Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.
Showing posts with label catatan. Show all posts
Showing posts with label catatan. Show all posts

Monday, 9 January 2017

Resolusi 2016 Tercapai dan Kini Saatnya 2017

Tahun 2016 yang saya lalui penuh dengan cerita pendek. Seakan-akan saya hidup dikelilingi makhluk aneh bernama cerita pendek, dengan wajah yang dapat berubah-ubah sesuai kebutuhan, dan dengan watak yang kadang menyerupai orang-orang yang pernah saya kenal atau ingin saya jumpai atau bahkan saya ingin musnahkan. Dan saya merasa tidak mungkin lepas dari jeratan makhluk aneh ini.

Sebagaimana tekad saya di awal 2016, yakni membuat hitungan iseng tentang jumlah cerpen yang saya buat per bulan, juga berapa banyak buku yang saya baca, dan mendata seluruh karya yang terbit di media, maka beginilah hasil akhirnya.

Slogan "sehari minimal satu cerpen" memang tak selalu dapat terpenuhi, tapi melihat hasil selama 12 bulan, dapat dibilang resolusi yang saya tulis di akhir tahun 2015 lalu terpenuhi. Tentu saja ini tidak mudah. Melihat jumlah tiap bulan yang bervariasi, sudah dapat ditebak bagaimana saya yang telanjur cinta menulis juga punya masalah-masalah. Sekali waktu masalah hidup bisa dengan mudah teratasi dan segala hal di dunia ini tidak menghambat proses berkarya, tetapi di lain waktu bisa amat sulit. Efeknya, menulis pun tidak akan lancar.

Tuesday, 11 October 2016

Senjata Para Penulis

Kalau mau jadi penulis, yang pertama harus kita miliki adalah kejujuran dan ketekunan. Jujur berkarya alias tidak memplagiat karya orang. Tekun mencoba dan mencoba meski sering gagal. Dua hal itu senjata utama. Letaknya ada di bagian paling dalam dari diri kita. Senjata di level berikutnya adalah referensi bacaan dan pergaulan. Semakin banyak kita membaca dan bergaul, semakin banyak bahan tulisan.

Adapun senjata di level paling luar adalah pulsa internet dan alat ketik. Bagaimanapun, ini sangat penting. Ada pulsa, kita bisa online. Perkembangan dunia sastra dan info-info penting bisa diakses dari internet. Sedangkan alat ketik, memang dari jaman dulu selalu penulis butuhkan. Alat ketik jaman sekarang laptop dan komputer dan bahkan ponsel pun bisa. Jika fasilitas terakhir tidak ada, masih ada warnet di sekitar kita.

Demikianlah senjata-senjata yang dibutuhkan jika ingin menjadi penulis.

Hitam Putihnya Dunia

Di dunia ini selalu ada saja hitam dan putih. Ada yang membenci dan ada pula yang dibenci. Ada yang bodoh dan ada yang tidak bodoh. Hitam dan putihnya manusia beragam. Kita bisa putih untuk hal-hal tertentu, tetapi juga bisa hitam untuk hal-hal tertentu lainnya.

Jadi tidak usah merasa paling benar, juga tidak usah merasa paling tidak berguna. Semua dijatah sesuai porsinya, dan lagi pula manusia bukan makhluk sempurna.

Berbahagialah dan banyak-banyak bersyukur. Rejeki tidak akan tertukar.

Alasan Sederhana Kenapa Penulis Bisa Bahagia

Salah satu hal yang membuat saya bahagia adalah ketika mendapat pesan atau komentar dari pembaca bahwa mereka suka dan terhibur dengan karya saya. Paling tidak, jika tidak mampu memberi semacam pencerahan, sebuah karya memang harus dapat menghibur siapa pun yang membaca; itulah keyakinan saya.

Pencerahan tidak perlu dipaksakan, karena ini tugas alam. Jika sebuah karya menyatu secara alami dengan hati pembaca, mungkin saja pembaca ini akan mengaku, "Saya tercerahkan." Dan sebagai penulis, sebenarnya kita tidak secara darurat membutuhkan komentar seperti itu, karena cukup dengan kalimat "Saya terhibur!", penulis merasa amat sangat bersyukur bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia.

Tidak ada yang lebih membahagiakan dari mengetahui efek positif sekecil apa pun, terhadap seberapa pun manusia, dari apa yang sudah kita tulis.

