf. Asli Lamongan dan sedang menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya, Malang. Saya biasa memanggilnya Ucup. Kami berkenalan di Jakarta pada medio 2010, ketika saya masih menggeluti dunia akting. Sebagai artis pemula yang masih mendapat peran kecil-kecilan, tentu saja waktu itu duit saya juga belum banyak. Hahaha. Ketika itu Yusuf menjadi figuran dan merasa nasibnya tidak jelas. Suatu hari, akhir tahun 2010, ia mengajak saya mencari pekerjaan.

Sunday, 26 June 2016

[Cerpen]: "Pengantar Malaikat" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 26 Juni 2016)





Mohon maaf, cerpen ini sengaja dihapus karena dimasukkan ke dalam buku terbaru saya yang berjudul Museum Anomali. Buku tersebut berupa kumpulan cerpen bertema horror kontemporer. Jika ingin membaca cerpen ini, yang juga akan dihimpun bersama cerpen-cerpen lainnya (baik yang sudah terbit atau belum dipublikasikan sama sekali), segera pesan buku tersebut. Harga 49 ribu belum termasuk ongkos kirim Terima kasih. :)  Untuk pemesanan Museum Anomali, bisa klik Tentang Penulis.

Friday, 24 June 2016

Masa Kecilku: Gara-Gara Buku Kumpulan "Kliping" Cerpen

Kalau tidak salah, dua puluh tahun lalu, ketika masih berumur 5 tahun, pada suatu sore saya menemukan sebuah buku tulis yang di dalamnya berisi kumpulan cerpen koran yang dikliping dengan sangat rapi dan telaten di meja belajar kakak saya. Katanya buku itu milik sepupu kami dan ia sengaja "mewariskannya" ke kakak.
Buku kumpulan cerpen "legendaris" itu. Cerpen ini jadi salah satu favorit saya.

Saya yang suka membaca pun amat senang mendapati ada buku cerita semacam ini di rumah, karena sebenarnya pada saat itu belum satu pun buku cerita saya miliki. Paling hanya buku bergambar dan saya sudah bosan dengan buku cerita bergambar. Maka saya membaca cerpen-cerpen di buku ini seperti memainkan mainan baru; susah berpisah. Meski beberapa cerita di dalamnya agak membingungkan, karena beberapa kata belum saya pahami artinya, saya baca saja setiap cerita sampai habis.

[Cerpen]: "Hikayat Pengecut" karya Ken Hanggara

  (Dimuat di Koran Madura edisi Jumat, 24 Juni 2016)

  Aku memang pengecut. Tak berani menjalani risiko paling buruk dalam mahligai rumah tangga. Aku tak mau kelak melihat anak istriku mati lebih dulu. Aku berharap malaikat mencabut nyawaku lebih dulu, karena aku tak yakin masih waras setelah satu per satu orang yang kusayang tiada.
    "Berarti kamu egois," tuding temanku.
    "Tidak."
    "Bayangkan kamu mati duluan. Istri merawat anakmu sendiri. Kaupikir gampang?"
    "Rejeki sudah ada yang ngatur," jawabku pendek.
    Temanku mendengus dan pergi. Ia tak mau lagi bicara soal kematian atau menebak siapa yang lebih dulu mati—aku atau istriku, dia atau istrinya, dan sebagainya—lebih- lebih berharap siapa yang menurutku berdampak baik bila mati duluan.
    Suatu saat aku pasti akan mati. Dan tentu istri dan anakku kelak juga mati. Kami tidak tahu kapan, di mana, dan bagaimana kami mati, tapi kematian membuat kami terpisah. Di dunia ini kami tidak lagi bertemu.

Wednesday, 22 June 2016

[Cerpen]: "Permintaan Nayla" karya Ken Hanggara

  (Dimuat di Harian Rakyat Sultra edisi Sabtu, 18 Juni 2016)

