Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.
Showing posts with label proses kreatif. Show all posts
Showing posts with label proses kreatif. Show all posts

Thursday, 9 November 2017

Kualitas Karya Tidak Ditentukan dari Seberapa Lama Karya tersebut Dibuat

Lamanya waktu pengerjaan sebuah karya tidak menjamin karya itu pasti berhasil dari segi kedalaman makna. Karya yang dibuat dalam kurun waktu singkat bisa saja malah lebih dalam dari itu. Ini yang saya yakini.

Selama apa pun karya dibuat (atau sengaja dilama-lamakan biar kelihatan keren), kalau perenungan tentang isinya kurang dihayati sebelum karya itu mulai digarap, hasilnya akan hambar. 

Menikmati Hidup sebagai Full Time Writer

Sudah hampir setahunan ini saya benar-benar hidup sebagai full time writer, karena mencari pekerjaan baru belum ada yang cocok. Jadi cari rezeki hanya dari nulis di media-media, membuka jasa editing, nulis di blog, nulis skenario, dan sekitarnya, serta tentu saja menjual buku (karya sendiri) via online

Alhamdulillah selalu diberi kelancaran. Ada saatnya harus benar-benar bersabar menahan beberapa keinginan sederhana seperti menambah koleksi bacaan, sebab "gaji" pekerjaan ini tidak datang secara rutin pada tanggal tertentu. Apalagi punya tanggungan bayar cicilan motor dan sebagainya, yang harus didahulukan daripada keinginan-keinginan pribadi tersebut.

Sepuluh Tahun yang Lalu, Saya Berpikir tentang "Sepuluh Tahun yang Akan Datang"

Ketika masih sering-seringnya latihan ngeband pada tahun 2007-2008 lalu, saya berpikir, "Sepuluh tahun dari sekarang, mungkin band ini bakalan makin solid dan boleh jadi terkenal sehingga punya album atau minimal single yang laris di radio-radio."

Saat itu saya masih kelas sebelas dan memendam banyak impian, utamanya di band yang sedang saya dan teman-teman rintis. Tidak ada pikiran saya bakal menulis prosa atau skenario--yang pada akhirnya memang terjadi. Menulis memang salah satu cita-cita saya, tapi menjadi anak band juga cita-cita saya. Posisi keduanya sama-sama kuat, dan karena lingkungan lebih mendukung ke arah seni musik, maka ngeband adalah alternatif bagi saya untuk istirahat sejenak dari pikiran-pikiran sumpek sebagai anak sekolah (dengan cinta monyet, teguran ortu, PR yang selalu menumpuk, guru-guru yang kadang mengerikan, dan lain sebagainya).

Wednesday, 8 November 2017

Proses Produksi Cerpen di Pabrik Cerpen

Setiap cerpen yang saya buat nyaris tidak mengalami pembacaan ulang sebelum saya kirim ke media atau perlombaan. Itu bukan berarti saya tidak bertanggung jawab atau tidak ingin memastikan apa pun yang baru saja saya kerjakan, tetapi proses memahami isi cerita yang saya tulis sudah saya lakukan sebelum saya benar-benar menulisnya. Dengan kata lain, sepotong ide yang muncul langsung membuat saya memikirkan banyak hal, dan hal-hal ini selalu berakhir ke satu arah saja, misalnya: bahwa kita tidak seharusnya mengadili seseorang atas pilihan hidupnya.

Pondasi cerita ini kemudian saya pegang dan saya membuka laptop untuk menulis opening secara acak, tentang peristiwa entah apa, tentang isi kepala seseorang yang entah siapa atau bagaimana, tentang situasi di lokasi yang entah di mana, dan lain sebagainya. Menulis opening secara acak membantu saya dalam membangun plot secara utuh tanpa terkekang. Dari yang hanya berupa pondasi dari secuil ide dan pesan moral, saya mampu membuat banyak kemungkinan soal tokoh dan peristiwa dalam cerpen dengan memulainya secara acak.