Tuesday, 30 August 2016

Menulis Sesuai Bekal yang Saya Punya

Saya menulis apa yang ingin saya tulis. Tidak semua ide-ide yang masuk ke kepala langsung saya ubah jadi cerita. Sebagian ada yang menunggu beberapa lama, dan sebagian malah tidak sama sekali. Saya menulis sesuai dengan "bekal" yang saya bawa. 

Hidup saya di lingkungan yang seperti apa, pengalaman saya sepelik atau sesederhana apa, buku dan film apa saja yang sudah saya konsumsi sejak kecil, mimpi-mimpi buruk/indah apa saja yang pernah saya alami, orang-orang macam apa yang saya temui, serta harapan-harapan sepi di hati saya--itu semua yang disebut bekal. Seandainya ada ide luar biasa namun tidak ada peluang bagi saya untuk menggubahnya menjadi cerita yang bagus, meski hanya cerita pendek, saya lebih suka tidak menulis soal itu.

Monday, 22 August 2016

Memilih Bacaan Bukan Semacam "Dosa"

Dulu saya membaca tanpa pernah pilih-pilih. Pada akhirnya, setelah ratusan buku selesai dibaca dan bersambung ke buku-buku berikutnya, saya mulai "pilih kasih". Saya mulai membaca apa yang menurut otak saya sesuai dengan kebutuhan saya. Saya bahkan mulai membuat jarak pada bacaan jenis tertentu hanya agar tidak terkena dampak "tidak baik" dari tulisan yang tidak begitu saya sukai. Tidak baik ini bukan berarti negatif, melainkan perlu dihindari dengan alasan khusus, yaitu: jika misalnya saya membaca tulisan dengan kualitas (yang parameternya saya buat sendiri di dalam kepala) bervariasi, maka aktivitas menulis saya jadi tersendat-sendat. Membaca berbagai tulisan yang menurut otak saya bagus, sama dengan menambah nutrisi di kepala, begitupun sebaliknya.

Saya merasa ini bukan lagi tindakan "pilih kasih", tapi semacam pilihan dan setiap orang tidak dapat menolaknya jika di suatu tahap ia diharuskan memilih antara beberapa jalan. Setidaknya itulah yang terjadi pada saya. Memilih-milih bacaan dengan tujuan menyamankan isi kepala, yang tentu akan berimbas baik pada kelancaran kegiatan menulis yang saya geluti, saya rasa harus dilakukan. Ini bukan perkara tidak adil karena mengenyampingkan bacaan tertentu. Ini memang harus terjadi, karena kenyamanan isi kepala membuat pekerjaan menulis jadi jauh lebih lancar.

Totalitas Tokoh dalam Cerita Fiksi

Salah satu penyebab cerita yang kita tulis kurang enak dibaca adalah kurang berani jujur. Seandainya kita buat sesosok tokoh itu brengsek, maka jadikan dia biangnya brengsek. Dan jika kita butuh tokoh suci, sucikan dia sampai upil pun tidak ada di lubang hidungnya. Semua harus total dan kita harus jujur mengungkap bagaimana kondisi sebenarnya andai mereka muncul begitu saja di dunia nyata. Tentu saja totalitas ada porsinya. Tokoh brengsek dan suci pasti memiliki sisi lain yang bertentangan dengan watak mereka, dan itu harus dijelaskan dengan faktor logis dari masa lalu si tokoh.

Tidak bakal bagus jika kita buat tokoh pemalas, yang tidak suka membaca, tapi malah sering sekali mengutip-ngutip ucapan yang ada di berbagai buku tebal. Ini sih kitanya sendiri sebagai penulis cerita ingin dianggap berpengetahuan luas dan tahu ini-itu, lalu si tokoh pemalas dijadikan medium penyampai segala yang kita tahu. Cerita dengan tokoh semacam ini saya pikir gagal total. Bahkan tokoh fiktif cerdas pun tidak butuh mengutip-ngutip ucapan berbagai filsuf Yunani, jika memang di cerita yang kita buat ia tidak butuh mengucapkannya.