  1/
    Mamaku supersibuk. Setiap hari, kecuali akhir pekan, Mama selalu ngantor dan aku kesepian. Papa? Jangan ditanya. Malah lebih sibuk dari Mama. Kadang Papa ke luar negeri dan baru pulang setelah dua minggu. Di rumah tidak ada teman selain pembantu. Tetapi pembantuku pendiam. Aku lebih sering main dengan boneka-boneka.
    Suatu malam, saat Mama pulang (beliau sering pulang larut malam, bahkan pernah subuh hari), aku bangun dari tidur dan menggigil ketakutan. Mama memelukku erat dan mengelus-elus rambutku. Ia bertanya lembut. Kujawab bahwa aku bermimpi buruk.
    "Mimpi apa? Pasti kamu nggak berdoa, ya?" kata Mama.
    Aku bilang aku berdoa, tetapi aku mimpi melihat semua anak di dunia ini memiliki teman, kecuali aku saja yang hidup sendiri. Lalu, kutambahkan bahwa dalam mimpi itu, setiap anak berbaris memasuki tempat wisata terbesar dan paling meriah, yang mana di sana terdapat berbagai wahana mengasyikkan. Walau belum sekolah, aku bisa membaca beberapa huruf di pintu masuknya: gratis.
    "Terus aku masuk saja," sambungku, "tapi om-om yang badannya gede melarangku masuk karena aku tidak bawa teman."
    "Wah, kok jahat?"
    "Iya, Ma. Dia jahat! Aku tidak tahu harus cari teman ke mana. Sementara semua anak, bersama teman masing-masing, masuk ke sana, tinggal aku sendiri duduk di jalan dan menangis. Orang-orang melemparku permen, tetapi aku benci permen, karena aku tidak punya teman. Lalu aku pergi, karena ada anjing yang besar terus melihatku. Aku takut!"
    Mama sedih melihat aku bercerita soal mimpiku. Mama yang tidak ikut mengalami mimpi itu saja bisa sedih, apalagi aku, ya?

Monday, 20 June 2016

[Cerpen]: "Bidadari yang Mencari Seekor Anjing untuk Dijadikan Suami" karya Ken Hanggara

Bidadari yang Mencari Seekor Anjing untuk Dijadikan Suami
Ilustrasi cerpen "Bidadari yang Mencari Seekor Anjing untuk Dijadikan Suami" karya Ken Hanggara
 (Dimuat di Malang Post edisi Minggu, 19 Juni 2016) 
 Ada bidadari turun dari nirwana dan bertanya di mana letak seekor anjing bernama Mudakir. Anjing itu dulunya seorang penjual soto, namun karena satu dan lain hal yang tak bisa disebutkan, penjual soto itu terpaksa disulap menjadi seekor anjing.    "Apa karena ia melanggar sebuah peraturan?"
    "Atau dosanya tak terampunkan, sehingga ketimbang dibakar di neraka selamanya, lebih baik ia memilih menjadi seekor anjing yang pada hari perhitungan segera menjadi debu?"
    Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kali terdengar setengah bercanda setengah serius. Tidak ada yang tahu asal-usul lelaki bernama Mudakir yang katanya sudah jadi seekor anjing ini, dan sedang dicari-cari para bidadari dari nirwana. Tetapi tukang cukur dekat pasar bersaksi pernah mendengar Mudakir cerita tentang ibunya yang diusir dari kampung halaman.
    Bidadari itu datang pada tukang cukur dan bertanya, "Bisakah Anda jelaskan soal obrolan kalian waktu itu?"

[Cerpen]: "Biru" karya Ken Hanggara

 
ilustrasi cerpen "biru" karya Ken Hanggara
Ilustrasi cerpen "Biru" karya Ken Hanggara
 (Dimuat di Radar Bromo edisi Minggu, 19 Juni 2016)

    Kira-kira dua bulan lalu seluruh permukaan kulitku menjadi biru. Aku tak berani keluar karena malu. Tetapi tubuhku butuh cahaya matahari, jadi ketika aku keluar, aku hanya bertelanjang dada di loteng. Di sana tak ada seorang pun melihat biru di sekujur tubuhku, karena tidak ada bangunan lebih tinggi dari rumahku. Tapi tetap aku cemas. Siapa tahu seseorang terbang membawa helikopter di atasku dan aku terlihat berjemur di loteng ini dalam keadaan biru?
    Biruku bukan biru sembarangan. Ia terlalu gelap sehingga sekalinya aku bercermin, seakan melihat siluman di sana. Kira-kira dua minggu setelah kulitku membiru dalam semalam, bola mataku turut membiru. Seminggu kemudian menyusul gigi geligiku. Dan pada minggu keempat, setelah kuyakin tak ada seorang pun dokter bisa menyembuhkan ini, seluruh rambut dan bulu di badanku juga berubah biru. Aku benar-benar manusia biru. Tak ada warna lain selain biru. Barangkali, seluruh organ tubuhku juga mengalami nasib yang sama.
    Aku tak tahu harus berobat dengan cara apa. Kutelepon seorang teman yang paling bisa dipercaya; ia bilang, mungkin aku hanya sedang sumpek. Mungkin pikiran-pikiran berat sedang menimpaku belakangan. Aku tarik mundur lewat ingatan; tak ada pikiran berat.