Seiseng-isengnya Kegiatan Menulis Harus Tetap Punya Tujuan

Menulis cerita termasuk cara saya dalam bersenang-senang. Tujuan ini hanya bisa tercapai ketika saya merasa lega akan apa yang saya tulis. Jika tidak, maka saya hanya akan merasa ini bukan bersenang-senang. Itulah kenapa saya tidak pernah bisa ikut kegiatan menulis cerpen bersambung dengan banyak teman (yang sering kali sekadar iseng belaka). Dulu pernah sekali, tapi setelah itu tidak lagi.

Walau iseng pun, bagi saya, menulis harus tetap melahirkan kelegaan. Sementara, kelegaan yang saya maksud tidak mampu saya rasakan ketika berbagai kepala tumpah ruah dalam satu cerita. Saya hanya akan merasa lega jika apa yang dihasilkan (sekalipun itu iseng) adalah sesuatu yang benar-benar sesuai keinginan saya. Maksudnya, cerita itu sendiri harus sesuai keinginan saya.

Monday, 9 January 2017

Resolusi 2016 Tercapai dan Kini Saatnya 2017

Tahun 2016 yang saya lalui penuh dengan cerita pendek. Seakan-akan saya hidup dikelilingi makhluk aneh bernama cerita pendek, dengan wajah yang dapat berubah-ubah sesuai kebutuhan, dan dengan watak yang kadang menyerupai orang-orang yang pernah saya kenal atau ingin saya jumpai atau bahkan saya ingin musnahkan. Dan saya merasa tidak mungkin lepas dari jeratan makhluk aneh ini.

Sebagaimana tekad saya di awal 2016, yakni membuat hitungan iseng tentang jumlah cerpen yang saya buat per bulan, juga berapa banyak buku yang saya baca, dan mendata seluruh karya yang terbit di media, maka beginilah hasil akhirnya.

Slogan "sehari minimal satu cerpen" memang tak selalu dapat terpenuhi, tapi melihat hasil selama 12 bulan, dapat dibilang resolusi yang saya tulis di akhir tahun 2015 lalu terpenuhi. Tentu saja ini tidak mudah. Melihat jumlah tiap bulan yang bervariasi, sudah dapat ditebak bagaimana saya yang telanjur cinta menulis juga punya masalah-masalah. Sekali waktu masalah hidup bisa dengan mudah teratasi dan segala hal di dunia ini tidak menghambat proses berkarya, tetapi di lain waktu bisa amat sulit. Efeknya, menulis pun tidak akan lancar.

Tuesday, 11 October 2016

Senjata Para Penulis

Kalau mau jadi penulis, yang pertama harus kita miliki adalah kejujuran dan ketekunan. Jujur berkarya alias tidak memplagiat karya orang. Tekun mencoba dan mencoba meski sering gagal. Dua hal itu senjata utama. Letaknya ada di bagian paling dalam dari diri kita. Senjata di level berikutnya adalah referensi bacaan dan pergaulan. Semakin banyak kita membaca dan bergaul, semakin banyak bahan tulisan.

Adapun senjata di level paling luar adalah pulsa internet dan alat ketik. Bagaimanapun, ini sangat penting. Ada pulsa, kita bisa online. Perkembangan dunia sastra dan info-info penting bisa diakses dari internet. Sedangkan alat ketik, memang dari jaman dulu selalu penulis butuhkan. Alat ketik jaman sekarang laptop dan komputer dan bahkan ponsel pun bisa. Jika fasilitas terakhir tidak ada, masih ada warnet di sekitar kita.

Demikianlah senjata-senjata yang dibutuhkan jika ingin menjadi penulis.

Tuesday, 30 August 2016

Menulis Sesuai Bekal yang Saya Punya

Saya menulis apa yang ingin saya tulis. Tidak semua ide-ide yang masuk ke kepala langsung saya ubah jadi cerita. Sebagian ada yang menunggu beberapa lama, dan sebagian malah tidak sama sekali. Saya menulis sesuai dengan "bekal" yang saya bawa. 

Hidup saya di lingkungan yang seperti apa, pengalaman saya sepelik atau sesederhana apa, buku dan film apa saja yang sudah saya konsumsi sejak kecil, mimpi-mimpi buruk/indah apa saja yang pernah saya alami, orang-orang macam apa yang saya temui, serta harapan-harapan sepi di hati saya--itu semua yang disebut bekal. Seandainya ada ide luar biasa namun tidak ada peluang bagi saya untuk menggubahnya menjadi cerita yang bagus, meski hanya cerita pendek, saya lebih suka tidak menulis soal itu.

