Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.
Showing posts with label pengalaman. Show all posts
Showing posts with label pengalaman. Show all posts

Thursday, 9 November 2017

Gaya Bekerja Para Penulis Tak Pernah Sama

Kalau ada teman yang bertanya tentang bagaimana membuat cerpen yang baik atau bertanya soal trik-trik tertentu, jawaban yang saya berikan lahir dari bagaimana cara saya membuat cerpen. Soal apakah jawaban itu bakal nyambung dengan gaya bekerja teman saya tersebut, saya tidak ikut campur, sebab proses kreatif tiap orang bisa berbeda-beda.

Kejarlah Dirimu Sendiri, Bukan Orang Lain

Iri dengki pada kesuksesan orang lain, yang berujung pada tindakan-tindakan negatifmu demi mengejar orang tersebut, hanya akan membuatmu rugi. Selain cepat tua dan berisiko terserang penyakit jantung dan stroke, kamu juga akan susah lepas dari pengaruh orang itu. Kamu akan selalu merasa saling kejar-kejaran dengan orang tersebut, padahal sebenarnya yang harusnya kamu lawan adalah dirimu sendiri.

Menulislah Biar Kewarasanmu Terjaga

Saya pernah dengan begitu yakin mengatakan pada seorang teman, "Kalau saya tidak menulis, mungkin saja saya bakal gila."

Untuk sesaat, teman saya itu tampak terpana, dan beberapa detik kemudian segera saya tambahi kalimat yang boleh jadi agak ganjil tadi, "Gila karena bosan maksudnya. Bahkan bisa saja bukan cuma jadi gila, tetapi mati karena bosan oleh hidup yang begini-begini saja."

Teman saya menatap saya dengan kepercayaan penuh, dan saya tahu itu dari pancaran matanya. Dia sepenuhnya setuju karena ikut mengalaminya. Bagi kami yang menjadikan menulis bukan hanya sebagai ajang penemuan jati diri atau mencari tambahan uang jajan, melainkan juga ditujukan untuk kebaikan orang lain, setidaknya orang terdekat dulu, menulis adalah obat untuk banyak hal. Saya pribadi lebih termotivasi bahwa apa yang saya upayakan saat menulis adalah demi orang tua, dan dampak yang saya rasakan sungguh luar biasa.

Sesekali Kita Perlu Pura-Pura Nggak Paham

Ada cerita lucu ketika saya sedang training di sebuah perusahaan nasional yang berpusat di Jakarta. Karena saya ikut interview dan test-nya di wilayah Jakarta, maka nama saya pun tercantum dalam daftar pegawai baru dari area ibukota. Dalam masa training yang berlangsung beberapa minggu itu, ada banyak pegawai dari daerah-daerah lain yang mengikuti proses seleksi sejak awal di kantor-kantor cabang.

Nah, tentu saya tahu rekan-rekan mana saja yang berasal dari Surabaya, kota asal saya, sehingga saya mencoba membaur dengan mereka. Ketika itu, secara tidak terduga, salah satu dari mereka yang tampak agak urakan meledek saya dengan bahasa Suroboyoan, yang kira-kira berarti, "Makhluk yang satu ini ngapain ikutan nimbrung?"

Tentang Teman Lama yang Membuat Saya Enggan Menyerah

Kejadian-kejadian kecil di sekitar kita sering kali, secara aneh dan tanpa kita sadari, berpengaruh besar bagi kehidupan kita di masa mendatang. Contohnya ketika saya mengenal seorang teman saat di Jakarta. Saya kenal dia secara tidak sengaja, yakni karena kami kebetulan mengenal teman yang sama, sehingga pada satu kesempatan di suatu weekend, bersama teman-teman lain, saya dan dia pergi ke tempat futsal. Perkenalan ini berlanjut ke omong-omong panjang, karena sepatu saya rusak sehingga tidak ikut bermain, sedangkan dia memang sengaja tidak ikut main. Hanya datang dan menonton saja. Jadi, kami berdua dan seorang teman lain duduk di tepi lapangan dan membahas hal-hal apa pun.

