Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Saturday, 26 September 2015

Cerpen: "Sang Model" karya Ken Hanggara

"Sang Model"

cerpen Ken Hanggara di tamanfiksi.com
Ilustrasi cerpen "Sang Model" oleh Ken Hanggara
 (Dimuat di tamanfiksi.com, edisi 05, September 2015)

Begitu Sanjaya berkemas pulang, Marlina—model yang sempat naik daun sepuluh tahun lalu, yang tenggelam, tak lagi muncul karena masalah narkoba—menarik lembut lengannya. Mata mereka beradu beberapa detik, dan berhenti karena ingat mereka tidak bisa bertemu lama di luar jam kerja. Sanjaya, atau biasa dipanggil San, atau cukup dengan Jay saja, beringsut dan mengambil perlengkapannya yang jatuh berguling di lantai semenit lalu.
"Apa kamu datang lagi?" Wanita itu bertanya setengah cemas, tapi lebih terkesan pasrah. Tahun-tahun yang gemilang telah pudar. Barangkali tidak akan bisa kembali, meski ia berharap bisa memancing satu-dua kenangan lama menjadi suatu hal yang real.
"Entah." San menjawab pendek.
"Tidak bisa tidak. Aku belum dapat salinannya."
Marlina tersenyum dan melirik penuh arti, menyimpulkan sendiri nasib hubungan mereka di masa depan, dari kecerobohan San meninggalkan laptop di ruang kerja di rumahnya sana, sehingga lelaki itu belum benar-benar menuntaskan pekerjaan sebelum ia seharusnya pergi.
"Kurirku kemari dua hari lagi," kata San, membuka pintu kamar.

Cerpen: "Bayi Berbalut Kain Gorden Warna Krem" karya Ken Hanggara

"Bayi Berbalut Kain Gorden Warna Krem"


cerpen Ken Hanggara di Radar Mojokerto
Ilustrasi cerpen "Bayi Berbalut Kain Gorden Warna Krem" oleh Ken Hanggara
(Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 20 September 2015)
Seonggok bayi berbaring di tumpukan sampah. Entah bayi siapa. Dia menangis karena pagi begitu dingin. Dia menjerit karena lapar. Dia bergetar karena ingin tahu siapa yang menaruhnya di situ sehingga kulitnya jadi gatal-gatal, atau ingin tahu siapa ibu-bapaknya yang dengan tega menelantarkannya.
Bayi itu berbalut kain gorden warna krem. Dibungkus begitu saja bagaikan lemper, lalu diletakkan di atas kardus bekas wadah Indomie yang sudah ditata sedemikian rupa. Tak ada yang tahu ada bayi di situ, karena tumpukan sampah ada di tepi kampung, dekat rawa-rawa, dekat tanah kosong yang dirimbuni pepohonan bambu.
Bayi itu menangis dan menangis, sehingga misal ada yang dengar dan orang itu membawa dendam, bisa sirna saking kuatnya getaran kemanusiaan yang terkandung dalam suara si bayi. Orang itu bisa batal dendam atau tidak jadi membunuh lawan yang entah di mana, gara-gara tangisan bayi itu mengundang iba.
Rumah terdekat berjarak sekitar 70 meter, tetapi penghuninya nenek tua yang tuli. Jadi percuma si bayi menangis makin keras akibat kedinginan, juga kelaparan. Toh tidak ada yang mendengar, kecuali nanti kalau ada orang yang masuk ke tanah kosong itu untuk berbuat mesum, atau sekadar mencari tempat sunyi untuk merenung.

Wednesday, 9 September 2015

Cerpen: "Tipu Daya" karya Ken Hanggara

"Tipu Daya"

cerpen Ken Hanggara di Radar Banyuwangi
Ilustrasi cerpen "Tipu Daya" oleh Ken Hanggara
(Dimuat di Radar Banyuwangi, Minggu, 6 September 2015)
 

Kali kesekian eranganmu mencabik gendang telingaku. Darah melukis sungai pada dingin wajah bidadari setengah iblis, tapi kau belum puas. Kau lepaskan dan hempaskan kesal dari balik bukit kembarmu lewat sebilah pisau. Ya, pernah kutanam cinta dan rasa nafsu di kedua bukit itu, dulu. Lalu kamu pasrah dan diam, bahkan menikmati hari-hari terakhir keberadaan suamimu yang sama sekali tak kau cintai. Kepadaku waktu itu kau berkata penuh tekanan, "Segera kerjakan!"
Dalam gemingku, kenangan terpancar dari bening bola matamu. Seakan Tuhan dan iblis bersatu padu dalam suatu rekayasa imajinatif. Suatu hal yang mustahil. Kau duduk di bangku pusat kerumunan kru dan perkakas shooting. Dari balik topi lebar, kau titah segala-galanya dengan telunjuk berkuku merah. Kau bersandar angkuh sebagaimana sutradara bekerja.