Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.
Showing posts with label inspiratif. Show all posts
Showing posts with label inspiratif. Show all posts

Thursday, 9 November 2017

Menulislah Biar Kewarasanmu Terjaga

Saya pernah dengan begitu yakin mengatakan pada seorang teman, "Kalau saya tidak menulis, mungkin saja saya bakal gila."

Untuk sesaat, teman saya itu tampak terpana, dan beberapa detik kemudian segera saya tambahi kalimat yang boleh jadi agak ganjil tadi, "Gila karena bosan maksudnya. Bahkan bisa saja bukan cuma jadi gila, tetapi mati karena bosan oleh hidup yang begini-begini saja."

Teman saya menatap saya dengan kepercayaan penuh, dan saya tahu itu dari pancaran matanya. Dia sepenuhnya setuju karena ikut mengalaminya. Bagi kami yang menjadikan menulis bukan hanya sebagai ajang penemuan jati diri atau mencari tambahan uang jajan, melainkan juga ditujukan untuk kebaikan orang lain, setidaknya orang terdekat dulu, menulis adalah obat untuk banyak hal. Saya pribadi lebih termotivasi bahwa apa yang saya upayakan saat menulis adalah demi orang tua, dan dampak yang saya rasakan sungguh luar biasa.

Sesekali Kita Perlu Pura-Pura Nggak Paham

Ada cerita lucu ketika saya sedang training di sebuah perusahaan nasional yang berpusat di Jakarta. Karena saya ikut interview dan test-nya di wilayah Jakarta, maka nama saya pun tercantum dalam daftar pegawai baru dari area ibukota. Dalam masa training yang berlangsung beberapa minggu itu, ada banyak pegawai dari daerah-daerah lain yang mengikuti proses seleksi sejak awal di kantor-kantor cabang.

Nah, tentu saya tahu rekan-rekan mana saja yang berasal dari Surabaya, kota asal saya, sehingga saya mencoba membaur dengan mereka. Ketika itu, secara tidak terduga, salah satu dari mereka yang tampak agak urakan meledek saya dengan bahasa Suroboyoan, yang kira-kira berarti, "Makhluk yang satu ini ngapain ikutan nimbrung?"

Tentang Teman Lama yang Membuat Saya Enggan Menyerah

Kejadian-kejadian kecil di sekitar kita sering kali, secara aneh dan tanpa kita sadari, berpengaruh besar bagi kehidupan kita di masa mendatang. Contohnya ketika saya mengenal seorang teman saat di Jakarta. Saya kenal dia secara tidak sengaja, yakni karena kami kebetulan mengenal teman yang sama, sehingga pada satu kesempatan di suatu weekend, bersama teman-teman lain, saya dan dia pergi ke tempat futsal. Perkenalan ini berlanjut ke omong-omong panjang, karena sepatu saya rusak sehingga tidak ikut bermain, sedangkan dia memang sengaja tidak ikut main. Hanya datang dan menonton saja. Jadi, kami berdua dan seorang teman lain duduk di tepi lapangan dan membahas hal-hal apa pun.

Teman baru ini ternyata cukup ramah saat diajak mengobrol, walau kelihatannya pendiam dan tertutup. Pada akhirnya saya tahu dia orangnya terbuka pada beberapa hal terkait impiannya. Dia pernah, karena tidak punya kenalan dan buntu ide, mengajak saya kolaborasi di audisi IMB jilid 1. Karena saya sudah punya grup, jadi saya tolak ajakan dia dengan halus. Dia tidak masalah. Dia bisa tampil sendirian. Hanya saja, ketika hari audisi, dia tidak datang entah dengan alasan apa.

Menikmati Hidup sebagai Full Time Writer

Sudah hampir setahunan ini saya benar-benar hidup sebagai full time writer, karena mencari pekerjaan baru belum ada yang cocok. Jadi cari rezeki hanya dari nulis di media-media, membuka jasa editing, nulis di blog, nulis skenario, dan sekitarnya, serta tentu saja menjual buku (karya sendiri) via online

Alhamdulillah selalu diberi kelancaran. Ada saatnya harus benar-benar bersabar menahan beberapa keinginan sederhana seperti menambah koleksi bacaan, sebab "gaji" pekerjaan ini tidak datang secara rutin pada tanggal tertentu. Apalagi punya tanggungan bayar cicilan motor dan sebagainya, yang harus didahulukan daripada keinginan-keinginan pribadi tersebut.