[Cerpen]: "Pesan Kiamat dari Pertapa" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Tanjungpinang Pos edisi Minggu, 19 Juni 2016)
    
Di seberang jalan mendadak penuh orang. Aku belum bisa memastikan ada apa di sana, karena penjual rokok masih mencari kembalian untukku. Selagi menunggu uang kembali kuterima, kupandangi seberang jalan; penuh sesak. Orang-orang membentuk lingkaran seakan sesuatu di tengah lingkaran itu, yang tidak bisa kulihat, adalah mayat seseorang tanpa identitas.
    Penjaga kios rokok juga bertanya-tanya, apa yang mengundang perhatian orang. Kukira barusan ada kecelakaan dan korban meninggal seketika. Tabrak lari, barangkali. Beberapa orang mengambil ponsel dan merekam video, tapi tak seorang pun mengucap kata-kata ilahi.
    "Biasanya, kalau ada orang mati, pasti ada yang menyebut-nyebut Tuhan," celetuk penjaga kios.
    Ada benarnya pendapat ini. Aku sering menemui kecelakaan mengerikan di jalanan, di mana pun, dan tiap orang di sekitar TKP selalu membawa-bawa nama Tuhan. Bukan hal aneh. Justru akan sangat aneh jika ada orang meninggal di tempat terbuka dan tidak ada yang segera ingat pada Tuhan.

[Cerpen]: "Rahasia Perempuan Pemelihara Hantu" karya Ken Hanggara

 (Dimuat di Flores Sastra, Minggu, 19 Juni 2016)
Mohon maaf, cerpen ini sengaja dihapus karena dimasukkan ke dalam buku terbaru saya yang berjudul Museum Anomali. Buku tersebut berupa kumpulan cerpen bertema horror kontemporer. Jika ingin membaca cerpen ini, yang juga akan dihimpun bersama cerpen-cerpen lainnya (baik yang sudah terbit atau belum dipublikasikan sama sekali), segera pesan buku tersebut. Harga 49 ribu belum termasuk ongkos kirim Terima kasih. :)  Untuk pemesanan Museum Anomali, bisa klik Tentang Penulis.

Sunday, 19 June 2016

[Cerpen]: "Imo Menari dan Mati di Kolam Minyak" karya Ken Hanggara

 (Dimuat di Riau Realita, Minggu, 19 Juni 2016)

    1/ Jaring Nelayan

    Imo terjerat di jaring nelayan. Sebagai ikan muda, ia tidak berpengalaman dengan hal-hal semacam ini; ia kira, jaring itu petualangan. Ia memang tidak mengerti, tetapi ia bukan ikan bodoh.
    Imo berusaha kabur, tetapi tidak bisa. Di pikirannya, sudah melintas hal-hal jelek. Ada ayahnya yang pemarah, ibunya yang lembut, dan tentu saja teman-teman yang suka menyebalkan. Di sekolah para ikan, Imo sering diledek sebagai ikan besar bodoh dan tidak bisa berhitung.
    "Biarpun tidak bisa berhitung, tetapi aku kuat!" kata Imo pada mereka. Tetapi kini, walau ia kuat dan besar menurut ukuran para ikan, kenapa ia tidak bisa membongkar jaring nelayan?
    Setengah hidup, setengah mati, Imo merasa dirinya diambil dari jaring. Si nelayan baik hati, karena ia dimasukkan ke semacam kolam berdinding putih. Hanya putih, tidak ada lainnya. Imo tidak bisa melihat apa pun di luar kotak tersebut, selain menengok ke atas dan sadar bahwa langit sedang mendung.

Monday, 13 June 2016

[Cerpen]: "Maria Pergi ke Padang Bunga" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Flores Sastra edisi Senin, 13 Juni 2016)

    Kalau dihitung, mungkin sudah empat belas kali Maria pergi ke padang bunga. Ia memang suka bunga-bungaan dan juga suka memetik lalu menyimpannya di kamar di dalam bagian tengah buku hariannya. Dua bulan sekali atau tiga hingga empat bulan sekali ia ke padang bunga itu. Tidak tentu. Itulah kenapa tak bisa dipastikan kapan ia pertama pergi ke padang bunga.
    Padang itu indah. Konon ribuan atau mungkin jutaan malaikat sering berkumpul di sana, memetik bunga dan saling bercumbu, serta membuat tarian mistis yang hanya dipahami oleh anak-anak dan perawan suci. Malaikat-malaikat awalnya turun dari langit dan memijak beberapa petak tanah yang tak ditumbuhi bunga. Mereka lalu berpelukan dan sayap-sayap itu menguncup. Pada saat itulah, malaikat-malaikat menjelma serupa manusia.