Teman baru ini ternyata cukup ramah saat diajak mengobrol, walau kelihatannya pendiam dan tertutup. Pada akhirnya saya tahu dia orangnya terbuka pada beberapa hal terkait impiannya. Dia pernah, karena tidak punya kenalan dan buntu ide, mengajak saya kolaborasi di audisi IMB jilid 1. Karena saya sudah punya grup, jadi saya tolak ajakan dia dengan halus. Dia tidak masalah. Dia bisa tampil sendirian. Hanya saja, ketika hari audisi, dia tidak datang entah dengan alasan apa.

Kualitas Karya Tidak Ditentukan dari Seberapa Lama Karya tersebut Dibuat

Lamanya waktu pengerjaan sebuah karya tidak menjamin karya itu pasti berhasil dari segi kedalaman makna. Karya yang dibuat dalam kurun waktu singkat bisa saja malah lebih dalam dari itu. Ini yang saya yakini.

Selama apa pun karya dibuat (atau sengaja dilama-lamakan biar kelihatan keren), kalau perenungan tentang isinya kurang dihayati sebelum karya itu mulai digarap, hasilnya akan hambar. 

Pedekate Butuh Modal, Bung!

Suatu hari saya dan seorang teman pergi ke toko pakaian. Kami membeli kaos, kemeja, jaket, dan celana panjang sesuai dengan selera masing-masing dan tentu saja bayarnya sendiri-sendiri. Sekembali ke tempat parkir, setelah membayar belanjaan di kasir tentunya, teman saya terlihat sedih dan saya langsung tahu penyebabnya. Pasalnya dia sok kenal sok dekat dengan mbak-mbak kasir yang lumayan cantik, meski sudah bercincin (yang kemungkinan sudah punya pasangan), dan saya tahu itu sebab kasir yang melayani saya hanya berjarak satu kasir dari kasir cantik tadi.

Kepada saya, teman saya mengaku, "Seandainya tadi aku tahu kalau bakal begini."

"Lho, memangnya kenapa?" tanya saya. Dalam pikiran, saya sudah curiga bahwa teman saya keburu sakit hati bahkan sebelum pedekate, sebab mbak-mbak cantik itu bercincin dan cincinnya adalah pertanda dia sudah ada yang punya.

Menikmati Hidup sebagai Full Time Writer

Sudah hampir setahunan ini saya benar-benar hidup sebagai full time writer, karena mencari pekerjaan baru belum ada yang cocok. Jadi cari rezeki hanya dari nulis di media-media, membuka jasa editing, nulis di blog, nulis skenario, dan sekitarnya, serta tentu saja menjual buku (karya sendiri) via online

Alhamdulillah selalu diberi kelancaran. Ada saatnya harus benar-benar bersabar menahan beberapa keinginan sederhana seperti menambah koleksi bacaan, sebab "gaji" pekerjaan ini tidak datang secara rutin pada tanggal tertentu. Apalagi punya tanggungan bayar cicilan motor dan sebagainya, yang harus didahulukan daripada keinginan-keinginan pribadi tersebut.

Sepuluh Tahun yang Lalu, Saya Berpikir tentang "Sepuluh Tahun yang Akan Datang"

Ketika masih sering-seringnya latihan ngeband pada tahun 2007-2008 lalu, saya berpikir, "Sepuluh tahun dari sekarang, mungkin band ini bakalan makin solid dan boleh jadi terkenal sehingga punya album atau minimal single yang laris di radio-radio."

