Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Saturday, 30 July 2016

[Cerpen]: "Bertamu ke Rumah Anya" karya Ken Hanggara

Lukisan karya Octavio Ocampo

(Dimuat di Flores Sastra, Sabtu, 30 Juli 2016)



Mohon maaf, cerpen ini sengaja dihapus karena dimasukkan ke dalam buku terbaru saya yang berjudul Museum Anomali. Buku tersebut berupa kumpulan cerpen bertema horror kontemporer. Jika ingin membaca cerpen ini, yang juga akan dihimpun bersama cerpen-cerpen lainnya (baik yang sudah terbit atau belum dipublikasikan sama sekali), segera pesan buku tersebut. Harga 49 ribu belum termasuk ongkos kirim Terima kasih. :)  Untuk pemesanan Museum Anomali, bisa klik Tentang Penulis.

[Cerpen]: "Zikir Brondong Jagung" karya Ken Hanggara

Lukisan karya Rustamadji.

(Dimuat di Nusantaranews.co, Sabtu, 30 Juli 2016)
 
   Di depan toko brownies ada bapak tua. Rambutnya putih sempurna, mungkin enam puluhan atau tujuh puluhan. Duduk beralas tikar bolong, tak ada yang mengusir. Orang- orang di sekitar toko seakan tidak peduli atau membiarkannya begitu. Barangkali karena bapak ini tidak mengusik siapa pun. Ia duduk menghadap setumpuk brondong jagung yang dicetak kotak-kotak, dengan posisi orang doa sehabis salat.
    Bapak tua ini, demikian kata penjual cendol di seberang jalan, sudah empat bulan duduk di situ dari jam sepuluh pagi hingga menjelang maghrib, dan manager toko tidak pernah menegurnya. Tidak ada satu larangan siapa pun duduk di teras toko, selama tidak menganggu ketentraman. Berbagai mobil keluar masuk parkiran, berbagai wajah datang dan pergi ke toko, berbagai rencana brownies seribu pilihan rasa, melintasi tubuh bapak tua itu, termasuk aroma tubuh satpam yang sesekali sengak, sesekali harum semerbak, tetapi tidak satu pun manusia berhenti menengok.
    "Saya tidak tahu bagaimana beliau makan," cetus si penjual cendol.
    Waktu itu, saya menunggu pacar beli brownies untuk hadiah Mami. Di atas motor, memandang bapak penjual brondong jagung, hati saya tersentuh dan bertanya kepada seseorang yang mungkin tahu kisahnya.
    "Anda hafal kebiasaan beliau?"
    "Tidak juga. Saya tidak menghafal segala-galanya. Saya cuma penjual cendol yang menghitung dalam sehari harus laku minimal berapa gelas, biar balik modal. Dan kalau itu balik, saya lumayan tenang. Kalau belum balik, saya bersyukur. Hanya saja, saya tidak paham cara berpikir bapak itu. Mau tidak mau saya memang selalu lihat dia dari tempat saya mangkal."

Monday, 25 July 2016

[Cerpen]: "Dosa Sani" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Solopos, edisi Minggu, 24 Juli 2016)

