Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Thursday, 28 April 2016

Masa Kecilku: Pendek, Bukan Pendekar

Ada teman bermain dari dusun sebelah yang dulu waktu kecil dipanggil Pendek (cara pengucapannya sama seperti saat kita menyebut kata 'pendekar', hanya saja tanpa huruf 'a' dan 'r'). Tidak tahu kenapa ia disebut Pendek. Yang jelas ia tidak bertubuh pendek, sebab waktu itu anak kecil yang paling kelihatan tua adalah si Pendek ini. Umurnya dua atau tiga tahun di atas saya dan badannya hitam besar. Saya hampir tidak pernah membuat masalah dengannya, begitupun sebaliknya, karena Pendek ini tidak pernah berlagak sok. Orangnya santai, meski kalau berkelahi kemungkinan besar pasti menang, karena ketika itu belum ada bocah berbadan sekekar dia.

Pendek suka bermain layang-layang di sawah dan sesekali sepak bola. Saya sering meledeknya dengan maksud bercanda, dan ledekan itu juga tidak berlebihan. Semacam ledekan pertemanan. Pendek tidak pernah membalas selain melihat mata saya beberapa detik, seperti seorang lelaki tua menatap cucunya.

Daftar Isi

Friday, 22 April 2016

[Cerpen]: "Maria Pergi ke Wonderland" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Koran Pantura edisi Rabu, 20 April 2016)

Maria berhenti merengek setelah saya telan tubuhnya bulat-bulat. Saya lebih dulu membujuk anak ini agar masuk lubang kelinci Wonderland, tempat Alice si gadis aneh berpetualang bertemu para makhluk sinting di bawah sana, untuk kemudian menenggak habis sebotol ramuan yang membikin tubuhnya menyusut.
Maria mula-mula tidak mau, tetapi kata saya, di bawah sana ada kelinci berdasi.
"Wah, yang benar, Om?"

[Cerpen]: "Agama Baru Penemu Dompet" karya Ken Hanggara



www.kenhanggara.blogspot.com
(Dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 17 April 2016)

Sebuah dompet tergeletak di dekat selokan, berisi uang jutaan rupiah dan beberapa lembar tulisan aneh. Aku tidak tahu siapa pemilik dompet ini, tetapi kukira dia manusia dermawan dan tidak memikirkan soal dunia. Salah satu tulisan itu berbunyi: boleh ambil sesuka Anda, tetapi jangan semua, dan kembalikan dompet itu ke tempat di mana Anda menemukannya.
Memang aneh, tetapi karena dompet ini nyata, bukan gaib, dan berisi pecahan uang seratus ribu dalam jumlah sedemikian banyak, diam-diam aku menepi dan memeriksa lebih teliti. Sudah pasti, yang dimaksud ambil oleh tulisan itu tidak lain adalah uang. Jadi, aku boleh ambil berapa pun, tetapi sesudah itu harus menaruh dompet itu kembali?
Jalanan ini sepi. Jam segini siang, biasanya bus-bus dari luar kota melintas dan tak ada apa pun selain debu. Sesekali mungkin pedagang es tua yang memikul dagangannya sambil menggoyang-goyang lonceng ciri khas dengan gerakan pilu dan kepasrahan total, atau mungkin penjual keset welcome yang berteriak putus asa menjajakan dagangannya, "Keset murah, keset murah!"

[Cerpen]: "Pak Kodir" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Republika edisi Minggu, 17 April 2016)

Orang-orang berkumpul di masjid pagi itu, menonton seorang ahli ibadah sedang berada dalam posisi sujud selama lebih dari satu jam. Tentu saja beliau sudah mangkat. Orang memanggilnya Pak Kodir. Sehari-hari jualan soto di pertigaan dan semua orang kenal soto ayamnya yang lezat. Jadi, ketika kabar ini merebak, orang-orang pun berpikir, "Siapa yang jual soto seenak itu lagi, ya?"
Meninggalnya Pak Kodir segera jadi kabar yang melesat ke segala arah. Tidak ada yang bicara keburukan; semua kenal beliau baik dan suka memberi makan gelandangan, pengemis, atau sesekali orang gila. Siapa pun mampir ke warungnya, tetapi tidak bawa uang, tidak perlu khawatir, karena Pak Kodir bakal memberi seporsi gratis buat Anda (kalau mau lebih juga boleh). Meski begitu, sotonya laris manis dan beliau tidak pernah rugi.