Sepuluh Tahun yang Lalu, Saya Berpikir tentang "Sepuluh Tahun yang Akan Datang"

Ketika masih sering-seringnya latihan ngeband pada tahun 2007-2008 lalu, saya berpikir, "Sepuluh tahun dari sekarang, mungkin band ini bakalan makin solid dan boleh jadi terkenal sehingga punya album atau minimal single yang laris di radio-radio."

Saat itu saya masih kelas sebelas dan memendam banyak impian, utamanya di band yang sedang saya dan teman-teman rintis. Tidak ada pikiran saya bakal menulis prosa atau skenario--yang pada akhirnya memang terjadi. Menulis memang salah satu cita-cita saya, tapi menjadi anak band juga cita-cita saya. Posisi keduanya sama-sama kuat, dan karena lingkungan lebih mendukung ke arah seni musik, maka ngeband adalah alternatif bagi saya untuk istirahat sejenak dari pikiran-pikiran sumpek sebagai anak sekolah (dengan cinta monyet, teguran ortu, PR yang selalu menumpuk, guru-guru yang kadang mengerikan, dan lain sebagainya).

Wednesday, 8 November 2017

Manusia dengan Panggungnya Masing-Masing

Kelebihan dan kekurangan di diri kita itu sama saja. Keduanya sama-sama cobaan. Hanya wujud dan rasanya yang berbeda. Masih sombong setelah dapat begitu banyak hal baik (dan keberuntungan)? Masih putus asa setelah berkali-kali sial?

Kita punya panggung masing-masing. Panggung-panggung ini berbeda antara satu orang dan lainnya. Hari ini kamu masih muda lalu buka bisnis dan kaya raya dua bulan kemudian, tapi boleh jadi sepuluh tahun lagi temanmu yang sepantaran baru mencapai kekayaan materinya.

Membaca Urusan Selera, Jadi Boleh Pilih-Pilih Dong?

Saya selalu butuh buku bacaan. Tapi tidak semua buku dapat saya baca. Hanya yang saya butuhkan untuk menambah ilmu (ketika riset, misalnya, atau ketika ingin belajar sesuatu saja) dan untuk memuaskan selera baca. Di luar urusan itu, bacaan lain yang saya konsumsi hanyalah berita di koran. Itu pun tidak semua saya baca. Jadi, ketika datang ke suatu toko buku, saya hanya akan berada di spot yang itu-itu saja, kecuali jika posisi rak yang memenuhi selera baca saya dipindah. Ketika seorang teman menghadiahi buku, akan saya cegah dia, dan memintanya menghadiahkan itu ke orang lain, kalau buku tersebut tidak sesuai selera baca saya.

Monday, 9 January 2017

Resolusi 2016 Tercapai dan Kini Saatnya 2017

Tahun 2016 yang saya lalui penuh dengan cerita pendek. Seakan-akan saya hidup dikelilingi makhluk aneh bernama cerita pendek, dengan wajah yang dapat berubah-ubah sesuai kebutuhan, dan dengan watak yang kadang menyerupai orang-orang yang pernah saya kenal atau ingin saya jumpai atau bahkan saya ingin musnahkan. Dan saya merasa tidak mungkin lepas dari jeratan makhluk aneh ini.

Sebagaimana tekad saya di awal 2016, yakni membuat hitungan iseng tentang jumlah cerpen yang saya buat per bulan, juga berapa banyak buku yang saya baca, dan mendata seluruh karya yang terbit di media, maka beginilah hasil akhirnya.

Slogan "sehari minimal satu cerpen" memang tak selalu dapat terpenuhi, tapi melihat hasil selama 12 bulan, dapat dibilang resolusi yang saya tulis di akhir tahun 2015 lalu terpenuhi. Tentu saja ini tidak mudah. Melihat jumlah tiap bulan yang bervariasi, sudah dapat ditebak bagaimana saya yang telanjur cinta menulis juga punya masalah-masalah. Sekali waktu masalah hidup bisa dengan mudah teratasi dan segala hal di dunia ini tidak menghambat proses berkarya, tetapi di lain waktu bisa amat sulit. Efeknya, menulis pun tidak akan lancar.