    Sani ingin pulang, tetapi ia tak tahu jalan. Ia juga tak tahu harus bertanya kepada siapa agar tidak tersesat. Seingat Sani, di jalan pulang ada sungai di sebelah kanan, dan tidak jauh dari sana ada toko mainan. Ia sering membayangkan Bunda menyuruh Pak Kusno, sopir pribadinya, menepi. Sekadar membeli sesuatu di toko itu. Sesuatu yang tentu saja membuat Sani bahagia.
    Sani tidak punya mainan, kecuali seekor kura-kura yang ia beri nama Peter Parker. Ia berharap, kura-kura itu menjadi pahlawan sekuat dan selincah superhero Spiderman, namun juga berhati emas. Ia tidak boleh memelihara laba-laba, karena kata Oma, hewan yang satu itu berbahaya, dan bisa membuatmu sesak napas.
    "Laba-laba itu punya jaring. Dan kalau kamu sudah kena jaringnya, wah... Jangan harap bisa pulang! Wajahmu yang jelek ini dikurung jaring dan kamu gak bisa bermapas selamanya dan akhirnya kamu pun mati. Berani mati, he? Orang mati biasanya masuk neraka dan kamu juga sepertinya masuk neraka!"
    Itulah kata Oma. Lalu beliau menambahkan beberapa kisah bualan yang terdengar begitu nyata di telinga kecil Sani, hingga ia berpikir cukup memberi nama kura-kuranya dengan Peter Parker saja. Ia tidak perlu mencari cara agar kura-kura itu benaran menjadi Spiderman. Orang normal tidak percaya pada Oma, tetapi Sani selalu menganggap Oma tahu segalanya.
    Oma seperti Bunda; tahu segalanya. Tidak ada apa pun di dunia yang tidak mereka tahu. Sani pikir, barangkali Bunda dan Oma manusia pilihan, yang ditugasi Tuhan untuk menjaganya dengan cara mereka.
    Bunda melarang Sani berbuat banyak hal. Sekali waktu anak polos itu bosan dan melawan, tetapi ia menurut setelah mendapat hukuman yang keras. Bunda tidak pernah tanggung-tanggung dalam menerapkan ketertiban ala keluarga ini. Sani berdiri tegak di depan meja, dan ia berhadapan dengan roda yang bisa diputar dengan angka-angka di permukaannya.

Friday, 22 July 2016

[Cerpen]: "Tata Cara Menjaga Seorang Adik yang Kaubenci" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Flores Sastra edisi Jumat, 22 Juli 2016)
 
Mohon maaf, cerpen ini sengaja dihapus karena dimasukkan ke dalam buku terbaru saya yang berjudul Museum Anomali. Buku tersebut berupa kumpulan cerpen bertema horror kontemporer. Jika ingin membaca cerpen ini, yang juga akan dihimpun bersama cerpen-cerpen lainnya (baik yang sudah terbit atau belum dipublikasikan sama sekali), segera pesan buku tersebut. Harga 49 ribu belum termasuk ongkos kirim Terima kasih. :)  Untuk pemesanan Museum Anomali, bisa klik Tentang Penulis.

Sunday, 17 July 2016

Menulis Membuatmu "Kaya"

Suatu hari, beberapa tahun silam, di dompet saya hanya ada beberapa ribu rupiah. Saya belum lama keluar dari pekerjaan yang sebetulnya enak, karena gajinya besar. Pada saat itu untuk lulusan SMA, gaji sebesar itu hampir mustahil didapat. Tapi karena tidak bahagia, saya memutuskan berhenti. Suatu hari itu, kejadiannya tidak jauh dari sekolah SMP saya. Karena belum dapat pekerjaan baru, saya mencari informasi lowongan kerja di warnet. Tidak tahu kenapa, mengingat kondisi dompet saya yang makin memprihatinkan, sementara uang tabungan tidak mungkin saya pakai terus-terusan, saya tiba-tiba berpikir ingin mencari tambahan uang dengan cara lain. Yang pertama melintas di pikiran: saya harus menulis.

Ketika itu saya sadar, bahwa memang uang yang saya bayangkan tidak bisa langsung didapat. Menulis adalah menabung. Uang hasil jerih payah baru bisa dinikmati setelah menjalani proses panjang. Saya sudah tahu itu, meski belum benar-benar terjun ke dunia literasi. Siang itu, saya putuskan saya terjun. Saya pikir saya harus total jika ingin memperoleh tabungan ekstra di masa mendatang. Itu pun jika saya sukses menjadi penulis. Untuk itu, saya bertekad tidak ingin berhenti.

Maka, siang itu juga, saya berjanji akan mencintai dunia literasi sampai tua dan bahkan sampai mati. Ini bukan main-main. Saya merasakan gejolak yang luar biasa. Semacam jatuh cinta jenis lain. Ada motivasi-motivasi tersendiri, selain tabungan ekstra tadi, yang saya kejar dengan menulis: saya ingin berguna bagi orang lain. Sebelumnya, saya merasa belum begitu berarti di kehidupan ini. Kadang saya bertanya, "Untuk apa saya lahir ke dunia ini?" Tahun-tahun itu masa kelabu saya. Kesedihan akibat kegagalan bertubi-tubi membuat saya merasa hidup di badan manusia lain.

