Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Friday, 28 July 2017

[Cerpen]: "Menelusuri Identitas Diana" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Tabloid Apakabar Indonesia edisi 10/XII 22 Juli - 4 Agustus 2017)
 
    Pagi hari itu terasa lain. Aku bangun dan merasa dadaku sesak. Aku tahu selama ini tidak pernah mengalami gangguan pernapasan. Aku bangkit dari tempat tidur dan mulai berpikir tentang Diana, perempuan yang kusukai diam-diam, tetapi belum kukenal sama sekali.
    Diana mendekam di kepalaku sebulan terakhir, dan kurasa bayang wajahnya sukar hilang dari sana hingga kami benar-benar saling mengenal dan dapat kuungkap perasaan cintaku kepadanya.
    Barangkali memang ini terdengar aneh; aku jatuh cinta pada perempuan yang tidak kukenal, bahkan tidak kutahu sama sekali riwayat hidupnya. Aku juga tidak tahu apakah Diana putri dari keluarga baik-baik, ataukah keluarganya termasuk keluarga tidak beres. Tak ada informasi apa pun tentang Diana, selain namanya, yang kudapat secara rahasia dari seorang tetangga.
    Ini terjadi sebulan terakhir. Aku mencintai seorang gadis yang melintas di jalanan depan apartemenku, dan sejak itu kuputuskan untuk mencari tahu di mana dia tinggal. Tak terlalu sulit membuntuti Diana, sehingga dengan segera kutahu di mana dia tinggal. Pada akhirnya aku juga tahu jam-jam berapa saja saat dia pergi ke mini market sekadar berbelanja kebutuhan pokok setiap empat hari sekali, juga ke mana saja dia berkendara dengan motornya setiap pagi.

[Cerpen]: "Operasi Balas Dendam" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Koran Merapi Pembaruan, Jumat, 21 Juli 2017)
 
    Aku lupa kapan pernah melihat perempuan itu. Ia duduk di sisi tempat tidurku dan memberiku air. Ia bilang, aku harus minum agar tidak mati, dan kalau aku mati, ia tidak bisa menuntut balas. Aku tidak tahu kalau ia menyimpan dendam padaku, bahkan aku tak ingat pernah membuat suatu kesalahan sehingga ia pantas menuntut balas.
    "Aku tidak pernah melukaimu atau membuat gara-gara. Aku tidak pernah berdosa kepadamu," kataku.
    Ia tertawa dan menyuruhku minum. Selesai minum, tubuhku jadi semakin remuk. Aku tidak tahu kenapa bisa ada di tempat asing ini. Kamar yang pengap dan temboknya penuh noktah cokelat. Bau bangkai tikus merebak dari kolong tempat tidur. Barangkali ini tempat yang si perempuan siapkan untuk menuntut dendam yang tidak kutahu apa. Kubayangkan di luar kamar terdapat berbagai macam alat siksaan yang bisa membuatku cacat. Atau jangan-jangan, ia akan membunuhku?
    "Kamu memang tidak pernah salah," katanya kemudian. Ia menyelimutiku dengan kain sarung berbau apek. "Tapi tidak semua kesalahan mengendap begitu saja di kepala dan tidak hilang sampai seribu tahun. Kadang-kadang, kesalahan tak berarti yang kamu lakukan bisa menjadi begitu besar bagi orang lain."
    Aku tak tahu maksud ucapannya, tetapi memutuskan diam. Kupikir perempuan ini sinting dan aku sedang dikurung di rumah orang sinting. Istriku di rumah pastilah tahu aku tidak pulang tepat waktu dan segera menghubungi polisi dan orang-orang yang bisa membantunya mencariku. Aku dalam daftar orang hilang. Tidak lama lagi, perempuan sinting ini ditangkap, setelah tentu dengan mudah semua orang itu menemukan di mana aku ditawan.