Tuesday, 11 October 2016

Alasan Sederhana Kenapa Penulis Bisa Bahagia

Salah satu hal yang membuat saya bahagia adalah ketika mendapat pesan atau komentar dari pembaca bahwa mereka suka dan terhibur dengan karya saya. Paling tidak, jika tidak mampu memberi semacam pencerahan, sebuah karya memang harus dapat menghibur siapa pun yang membaca; itulah keyakinan saya.

Pencerahan tidak perlu dipaksakan, karena ini tugas alam. Jika sebuah karya menyatu secara alami dengan hati pembaca, mungkin saja pembaca ini akan mengaku, "Saya tercerahkan." Dan sebagai penulis, sebenarnya kita tidak secara darurat membutuhkan komentar seperti itu, karena cukup dengan kalimat "Saya terhibur!", penulis merasa amat sangat bersyukur bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia.

Tidak ada yang lebih membahagiakan dari mengetahui efek positif sekecil apa pun, terhadap seberapa pun manusia, dari apa yang sudah kita tulis.

Monday, 22 August 2016

Memilih Bacaan Bukan Semacam "Dosa"

Dulu saya membaca tanpa pernah pilih-pilih. Pada akhirnya, setelah ratusan buku selesai dibaca dan bersambung ke buku-buku berikutnya, saya mulai "pilih kasih". Saya mulai membaca apa yang menurut otak saya sesuai dengan kebutuhan saya. Saya bahkan mulai membuat jarak pada bacaan jenis tertentu hanya agar tidak terkena dampak "tidak baik" dari tulisan yang tidak begitu saya sukai. Tidak baik ini bukan berarti negatif, melainkan perlu dihindari dengan alasan khusus, yaitu: jika misalnya saya membaca tulisan dengan kualitas (yang parameternya saya buat sendiri di dalam kepala) bervariasi, maka aktivitas menulis saya jadi tersendat-sendat. Membaca berbagai tulisan yang menurut otak saya bagus, sama dengan menambah nutrisi di kepala, begitupun sebaliknya.

Saya merasa ini bukan lagi tindakan "pilih kasih", tapi semacam pilihan dan setiap orang tidak dapat menolaknya jika di suatu tahap ia diharuskan memilih antara beberapa jalan. Setidaknya itulah yang terjadi pada saya. Memilih-milih bacaan dengan tujuan menyamankan isi kepala, yang tentu akan berimbas baik pada kelancaran kegiatan menulis yang saya geluti, saya rasa harus dilakukan. Ini bukan perkara tidak adil karena mengenyampingkan bacaan tertentu. Ini memang harus terjadi, karena kenyamanan isi kepala membuat pekerjaan menulis jadi jauh lebih lancar.

Lebih Baik Dikenang Jadi Orang Biasa, Daripada ...

Bagaimanapun rezeki kita itu sudah ada yang mengatur, yaitu Allah. Tidak perlu cemas mendapat rezeki yang seakan "salah" selama kita tidak menyimpang dari koridor yang tepat. Bermimpi menjadi penulis itu bagus. Semua orang boleh. Kalau memang benar-benar cinta, kita pasti konsisten. Dan jika sudah konsisten, terbukti kita orang yang tekun. Kalau sudah begitu, tidak perlu cemas dengan kegagalan, karena ada saatnya rezeki dari menulis akan didapat. Kan kita sudah konsisten; tinggal menunggu waktu saja dan tidak henti belajar.

Dari awal ini sudah harus diyakini. Jika kita tidak kunjung dapat rezeki dari menulis, sementara kenyataannya kita memang tidak konsisten berusaha (untuk tidak menyebut kata 'malas'), ya berarti niat ingin sukses jadi penulis hanya ikut-ikutan atau cuma ingin gaya di depan teman-teman, dan rezeki kita mungkin bukan dari jalan menulis.