Siang itu, di sebuah warnet tua, saya mendapat pencerahan. Bahwa saya harus menulis untuk lepas dari keresahan. Saya harus bangkit dan menolak kalah. Saya merasa saya belum berbuat apa-apa, jadi saya harus segera berbuat. Mumpung kesadaran ini muncul.

Tidak butuh waktu semenit, setelah "hidayah" tadi mampir, saya segera mencari informasi lomba menulis di Google. Hasilnya saya digiring ke perkenalan dengan grup-grup menulis online yang pada saat itu ada yang sudah besar, ada pula yang baru berdiri. Sampai sekarang, grup-grup tersebut (yang ketika itu saya kenal) masih aktif dan terus melahirkan bibit-bibit penulis baru.

Sejak itu saya mulai lebih paham apa saja yang harus dan penting penulis lakukan agar mau sukses: konsisten. Oleh teman sekomunitas, di masa-masa awal menulis, saya sudah dianggap produktif hanya karena mencoba menulis setiap hari (minimal sehari satu halaman dari jenis tulisan apa pun). Saya tidak tahu kenapa hati saya jadi jauh lebih bahagia, meski uang di dompet masih segitu-gitu saja. Ketika akhirnya dapat job, saya lebih "gila" lagi dalam menulis. Mengenal lebih banyak teman dari komunitas-komunitas lain, saya lebih "gila" dan "gila".

Apa yang saya dapat? Kegagalan dalam lomba? Sering juga. Kemenangan? Ada beberapa. Uang? Sedikit demi sedikit, alhamdulillah. Jadi korban penipuan? Oh, tentu saja pernah. Saya bahkan pernah nyaris mendapat hadiah penghargaan bergengsi, yang luar biasa, namun dibatalkan sepihak hanya karena miskomunikasi antara dewan juri. Penghargaan yang batal itu, barangkali dapat membuat sebagian keluarga dan tetangga saya, yang meragukan aktivitas menulis saya, menjadi takjub. Bahkan, seorang teman pun sempat mengaku, "Jujur saja. Gue masih heran. Kok bisa kamu menang?" Saya memang menang. Tapi "level" hadiah diturunkan, namun sampai sekarang hak saya belum saya dapatkan. Tentu saja, bagi kawan yang membaca status ini dan tahu maksudnya, saya minta tidak perlu dibahas. Ini sekadar berbagi pengalaman, sebab beberapa rekan di luar sana, terkadang meributkan sesuatu yang harusnya dapat disederhanakan, atau meributkan sesuatu yang nilainya tidak lebih berharga ketimbang waktu yang nantinya terbuang percuma. Bukankah lebih baik kembali berkarya? Jika misal suatu hari kita terluka oleh pihak tertentu, jauhi saya perselisihan.

Semua kejadian itu lekat di kepala saya. Saya tidak akan lupa. Tapi, saya tidak terlalu terbawa emosi dengan semua itu. Saya biarkan mengalir. Semua yang terjadi saya anggap proses dan saya menikmatinya meski harus berdarah-darah. Saya jalani saja kecintaan pada menulis ini, dan menyimpan keyakinan bahwa kelak kehidupan saya akan jauh lebih baik ketimbang jika saya memutuskan berhenti menulis.

Tidak sedikit juga cibiran saya dapatkan. Pertanyaan tentang kualitas dan kuantitas juga tentu saya alami. Apalagi sekadar muncul pihak-pihak yang seolah sengaja datang untuk membuat masalah, misal secara terang-terangan menulis tentang diri saya (bukan karya saya) dengan sudut pandang subjektif dan tidak seratus persen sesuai fakta. Seorang teman berkomentar tentang tulisan macam itu. Ia bilang itu menjijikkan dan benar-benar menghina saya. Tapi, apa yang saya lakukan? Saya abaikan saja dan saya kembali berkarya.