Monday, 22 August 2016

Totalitas Tokoh dalam Cerita Fiksi

Salah satu penyebab cerita yang kita tulis kurang enak dibaca adalah kurang berani jujur. Seandainya kita buat sesosok tokoh itu brengsek, maka jadikan dia biangnya brengsek. Dan jika kita butuh tokoh suci, sucikan dia sampai upil pun tidak ada di lubang hidungnya. Semua harus total dan kita harus jujur mengungkap bagaimana kondisi sebenarnya andai mereka muncul begitu saja di dunia nyata. Tentu saja totalitas ada porsinya. Tokoh brengsek dan suci pasti memiliki sisi lain yang bertentangan dengan watak mereka, dan itu harus dijelaskan dengan faktor logis dari masa lalu si tokoh.

Tidak bakal bagus jika kita buat tokoh pemalas, yang tidak suka membaca, tapi malah sering sekali mengutip-ngutip ucapan yang ada di berbagai buku tebal. Ini sih kitanya sendiri sebagai penulis cerita ingin dianggap berpengetahuan luas dan tahu ini-itu, lalu si tokoh pemalas dijadikan medium penyampai segala yang kita tahu. Cerita dengan tokoh semacam ini saya pikir gagal total. Bahkan tokoh fiktif cerdas pun tidak butuh mengutip-ngutip ucapan berbagai filsuf Yunani, jika memang di cerita yang kita buat ia tidak butuh mengucapkannya.

Membacalah Agar Tidak Jomblo

Saya tersedak waktu dengar seorang teman bilang kebanyakan membaca buku membuatmu cepat tua dan stress dan pikun dan terserang penyakit jantung dan (boleh jadi) mati muda.

Saya benar-benar ingin tertawa karena tidak tahu dapat ilham dari mana dia mengatakan hal itu. Tapi, saya menghargai ucapannya. Tidak saya protes habis-habisan, apalagi menertawakannya, karena toh dia tidak tahu saya suka membaca buku. Saya tidak perlu membela diri, bahkan meski konon seribu lebih manusia mengklasifikasikan saya ke golongan makhluk lumayan ganteng. Ini semata karena dia bilang seorang yang menggilai buku lebih banyak bakal menderita stress, dan salah satu faktor hilangnya aura ganteng dari wajah seorang lelaki adalah stress. 

Kutipan-Kutipan Indah Tidak Cocok untuk Cerita Fiksi

Selama ini saya jarang memasukkan kutipan-kutipan untuk tulisan fiksi. Mungkin dulu di awal-awal belajar menulis cerpen beberapa kali mencoba, tapi untuk saat ini sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah sama sekali. Cerita fiksi, entah cerpen atau novel, sebisa mungkin saya "penuhi" dengan bagian-bagian pendukung cerita saja, bukan kutipan atau semacamnya. Kalaupun ada yang mengarah ke sana, itu pun lahir dari pemikiran tokoh yang saya buat, dan tidak semua tokoh saya itu orangnya waras. 

Tentu saja, kalimat atau suara hati tokoh tidak waras, yang menyerupai kutipan, sebagian tidak bisa dicontoh. Dengan kata lain: saya sebagai penulis hampir selalu tidak menelurkan kutipan apa pun. Ini terjadi sejak dua tahun yang lalu. Ketika itu saya merasa ingin muntah membaca cerpen saya sendiri yang dibumbui 3-4 kutipan. Lalu saya berpikir apa sebabnya?

Lebih Baik Dikenang Jadi Orang Biasa, Daripada ...

Bagaimanapun rezeki kita itu sudah ada yang mengatur, yaitu Allah. Tidak perlu cemas mendapat rezeki yang seakan "salah" selama kita tidak menyimpang dari koridor yang tepat. Bermimpi menjadi penulis itu bagus. Semua orang boleh. Kalau memang benar-benar cinta, kita pasti konsisten. Dan jika sudah konsisten, terbukti kita orang yang tekun. Kalau sudah begitu, tidak perlu cemas dengan kegagalan, karena ada saatnya rezeki dari menulis akan didapat. Kan kita sudah konsisten; tinggal menunggu waktu saja dan tidak henti belajar.