[Puisi]: "Kereta" oleh Ken Hanggara


Sebelum kereta berangkat, kubawa koper berisi namamu
Nama dari dua huruf vokal dan tiga konsonan
Hanya namamu


Lalu semua seakan tidak penting
Baju-baju, pasta gigi, sandal jepit, bahkan mobil
Sebab koperku hanya muat membawa nama

Koperku doa dan kereta waktu azan
Hari ke hari bertambah lama kita
Maju ke depan dan koper kian erat kupeluk
Kubawa sampai jauh dan kupikul ke gunung dekat stasiun tujuan

Di stasiun tujuan ada kios kecil
Jual permen, kacang goreng, dan pulpen
Kubeli sebatang pulpen dan sekali lagi kususun namamu di telapak tangan
"Apa?" tanya seorang bocah
"Rahasia," kataku

Namamu rahasia dan biar hanya Tuhan dan barangkali kita yang tahu
Kubawa koper itu sekuat-kuatnya ke puncak gunung
Jika lelah kuintip telapak tanganku
Tentu saja, pulpennya harus kualitas nomor satu
Biar kalau kena hujan, tinta pengukir namamu tidak luntur

Sekarang kereta bersiap-siap
Aku dan koperku--berisi namamu--sudah duduk manis dekat jendela

Ada kamu di puncak kelak
Ada kita barangkali
Ada tujuan
Hidup selalu bahagia jika kita bertujuan

-20 April 2016-

Pertanyaan tentang Orisinalitas yang Menyakitkan

Beberapa hari yang lalu ketika beberapa tulisan saya dimuat di beberapa media berbeda dalam sehari (dan tentu saja tulisan-tulisan tersebut juga berbeda), seseorang yang entah siapa mempertanyakan orisinalitas semua karya saya. Ya, semua, bukan hanya sebiji dua biji.

Saya buka akun tersebut; tidak jelas pemiliknya siapa. Namun segera saya tanggapi dengan santai, bahwa: tentu tulisan saya orisinal. Jika dia ingin baca, saya sodorkan alamat blog saya (sekalian promosi, hehe), dan bacalah sebanyak yang ia sanggup, semua postingan yang saya buat di blog tersebut sejak tahun 2013 silam. Paling mendominasi cerita pendek dan resensi buku. Barangkali dengan membaca semuanya, pemilik akun misterius ini menemukan jawaban.

Secuil Kisah Penulis Cerita di Koran

Papa saya bertanya, setelah membaca cerpen saya di Republika kemarin, "Pak Kodir itu apa sosok dari dunia nyata?"

Saya jawab tidak, kalau yang dimaksud individu tertentu. Tetapi saya yakin di luar sana ada banyak sosok seperti Pak Kodir. Lalu obrolan berlanjut ke soal cerita dan dunia literasi yang saya tekuni.

Di keluarga kami, papa sayalah yang biasa mengapresiasi tulisan saya, sependek apa pun komentarnya, sesingkat apa pun ulasannya. Di rumah memang tidak banyak yang suka membaca karya fiksi. Bahkan saya pikir, saya dan Papalah yang paling banyak membaca di keluarga ini.