Saat itu saya masih kelas sebelas dan memendam banyak impian, utamanya di band yang sedang saya dan teman-teman rintis. Tidak ada pikiran saya bakal menulis prosa atau skenario--yang pada akhirnya memang terjadi. Menulis memang salah satu cita-cita saya, tapi menjadi anak band juga cita-cita saya. Posisi keduanya sama-sama kuat, dan karena lingkungan lebih mendukung ke arah seni musik, maka ngeband adalah alternatif bagi saya untuk istirahat sejenak dari pikiran-pikiran sumpek sebagai anak sekolah (dengan cinta monyet, teguran ortu, PR yang selalu menumpuk, guru-guru yang kadang mengerikan, dan lain sebagainya).

Berbeda Pandangan Tidak Harus Selalu Dijauhi

Ada teman FB yang kalau bikin status isinya cuma hal-hal berbau sinis atau apatis terhadap hampir segala segi kehidupan, dan yang membuatnya terlihat sebagai pribadi arogan di mata saya adalah: baginya pendapatnya selalu benar dan ucapan orang lain yang bertentangan pasti salah.

Sejak berteman dengannya di FB, memang sudah begitu wataknya yang saya tahu, tetapi saya tidak pernah terpikir untuk meremove, apalagi memblokirnya, sebab dia tidak pernah memaksakan orang lain harus patuh pada pendapatnya. Dia hanya memegang teguh pendapatnya sendiri tanpa mengutak-atik prinsip orang lain--entah meski pada akhirnya dia bisa saja berpikir semua orang yang tidak setuju padanya adalah goblok permanen (toh pemikirannya sendiri adalah urusan dia, bukan?).

Teman Lama yang Hobi Melengos

Ada teman saya dari masa TK hingga SMP yang rumahnya tidak jauh dari rumah saya. Hanya beda dusun. Tapi, tiap kali berpapasan di jalan, sejak kami SMA dulu, dia selalu melengos seakan tidak pernah kenal atau pura-pura tidak melihat. Faktanya, tidak pernah ada masalah apa pun di antara kami. Dia juga bukan penggemar FPI (sama seperti saya). Bahkan dia sering bercanda dengan saya sejak TK hingga SMP. Suatu sore menjelang maghrib, saya ke minimarket dan beli sesuatu, lalu di kasir dia antre di belakang saya. Begitu saya noleh, dia langsung berpaling muka. Saya tidak tahu apa masalah orang ini?

Wednesday, 8 November 2017

Membaca Urusan Selera, Jadi Boleh Pilih-Pilih Dong?

Saya selalu butuh buku bacaan. Tapi tidak semua buku dapat saya baca. Hanya yang saya butuhkan untuk menambah ilmu (ketika riset, misalnya, atau ketika ingin belajar sesuatu saja) dan untuk memuaskan selera baca. Di luar urusan itu, bacaan lain yang saya konsumsi hanyalah berita di koran. Itu pun tidak semua saya baca. Jadi, ketika datang ke suatu toko buku, saya hanya akan berada di spot yang itu-itu saja, kecuali jika posisi rak yang memenuhi selera baca saya dipindah. Ketika seorang teman menghadiahi buku, akan saya cegah dia, dan memintanya menghadiahkan itu ke orang lain, kalau buku tersebut tidak sesuai selera baca saya.

Proses Produksi Cerpen di Pabrik Cerpen

Setiap cerpen yang saya buat nyaris tidak mengalami pembacaan ulang sebelum saya kirim ke media atau perlombaan. Itu bukan berarti saya tidak bertanggung jawab atau tidak ingin memastikan apa pun yang baru saja saya kerjakan, tetapi proses memahami isi cerita yang saya tulis sudah saya lakukan sebelum saya benar-benar menulisnya. Dengan kata lain, sepotong ide yang muncul langsung membuat saya memikirkan banyak hal, dan hal-hal ini selalu berakhir ke satu arah saja, misalnya: bahwa kita tidak seharusnya mengadili seseorang atas pilihan hidupnya.