Tentu saya tidak akan mengabaikan jika tulisan yang dibuat adalah untuk mengkritik karya saya, bukan menghina/melecehkan secara personal. Kritik untuk karya ini lumayan sering saya dapat. Dari yang paling tajam, sampai yang kelewat halus (untuk tidak menyebutnya munafik), semua saya dapat. Dengan senang hati, saya terima semua itu. Saya resapi, karena toh berguna juga untuk perbaikan karya ke depan. Di antara para"kritikus" ini, tidak bisa dimungkiri, beberapa sengaja datang hanya untuk menghina karya saya. Lalu, apa saya marah? Oh, tidak. Hinalah sesuka hati karya seseorang, tapi jangan sampai menghina orangnya. Yang seperti ini bisa saya terima.

Suatu kali, dalam pertemuan dengan beberapa teman lama, saya dipuji karena kini dianggap sukses jadi penulis. Saya bilang, "Saya belum apa-apa, karena masih butuh banyak belajar." Memang begitulah kenyataannya. Setiap hari kita butuh belajar. Hari demi hari kita dipersilakan memilih antara mendaki puncak cita-cita, ataukah berhenti karena lelah? Saya rasa kita tidak perlu berhenti, karena sebenarnya puncak itu ada di akhir jatah hidup.

Orang bijak berkata, "Jangan salahkan Tuhan jika Anda mati dalam keadaan miskin." Maka, marilah menjadi kaya. Kaya itu bukan sekadar soal uang seperti yang dibahas di atas, tetapi juga soal hati.

Menulis Memang Harus Konsisten, Tapi ...

Menulis memang harus konsisten. Rasa malas memang harus dilawan. Namun, jika kita tidak sanggup, sebaiknya jangan dipaksa. Ada saatnya kita merasa kitalah ruh dari sebuah tulisan sehingga apa pun yang terjadi di sekitar kita, menulis jadi tidak terasa. Seperti mesin yang bekerja tak kenal lelah, kita terus dan terus menulis. Namun ada saatnya juga kita ditolak mentah-mentah oleh tulisan yang akan kita garap, sehingga bahkan separagraf pun terasa berat. Mau jadi ruh tidak bisa. Jangankan ruh, jadi kulit si tulisan saja tidak diizinkan.

Maka, menulislah sesuai kemampuan. Memang harus dipaksa tubuh dan jiwa agar bangun dari rasa malas, tetapi jika semangat sudah ada lalu otak tidak mendukung secara maksimal, sebaiknya break dulu beberapa jam, atau mungkin sehari dua hari. Baca-baca buku yang kita sukai atau jalan ke tempat menyenangkan atau lakukan apa pun yang membuat otak rileks.

Saya sendiri, meski bisa menulis 4-5 cerita per hari, ada saatnya tidak sanggup menulis sama sekali. Bila saya merasa ada yang menghambat, saya putuskan libur dulu. Mengerjakan tulisan dengan otak tertekan justru mengacaukan apa yang kita mau tulis. Sebab, sekalipun pabrik cerpen berdiri di kepala saya, saya pun juga manusia. Kadang satu tulisan per hari atau tidak sama sekali patut disyukuri. Menyadari sampai di mana batas kita dan memanage kemampuan otak yang Tuhan berikan, adalah salah satu cara untuk menjaga konsistensi.

Bukankah jika lelah kita mudah jenuh? Maka, janganlah menulis di saat otak sudah waktunya diistirahatkan. Kalau kita terus paksa, jangan-jangan kita malah pingsan dan sakit dan berpikir menulis sama dengan menyiksa diri.

Lawan rasa malas. Tapi kenali batas dirimu. Pahami saat mesin di kepalamu bekerja maksimal, sebab pada hari itulah kamu tahu seberapa ajaibnya menjadi ruh dari apa yang kamu tulis. Kalau jiwa raga sudah maksimal namun tidak juga menulis, berarti kamu cuma ikut-ikutan dan latah karena melihat temanmu jadi penulis. Memang begitu. Orang jatuh cinta kan bukan karena latah? Kamu belum tentu jatuh cinta pada orang yang membuat hati temanmu kepincut.