Sebuah Akhir: Saya Ingin Pergi Sejauh Mungkin ke Luar Angkasa untuk Melupakanmu

Saya sudah mencoba lari mencari pintu lain, tapi tetap saja ujung-ujungnya kamu yang berdiri di sana. Kamu tidak menoleh pada saya, juga tidak menoleh pada siapa-siapa. Hanya memandang bayangan yang hilang ditelan gelapnya hari. Setiap hari saya dan kamu seakan diselimuti malam. Saya dan kamu serba tidak pasti. Di pintu itu kadang-kadang kamu adalah batu, tetapi di lain waktu kamu berubah jadi salju. 

[Puisi]: "Mati Kutu" karya Ken Hanggara

Semalam ada bintang jatuh di langit kota kita
Perjalanan dua jam kusingkat jadi satu setengah
Dan aku berdoa agar setelah ini segalanya baik-baik saja
Kau di sana bahagia
Aku di sini bahagia

Seandainya tubuhku sebongkah es krim rasa cokelat
Semalam aku segenang cairan di lantai kafe itu
Membasahi sepatu dan sandal tukang kencan
Membasahi sandalmu juga yang berada persis di depan sandalku
Dan barangkali membasahi dadaku sendiri yang rongga

Mati kutu semalam ditutup pertunjukan bintang jatuh
Di bawah langit kota ribuan orang tumpah ruah
Tetapi hanya aku yang melihat bintang jatuh
Dan aku berdoa dengan panjang di perjalanan
Sambungan doa-doa terdahulu yang kurang ajar
Sebab tanpa izin dan permisimu

-5 Juni 2016-

Bersyukur dengan Diriku Hari Ini

Tahun 2016 hampir separuhnya kujalani. Bagiku separuh ini cukup banyak memberiku kejutan dan perubahan. Bagaimanapun, semua ini tak mungkin terjadi jika dulu pada suatu siang aku tak memutuskan menulis sesuatu dan berharap kelak, dengan menulis, aku bisa dikenal orang dan memberi manfaat pada sesama.

Menilai Sesuatu Jangan dari Kulitnya Saja

Tetangga saya itu orang kaya. Punya rumah dan mobil bagus. Pernah naik haji juga. Dulunya berasal dari keluarga tidak mampu. Setelah sukses dan menjadi kaya, penampilannya tetap sederhana. Bahkan sangat sederhana.

Suatu hari ketika menjelang lebaran dan pergi ke mini market hendak membeli buah, oleh tiga orang pegawai, tetangga saya didatangi dan diberitahu, "Yang itu mahal lho, Bu." Ia hanya mengangguk.

Kau Hantu... Tahu Apa Soal Asmara?

Pada suatu malam seorang lelaki berbaring lesu di dekat meja kerjanya. Di sana terdapat sebuah kasur lipat. Dengan laptop yang belum tertutup, lelaki itu berbaring begitu saja dan meninggalkan pekerjaannya. Seekor hantu datang dan menggoda, tapi si lelaki tidak peduli.

Seharusnya kamu takut, kata si hantu. Tapi si lelaki itu seakan tidak sadar kalau yang mengajak ngobrol dirinya adalah hantu.

Sebaiknya Anda pergi, kata si lelaki tiba-tiba, sebab dada saya sakit dan Anda justru menambah kesakitannya dengan banyak omong.

Hantu bertampang sangar itu pun memperhatikan si lelaki. Tidak ada yang tidak beres di tubuhnya, begitu ia pikir. Ia amati dada si lelaki; terlihat normal dan tak ada darah atau apa pun yang sekiranya membuat bagian itu sakit. Wajah si lelaki juga tampak segar, bukan berwajah kuyu ala penderita penyakit organ dalam.

Jika Kau Menyakiti Hati Penulis...

Ada yang bilang, "Jika kau menyakiti hati seorang penulis, maka hati-hatilah. Kau akan diabadikannya sebagai sosok yang buruk dalam ceritanya."

Saya tidak setuju dengan peringatan itu, walau barangkali ada penulis yang begitu. Tapi semua tergantung pribadi penulis yang mengalami.
 