Tulus-TidakTulus, Itu Bukan Urusan Anda

Pernah suatu ketika dengan teganya seorang teman menuduh saya tidak tulus dalam menulis, dan terlalu berambisi. Saya tanyakan apa arti kata 'tulus' dan 'ambisi' baginya, tapi dia tidak menjawab. Dia memang senang mengalihkan obrolan dari satu topik ke topik lain, dalam selisih waktu yang lumayan pendek; benar-benar mengingatkan saya pada tokoh Holden yang agak kacau di "The Catcher in The Rye"-nya J.D Salinger. Tapi tentu saja dia bukan Holden.

Saya sendiri tidak tahu apakah saya tulus dalam menulis atau tidak, tetapi saya sadar betul apa yang saya lakukan saat menulis adalah seperti pertemuan dengan orang tercinta. Saya tidak betah jika harus berhenti menulis dua hari, karena sakit misalnya. Saya juga merasa berat dan berdosa, jika belum juga menulis apa pun sampai jam satu siang misalnya. Itulah kenyataannya.

Menambah Kualitas Bacaan = Syarat Mutlak Penulis

Jika ingin menjadi penulis yang baik, bukan hanya soal harus konsisten menulis. Tambah juga bacaan di rumah dengan yang lebih berkualitas dan berbobot. Membaca buku yang itu-itu saja membuatmu stuck di tempat. Anggap saja belajar.

Membaca bacaan yang tadinya bukan seleramu itu seperti rekreasi ke tempat baru. Kadang menyenangkan, tetapi bisa juga memusingkan. Tidak apa. Yang penting buku-buku yang dibaca tidak melulu buku soal patah hati, misalnya. Tidak cukup uang untuk beli? Bisa pinjam ke perpustakaan. Bacaan bermutu juga bisa didapat dengan saling tukar buku bacaan dengan teman penulis. Maksudnya tukar untuk saling meminjami, dan nanti harus dikembalikan, jangan disobek-sobek, lalu dicampur air putih dan diaduk jadi bubur kertas untuk kamu konsumsi.

Konsisten Menulis karena Cinta

Di awal mengenal dunia literasi, lalu berniat menekuninya, mungkin kau pernah/sering merasa takut jika akan menulis sesuatu. Kau takut gagal merampungkan tulisan, meski cuma satu halaman. Kau juga takut tulisanmu jadi jelek dan dibuang ke tempat sampah oleh siapa pun yang membacanya. 

Lalu di hari-hari berikutnya kau mengira kegiatan menulis cukup mengerikan. Mau pergi ke meja belajar untuk menulis ide-ide hebatmu saja, berasa pergi ke dokter untuk disuntik tiga kali berturut-turut di tempat yang sama, dan itu bukan suntikan anestesi. Belum apa-apa, membayangkannya saja kau sudah lemas dan meriang. Atau sebut saja bentuk ketakutan-ketakutan lain, yang membuatmu mulai malas, dan akhirnya tidak produktif, bahkan memutuskan, "I'm done!"

Sunday, 17 July 2016

Menulis Membuatmu "Kaya"

Suatu hari, beberapa tahun silam, di dompet saya hanya ada beberapa ribu rupiah. Saya belum lama keluar dari pekerjaan yang sebetulnya enak, karena gajinya besar. Pada saat itu untuk lulusan SMA, gaji sebesar itu hampir mustahil didapat. Tapi karena tidak bahagia, saya memutuskan berhenti. Suatu hari itu, kejadiannya tidak jauh dari sekolah SMP saya. Karena belum dapat pekerjaan baru, saya mencari informasi lowongan kerja di warnet. Tidak tahu kenapa, mengingat kondisi dompet saya yang makin memprihatinkan, sementara uang tabungan tidak mungkin saya pakai terus-terusan, saya tiba-tiba berpikir ingin mencari tambahan uang dengan cara lain. Yang pertama melintas di pikiran: saya harus menulis.

Ketika itu saya sadar, bahwa memang uang yang saya bayangkan tidak bisa langsung didapat. Menulis adalah menabung. Uang hasil jerih payah baru bisa dinikmati setelah menjalani proses panjang. Saya sudah tahu itu, meski belum benar-benar terjun ke dunia literasi. Siang itu, saya putuskan saya terjun. Saya pikir saya harus total jika ingin memperoleh tabungan ekstra di masa mendatang. Itu pun jika saya sukses menjadi penulis. Untuk itu, saya bertekad tidak ingin berhenti.