Saturday, 9 July 2016

[Cerpen]: "Jam Antik" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Flores Sastra edisi Sabtu, 9 Juli 2016)
 
    Dua puluh empat jam sehari dikali beribu-ribu belum cukup lama untuk membuat saya menua. Saya tetap muda dengan gerakan jarum yang itu-itu saja; tik, tak, tik, tak, selalu rapi dan tak cela, kecuali barangkali pernah dua kali harus berhenti bekerja bagai orang mati, namun yang suri, sehingga saya bisa bangkit dan menjadi penanda waktu.
    Oleh lelaki Belanda saya diajak menapaki desa dengan jalan yang belum diaspal. Dijual kepada pemilik tanah terluas di sana, diperlakukan bagai perawan cantik jelita, saya merasa hidup saya akan membosankan. Konon, ada yang bilang, tempat macam ini tidak akan memberi saya pemandangan pelangi. Maksudnya, yang penuh warna.
    Perang meletus entah pada tanggal berapa. Bukan tugas saya memang kalau soal hitungan bulan dan tahun. Saya hanya bekerja pada skala yang lebih kecil dan sederhana. Detik, menit, jam terus berputar oleh saya; atau saya yang bekerja oleh mereka setiap hari. Saya bayangkan, jika tanpa mereka, apa saya masih ada?

Sunday, 3 July 2016

[Cerpen]: "Di Tempat Kejadian Perkara" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 3 Juli 2016)
 
    Tidak ada makanan untuk kucingku. Jangankan makanan untuknya, aku saja yang manusia belum menelan apa-apa sejak kemarin sore. Perutku terasa amat lengket dan kubayangkan ada pabrik lem besi di ususku.
    Sirene ambulans terdengar di luar sana dan kutatap jam. Pukul tujuh pagi. Hari terlalu dini untuk sebuah kecelakaan. Mungkin ada yang terluka parah, atau barangkali ada yang tewas?
    Membuang kesuntukan karena kamar kost ini lama-lama terasa busuk, juga demi tak membatalkan janji bersama pacarku, karena aku tidak bisa menahan kantuk kalau harus menunggunya di sini, bersama si Imo, kucingku, aku pun menghambur ke depan, mengikuti barisan orang penghuni kost yang juga sama-sama menganggur dan ingin menonton TKP.
    "Motor lawan truk, Bos!" kata seseorang. Asap rokok bergumpalan di udara dan aku, dengan Imo di pelukan, menerabas kepul asap dan belasan manusia hingga sampai di gang depan.
    Begitu jalan raya kelihatan, sandalku tak sengaja menginjak aliran darah. Merah ini begitu pekat, sampai kukira ia tidak pantas disebut darah. Seperti pewarna tekstil yang berbahaya jika dicampur ke dalam makanan. Darah ini menggenang tidak jauh dari spot tempat sandalku berpijak, sehingga sekarang alirannya merembet ke kiri kanan, pencar tak keruan.
    Kepala pengendara motor itu pecah. Helmnya seperti kerupuk gosong dan otaknya seperti daging dikornet. Aku cukup kuat melihat, tapi kalau tadi aku sahur, barangkali detik ini juga semua bakal tumpah. Untungnya aku tidak sahur dan sengaja tidak puasa.

Buka Bersama Setelah Tiga Tahun Vakum

Acara buka bersama yang sejak sebulan lalu dirancang oleh teman-teman SMA di grup WA terlaksana juga hari ini. Walaupun sempat muter-muter dan tersesat di Perumahan Mutiara Citra Asri, Tanggulangin (padahal sudah bertanya ke seorang warga dan satpam), saya termasuk peserta yang tidak terlambat, sekalipun tiba sekitar lima belas menit sebelum bedug maghrib.

Ya, memang tidak banyak yang hadir. Tapi belasan orang berkumpul setelah tiga tahun berturut-turut tidak ada acara buka bersama, cukup menggembirakan dan patut disyukuri. Tadinya saya berharap semua teman bisa hadir, tapi agaknya mustahil. Kesibukan membuat jarak beberapa dari kami kian jauh dan entah bagaimana bisa memenggal jarak itu dan mengembalikan seperti pada masa SMA dulu.