Dari awal ini sudah harus diyakini. Jika kita tidak kunjung dapat rezeki dari menulis, sementara kenyataannya kita memang tidak konsisten berusaha (untuk tidak menyebut kata 'malas'), ya berarti niat ingin sukses jadi penulis hanya ikut-ikutan atau cuma ingin gaya di depan teman-teman, dan rezeki kita mungkin bukan dari jalan menulis.

Langit Mencatat Perjuangan Orang-Orang Jujur

Sedih ada kasus plagiasi lagi yang mencuat belakangan ini. Rasanya belum juga ada penggila kesuksesan instan yang jera. Dari waktu ke waktu polanya hampir selalu begini: ketahuan, ramai, pelaku meminta maaf, ramai, surut, dilupakan. Atau begini: ketahuan, ramai, pelaku menghilang, dilupakan. Dan itu terus berputar seperti fase-fase di atas ditempel di sebuah roda. Rodanya tidak berhenti menggelinding karena tidak ada rem.

Apa yang mereka, para plagiator itu, pikirkan?

Ketika kita selesai menulis cerpen, misalnya, lalu terbit di sebuah koran, maka biasanya kita bahagia dan bangga. Benarkah? Karya orisinal tampil, sebut saja oleh penulis A, maka sangat wajar dia merasa bangga. Apalagi jika baru menapaki dunia literasi. Perasaan semacam itu sudah pasti manusiawi.

Menambah Kualitas Bacaan = Syarat Mutlak Penulis

Jika ingin menjadi penulis yang baik, bukan hanya soal harus konsisten menulis. Tambah juga bacaan di rumah dengan yang lebih berkualitas dan berbobot. Membaca buku yang itu-itu saja membuatmu stuck di tempat. Anggap saja belajar.

Membaca bacaan yang tadinya bukan seleramu itu seperti rekreasi ke tempat baru. Kadang menyenangkan, tetapi bisa juga memusingkan. Tidak apa. Yang penting buku-buku yang dibaca tidak melulu buku soal patah hati, misalnya. Tidak cukup uang untuk beli? Bisa pinjam ke perpustakaan. Bacaan bermutu juga bisa didapat dengan saling tukar buku bacaan dengan teman penulis. Maksudnya tukar untuk saling meminjami, dan nanti harus dikembalikan, jangan disobek-sobek, lalu dicampur air putih dan diaduk jadi bubur kertas untuk kamu konsumsi.

Konsisten Menulis karena Cinta

Di awal mengenal dunia literasi, lalu berniat menekuninya, mungkin kau pernah/sering merasa takut jika akan menulis sesuatu. Kau takut gagal merampungkan tulisan, meski cuma satu halaman. Kau juga takut tulisanmu jadi jelek dan dibuang ke tempat sampah oleh siapa pun yang membacanya. 

Lalu di hari-hari berikutnya kau mengira kegiatan menulis cukup mengerikan. Mau pergi ke meja belajar untuk menulis ide-ide hebatmu saja, berasa pergi ke dokter untuk disuntik tiga kali berturut-turut di tempat yang sama, dan itu bukan suntikan anestesi. Belum apa-apa, membayangkannya saja kau sudah lemas dan meriang. Atau sebut saja bentuk ketakutan-ketakutan lain, yang membuatmu mulai malas, dan akhirnya tidak produktif, bahkan memutuskan, "I'm done!"

Sunday, 17 July 2016

Menulis Membuatmu "Kaya"

Suatu hari, beberapa tahun silam, di dompet saya hanya ada beberapa ribu rupiah. Saya belum lama keluar dari pekerjaan yang sebetulnya enak, karena gajinya besar. Pada saat itu untuk lulusan SMA, gaji sebesar itu hampir mustahil didapat. Tapi karena tidak bahagia, saya memutuskan berhenti. Suatu hari itu, kejadiannya tidak jauh dari sekolah SMP saya. Karena belum dapat pekerjaan baru, saya mencari informasi lowongan kerja di warnet. Tidak tahu kenapa, mengingat kondisi dompet saya yang makin memprihatinkan, sementara uang tabungan tidak mungkin saya pakai terus-terusan, saya tiba-tiba berpikir ingin mencari tambahan uang dengan cara lain. Yang pertama melintas di pikiran: saya harus menulis.