Maka, siang itu juga, saya berjanji akan mencintai dunia literasi sampai tua dan bahkan sampai mati. Ini bukan main-main. Saya merasakan gejolak yang luar biasa. Semacam jatuh cinta jenis lain. Ada motivasi-motivasi tersendiri, selain tabungan ekstra tadi, yang saya kejar dengan menulis: saya ingin berguna bagi orang lain. Sebelumnya, saya merasa belum begitu berarti di kehidupan ini. Kadang saya bertanya, "Untuk apa saya lahir ke dunia ini?" Tahun-tahun itu masa kelabu saya. Kesedihan akibat kegagalan bertubi-tubi membuat saya merasa hidup di badan manusia lain.

Siang itu, di sebuah warnet tua, saya mendapat pencerahan. Bahwa saya harus menulis untuk lepas dari keresahan. Saya harus bangkit dan menolak kalah. Saya merasa saya belum berbuat apa-apa, jadi saya harus segera berbuat. Mumpung kesadaran ini muncul.

Tidak butuh waktu semenit, setelah "hidayah" tadi mampir, saya segera mencari informasi lomba menulis di Google. Hasilnya saya digiring ke perkenalan dengan grup-grup menulis online yang pada saat itu ada yang sudah besar, ada pula yang baru berdiri. Sampai sekarang, grup-grup tersebut (yang ketika itu saya kenal) masih aktif dan terus melahirkan bibit-bibit penulis baru.

Sejak itu saya mulai lebih paham apa saja yang harus dan penting penulis lakukan agar mau sukses: konsisten. Oleh teman sekomunitas, di masa-masa awal menulis, saya sudah dianggap produktif hanya karena mencoba menulis setiap hari (minimal sehari satu halaman dari jenis tulisan apa pun). Saya tidak tahu kenapa hati saya jadi jauh lebih bahagia, meski uang di dompet masih segitu-gitu saja. Ketika akhirnya dapat job, saya lebih "gila" lagi dalam menulis. Mengenal lebih banyak teman dari komunitas-komunitas lain, saya lebih "gila" dan "gila".

Apa yang saya dapat? Kegagalan dalam lomba? Sering juga. Kemenangan? Ada beberapa. Uang? Sedikit demi sedikit, alhamdulillah. Jadi korban penipuan? Oh, tentu saja pernah. Saya bahkan pernah nyaris mendapat hadiah penghargaan bergengsi, yang luar biasa, namun dibatalkan sepihak hanya karena miskomunikasi antara dewan juri. Penghargaan yang batal itu, barangkali dapat membuat sebagian keluarga dan tetangga saya, yang meragukan aktivitas menulis saya, menjadi takjub. Bahkan, seorang teman pun sempat mengaku, "Jujur saja. Gue masih heran. Kok bisa kamu menang?" Saya memang menang. Tapi "level" hadiah diturunkan, namun sampai sekarang hak saya belum saya dapatkan. Tentu saja, bagi kawan yang membaca status ini dan tahu maksudnya, saya minta tidak perlu dibahas. Ini sekadar berbagi pengalaman, sebab beberapa rekan di luar sana, terkadang meributkan sesuatu yang harusnya dapat disederhanakan, atau meributkan sesuatu yang nilainya tidak lebih berharga ketimbang waktu yang nantinya terbuang percuma. Bukankah lebih baik kembali berkarya? Jika misal suatu hari kita terluka oleh pihak tertentu, jauhi saya perselisihan.

Semua kejadian itu lekat di kepala saya. Saya tidak akan lupa. Tapi, saya tidak terlalu terbawa emosi dengan semua itu. Saya biarkan mengalir. Semua yang terjadi saya anggap proses dan saya menikmatinya meski harus berdarah-darah. Saya jalani saja kecintaan pada menulis ini, dan menyimpan keyakinan bahwa kelak kehidupan saya akan jauh lebih baik ketimbang jika saya memutuskan berhenti menulis.