Friday, 1 July 2016

[Cerpen]: "Pembakar Kupu-Kupu" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Flores Sastra, Jumat, 1 Juli 2016) 

 Di usia dua puluh, Sarmila yang sudah janda jadi incaran semua lelaki. Tidak heran, karena meskipun pernah kawin dan punya dua anak, dia tetap manis dan seksi. Di antara kaum Adam yang mengincar, termasuk Mudakir, tidak ada yang serius mau mengawini secara sah, paling tidak kawin siri, sebagaimana yang selalu Mudakir gaungkan. Incaran itu, apa lagi kalau bukan soal kasur?
    Rumah Sarmila tidak jauh dari losmen kuno. Tempat yang tak absen dari dunia malam dari selepas maghrib hingga jelang subuh. Kebanyakan diisi pengangguran, atau raja jalanan tanpa motor yang membangun markas di sepanjang jalan dekat bantaran kali.
    Gang-gang kecil, akses menuju kampung sepi peminat, setiap malam diblokir oleh meja dan bangku-bangku. Di atasnya, remi dan botol-botol minuman keras bertebaran. Puntung rokok jangan ditanya. Setiap pengunjung kawasan remang ini tidak pernah melewatkan itu, termasuk perempuan penghibur. Hidup di sini, memiliki anak gadis perawan harus benar-benar ketat dijaga. Kalau tidak, bisa dicaplok bajul buntung.

[Cerpen] "Lingkaran" karya Ken Hanggara

Dimuat di Buletin Mantra edisi Juni 2016)
 
  Maria harusnya pergi ke pesta dansa bersama suaminya malam ini. Tidak ke alam baka dan tersesat karena tidak punya pegangan. Dalam perjalanan ke pesta tersebut— yang diadakan salah satu kolega Martin, suami Maria—mereka meninggal. Mobil yang mereka tumpangi masuk jurang dan tidak ada yang tahu sampai empat bulan berikutnya kenapa sepasang pengantin baru ini tidak jadi datang ke pesta malam itu.
    Maka, ketika jasad mereka ditemukan di dasar jurang, bersama bangkai mobil yang gosong di bulan keempat, yang ada hanya tulang belulang sepasang suami istri lengkap dengan tuxedo dan gaun yang dipesan khusus. Tentu saja, segala sandang tidak seindah dahulu, ketika mereka mengambilnya di tukang jahit langganan keluarga.
    Dengan segera, kabar kematian keduanya menyebar ke keluarga dan para sahabat, serta semua yang kenal Maria dan Martin, sehingga mereka sangat sedih. Maksud dari 'semua' adalah tidak ada pengecualian. Benar-benar semua yang mereka kenal.
    Siapa tidak sedih, ketika tahu dua manusia baik meninggal dengan cara tidak enak, serta terlambat ditemukan? Tidak ada yang bisa melihat wajah mereka untuk terakhir kali sebelum dimasukkan ke liang lahat. Yang terlihat, hanya sepasang tengkorak tanpa ekspresi dan tanpa arti. Serba kaku dan pahit.
    Keduanya pribadi hangat, meski kaya. Tidak sombong dan tidak pernah membuat hati orang lain sakit hati. Maka, semua heran, kok bisa Maria dan Martin meninggal dengan cara ini? Polisi menyatakan masuknya mobil mereka ke jurang murni karena kecelakaan. Tidak ada sabotase oleh orang yang membenci mereka (setahuku, tidak ada yang benci mereka), serta tidak ada pula perampokan sekaligus pembunuhan.
    Tetapi, justru ini masalahnya. Mereka meninggal karena suatu kecelakaan. Aku tahu ini mungkin tidak masuk akal dan orang akan menganggapku memaksa dan kurang ajar; orang mati sepatutnya dihormati, bukan malah dibicarakan soal kematiannya yang mengerikan, bukan?
    Sebenarnya perkara kecelakaan bukan hal baru bagi Maria. Dulu sebelum menikah, ia sering mengalami berbagai kecelakaan dan selalu selamat. Kata sang nenek, ia punya keistimewaan. Tidak jelas maksud wanita tua itu, tetapi orang cuma tahu bahwa Maria tidak pernah celaka. Maria selalu selamat, meski mungkin ada banyak kesempatan bagi takdir untuk membuatnya celaka. Seakan takdir tidak bisa bermain di kawasan Maria. Seakan Tuhan mengistimewakan perempuan cantik dan baik itu agar tidak mati dengan cara buruk.