Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Monday, 6 August 2018

[Cerpen]: "Mayat Masa Lalu" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Kompas edisi Minggu, 5 Agustus 2018)
 
    Seonggok mayat dirubung lalat di halamanku, persis di bawah pohon nangka. Jauh sebelum itu terjadi, berpuluh tahun lalu, pohon itu tempatku main petak umpet. Setelah agak dewasa, aku jadikan pohon itu sebagai tempat nongkrong bersama teman-temanku sesama pengangguran. Sesudah menikah, pohon itu tidak lagi kuperhatikan.
    Aku tinggal di rumah peninggalan orangtuaku sejak bayi. Jadi hafal tiap sudutnya. Ketika seonggok mayat ditemukan di bawah pohon nangka tersebut, aku pikir seseorang sengaja membuat masalah.
    Mayat itu tukang kebunku. Kardi namanya, yang mengaku bernama Sapono saat awal kami kenal kira-kira tujuh tahun silam. Lalu, kuketahui dia pernah menipu seseorang di suatu dusun di kaki gunung, dengan KTP palsu bernama Markoni, dan menyaru jadi guru SD. Dia mencabuli dua perempuan dan kabur membawa beberapa ekor sapi, dan mengganti nama menjadi Kardi.

[Cerpen]: "Maria dan Toko Baju" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Tempo edisi akhir pekan, 4-5 Agustus 2018)

    Saya perhatikan perempuan itu tidak pernah absen kemari setiap sore, selepas para buruh kelar memeras tenaga di pabrik, atau persis saat bus penuh sesak oleh siapa pun yang baru pulang kerja. Bersama seorang teman atau sering sendirian, ia membunyikan lonceng pintu depan—tanda pelanggan datang—dan memilih beberapa helai baju untuk dibawa pulang.
    Namanya Maria, buruh pemintal benang di suatu pabrik di distrik ini. Saya tidak mengenalnya, hanya tahu dari pegawai yang lama-lama akrab dengannya. Di toko saya, ia sering beli gaun atau baju atau cuma selendang entah untuk apa. Memang benar, tidak setiap sore ia belanja, tapi banyak yang sudah ia beli dari sini. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya ia butuhkan dengan datang ke sini? Maksud saya, untuk apa semua sandang itu? Maria sendiri, saya perhatikan, tidak begitu sering gonta-ganti pakaian. Bajunya, ya itu-itu saja.

[Cerpen]: "Calon Serigala" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Bromo edisi Minggu, 5 Agustus 2018)
 
    Mudakir menyuruhku berbaring di meja dapur. Ia lipat bagian bawah kausku untuk melihat permukaan perutku. Basah dan gatal. Tetapi Mudakir bilang, tidak ada masalah. Bangkai anjing yang kusimpan dalam perut malam ini kelak akan keluar dalam wujud serigala.
    "Boleh jadi dia langsung lapar. Tetapi, bisa juga tidak seketika lapar dan mencari induknya. Jika itu yang terjadi, buat dia mengira kamu induknya," kata Mudakir.
    "Kalau lapar?"
    "Beri makan!"
    Mudakir menjelaskan beberapa peraturan. Pertama, ia tidak mau orang lain tahu dalam perutku bersemayam anjing mati, yang kelak jika keluar menjadi seekor serigala. Termasuk anak istriku. Biar dunia tak tahu. Rahasia segala-galanya. Kedua, ia tidak mau aku protes kalau serigala itu nanti memangsa seluruh keluargaku.
    "Pengorbanan nomor satu. Lain-lain di belakang," tutupnya.
    Mudakir pamit. Ia meminta uang sepuluh ribu yang tergeletak di meja dapur untuk dibawanya pulang. Kukatakan ia boleh mengambil uang itu, meski bukan punyaku. Aku tahu istriku pasti meninggalkannya entah karena lupa atau apa. Itu bukan masalah.
    Begitulah. Mudakir pergi dan sejak itu kami tidak bertemu lagi.

[Cerpen]: "Pembalasan Maria" karya Ken Hanggara

 (Dimuat di Suara NTB edisi Sabtu, 4 Agustus 2018)

    Maria membunuh kelinciku. Aku bisa melihat itu. Kau paham, di kepalamu muncul ilustrasi, semacam film bisu; kau melihat kejadian-kejadian buruk, tetapi kau tak ada di sana. Kau tak dapat berbuat apa-apa dan tak mungkin takdir kau putarbalik. Seperti ini yang terjadi di kepalaku: Maria mendorong gerobak dan melihat ada kelinci di depan. Ia mendorong dan mendorong, dan ....
    Aku tidak berani bilang kelinci, kendati lucu, ternyata bisa tampak menjijikkan.
    Aku tidak menganggap kelinci binatang menjijikkan. Cuma darah yang kubenci dan membuatku mual. Aku tidak senang darah, termasuk darah yang keluar dari jariku waktu bermain dengan silet cukur papaku. Aku mengeluarkan darah yang asin dan memualkan. Itu menjijikkan. Kelinci juga bisa berdarah. Kalau bukan karena kegilaan Maria, kelinciku tidak berdarah.
    Aku harusnya tahu, ketika Eli—demikian aku memberi nama kelinci berbulu putih itu—datang, bahwa Maria memandangku penuh kebencian. Dari terasnya yang berjarak dekat dari halamanku, dia berdiri kaku seperti hantu.
    "Beli di mana kelincimu?" tanya Maria.

Monday, 30 July 2018

[Cerpen]: "Tabung Tawa" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Tanjungpinang Pos edisi Minggu, 29 Juli 2018)
 
    Seandainya di bumi ini setiap manusia dijatah memiliki tawa dengan volume yang sangat terbatas. Misalnya, tawa satu orang manusia disimpan di dalam tabung tertentu, sehingga tidak ada yang sembarangan melempar tawanya, demi berjaga-jaga agar suatu ketika seseorang tidak kehabisan tawa untuk hal-hal yang tidak penting.
    Aku sudah membayangkan hal ini, sekalipun Tuhan tidak memberi tahu para nabi dan rasul bahwa setiap manusia memiliki jatah tawanya masing-masing. Jadi, menurut keyakinanku (dan semoga ini benar), tawa setiap jiwa disimpan dalam satu tabung yang tersembunyi di dalam tubuhnya.
    "Kamu sudah gila. Sebaiknya kamu bawa dirimu ke ahli saraf, atau mungkin sudah saatnya kamu resign. Pekerjaanmu yang gila benar-benar membuatmu gila!" kata seorang temanku.