Tidak sedikit juga cibiran saya dapatkan. Pertanyaan tentang kualitas dan kuantitas juga tentu saya alami. Apalagi sekadar muncul pihak-pihak yang seolah sengaja datang untuk membuat masalah, misal secara terang-terangan menulis tentang diri saya (bukan karya saya) dengan sudut pandang subjektif dan tidak seratus persen sesuai fakta. Seorang teman berkomentar tentang tulisan macam itu. Ia bilang itu menjijikkan dan benar-benar menghina saya. Tapi, apa yang saya lakukan? Saya abaikan saja dan saya kembali berkarya.

Tentu saya tidak akan mengabaikan jika tulisan yang dibuat adalah untuk mengkritik karya saya, bukan menghina/melecehkan secara personal. Kritik untuk karya ini lumayan sering saya dapat. Dari yang paling tajam, sampai yang kelewat halus (untuk tidak menyebutnya munafik), semua saya dapat. Dengan senang hati, saya terima semua itu. Saya resapi, karena toh berguna juga untuk perbaikan karya ke depan. Di antara para"kritikus" ini, tidak bisa dimungkiri, beberapa sengaja datang hanya untuk menghina karya saya. Lalu, apa saya marah? Oh, tidak. Hinalah sesuka hati karya seseorang, tapi jangan sampai menghina orangnya. Yang seperti ini bisa saya terima.

Suatu kali, dalam pertemuan dengan beberapa teman lama, saya dipuji karena kini dianggap sukses jadi penulis. Saya bilang, "Saya belum apa-apa, karena masih butuh banyak belajar." Memang begitulah kenyataannya. Setiap hari kita butuh belajar. Hari demi hari kita dipersilakan memilih antara mendaki puncak cita-cita, ataukah berhenti karena lelah? Saya rasa kita tidak perlu berhenti, karena sebenarnya puncak itu ada di akhir jatah hidup.

Orang bijak berkata, "Jangan salahkan Tuhan jika Anda mati dalam keadaan miskin." Maka, marilah menjadi kaya. Kaya itu bukan sekadar soal uang seperti yang dibahas di atas, tetapi juga soal hati.

Menulis Memang Harus Konsisten, Tapi ...

Menulis memang harus konsisten. Rasa malas memang harus dilawan. Namun, jika kita tidak sanggup, sebaiknya jangan dipaksa. Ada saatnya kita merasa kitalah ruh dari sebuah tulisan sehingga apa pun yang terjadi di sekitar kita, menulis jadi tidak terasa. Seperti mesin yang bekerja tak kenal lelah, kita terus dan terus menulis. Namun ada saatnya juga kita ditolak mentah-mentah oleh tulisan yang akan kita garap, sehingga bahkan separagraf pun terasa berat. Mau jadi ruh tidak bisa. Jangankan ruh, jadi kulit si tulisan saja tidak diizinkan.

Maka, menulislah sesuai kemampuan. Memang harus dipaksa tubuh dan jiwa agar bangun dari rasa malas, tetapi jika semangat sudah ada lalu otak tidak mendukung secara maksimal, sebaiknya break dulu beberapa jam, atau mungkin sehari dua hari. Baca-baca buku yang kita sukai atau jalan ke tempat menyenangkan atau lakukan apa pun yang membuat otak rileks.

Saya sendiri, meski bisa menulis 4-5 cerita per hari, ada saatnya tidak sanggup menulis sama sekali. Bila saya merasa ada yang menghambat, saya putuskan libur dulu. Mengerjakan tulisan dengan otak tertekan justru mengacaukan apa yang kita mau tulis. Sebab, sekalipun pabrik cerpen berdiri di kepala saya, saya pun juga manusia. Kadang satu tulisan per hari atau tidak sama sekali patut disyukuri. Menyadari sampai di mana batas kita dan memanage kemampuan otak yang Tuhan berikan, adalah salah satu cara untuk menjaga konsistensi.

Bukankah jika lelah kita mudah jenuh? Maka, janganlah menulis di saat otak sudah waktunya diistirahatkan. Kalau kita terus paksa, jangan-jangan kita malah pingsan dan sakit dan berpikir menulis sama dengan menyiksa diri.

Lawan rasa malas. Tapi kenali batas dirimu. Pahami saat mesin di kepalamu bekerja maksimal, sebab pada hari itulah kamu tahu seberapa ajaibnya menjadi ruh dari apa yang kamu tulis. Kalau jiwa raga sudah maksimal namun tidak juga menulis, berarti kamu cuma ikut-ikutan dan latah karena melihat temanmu jadi penulis. Memang begitu. Orang jatuh cinta kan bukan karena latah? Kamu belum tentu jatuh cinta pada orang yang membuat hati temanmu kepincut.