Ketika itu saya sadar, bahwa memang uang yang saya bayangkan tidak bisa langsung didapat. Menulis adalah menabung. Uang hasil jerih payah baru bisa dinikmati setelah menjalani proses panjang. Saya sudah tahu itu, meski belum benar-benar terjun ke dunia literasi. Siang itu, saya putuskan saya terjun. Saya pikir saya harus total jika ingin memperoleh tabungan ekstra di masa mendatang. Itu pun jika saya sukses menjadi penulis. Untuk itu, saya bertekad tidak ingin berhenti.

Maka, siang itu juga, saya berjanji akan mencintai dunia literasi sampai tua dan bahkan sampai mati. Ini bukan main-main. Saya merasakan gejolak yang luar biasa. Semacam jatuh cinta jenis lain. Ada motivasi-motivasi tersendiri, selain tabungan ekstra tadi, yang saya kejar dengan menulis: saya ingin berguna bagi orang lain. Sebelumnya, saya merasa belum begitu berarti di kehidupan ini. Kadang saya bertanya, "Untuk apa saya lahir ke dunia ini?" Tahun-tahun itu masa kelabu saya. Kesedihan akibat kegagalan bertubi-tubi membuat saya merasa hidup di badan manusia lain.

Siang itu, di sebuah warnet tua, saya mendapat pencerahan. Bahwa saya harus menulis untuk lepas dari keresahan. Saya harus bangkit dan menolak kalah. Saya merasa saya belum berbuat apa-apa, jadi saya harus segera berbuat. Mumpung kesadaran ini muncul.

Tidak butuh waktu semenit, setelah "hidayah" tadi mampir, saya segera mencari informasi lomba menulis di Google. Hasilnya saya digiring ke perkenalan dengan grup-grup menulis online yang pada saat itu ada yang sudah besar, ada pula yang baru berdiri. Sampai sekarang, grup-grup tersebut (yang ketika itu saya kenal) masih aktif dan terus melahirkan bibit-bibit penulis baru.

Sejak itu saya mulai lebih paham apa saja yang harus dan penting penulis lakukan agar mau sukses: konsisten. Oleh teman sekomunitas, di masa-masa awal menulis, saya sudah dianggap produktif hanya karena mencoba menulis setiap hari (minimal sehari satu halaman dari jenis tulisan apa pun). Saya tidak tahu kenapa hati saya jadi jauh lebih bahagia, meski uang di dompet masih segitu-gitu saja. Ketika akhirnya dapat job, saya lebih "gila" lagi dalam menulis. Mengenal lebih banyak teman dari komunitas-komunitas lain, saya lebih "gila" dan "gila".

Apa yang saya dapat? Kegagalan dalam lomba? Sering juga. Kemenangan? Ada beberapa. Uang? Sedikit demi sedikit, alhamdulillah. Jadi korban penipuan? Oh, tentu saja pernah. Saya bahkan pernah nyaris mendapat hadiah penghargaan bergengsi, yang luar biasa, namun dibatalkan sepihak hanya karena miskomunikasi antara dewan juri. Penghargaan yang batal itu, barangkali dapat membuat sebagian keluarga dan tetangga saya, yang meragukan aktivitas menulis saya, menjadi takjub. Bahkan, seorang teman pun sempat mengaku, "Jujur saja. Gue masih heran. Kok bisa kamu menang?" Saya memang menang. Tapi "level" hadiah diturunkan, namun sampai sekarang hak saya belum saya dapatkan. Tentu saja, bagi kawan yang membaca status ini dan tahu maksudnya, saya minta tidak perlu dibahas. Ini sekadar berbagi pengalaman, sebab beberapa rekan di luar sana, terkadang meributkan sesuatu yang harusnya dapat disederhanakan, atau meributkan sesuatu yang nilainya tidak lebih berharga ketimbang waktu yang nantinya terbuang percuma. Bukankah lebih baik kembali berkarya? Jika misal suatu hari kita terluka oleh pihak tertentu, jauhi saya perselisihan.