Seandainya hati saya disakiti, siapa pun dia tidak saya abadikan dalam sosok buruk di cerita setengah fiktif. Lebih sering malah tidak saya tulis dalam bentuk apa pun. Kalaupun memang perlu suatu saat saya menulis tentang orang ini, saya lebih suka menuliskannya sebagai sesuatu yang baik.

Tidak Ada Masa Depan Tanpa Masa Lalu

Apa pun yang ada hari ini kita jalani dengan upaya terbaik. Saya tidak bisa melupakan kalimat luar biasa di salah satu novel yang baru-baru ini saya baca, yang berbunyi kira-kira begini: "Kau tidak akan memiliki masa depan jika tidak punya masa lalu."

Maksud kalimat itu adalah: kelak kau tidak akan menjadi apa-apa, atau kelak kau akan jatuh dalam penyesalan, jika hari ini kau tak menggenggam dan memanfaatkan waktu yang Tuhan berikan untukmu dengan sebaik mungkin.

Hari ini adalah masa lalu di masa mendatang. Hari ini adalah penentu siapa kita suatu hari nanti.

Kau tidak akan memiliki masa depan, jika hari ini memilih kalah/menyerah.

[Puisi]: "Kado" karya Ken Hanggara

Suatu malam sekotak kado menjebol atap kamarku
Kubuka kado aneh itu dan kutemukan namamu
Nama dari dua huruf vokal dan tiga konsonan
Besoknya aku demam dan aku jatuh cinta
Besok lusanya aku terluka dan aku masih jatuh cinta

Cinta tidak pernah salah
Cinta selalu datang tiba-tiba, tetapi tidak selalu bahagia
Ada luka di sana
Ada lubang di sana
Ada manis dan tawa yang dicetak dalam rongga dada
Barangkali semua itu perlu
Agar seribu tahun lagi ada kenangan yang bisa diputar
Entah oleh siapa

-24 Mei 2016-

Menyiasati Teror Hantu Jadi Cerita

Beberapa minggu belakangan ini saya sedikit menulis cerpen, karena harus mengurus beberapa hal penting lain. Meski begitu, tetap cerpen tidak bisa saya tinggalkan. Jadi sesibuk apa pun saya sempatkan menulis cerpen di waktu senggang. Membuka folder di email, saya sadari cerpen-cerpen saya belakangan berkaitan dengan hantu. Cerpen beride dasar apa pun, selalu membawa-bawa hantu.

Suatu malam sengaja saya duduk di tempat yang katanya penuh hantu. Saya menulis tentang hantu di sana dan hasilnya lumayan lucu. Di waktu lain saya sedang kelaparan dan menulis tentang hantu, lalu hasilnya lumayan tragis. Hantu-hantu itu sengaja saya buat senatural mungkin. Jika kita pernah dengar hantu berbau tidak enak, maka saya sebut dalam suatu cerita kalau hantu itu berbau ikan busuk.

Garis Takdir: Jatuh Cinta Tidak Punya Rumus

Takdir setiap manusia itu garis. Satu garis bertumpukan dengan garis lain berarti satu pertemuan. Garis ketiga datang, tiga tumpuk garis. Garis keempat datang, empat tumpuk. Dan seterusnya. Pertemuan dan perpisahan membawa garis-garis kita ke sana kemari, menyatu dan menjauh dari garis-garis tertentu untuk menuju ke garis-garis berikutnya. Percintaan pun ada dalam garis-garis ini. 

Cinta Tak Pandang Bulu

Suatu hari di warung langgananku, aku duduk dan memesan makanan seperti biasa. Di samping kiriku ada seorang kakek sedang makan. Beliau seorang tunanetra dan didampingi istrinya. Keduanya makan mie rebus. Aku tidak pernah melihat sepasang suami istri tua ini, tetapi mereka membawa gumpalan kain, yang kuduga berisi pakaian. Mungkin mereka berkelana ke tempat yang jauh dari kampung, dan jelas mereka bukan pengemis, karena mereka tidak meminta-minta di beberapa bangunan dekat warung setelah pergi meninggalkan warung itu.
 
Ketika kakek itu makan, dan istrinya dengan sabar mengambilkan tisu serta mengusapi bibir si suami, hatiku mendadak pedih. Seperti seseorang menghantam hatiku dengan batu berkali-kali, dan hatiku menjadi bengkak karenanya. Kakek itu makan dengan lahap, (maaf) seperti orang yang tidak makan beberapa waktu lamanya. Di meja sisi kanan dan kirinya tumpahan kuah mie rebus itu terlihat jelas oleh mataku dan aku semakin pedih justru ketika si nenek semakin semangat membersihkan pipi suaminya.

