Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Tuesday, 11 July 2017

[Cerpen]: "Minggat" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 9 Juli 2017)
 
    Aku memutuskan menumpang kendaraan orang saja, ketimbang jalan kaki sekian kilo jauhnya. Aku jelas tidak akan sanggup. Lagi pula aku juga baru melahirkan, meski bayi yang seharusnya tumbuh itu malah mati sia-sia. Jadi, dalam kondisi nyaris putus asa, aku pergi dengan membawa sedikit barang dan secara sadar meninggalkan suamiku yang kasar. Dengan seseorang memberiku tumpangan, tidak lagi kehidupanku seburuk yang sudah-sudah.
    "Aku harus segera keluar dari area sini, sebelum suamiku tahu dan akhirnya diriku kembali dibawa pulang," kataku ke seorang sopir truk yang kucegat.
    Sopir truk itu kelihatannya berbudi luhur. Dia berkacamata dan bertampang seperti tidak pada tempatnya. Maksudku, sejauh yang aku tahu, sopir truk biasanya adalah para lelaki hidung belang yang senang melihat wanita cantik atau setidaknya senang dengan pikiran kotor mereka tentang wanita. Dan entah bagaimana aku tahu sopir berkacamata ini bukan jenis lelaki yang seperti itu.
    Tentu saja aku harusnya sadar betapa tidak semua sopir truk adalah hidung belang. Tidak semua lelaki adalah setan. Tidak semua dari mereka bertangan besi sebagaimana suamiku selama ini. Jadi, dengan keyakinan baru yang kucoba memakluminya ini, aku pun naik ke truk tersebut dan mengucap terima kasih sebelum akhirnya sopir tersebut bertanya, "Ke mana tujuan Anda?"
    "Wah, saya juga tidak tahu."
    Pada saat itu truk sudah melaju dan jalanan di kiri kanan yang berupa hutan. Sopir berkacamata itu tidak bertanya apa-apa selain menawariku air minum dan sepotong roti isi cokelat. Dia bilang, sebenarnya baru pertama kali ini melewati hutan ini dan bertemu seorang wanita yang lari ketakutan dari suaminya sendiri.

[Cerpen]: "Maria Pergi ke Angkasa" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Analisa Medan, Minggu, 9 Juli 2017)
 
    1/
    Sejak kecil saya bercita-cita pergi ke angkasa. Tapi banyak orang mengira saya gila dan menyuruh saya ke dokter; siapa tahu otak saya rusak atau mungkin di tempurung kepala saya tidak ada otak sama sekali. Kecuali astronot, kata mereka, tidak ada yang bisa ke angkasa!
    Saya tahu saya bisa ke angkasa, walau bukan astronot dan belum pernah ke sana, kata saya. Suatu hari nanti, lihatlah, saya ke sana seperti Bapak saya.
    Bukannya mendukung, mereka malah tertawa. Padahal mereka tahu Bapak saya di angkasa. Beberapa hari setelah itu, saya ditaruh di kandang babi. Baunya tidak enak dan saya berak di sana, juga kencing dan makan di sana. Semua saya lakukan di sana setelah saya ditangkap dan dipukuli ramai-ramai. Saya dipasung karena melukai siapa pun yang meledek saya.
    Akhir-akhir itu sebilah pisau tidak lepas dari tangan. Sembari memandang angkasa, saya genggam pisau itu erat-erat dan menjilatnya. Dalam setiap jilatan, saya merasa ada Bapak di angkasa.
    "Wahai Bapak," kata saya, "coba turun dan bilang ke mereka kalau gadis sepertiku, betapapun tak berotak, juga bisa ke angkasa."
    Tetapi, Bapak yang konon mati dan dikubur entah di mana, tidak bisa menjawab.