Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Friday, 17 November 2017

[Cerpen]: "Otobiografi Pohon" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Majalah Femina edisi 30/2017)
 
Pohon-pohon ingin bicara, tetapi mereka tidak punya keberanian. Kalau saja semua pohon di dunia berani bicara, mungkin dunia akan berbeda. Sayangnya, pohon-pohon menahan diri untuk bicara. Dan kau cuma bisa dengar daun-daunnya bergesekan. Itulah cara pohon menggumam, bukan bicara. Dan bila kau melihat pohon bergoyang-goyang, maka ia sedang berpikir.
Jangan sebut angin, karena ia tidak tahu urusan. Di kota ini, pepohonan bergerak atas kehendak pohon itu sendiri. Memang benar angin mampir ke pucuk daun, tapi ia sekadar bergelayut sebelum pergi. Asal kau tahu, angin sangat tolol. Kerjaannya main ke sana kemari dan kalau salah jalan, jadi kambing hitam.
Teman Ibu mengajariku berbagai nama angin yang aneh. Namanya sulit disebut, karena saking bagusnya, tapi nasib angin tidak lebih baik dari toilet. Angin tidak cuma dibenci, tetapi juga dikutuk karena membunuh banyak nyawa. Semua mati oleh angin. Aku rasa, ia pantas dibenci. Dan teman Ibu itulah angin, meski bukan hanya dia angin di kehidupan kami.

[Cerpen]: "Warisan Terakhir Kolektor Gigi" karya Ken Hanggara


(Dimuat di Tribun Jabar edisi Minggu, 5 November 2017)
 
Cukup lama juga Brenda menjadi kolektor gigi. Ia mengaku mendapat banyak gigi ketika masa perang masih berlangsung. Itu bertahun-tahun lalu, ketika dia masih sangat muda, karena sekarang kami sudah menyebutnya bau tanah.
Orang-orang tidak suka Brenda. Dari dulu hampir selalu begitu. Brenda penganut aliran sesat, Brenda si pemuja setan, dan lain-lain. Tuduhan serius tidak pernah Brenda masukkan hati. Sejak muda sudah tidak punya banyak teman, dan saat tubuhnya menua, kurasa ia tidak lagi memiliki teman, kecuali aku.
"Mereka hanya tidak betul-betul mengerti," katanya selalu, ketika ada yang cukup dekat dengannya mengingatkan akan kebencian semua orang terhadapnya. Brenda tidak pernah cemas memikirkan itu.

Thursday, 9 November 2017

Gaya Bekerja Para Penulis Tak Pernah Sama

Kalau ada teman yang bertanya tentang bagaimana membuat cerpen yang baik atau bertanya soal trik-trik tertentu, jawaban yang saya berikan lahir dari bagaimana cara saya membuat cerpen. Soal apakah jawaban itu bakal nyambung dengan gaya bekerja teman saya tersebut, saya tidak ikut campur, sebab proses kreatif tiap orang bisa berbeda-beda.

Kejarlah Dirimu Sendiri, Bukan Orang Lain

Iri dengki pada kesuksesan orang lain, yang berujung pada tindakan-tindakan negatifmu demi mengejar orang tersebut, hanya akan membuatmu rugi. Selain cepat tua dan berisiko terserang penyakit jantung dan stroke, kamu juga akan susah lepas dari pengaruh orang itu. Kamu akan selalu merasa saling kejar-kejaran dengan orang tersebut, padahal sebenarnya yang harusnya kamu lawan adalah dirimu sendiri.

Menulislah Biar Kewarasanmu Terjaga

Saya pernah dengan begitu yakin mengatakan pada seorang teman, "Kalau saya tidak menulis, mungkin saja saya bakal gila."

Untuk sesaat, teman saya itu tampak terpana, dan beberapa detik kemudian segera saya tambahi kalimat yang boleh jadi agak ganjil tadi, "Gila karena bosan maksudnya. Bahkan bisa saja bukan cuma jadi gila, tetapi mati karena bosan oleh hidup yang begini-begini saja."

Teman saya menatap saya dengan kepercayaan penuh, dan saya tahu itu dari pancaran matanya. Dia sepenuhnya setuju karena ikut mengalaminya. Bagi kami yang menjadikan menulis bukan hanya sebagai ajang penemuan jati diri atau mencari tambahan uang jajan, melainkan juga ditujukan untuk kebaikan orang lain, setidaknya orang terdekat dulu, menulis adalah obat untuk banyak hal. Saya pribadi lebih termotivasi bahwa apa yang saya upayakan saat menulis adalah demi orang tua, dan dampak yang saya rasakan sungguh luar biasa.