[Puisi]: "Surat Itu Belum Aku Kirim" karya Ken Hanggara

Surat itu belum aku kirim
Sudah tertulis rapi dan terbungkus wangi
Ada segumpal belahan jantungku di sana
Ada setetes darah dari dadaku yang lubang
Surat itu tidak banyak berisi kata
Hanya sekalimat: 'aku mencintaimu'
Disertai tambahan-tambahan tersebut di atas

Tapi surat itu belum kamu sentuh
Terselip di antara tumpukan tugasku
Sesekali diresapi keringatku atau darahku atau apa pun tentang luka yang lahir dari sebuah perasaan tak tepat waktu
Surat itu barangkali hanya sesuatu yang kusimpan dalam amplop dan selamanya begitu
Atau barangkali dengan segera dirobek-robek oleh tangan yang kuharap menerimanya dengan terbuka
Dan menyimpannya dengan rapi bersama senyum kerinduan

Tapi, siapa aku?
Suratku berdiam di sini, di dekat hari-hariku
Hari-hari yang berjarak begitu jauh dengan hari-harimu
Jarak yang berusaha kupenggal dengan pisau bedahmu yang tertinggal
Jarak yang kadang mematikanku, atau kadang menghidupkanku, atau di lain waktu membuatku terbang ke Planet Mars

Aku alien dan kau malaikat
Aku alien dalam imajinasi orang gila
Kamu malaikat dalam imajinasi orang gila
Tetapi tidak ada alien bersenda gurau dengan malaikat
Adakah itu cukup membuatku berpikir, "Surat itu akan baik-baik saja"?

Surat itu belum aku kirim
Surat itu ada di sini
Dan terus di sini
Ia hanya akan terbang bebas jika Tuhan menyulap lidahku menjadi lentur
Dan aku akan berkata dengan mudahnya, "Aku mencintaimu..."
Tanpa harus meminta bantuan kata dan segumpal bagian jantung dan setetes darah dari dadaku yang lubang
Aku tidak tahu kapan itu
Tetapi aku tahu Tuhan tidak pernah tidak tepat waktu

-23 Mei 2016-

(Nyaris) Tak Ada Metromini Sore Itu

Seorang bapak-bapak bertanya padaku ke mana arahku pulang, karena tampaknya para sopir metromini berdemo hari itu dan kami yang tinggal jauh dari Jakarta Barat bakal susah menemukan kendaraan. Kujawab, "Jakarta Selatan, Pak."

Ini terjadi tahun 2011. Waktu itu aku pasrah. Seandainya memang tidak bisa pulang, aku bisa tidur di masjid dekat kantor. Semalam saja tak soal, karena toh baju kerja bisa kulipat dengan rapi dan kusimpan di tas. Aku tidak bisa membayar taksi karena uang di dompet sedang tipis. Tabunganku ada di koper, di kontrakan, di Jakarta Selatan. Aku benar-benar tidak membawa uang selain yang di dompet. Seandainya aku menginap malam itu di masjid dekat kantor, untuk makan besok dan ongkos pulang besok sorenya, aku bisa pinjam teman.

Dalam Segala yang Lucu, Tersimpan Banyak Hal Serius

Hidup ini lucu, tapi kamu harus bersyukur. Bayangkan, kau jatuh dan mencoba bangkit dan mendekatkan diri pada-Nya. Lalu Tuhan mengirim kado untukmu pada suatu malam ketika kau berharap ada sesuatu yang membuatmu lebih memiliki tujuan jelas dalam hidup. Kado itu tahu-tahu jatuh menimpa genteng rumahmu dan menjebol atap kamarmu, membuatmu berpikir barangkali seseorang menjatuhkan sesuatu dari pesawat. Kepalamu yang pusing meyakini itu, tapi tidak ada orang membuang sampah dari jendela pesawat, karena pesawat bukan metromini. 