Semua kejadian itu lekat di kepala saya. Saya tidak akan lupa. Tapi, saya tidak terlalu terbawa emosi dengan semua itu. Saya biarkan mengalir. Semua yang terjadi saya anggap proses dan saya menikmatinya meski harus berdarah-darah. Saya jalani saja kecintaan pada menulis ini, dan menyimpan keyakinan bahwa kelak kehidupan saya akan jauh lebih baik ketimbang jika saya memutuskan berhenti menulis.

Tidak sedikit juga cibiran saya dapatkan. Pertanyaan tentang kualitas dan kuantitas juga tentu saya alami. Apalagi sekadar muncul pihak-pihak yang seolah sengaja datang untuk membuat masalah, misal secara terang-terangan menulis tentang diri saya (bukan karya saya) dengan sudut pandang subjektif dan tidak seratus persen sesuai fakta. Seorang teman berkomentar tentang tulisan macam itu. Ia bilang itu menjijikkan dan benar-benar menghina saya. Tapi, apa yang saya lakukan? Saya abaikan saja dan saya kembali berkarya.

Tentu saya tidak akan mengabaikan jika tulisan yang dibuat adalah untuk mengkritik karya saya, bukan menghina/melecehkan secara personal. Kritik untuk karya ini lumayan sering saya dapat. Dari yang paling tajam, sampai yang kelewat halus (untuk tidak menyebutnya munafik), semua saya dapat. Dengan senang hati, saya terima semua itu. Saya resapi, karena toh berguna juga untuk perbaikan karya ke depan. Di antara para"kritikus" ini, tidak bisa dimungkiri, beberapa sengaja datang hanya untuk menghina karya saya. Lalu, apa saya marah? Oh, tidak. Hinalah sesuka hati karya seseorang, tapi jangan sampai menghina orangnya. Yang seperti ini bisa saya terima.

Suatu kali, dalam pertemuan dengan beberapa teman lama, saya dipuji karena kini dianggap sukses jadi penulis. Saya bilang, "Saya belum apa-apa, karena masih butuh banyak belajar." Memang begitulah kenyataannya. Setiap hari kita butuh belajar. Hari demi hari kita dipersilakan memilih antara mendaki puncak cita-cita, ataukah berhenti karena lelah? Saya rasa kita tidak perlu berhenti, karena sebenarnya puncak itu ada di akhir jatah hidup.

Orang bijak berkata, "Jangan salahkan Tuhan jika Anda mati dalam keadaan miskin." Maka, marilah menjadi kaya. Kaya itu bukan sekadar soal uang seperti yang dibahas di atas, tetapi juga soal hati.

Menulis Memang Harus Konsisten, Tapi ...

Menulis memang harus konsisten. Rasa malas memang harus dilawan. Namun, jika kita tidak sanggup, sebaiknya jangan dipaksa. Ada saatnya kita merasa kitalah ruh dari sebuah tulisan sehingga apa pun yang terjadi di sekitar kita, menulis jadi tidak terasa. Seperti mesin yang bekerja tak kenal lelah, kita terus dan terus menulis. Namun ada saatnya juga kita ditolak mentah-mentah oleh tulisan yang akan kita garap, sehingga bahkan separagraf pun terasa berat. Mau jadi ruh tidak bisa. Jangankan ruh, jadi kulit si tulisan saja tidak diizinkan.

Maka, menulislah sesuai kemampuan. Memang harus dipaksa tubuh dan jiwa agar bangun dari rasa malas, tetapi jika semangat sudah ada lalu otak tidak mendukung secara maksimal, sebaiknya break dulu beberapa jam, atau mungkin sehari dua hari. Baca-baca buku yang kita sukai atau jalan ke tempat menyenangkan atau lakukan apa pun yang membuat otak rileks.