Masa Kecilku: Dari Bocah Nakal Hingga Anak Band

Saat SD, saya suka membuat gara-gara entah dengan siapa, hanya demi membuat orang itu jengkel. Asal umurnya tidak beda jauh dengan saya, boleh juga saya ganggu. Karena ini pula saya sering kena masalah, misal pertengkaran fisik dan bahkan kata-kata; dulu kami memakai nama orangtua lawan untuk menyerang, meski kedengarannya aneh. Jadi, anggap saja orangtua si A bernama Maman, maka musuhnya memanggil, "Man! Man!" 

Tidak hanya di sekolah, di lingkungan rumah saya sering terlibat masalah serupa. Bedanya, di rumah kami tak pernah memakai pertengkaran jenis kedua. Jadi, saya harus benar-benar tangguh untuk menang, sebab tubuh saya kecil dan pendek waktu itu.

Produktif Tapi Jangan Lupa Waktu

Menulis setiap hari itu bagus. Tapi ingatlah waktu. Ada pekerjaan lain yang harus kita lakukan sebagai manusia normal. Kita bukan mesin, jadi menulis yang ideal per hari kurang lebih sekitar 3 jam. Itu pun tidak sekaligus. Bisa dua atau tiga kali duduk. Bila terbiasa melakukan, lama-lama mengubah kita jadi penulis produktif.

Maksud 'menulis-tiap-hari' bukan full 12 jam kita duduk di depan laptop, misalnya. Itu bukan keren, tapi konyol. Kapan makan? Kapan minum? Kapan berinteraksi dengan manusia lain? Melakukan pekerjaan lain? Belajar jika kita pelajar/mahasiswa? Lalu, piknik? Bahkan, kapan ke kamar kecil?

Plagiarisme Harus Kita Lawan

Sebenarnya sekitar tiga atau empat minggu sebelum mencuatnya kasus plagiarisme oleh salah satu penulis "besar" itu, selama beberapa hari saya terpikir menulis cerita tentang plagiator. Sudah ada konsep kasarnya di kepala, sebagaimana biasa. Tapi entah kenapa ide-ide lain berasa lebih mendesak untuk ditulis, maka teruslah ditunda-tunda cerita yang satu ini.

Suatu malam saat membuka Facebook, saya baca soal kasus tersebut dan saya jadi berpikir, "Ah, telat!" Maksudnya, kenapa tidak dari awal saja cerita plagiator yang baru berupa ide itu segera saya buat?

Tapi saya tidak menyesal karena keterlambatan macam ini. Toh lain waktu cerita itu bisa saya tulis dengan lebih mematangkan konsep atau barangkali mencari serpihan-serpihan bahan dulu dari luar biar cerita yang dihasilkan bakal bagus. Sebenarnya saya pernah menulis cerita pendek tentang plagiator, tepatnya tahun lalu. Sayangnya cerita itu belum menemukan jodoh hingga hari ini.

Sebuah Awal: Memang Hidup Bukan Mie Instan

Tidak ada jalan mudah untuk sebuah mimpi yang besar. Saya mengangankan sesuatu yang belum pernah sekuat ini terangankan jika mampir ke pikiran. Seperti mendaki gunung yang butuh perjuangan, mimpi besar juga butuh berdarah-darah. Puncak tidak bisa dicapai dengan hanya selangkah dua langkah. Bermacam marabahaya menunggu, dan hanya soal waktu mereka bermunculan. 

Begitu tubuh kita penuh luka, barulah puncak didapat. Kepala ini serasa penuh kelebat gambar-gambar tentang "dia", tentang mimpi-mimpi lain, tentang suatu masa yang akan datang ketika seseorang mengingatkan saya minum susu dan membetulkan letak kemejaku--sekalipun saya bukan Soe Hok Gie. Membayangkan semua itu jantung ini berlompatan dibawa Spiderman ke sana kemari. Benar-benar tak terduga.

Demikianlah. Sore ini terasa begitu dalam. Hidup memang bukan mie instan yang tinggal seduh 3 menit langsung matang, maka manusia harus berjuang.