Meninggalkan Hobi = Dosa Berat

Kalau saya hari ini dipertemukan dengan saya sepuluh tahun yang lalu, dan keduanya membawa gitar, lalu disuruh memainkan melodi lagu tertentu, bisa dipastikan saya yang hari ini jauh lebih payah. Pasalnya sudah bertahun-tahun saya berhenti memainkan gitar. Benar-benar berhenti, meski bukan karena benci atau niat berhenti, tetapi tidak sempat. Jika dulu waktu luang sehabis sekolah dan mengerjakan PR saya habiskan dengan main Playstation atau gitar atau main bola di luar, maka tahun-tahun terakhir gitar menempati urutan terbawah daftar hobi penghilang penat setelah saya menekuni dunia literasi. Kalau ditulis dalam angka, mungkin hobi main gitar dapat nilai nol koma nol-nol sekian. Nol di belakang koma barangkali ada tujuh belas, saking parahnya.

Kita Tidak Hidup Selama 2 Jam!

Tahun 2016 ini tahun paling berbeda bagi saya. Kalau melihat ke belakang, ke beberapa tahun silam sebelum saya menekuni dunia literasi, lalu mulai mengenalnya, menseriusinya, memperjuangkan agar tulisan saya dibaca orang, dan melalui semua proses itu, dari tahun ke tahun rasanya selalu saja ada perubahan. Sedikit demi sedikit memang, tidak instan, karena bahkan mendaki gunung pun tidak bisa sambil berlari. Sementara puncak mimpi lebih terjal dari gunung. Saya ingat perubahan yang 'sedikit demi sedikit' ini sudah saya yakini sejak awal dan selalu saya pegang. Itulah kenapa jika saya jenuh dalam menulis, saya tidak membenci kegiatan ini (apalagi sampai putus asa dan berhenti menulis), tetapi istirahat dulu entah dengan cara apa selama satu atau dua hari, lalu bersambung menulis kembali. Itu saya lakukan bertahun-tahun.

Kita Akan dan Harus Sampai Tujuan dengan Selamat

Tidak tahu mau menulis status apa, walau sudah membuat beberapa cerita hari ini. Ketika ingin menulis status, kepalaku hanya penuh dengan satu hal, dan satu hal itu tidak bisa kuabaikan.

Lalu kuintip keluar jendela dari dalam gerbong kereta ini. Kututup semua bacaan dan buku catatan. Pemandangan di luar penuh barisan bukit dan awan terlihat gelisah. Sepertinya akan turun hujan dan badai kencang segera menerpa. Stasiun tujuan masih jauh. Dada ini masih lubang. Kelak di tujuan, dada ini mungkin penuh dengan bahagia.

Permintaan yang Tak Terucap dan SMS Misterius

Dua bulan yang lalu, saya duduk di ruang tamu sambil menunggui dua orang tukang membenahi dan mengecat teras depan. Saya duduk di ruang tamu namun tak bisa melihat teras, sebab gorden sengaja ditutup agar tidak menyilaukan mata. Saya sibuk mengerjakan sesuatu di depan laptop dan masih bisa mendengar suara dua tukang tersebut mengobrol sembari bekerja. Di saat yang sama, orangtua saya ke bank yang letaknya lumayan jauh kalau jalan kaki, sekitar satu kilo. Orangtua saya bermotor berdua sehingga di rumah hanya ada saya dan dua tukang tadi.

Sunday, 12 June 2016

[Cerpen]: "Peri Mugeni" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Sumut Pos edisi Minggu, 12 Juni 2016)

 


Mohon maaf, cerpen ini sengaja dihapus karena dimasukkan ke dalam buku terbaru saya yang berjudul Museum Anomali. Buku tersebut berupa kumpulan cerpen bertema horror kontemporer. Jika ingin membaca cerpen ini, yang juga akan dihimpun bersama cerpen-cerpen lainnya (baik yang sudah terbit atau belum dipublikasikan sama sekali), segera pesan buku tersebut. Harga 49 ribu belum termasuk ongkos kirim Terima kasih. :)  Untuk pemesanan Museum Anomali, bisa klik Tentang Penulis.

[Cerpen]: "Lelaki di Halte yang Memberiku Hadiah" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Padang Ekspres edisi Minggu, 12 Juni 2016)
 
 
Mohon maaf, cerpen ini sengaja dihapus karena dimasukkan ke dalam buku terbaru saya yang berjudul Museum Anomali. Buku tersebut berupa kumpulan cerpen bertema horror kontemporer. Jika ingin membaca cerpen ini, yang juga akan dihimpun bersama cerpen-cerpen lainnya (baik yang sudah terbit atau belum dipublikasikan sama sekali), segera pesan buku tersebut. Harga 49 ribu belum termasuk ongkos kirim Terima kasih. :)  Untuk pemesanan Museum Anomali, bisa klik Tentang Penulis.