[Cerpen]: "Perjalanan Pulang Paling Aneh" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Malang Post, Minggu, 16 Juli 2017)
 
    Malam itu hujan deras. Aku terjebak di halte dekat kantor, yang tidak terlalu ramai di atas jam sepuluh malam. Sudah beberapa hari ini bos marah besar karena baru tertipu orang kepercayaannya. Para pegawai bawahan sepertiku yang akhirnya kena imbasnya. Demi apa pun, masalah-masalah harus dibereskan, dan tindakan ini pun mengorbankan waktu setiap orang.
    Harusnya aku tahu. Membawa motor adalah hal utama sejak bos menambah daftar kerjaan yang harus kuselesaikan dalam sehari. Setumpuk berkas berisi data-data tahun lalu harus kuteliti ulang di tengah upaya mengambil tindakan hukum atas penipuan oleh orang kepercayaannya tadi. Aku tidak pernah bekerja sampai lupa waktu seperti kali ini. Aku bahkan tidak ingat jam berapa terakhir kali menyeduh kopi di pantry.

Tuesday, 11 July 2017

[Cerpen]: "Minggat" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 9 Juli 2017)
 
    Aku memutuskan menumpang kendaraan orang saja, ketimbang jalan kaki sekian kilo jauhnya. Aku jelas tidak akan sanggup. Lagi pula aku juga baru melahirkan, meski bayi yang seharusnya tumbuh itu malah mati sia-sia. Jadi, dalam kondisi nyaris putus asa, aku pergi dengan membawa sedikit barang dan secara sadar meninggalkan suamiku yang kasar. Dengan seseorang memberiku tumpangan, tidak lagi kehidupanku seburuk yang sudah-sudah.
    "Aku harus segera keluar dari area sini, sebelum suamiku tahu dan akhirnya diriku kembali dibawa pulang," kataku ke seorang sopir truk yang kucegat.
    Sopir truk itu kelihatannya berbudi luhur. Dia berkacamata dan bertampang seperti tidak pada tempatnya. Maksudku, sejauh yang aku tahu, sopir truk biasanya adalah para lelaki hidung belang yang senang melihat wanita cantik atau setidaknya senang dengan pikiran kotor mereka tentang wanita. Dan entah bagaimana aku tahu sopir berkacamata ini bukan jenis lelaki yang seperti itu.
    Tentu saja aku harusnya sadar betapa tidak semua sopir truk adalah hidung belang. Tidak semua lelaki adalah setan. Tidak semua dari mereka bertangan besi sebagaimana suamiku selama ini. Jadi, dengan keyakinan baru yang kucoba memakluminya ini, aku pun naik ke truk tersebut dan mengucap terima kasih sebelum akhirnya sopir tersebut bertanya, "Ke mana tujuan Anda?"
    "Wah, saya juga tidak tahu."
    Pada saat itu truk sudah melaju dan jalanan di kiri kanan yang berupa hutan. Sopir berkacamata itu tidak bertanya apa-apa selain menawariku air minum dan sepotong roti isi cokelat. Dia bilang, sebenarnya baru pertama kali ini melewati hutan ini dan bertemu seorang wanita yang lari ketakutan dari suaminya sendiri.

[Cerpen]: "Maria Pergi ke Angkasa" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Analisa Medan, Minggu, 9 Juli 2017)
 
    1/
    Sejak kecil saya bercita-cita pergi ke angkasa. Tapi banyak orang mengira saya gila dan menyuruh saya ke dokter; siapa tahu otak saya rusak atau mungkin di tempurung kepala saya tidak ada otak sama sekali. Kecuali astronot, kata mereka, tidak ada yang bisa ke angkasa!
    Saya tahu saya bisa ke angkasa, walau bukan astronot dan belum pernah ke sana, kata saya. Suatu hari nanti, lihatlah, saya ke sana seperti Bapak saya.
    Bukannya mendukung, mereka malah tertawa. Padahal mereka tahu Bapak saya di angkasa. Beberapa hari setelah itu, saya ditaruh di kandang babi. Baunya tidak enak dan saya berak di sana, juga kencing dan makan di sana. Semua saya lakukan di sana setelah saya ditangkap dan dipukuli ramai-ramai. Saya dipasung karena melukai siapa pun yang meledek saya.
    Akhir-akhir itu sebilah pisau tidak lepas dari tangan. Sembari memandang angkasa, saya genggam pisau itu erat-erat dan menjilatnya. Dalam setiap jilatan, saya merasa ada Bapak di angkasa.
    "Wahai Bapak," kata saya, "coba turun dan bilang ke mereka kalau gadis sepertiku, betapapun tak berotak, juga bisa ke angkasa."
    Tetapi, Bapak yang konon mati dan dikubur entah di mana, tidak bisa menjawab.