[Cerpen]: "Sarmila dan Berita Kematian" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Radar Mojokerto edisi Minggu, 17 April 2016)

Sarmila tidak ingin ke mana-mana. Bangun tidur, tak mandi. Ke dapur mengaduk kopi, oh, nikmat. Lalu duduk manis di depan TV, ambil remote, pilih program apa saja. Mungkin kartun, mungkin acara musik, atau reality show. Ah, di hari libur barangkali acara gosip tidak libur. Baiklah, banyak pilihan. Ia juga tidak perlu masak. Di kulkas, telur mentah habis. Nasi semalam sudah dimakan. Cukup kirim SMS ke Pak Usman, penjual nasi di seberang jalan, juga sekalian titip sekotak susu cokelat plus beberapa camilan di mini market padanya. Beliau tak keberatan karena Sarmila sudah biasa. Ini hari libur dan ia butuh bermalas-malasan.

Masa Kecilku: Kenakalan Semasa Belajar Ngaji

Mama saya biasa mengajar ngaji di masjid dusun sebelah, di dekat rumah lama. Masjid ini pembangunannya dimulai saat saya masih SD dan selesai 2-3 tahun kemudian. Saya kira, masjid inilah yang sampai hari ini semakin ramai digunakan sebagai tempat anak-anak belajar mengaji sehabis ashar, apalagi setelah di sampingnya didirikan sebuah TPQ.

Sementara itu, masjid tua di dekat rumah saya, yang ada sejak zaman layar tancap dulu, atau mungkin sudah dibangun sejak zaman Belanda, sudah lama tidak ditemukan anak-anak kecil berkumpul selepas ashar di terasnya. Pasalnya, generasi 90an seperti sayalah yang dulu menyebabkan masjid tua ini menjadi TPQ yang paling diminati. Ketika kami jadi remaja dan tidak lagi mengaji di sana, pelan dan pasti masjid itu tidak lagi dipakai untuk mengajar membaca Quran.

Take It or Leave It!

Baca status seorang teman, jadi ingin tertawa. Mempromosikan karya itu wajar. Kalau tidak dipromosikan, bagaimana orang bisa tahu? Kalau diam saja, bagaimana buku/karya yang kita buat bakal dicari orang? Selama promosi itu di status kita sendiri, memang masalah? Sebenarnya bukan masalah. Hanya orang bermasalah di otak dan hatinya saja yang mempermasalahkan. Hehe.

Kukira hanya pertapa, yang hidup di gua di suatu pedalaman, yang tidak memerlukan promosi andai dia berkarya, atau orang yang sok pertapa, atau barangkali orang yang sudah terkenal karena sudah memiliki banyak penggemar dan jaringan (bahkan mereka yang terkenal pun kita tahu gencar melakukan promosi).

[Puisi]: "Kencan Kucing" oleh Ken Hanggara


Suatu malam seekor kucing mengajak pacarnya kencan
"Kita ke mana, Sayang?" tanya si betina
"Pokoknya oke," jawab yang jantan


Maka mereka menyusuri jalanan
Di pertigaan seekor anjing menghadang
Anjing busuk dan bulukan itu berkata, "Wahai, sepasang kucing, mau ke mana kalian?"
Dengan keteguhan ala Romeo, si jantan menyahut, "Kencan!"

Karena anjing itu bulukan dan bau dan sudah tua, maka ia tidak bisa bergulat
Sepasang kucing pun lewat dengan selamat

Sejak itu, anjing tua tidak pernah berhenti menangis
Ingat pacarnya dulu yang kini sudah mati dan meninggalkannya seorang diri

9-4-2016

Telusuri Dulu Kenyataannya, Baru Menilai Seseorang

Suatu ketika saya bertemu artis yang dulu sempat saya kagumi karena kepribadian dan aktingnya. Waktu itu kami sama-sama syuting di Persari, studio besar di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan. Saya masih peran kecil-kecilan dan dia peran utama. 

