Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Monday, 19 September 2016

DIBUKA PRE ORDER BUKU KUMPULAN CERPEN "MUSEUM ANOMALI"!


Museum Anomali, kumpulan cerpen terbaru Ken Hanggara. Yang mau pre order, silakan. Harga normalnya Rp 47 ribu. Untuk pre order, diskon 10% (Rp 42,300,-) bebas ongkos kirim khusus Pulau Jawa (untuk luar Jawa, ongkir kisaran antara Rp 10 ribu - Rp 17 ribu). Dapat tanda tangan+kalimat singkat dari penulis.

Tertarik? Langsung inbox akun FB Ken Hanggara dengan format pemesanan: nama + alamat + kodepos + No.HP.

Museum Anomali berisi 17 cerpen horor kontemporer. Sebagian cerpen di dalamnya pernah terbit di media massa, dan sebagian lainnya belum terpublikasikan.

Tuesday, 13 September 2016

[Cerpen]: "Kembali untuk Maria" karya Ken Hanggara

Ilustrasi cerpen "Kembali untuk Maria" karya Ken Hanggara
(Dimuat di Harian Joglosemar edisi Minggu, 11 September 2016)
 
    Aku tidak ingat kapan terakhir kali pergi ke rumah pacarku, Maria, tetapi kukira ia juga sudah tidak ingat kapan terakhir kali aku mendatanginya. Kejadian itu sudah usang, dan sekarang aku sudah memiliki anak empat. Kalau saja Maria tidak menyuruhku pergi, maka tentu saja empat anak itu tidak terlalu menjengkelkanku, sebab Maria gadis cantik yang menyenangkan. Di mana-mana, watak orangtua pasti menurun pada buah hatinya. Dulu aku berharap dan yakin itulah yang terjadi; anak-anak rupawan berperangai seperti Maria. Tapi, kami harus berpisah.
    Takdir menikahkanku dengan si buruk rupa yang sama sekali pantas jadi bibiku. Ia wanita yang kubenci. Tabiat dan tampilan wanita itu sama buruknya, dan aku tidak bisa melarikan diri. Begitu pernikahan terjadi, istri yang kubenci hamil dan beranak empat kali, dan keadaan rumah membuatku ingin pergi sejauh mungkin dari sini.
    Waktu benar-benar tak dapat dihentikan.
    Aku ingat kejadian usang itu berlangsung bagaimana; aku hanya tidak ingat kapan itu terjadi. Mungkin dua puluh tahun lalu, mungkin tiga puluh, atau boleh jadi seratus tahun yang lalu.

[Cerpen]: "Menjahit Sayap Malaikat" karya Ken Hanggara

Ilustrasi cerpen "Menjahit Sayap Malaikat" karya Ken Hanggara
(Dimuat di Banjarmasin Post, 11 September 2016)

    Sejak ditinggal mati suaminya, Maria membuka usaha jahit di rumahnya. Mula-mula sepi, tapi hari demi hari pesanan jahitan mulai banyak dan ia kewalahan. Ia merekrut dua gadis di dekat rumah untuk membantu. Ia bangkit dan bisa menghidupi dua anak yang masih kecil, diri sendiri, dan dua karyawan. Sampai suatu ketika, sesosok malaikat datang mengetuk pintu rumahnya.
    Malaikat itu datang tengah malam, persis empat tahun sepeninggal suami yang tewas dalam kecelakaan. Malaikat itu mengentuk pintu dengan lembut, sampai-sampai tak bakal ada yang dengar, kecuali orang yang benar-benar berhati suci atau yang dikehendaki malaikat itu untuk mendengar.

[Cerpen]: "Enam Belas Tahun Kemudian..." karya Ken Hanggara

(Dimuat di Taman Fiksi edisi 17)

    All or Nothing berputar begitu saja setelah mobilku meninggalkan halaman rumah Vina. Lagu lama ini membuat pikiranku terbang ke masa lalu. Enam belas tahun berlalu dan semua tetap sama. Segalanya tetap sepi bagiku. Aku tidak menyesal atas perpisahan yang memang harus terjadi ketika itu. Vina tidak benar-benar mencintaiku, dan aku juga tidak begitu yakin kami dapat membina hubungan yang lebih baik jika kami menikah.
    Enam belas tahun segalanya tetap sama, tetapi tidak bagi Vina. Ia menikah dengan temannya setelah memutuskan hubungan kami. Vina tampak sedih, dan di masa-masa ini hatiku hancur. Aku tidak dapat melakukan aktivitas apa pun dengan baik. Tanpa memberi kabar, aku pergi sejauh mungkin dan sempat berpikir semoga ia benar-benar melupakanku, dan aku juga berusaha melupakannya. Setahun berlalu, aku merasa aku berhasil. Aku lupakan Vina dengan menjalin pertemanan dengan beberapa wanita baik dari negeri-negeri asing, sekalipun tidak sampai berpacaran.