Saya sendiri, meski bisa menulis 4-5 cerita per hari, ada saatnya tidak sanggup menulis sama sekali. Bila saya merasa ada yang menghambat, saya putuskan libur dulu. Mengerjakan tulisan dengan otak tertekan justru mengacaukan apa yang kita mau tulis. Sebab, sekalipun pabrik cerpen berdiri di kepala saya, saya pun juga manusia. Kadang satu tulisan per hari atau tidak sama sekali patut disyukuri. Menyadari sampai di mana batas kita dan memanage kemampuan otak yang Tuhan berikan, adalah salah satu cara untuk menjaga konsistensi.

Bukankah jika lelah kita mudah jenuh? Maka, janganlah menulis di saat otak sudah waktunya diistirahatkan. Kalau kita terus paksa, jangan-jangan kita malah pingsan dan sakit dan berpikir menulis sama dengan menyiksa diri.

Lawan rasa malas. Tapi kenali batas dirimu. Pahami saat mesin di kepalamu bekerja maksimal, sebab pada hari itulah kamu tahu seberapa ajaibnya menjadi ruh dari apa yang kamu tulis. Kalau jiwa raga sudah maksimal namun tidak juga menulis, berarti kamu cuma ikut-ikutan dan latah karena melihat temanmu jadi penulis. Memang begitu. Orang jatuh cinta kan bukan karena latah? Kamu belum tentu jatuh cinta pada orang yang membuat hati temanmu kepincut.

Friday, 24 June 2016

Masa Kecilku: Gara-Gara Buku Kumpulan "Kliping" Cerpen

Kalau tidak salah, dua puluh tahun lalu, ketika masih berumur 5 tahun, pada suatu sore saya menemukan sebuah buku tulis yang di dalamnya berisi kumpulan cerpen koran yang dikliping dengan sangat rapi dan telaten di meja belajar kakak saya. Katanya buku itu milik sepupu kami dan ia sengaja "mewariskannya" ke kakak.
Buku kumpulan cerpen "legendaris" itu. Cerpen ini jadi salah satu favorit saya.

Saya yang suka membaca pun amat senang mendapati ada buku cerita semacam ini di rumah, karena sebenarnya pada saat itu belum satu pun buku cerita saya miliki. Paling hanya buku bergambar dan saya sudah bosan dengan buku cerita bergambar. Maka saya membaca cerpen-cerpen di buku ini seperti memainkan mainan baru; susah berpisah. Meski beberapa cerita di dalamnya agak membingungkan, karena beberapa kata belum saya pahami artinya, saya baca saja setiap cerita sampai habis.

Friday, 22 April 2016

Pertanyaan tentang Orisinalitas yang Menyakitkan

Beberapa hari yang lalu ketika beberapa tulisan saya dimuat di beberapa media berbeda dalam sehari (dan tentu saja tulisan-tulisan tersebut juga berbeda), seseorang yang entah siapa mempertanyakan orisinalitas semua karya saya. Ya, semua, bukan hanya sebiji dua biji.

Saya buka akun tersebut; tidak jelas pemiliknya siapa. Namun segera saya tanggapi dengan santai, bahwa: tentu tulisan saya orisinal. Jika dia ingin baca, saya sodorkan alamat blog saya (sekalian promosi, hehe), dan bacalah sebanyak yang ia sanggup, semua postingan yang saya buat di blog tersebut sejak tahun 2013 silam. Paling mendominasi cerita pendek dan resensi buku. Barangkali dengan membaca semuanya, pemilik akun misterius ini menemukan jawaban.

Secuil Kisah Penulis Cerita di Koran

Papa saya bertanya, setelah membaca cerpen saya di Republika kemarin, "Pak Kodir itu apa sosok dari dunia nyata?"

Saya jawab tidak, kalau yang dimaksud individu tertentu. Tetapi saya yakin di luar sana ada banyak sosok seperti Pak Kodir. Lalu obrolan berlanjut ke soal cerita dan dunia literasi yang saya tekuni.

Di keluarga kami, papa sayalah yang biasa mengapresiasi tulisan saya, sependek apa pun komentarnya, sesingkat apa pun ulasannya. Di rumah memang tidak banyak yang suka membaca karya fiksi. Bahkan saya pikir, saya dan Papalah yang paling banyak membaca di keluarga ini.