Saya tidak sampai berpikir bakal ada jembatan antar-kasta, mengingat kebaikan dia di saat wawancara atau menghadiri undangan talkshow di layar kaca. Ternyata saya salah besar. Artis ini seratus delapan puluh derajat berbeda jika ditemui di dunia nyata. Ia tidak ramah dan bahkan cenderung menganggap saya tidak ada. Padahal saya cukup cerdik mengambil momen menyapanya ketika kami di musala selesai salat magrib; lagi pula saya menyapanya dengan wajar dan tidak dengan cara memalukan. 

Masa Kecilku: Kalau Sudah Besar Jadi Polisi?

Dulu semasa saya kecil, almarhum kakek yang pensiunan polisi selalu berkata pada teman-temannya, "Ini cucuku yang paling ganteng. Kalau sudah besar jadi polisi."
 
Tapi saya tidak ingin jadi polisi.

Tentu saja saya tidak mengatakan itu pada Kakek, karena beliau suka menghibur saya dengan membuat skesta binatang-binatang seperti kuda dan macan, sampai saya menyimpan cita-cita ingin menjadi pelukis suatu hari nanti.

Gambar skesta almarhum Kakek, yang dibuat di berbagai macam kertas seadanya, karena tiap meminta dibuatkan sketsa, saya tidak tahu waktu, suka saya pandangi. Lalu saya tiru gambar-gambar itu sesuai versi saya yang jadinya kelihatan lebih besar dan komikal.

[Cerpen]: "Kesialan Sehari" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Koran Muria edisi Minggu, 17 April 2016)

1/ Kesialan di Pagi Hari
Demi Tuhan, saya tidak sengaja. Sudah saya jelaskan ke beberapa pengendara yang berhenti, bahwa tadi kejadiannya sangat cepat. Saya naik motor, lalu tiba- tiba dari balik bodi sedan yang parkir, muncul gerobak buah ini—atau sebut saja becak buah; saya tak tahu menamainya apa. Saya gugup.
"Memangnya mau ke mana?" tanya seorang paruh baya.
"Rumah sakit, Pak. Ibu saya opname."

[Cerpen]: "Rahasia Maria" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Kedaulatan Rakyat, edisi Minggu, 17 April 2016)

Pelaku penembakan itu sudah mati, tapi Maria belum bisa hidup tenang dan masih didatangi mimpi menjengkelkan. Waktu kutanyakan mimpi macam apa itu, ia bercerita tentang lelaki bertopeng dengan pistol di tangannya. Lelaki itu menunggu setiap orang di terminal pada malam hari dan membunuh siapa pun yang bisa dibunuh.
"Terminal itu bukan sembarang terminal. Bus-busnya membawa setan dari neraka. Dan semua bemo berisi tuyul-tuyul," katanya.
Maria tidak pernah selesai menceritakan mimpi buruknya, karena pertemuan kami tidak pernah lebih dari setengah jam. Dan setengah jam itu selalu saja berisi kisah-kisah yang nyaris sama; bagian cerita yang harusnya telah lama ia selesaikan, tetapi aku tidak berani memotong atau mengingatkan.

Tuesday, 12 April 2016

[Cerpen]: "Meli Mencari Bapak" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Koran Pantura, Jumat, 8 April 2016)

    1/ Ibu yang Mencintai Anaknya
 
 Ketika melepas Meli, yang ada di kepalaku satu: anak ini harus sukses. Tidak boleh sepertiku yang miskin dan kotor. Sumpah, aku bukan pelacur dan tidak pernah menjual diri. Memang tidak pernah jelas siapa bapak kandung Meli, tetapi sejak ia kecil, aku membesarkannya dengan uang halal dan sepenuh hatiku.
    Meli kecil sering menderita, tetapi aku tidak membiarkan dia sampai kelaparan dan berhenti sekolah. Yang membuat anak itu menderita adalah pertanyaan di mana bapak dan siapa lelaki itu. Aku bukan tidak mau jawab. Berkali-kali aku memikirkan jawaban apa yang tepat, tetapi tidak bisa. Mau kubilang, bapakmu juragan sapi di suatu desa di kaki gunung, aku tidak yakin. Bisa saja bapaknya justru kuli serabutan yang empat belas tahun lalu mati kelindas truk.