Sunday, 3 July 2016

Buka Bersama Setelah Tiga Tahun Vakum

Acara buka bersama yang sejak sebulan lalu dirancang oleh teman-teman SMA di grup WA terlaksana juga hari ini. Walaupun sempat muter-muter dan tersesat di Perumahan Mutiara Citra Asri, Tanggulangin (padahal sudah bertanya ke seorang warga dan satpam), saya termasuk peserta yang tidak terlambat, sekalipun tiba sekitar lima belas menit sebelum bedug maghrib.

Ya, memang tidak banyak yang hadir. Tapi belasan orang berkumpul setelah tiga tahun berturut-turut tidak ada acara buka bersama, cukup menggembirakan dan patut disyukuri. Tadinya saya berharap semua teman bisa hadir, tapi agaknya mustahil. Kesibukan membuat jarak beberapa dari kami kian jauh dan entah bagaimana bisa memenggal jarak itu dan mengembalikan seperti pada masa SMA dulu.

Monday, 27 June 2016

Lima Tahun Mengubah Banyak Hal

Kira-kira seminggu yang lalu saya membuat janji bertemu dengan seorang teman lama yang dulu saya kenal di Jakarta. Jam sembilan pagi, setelah mengurus perpanjangan SIM (Surat Izin Mengemudi) di Bangil, saya langsung bertolak ke Malang.

Sudah sejak tahun 2012 lalu (kalau tidak salah), saya berjanji suatu hari akan mampir ke Malang jika sempat. Dan tentu, sejak 2012 hingga medio 2016 ini sudah tak terhitung lagi seberapa sering saya ke Malang. Hanya saja, saya tidak pernah sempat datang ke tempat kost teman saya yang satu ini.

Dia bernama Yusuf. Asli Lamongan dan sedang menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya, Malang. Saya biasa memanggilnya Ucup. Kami berkenalan di Jakarta pada medio 2010, ketika saya masih menggeluti dunia akting. Sebagai artis pemula yang masih mendapat peran kecil-kecilan, tentu saja waktu itu duit saya juga belum banyak. Hahaha. Ketika itu Yusuf menjadi figuran dan merasa nasibnya tidak jelas. Suatu hari, akhir tahun 2010, ia mengajak saya mencari pekerjaan.

Friday, 24 June 2016

Masa Kecilku: Gara-Gara Buku Kumpulan "Kliping" Cerpen

Kalau tidak salah, dua puluh tahun lalu, ketika masih berumur 5 tahun, pada suatu sore saya menemukan sebuah buku tulis yang di dalamnya berisi kumpulan cerpen koran yang dikliping dengan sangat rapi dan telaten di meja belajar kakak saya. Katanya buku itu milik sepupu kami dan ia sengaja "mewariskannya" ke kakak.
Buku kumpulan cerpen "legendaris" itu. Cerpen ini jadi salah satu favorit saya.

Saya yang suka membaca pun amat senang mendapati ada buku cerita semacam ini di rumah, karena sebenarnya pada saat itu belum satu pun buku cerita saya miliki. Paling hanya buku bergambar dan saya sudah bosan dengan buku cerita bergambar. Maka saya membaca cerpen-cerpen di buku ini seperti memainkan mainan baru; susah berpisah. Meski beberapa cerita di dalamnya agak membingungkan, karena beberapa kata belum saya pahami artinya, saya baca saja setiap cerita sampai habis.

Monday, 13 June 2016

Menilai Sesuatu Jangan dari Kulitnya Saja

Tetangga saya itu orang kaya. Punya rumah dan mobil bagus. Pernah naik haji juga. Dulunya berasal dari keluarga tidak mampu. Setelah sukses dan menjadi kaya, penampilannya tetap sederhana. Bahkan sangat sederhana.

Suatu hari ketika menjelang lebaran dan pergi ke mini market hendak membeli buah, oleh tiga orang pegawai, tetangga saya didatangi dan diberitahu, "Yang itu mahal lho, Bu." Ia hanya mengangguk.