Saturday, 11 June 2016

[Cerpen]: "Pengarang Tanpa Nama" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Batam Pos edisi 6 Juni 2016)   

Pengarang tanpa nama itu berhenti di depan warung kopi, sebelum melanjutkan langkah ke sebuah lubang di bawah rumah tua. Ia bersembunyi di sana. Ia lelah dikejar para penggila sastra yang menyukai karya-karyanya. Konon, karya-karyanya itu dibuat di ruang bawah tanah sarang tikus. Tidak ada penerangan cukup; hanya beberapa batang lilin yang kadang membuatnya merasa suram.
    Kritikus sastra kenamaan menganggapnya bintang yang terbit di pagi hari. Di kala marak bermunculan nama-nama baru, juga sekaligus karya-karya nol mutu (untuk tidak menyebutnya tumpukan sampah), si kritikus pikir, pengarang tanpa nama inilah harapan. Bintang di pagi hari. Sebuah harapan langka bagi dunia sastra di negeri mereka.
    Pengarang tanpa nama tidak tahu kenapa orang-orang menggilai karyanya yang ia anggap kebohongan. Bahkan, tidak jarang ia menganggap setiap karya yang terbit atas namanya adalah bencana.
    "Seharusnya kamu sebut itu anugerah. Jarang-jarang penulis baru dapat tempat di hati pembaca. Sekarang semua tergila-gila padamu dan mencari karyamu—juga dirimu —di mana pun mereka," kata seorang teman. "Semua itu berkat karya-karyamu yang terbit di media cetak."
    Si pengarang tanpa nama tidak peduli akan pujian macam itu. Lagi pula, dari setiap ucapan itu, ia merasa itu tidak ikhlas. Tidak sedikit juga teman-teman sesama pengarang yang diam-diam membencinya, karena ia dianggap penjahat kecil yang amat beruntung. Sesungguhnya, ia sendiri menganggap dirinya lebih buruk dari bajingan.
    "Tidak ada bajingan beruntung dan tidak ada bajingan yang patut dihormati secara berlebihan. Bajingan tempatnya di neraka, bukan di kursi kehormatan," kata pengarang tanpa nama, dengan sinis. Ia harap teman yang suka memuji itu berhenti berkata omong kosong dan secara jujur menilainya jauh lebih parah ketimbang sekadar 'di neraka'.

Sunday, 5 June 2016

[Cerpen]: "Segunung Jasad di Mulut Mudakir" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Haluan Padang edisi Minggu, 5 Juni 2016)
 
 Di suatu desa ada bau busuk. Bau itu bersumber dari mulut lelaki bernama Mudakir. Kebusukan di level atas, menyerupai gunung bangkai di negeri tanpa malaikat. Setan- setan bergerumbul di jalan. Tangan dan kepala mayat bergeletakan sana-sini, jadi rebutan anjing liar. Dan setiap orang masih sempat berangkat kerja. Adakah yang lebih buruk?
    Bau busuk itu bukan karena Mudakir malas gosok gigi. Ia terkenal paling bersih. Ia juga sering makan makanan tertentu yang bisa menghilangkan bau mulut, tetapi selalu sia-sia. Kata dukun, mulutnya dimasuki setan yang entah datang dari zaman mana, yang kemudian membangun koloni di sudut mulut Mudakir; di tempat itu kelak berdiri gunung bangkai.
    "Setan-setan keluar untuk makan. Anda tahu? Mangsanya manusia. Mereka makan tiap hari, tidak peduli dewasa atau anak-anak, semua dilahap. Tapi begitulah setan; belum habis satu, sudah tergoda yang lain. Satu mayat belum tuntas, perburuan baru kembali dimulai."
    Dukun itu setengah sinting. Mudakir malas bicara, tapi karena di tempat kerja satu- dua rekan mulai membencinya, sebab bau busuk itu, terpaksa ia bicara di tempat dukun. Siapa lagi, kalau bukan dukun gila, yang betah lama-lama ia dekati tanpa perlu merasa mual?
    Istri Mudakir minta cerai. Ini puncak derita seorang berpenyakit aneh: bau mulut serupa bangkai. Perempuan itu tidak betah bersetubuh dengan lelaki yang bau mulutnya serupa bangkai, apalagi segunung. Mudakir membungkam mulut dengan kain direndam deterjen dan pengharum cucian, agar istri tidak pergi. Hasilnya, bau itu malah makin tak keruan.
    "Saya curiga," kata si istri dengan sinis, "Saya curiga selama ini, diam-diam, kamu makan bangkai!"