Thursday, 7 April 2016

[Cerpen]: "Digoda Setan" karya Ken Hanggara


(Dimuat di Koran Muria edisi Minggu, 3 April 2016)


Mohon maaf, cerpen ini sengaja dihapus karena dimasukkan ke dalam buku terbaru saya yang berjudul Museum Anomali. Buku tersebut berupa kumpulan cerpen bertema horror kontemporer. Jika ingin membaca cerpen ini, yang juga akan dihimpun bersama cerpen-cerpen lainnya (baik yang sudah terbit atau belum dipublikasikan sama sekali), segera pesan buku tersebut. Harga 49 ribu belum termasuk ongkos kirim Terima kasih. :)  Untuk pemesanan Museum Anomali, bisa klik Tentang Penulis.

[Cerpen]: "Tragedi Sirkus" karya Ken Hanggara



 (Dimuat di Solopos edisi Minggu, 3 April 2016)

Semalam bocah-bocah tidak langsung pulang. Mereka berbondong ke lapangan bola dekat kelurahan. Ada sirkus, katanya. Tenda warna permen didirikan dan berbagai hewan lucu dipajang, dalam kerangkeng masing-masing, serta tentu saja selebaran dari sisa sore berserakan di sepanjang jalan. Isinya basa-basi: Sirkus keluarga, di lapangan dekat kelurahan. Tiket masuk empat ribu rupiah. Lalu bla-bla-bla soal hewan langka ini-itu, manusia-manusia unik, dan lain sebagainya. Memang itu yang selalu ditulis.
Dendi, anakku yang kelas tiga SD, ikut menonton. Ia lama mendamba gajah dan kuda dan singa dalam satu panggung dan hidup rukun. Di televisi, dunia satwa liar menyajikan tontonan sadistik. Pemangsa versus dimangsa. Darah bercecer dan puncak rantai makanan adalah raja. Kupikir, tidak ada edukasi tayangan itu, karena Dendi takut pergi ke kamar mandi. Takut ada harimau, katanya.

[Cerpen]: "Bocah Malaikat" karya Ken Hanggara



 (Dimuat di Radar Bromo edisi Minggu, 3 April 2016)

Meli seakan turun ke bumi sebagai malaikat menyaru bocah. Ia kulahirkan setelah hubunganku dan mertua tidak seharmonis dulu. Tujuh tahun menikahi Mas Yanto, baru aku bisa memberinya cucu. Tentu saja, Meli bukan cucu pertama, tetapi karena saking telatnya aku memiliki anak, hari-hari terakhir mertua lebih sering dilalui dengan Meli ketimbang siapa pun. Anak itu kecil dan lucu. Tidak ada yang membencinya, sekalipun aku yang melahirkan Meli, yang oleh wanita tua itu tetap dibenci sampai kapan pun.
Mas Yanto mulai jarang menyapa ibunya sejak pertengkaran itu. Aku sangat malas menceritakan kejadian menyakitkan ketika mertuaku bilang aku tidak berguna sebagai istri karena tidak kunjung memiliki anak dari dahulu, dan sekalinya bisa punya anak, tubuhku telanjur tidak bugar, kendor, dan mendekati masa menopause.