Pondasi cerita ini kemudian saya pegang dan saya membuka laptop untuk menulis opening secara acak, tentang peristiwa entah apa, tentang isi kepala seseorang yang entah siapa atau bagaimana, tentang situasi di lokasi yang entah di mana, dan lain sebagainya. Menulis opening secara acak membantu saya dalam membangun plot secara utuh tanpa terkekang. Dari yang hanya berupa pondasi dari secuil ide dan pesan moral, saya mampu membuat banyak kemungkinan soal tokoh dan peristiwa dalam cerpen dengan memulainya secara acak.

Hadiah untuk Penulis Muda/Pemula

Hadiah terbanyak yang didapat penulis (muda/pemula) Indonesia pada umumnya adalah permintaan tentang buku terbarunya yang mestinya digratiskan oleh orang-orang tidak tahu diri.

Saking banyaknya hadiah macam ini, penulis (muda/pemula) susah kaya, kecuali sambil jualan tahu bulat, atau punya bisnis persewaan barang-barang bermanfaat (seperti sikat gigi dan bantal atau apa pun), atau mengencani anak anggota dewan, dan lain-lain.

Menjadi Tempat Curhat

Meski tidak terlalu suka berkeluh kesah atau curhat ke orang-orang terdekat, saya menyadari betapa banyak yang menjadikan saya tempat curhat, orang yang pemikirannya dianggap melahirkan banyak solusi, atau ruang yang dipercayai untuk berkeluh-kesah tanpa takut didengar oleh pihak-pihak yang tak diinginkan. Kepercayaan ini sungguh besar dan saya selalu menghargai itu. Tentunya apa yang dibicarakan pada saya tidak melulu soal menulis, tapi juga hal-hal seputar kehidupan, yang kadang kala membuat saya merasa bahwa orang-orang ini melihat saya sebagai semacam psikiater, konsultan, atau--dalam beberapa kasus--dukun.

Monday, 9 January 2017

Resolusi 2016 Tercapai dan Kini Saatnya 2017

Tahun 2016 yang saya lalui penuh dengan cerita pendek. Seakan-akan saya hidup dikelilingi makhluk aneh bernama cerita pendek, dengan wajah yang dapat berubah-ubah sesuai kebutuhan, dan dengan watak yang kadang menyerupai orang-orang yang pernah saya kenal atau ingin saya jumpai atau bahkan saya ingin musnahkan. Dan saya merasa tidak mungkin lepas dari jeratan makhluk aneh ini.

Sebagaimana tekad saya di awal 2016, yakni membuat hitungan iseng tentang jumlah cerpen yang saya buat per bulan, juga berapa banyak buku yang saya baca, dan mendata seluruh karya yang terbit di media, maka beginilah hasil akhirnya.

Slogan "sehari minimal satu cerpen" memang tak selalu dapat terpenuhi, tapi melihat hasil selama 12 bulan, dapat dibilang resolusi yang saya tulis di akhir tahun 2015 lalu terpenuhi. Tentu saja ini tidak mudah. Melihat jumlah tiap bulan yang bervariasi, sudah dapat ditebak bagaimana saya yang telanjur cinta menulis juga punya masalah-masalah. Sekali waktu masalah hidup bisa dengan mudah teratasi dan segala hal di dunia ini tidak menghambat proses berkarya, tetapi di lain waktu bisa amat sulit. Efeknya, menulis pun tidak akan lancar.

Tuesday, 11 October 2016

Senjata Para Penulis

Kalau mau jadi penulis, yang pertama harus kita miliki adalah kejujuran dan ketekunan. Jujur berkarya alias tidak memplagiat karya orang. Tekun mencoba dan mencoba meski sering gagal. Dua hal itu senjata utama. Letaknya ada di bagian paling dalam dari diri kita. Senjata di level berikutnya adalah referensi bacaan dan pergaulan. Semakin banyak kita membaca dan bergaul, semakin banyak bahan tulisan.

Adapun senjata di level paling luar adalah pulsa internet dan alat ketik. Bagaimanapun, ini sangat penting. Ada pulsa, kita bisa online. Perkembangan dunia sastra dan info-info penting bisa diakses dari internet. Sedangkan alat ketik, memang dari jaman dulu selalu penulis butuhkan. Alat ketik jaman sekarang laptop dan komputer dan bahkan ponsel pun bisa. Jika fasilitas terakhir tidak ada, masih ada warnet di sekitar kita.