[Cerpen]: "Kuburan Buku" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Rakyat Sumbar edisi Sabtu, 2 April 2016) 

Tidak jauh dari rumah sepupuku berdiri sebuah tempat persewaan buku. Dulu aku tidak tahu di kawasan ini ada tempat persewaan buku, karena letaknya terapit oleh pohon dan beberapa bangunan. Lagi pula, aku tidak terlalu memperhatikan saat lewat. Aku juga jarang lewat jalanan itu ketika datang ke rumah Bibi untuk bertemu sepupuku dan kami memancing bersama ke kolam umum dekat rumahnya. Aku baru tahu di dekat sana ada persewaan buku setelah sepupuku bilang, "Coba Jalan Mawar nomor empat."
Ia memberiku gambaran yang diucap secara asal di ruang tamu sambil menonton tayangan tinju. Gambaran itu berupa ciri khusus rumah tersebut, mulai dari cat tembok hingga pagar, juga tong sampah berlubang di sisi kanan. Ia memberiku saran sebab aku pusing mencari tempat yang menjual atau meminjamkan buku-buku langka yang harus kulahap untuk merampungkan skripsi. Sejauh ini, aku belum mendapat buku-buku yang kucari.

[Cerpen]: "Maria di Kota Gerhana" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Koran Pantura edisi Jumat, 1 April 2016)

Gedung-gedung di sini aneh, itulah yang Maria pikirkan. Tidak seperti dekat rumah, yang mana ia bisa memandangi langit tanpa harus bagi-bagi. Langit di sini cukup pelit. Maria tidak suka hidup di sini. Gedung-gedung menjulang semaunya, dan ia tidak bisa memandangi langit guna melihat pacarnya di surga.
Pacarnya sudah mati. Dahulu, kalau tidak salah empat tahun lalu, tewas terlindas truk dan Maria tahu kejadiannya lalu ia menjadi gila. Ia dibawa ke penampungan khusus orang sinting dan bertemu banyak teman baru dengan bermacam-macam sejarah perih yang membuat kehidupan normal jadi kacau balau. Alangkah banyak orang gila di sana, jadi Maria tidak menghitung ada berapa yang dikacaukan sejarah karena sebab ini, atau ada berapa pula yang tidak waras karena sebab itu.

Belasan Tahun Mengubah Segalanya

Kira-kira tujuh belas tahun lalu saya pernah dibentak seorang bapak berbadan gendut, karena tak sengaja ban sepeda saya menginjak jembatan kecil di selokan depan rumahnya yang baru diperbaiki. Karena semennya belum kering, bekas ban sepeda saya kelihatan. Saya dan seorang teman langsung mengayuh sepeda lebih kencang karena takut ditangkap. Sejak itu, saya tidak berani lewat jalan tersebut.

Pengalaman ini sama persis dengan sebelumnya. Waktu itu hari sudah cukup terang dan saya takut terlambat sampai sekolah. Di tengah jalan sempit, di depan sebuah toko alat pancing, ada banyak sekali bebek berkeliaran yang entah milik siapa. Saya harus buru-buru, tetapi bebek-bebek itu kurang ajar. 

Kisah Nyata: Sosok Misterius di Busway

Beberapa tahun silam, ketika menjalani masa training di sebuah perusahaan nasional, saya pulang hingga malam. Busway kali itu berubah jalur dikarenakan keadaan darurat. Saya yang tidak hafal rute baru ini, menyadari busway mengarah terus ke utara, merasa waswas tidak bisa pulang tepat waktu. Di halte transit kawasan Jakarta Utara, penuh sekali manusia. Orang-orang antre berjubelan, mungkin ratusan, demi berpindah ke busway sesuai arah tujuan masing-masing. Saya masih ingat salah satu penumpang yang tadinya sebusway dengan saya; ia juga turun dan berdiri di dekat saya. 

Ketika beberapa petugas di belokan halte transit itu memberi arahan membingungkan untuk tujuan Lebak Bulus, orang ini sempat salah belok. Tentu saja, sebelumnya kami sempat ngobrol dan saya tahu bapak ini searah pulangnya dengan saya. Jadi, ketika beliau berlari ke arah yang salah--sebagaimana para penumpang lain yang juga berlari jika ada celah, agar lebih cepat dapat busway--saya panggil bapak ini dari jauh. Beliau menoleh dan saya beri isyarat bahwa jalan yang harusnya ia ambil bukan itu. Akhirnya, kami pun menuju arah yang benar dan memasuki busway yang tepat.

Flash Disk Sejarah: Dari Zaman 'Main-main' hingga Jadi Penulis

Flashdisk yang sampai sekarang saya gunakan, yang di dalamnya berisi ribuan file tulisan sejak beberapa tahun lalu memulai menekuni dunia menulis, dibeli di dekat pasar, persis di samping sebuah toko jamu. Tempat itu menjual berbagai aksesori komputer dan membuka jasa fotokopi. Saya ingat hari itu, pada suatu siang ketika membeli flashdisk ini, berpikir betapa benda ini akan menjadi sejarah suatu hari nanti. Entah sejarah macam apa; pokoknya ia bakal menjadi lebih dari sekadar benda untuk menyimpan lagu-lagu dan koleksi video klip.

Flashdisk ini mulai saya gunakan untuk "main-main", karena waktu itu belum serius menggeluti dunia menulis, walau sudah membuat beberapa bab novel--yang mandeg berkat ucapan pedas seorang teman. Flashdisk ini hampir tiap hari selalu saya bawa dan ketika mampir ke warnet mencari lagu-lagu favorit, ia selalu siap menampung. Entah berapa banyak file lagu dan video klip band serta penyanyi kesukaan terkumpul. Suatu ketika tahu-tahu saya mencari info lomba menulis dan menyimpan beberapa info dalam file doc ke flashdisk tersebut.Demikianlah. Beberapa hari kemudian, untuk pertama kali saya mengikuti lomba menulis.

Ini Murid Bapak yang Tidak Suka Pelajaran Bahasa Indonesia

Tidak tahu kenapa sejak SMP dan SMA saya selalu bermasalah dengan guru bahasa Indonesia. Waktu SMP, saya yang baru masuk sudah dengar kabar dari kakak saya dan beberapa teman sedesa yang lebih dulu sekolah di sana, bahwa ada salah seorang guru yang memiliki indra keenam. Jadi, barangsiapa berbuat nakal, sekalipun pintar menutupi, konon beliau ini pasti tahu. Saya percaya saja, karena penampilan beliau mendukung. Dingin namun santai. Tidak galak namun disiplin. Kalau saja kita murid baik-baik, santai saja menghadapi beliau, karena orangnya suka bercanda, walau kalau sudah serius tidak mudah dibuat tersenyum.

Saya juga tidak takut pada guru ini, dalam arti tidak menyembunyikan kenakalan apa pun; jadi kenapa takut? Tentu saja saya juga selalu sopan pada semua guru.

Masa Kecilku: Belajar Membaca Tanpa Paksaan

Dulu waktu kecil tidak ada yang benar-benar berniat mengajari saya membaca, atau tepatnya ketika itu memang belum waktunya bagi saya, sehingga orangtua pun belum berpikir ke arah sana. Tapi saya sering duduk manis di dekat kakak yang ketika itu sudah sekolah TK dan mulai diajari membaca oleh Mama. Dengan cara melihat dan membayangkan bentuk huruf demi huruf, saya mulai tahu keasyikan membaca. Tidak langsung lancar, karena tentu saja saya hanya menjadi penonton di sana. Mama saya tidak tahu betapa anak bungsunya ini diam-diam terus mendengar dan mengamati, lalu membayangkan segala huruf, bahkan setelah kakak menutup buku dan tidur.

Ketika itu ada mainan semacam lego, ukurannya sekepalan tangan saya, yang terdiri dari banyak warna dengan hiasan 26 abjad plus contoh kata serta gambar agar mudah diingat. Misal untuk huruf 'A', saya ingat bergambar buaya dengan kata 'aligator'. Ditambah permainan ini, semakin hari saya semakin lancar.