Demikianlah senjata-senjata yang dibutuhkan jika ingin menjadi penulis.

Alasan Sederhana Kenapa Penulis Bisa Bahagia

Salah satu hal yang membuat saya bahagia adalah ketika mendapat pesan atau komentar dari pembaca bahwa mereka suka dan terhibur dengan karya saya. Paling tidak, jika tidak mampu memberi semacam pencerahan, sebuah karya memang harus dapat menghibur siapa pun yang membaca; itulah keyakinan saya.

Pencerahan tidak perlu dipaksakan, karena ini tugas alam. Jika sebuah karya menyatu secara alami dengan hati pembaca, mungkin saja pembaca ini akan mengaku, "Saya tercerahkan." Dan sebagai penulis, sebenarnya kita tidak secara darurat membutuhkan komentar seperti itu, karena cukup dengan kalimat "Saya terhibur!", penulis merasa amat sangat bersyukur bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia.

Tidak ada yang lebih membahagiakan dari mengetahui efek positif sekecil apa pun, terhadap seberapa pun manusia, dari apa yang sudah kita tulis.

Tuesday, 30 August 2016

Menulis Sesuai Bekal yang Saya Punya

Saya menulis apa yang ingin saya tulis. Tidak semua ide-ide yang masuk ke kepala langsung saya ubah jadi cerita. Sebagian ada yang menunggu beberapa lama, dan sebagian malah tidak sama sekali. Saya menulis sesuai dengan "bekal" yang saya bawa. 

Hidup saya di lingkungan yang seperti apa, pengalaman saya sepelik atau sesederhana apa, buku dan film apa saja yang sudah saya konsumsi sejak kecil, mimpi-mimpi buruk/indah apa saja yang pernah saya alami, orang-orang macam apa yang saya temui, serta harapan-harapan sepi di hati saya--itu semua yang disebut bekal. Seandainya ada ide luar biasa namun tidak ada peluang bagi saya untuk menggubahnya menjadi cerita yang bagus, meski hanya cerita pendek, saya lebih suka tidak menulis soal itu.

Monday, 22 August 2016

Memilih Bacaan Bukan Semacam "Dosa"

Dulu saya membaca tanpa pernah pilih-pilih. Pada akhirnya, setelah ratusan buku selesai dibaca dan bersambung ke buku-buku berikutnya, saya mulai "pilih kasih". Saya mulai membaca apa yang menurut otak saya sesuai dengan kebutuhan saya. Saya bahkan mulai membuat jarak pada bacaan jenis tertentu hanya agar tidak terkena dampak "tidak baik" dari tulisan yang tidak begitu saya sukai. Tidak baik ini bukan berarti negatif, melainkan perlu dihindari dengan alasan khusus, yaitu: jika misalnya saya membaca tulisan dengan kualitas (yang parameternya saya buat sendiri di dalam kepala) bervariasi, maka aktivitas menulis saya jadi tersendat-sendat. Membaca berbagai tulisan yang menurut otak saya bagus, sama dengan menambah nutrisi di kepala, begitupun sebaliknya.

Saya merasa ini bukan lagi tindakan "pilih kasih", tapi semacam pilihan dan setiap orang tidak dapat menolaknya jika di suatu tahap ia diharuskan memilih antara beberapa jalan. Setidaknya itulah yang terjadi pada saya. Memilih-milih bacaan dengan tujuan menyamankan isi kepala, yang tentu akan berimbas baik pada kelancaran kegiatan menulis yang saya geluti, saya rasa harus dilakukan. Ini bukan perkara tidak adil karena mengenyampingkan bacaan tertentu. Ini memang harus terjadi, karena kenyamanan isi kepala membuat pekerjaan menulis jadi jauh lebih lancar.