Ada Banyak Alasan untuk Membaca

Orang membaca itu karena berbagai alasan. Ada yang hanya untuk mengisi waktu luang atau bersenang-senang, sehingga bacaan apa pun selalu menarik dan tidak perlu terlalu serius. Ada yang karena ingin mempelajari sesuatu, sehingga membuat jadwal khusus agar dapat lebih konsentrasi mendalami ilmu yang sedang dibaca. 

Orang membaca ada juga yang semata untuk memenuhi kebutuhan batin, sehingga ia membaca seakan menyantap makanan, atau sering kali istilah "bernapas" dipakai; dengan kata lain, orang semacam ini merasa bahwa kegiatan membaca serupa jadwal wajib yang jika ditinggalkan ia bisa mati. Selain alasan-alasan tersebut, orang membaca bisa juga karena terpaksa.

Membacalah Agar Tidak Jomblo

Saya tersedak waktu dengar seorang teman bilang kebanyakan membaca buku membuatmu cepat tua dan stress dan pikun dan terserang penyakit jantung dan (boleh jadi) mati muda.

Saya benar-benar ingin tertawa karena tidak tahu dapat ilham dari mana dia mengatakan hal itu. Tapi, saya menghargai ucapannya. Tidak saya protes habis-habisan, apalagi menertawakannya, karena toh dia tidak tahu saya suka membaca buku. Saya tidak perlu membela diri, bahkan meski konon seribu lebih manusia mengklasifikasikan saya ke golongan makhluk lumayan ganteng. Ini semata karena dia bilang seorang yang menggilai buku lebih banyak bakal menderita stress, dan salah satu faktor hilangnya aura ganteng dari wajah seorang lelaki adalah stress. 

Kutipan-Kutipan Indah Tidak Cocok untuk Cerita Fiksi

Selama ini saya jarang memasukkan kutipan-kutipan untuk tulisan fiksi. Mungkin dulu di awal-awal belajar menulis cerpen beberapa kali mencoba, tapi untuk saat ini sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah sama sekali. Cerita fiksi, entah cerpen atau novel, sebisa mungkin saya "penuhi" dengan bagian-bagian pendukung cerita saja, bukan kutipan atau semacamnya. Kalaupun ada yang mengarah ke sana, itu pun lahir dari pemikiran tokoh yang saya buat, dan tidak semua tokoh saya itu orangnya waras. 

Tentu saja, kalimat atau suara hati tokoh tidak waras, yang menyerupai kutipan, sebagian tidak bisa dicontoh. Dengan kata lain: saya sebagai penulis hampir selalu tidak menelurkan kutipan apa pun. Ini terjadi sejak dua tahun yang lalu. Ketika itu saya merasa ingin muntah membaca cerpen saya sendiri yang dibumbui 3-4 kutipan. Lalu saya berpikir apa sebabnya?

Sepuluh Tahun yang Lalu?

Sepuluh tahun yang lalu saya patah hati untuk pertama kalinya karena suatu cinta monyet. Pada saat itu saya menyukai seorang cewek berambut keriting dengan gigi agak berantakan. Dia lumayan cantik kalau mingkem, tapi tidak secantik cewek yang jadi idola di sekolah SMP itu.

Pada suatu hari seorang teman menggoda saya dengan duduk di dekat cewek itu dan berbicara banyak hal, sementara saya hanya berdiri melihat dari jauh, lalu saya patah hati. Saya ingat siang hari itu, sepulang sekolah, makan nasi hangat lauk kornet sapi; rasanya sama sekali bukan seperti mengunyah kornet yang gurih dan agak pedas sebagai rasa kesukaan saya, melainkan seperti mengunyah muntahan bayi dan saya jadi tidak nafsu makan. Saya belum pernah mencoba muntahan bayi, tetapi mungkin patah hati dapat membuat siapa saja seolah merasakannya, atau mungkin sesuatu yang lebih mengerikan ketimbang muntahan bayi dapat saja terjadi dan seperti betul-betul dirasakan oleh penderita patah hati lainnya.

Lebih Baik Dikenang Jadi Orang Biasa, Daripada ...

Bagaimanapun rezeki kita itu sudah ada yang mengatur, yaitu Allah. Tidak perlu cemas mendapat rezeki yang seakan "salah" selama kita tidak menyimpang dari koridor yang tepat. Bermimpi menjadi penulis itu bagus. Semua orang boleh. Kalau memang benar-benar cinta, kita pasti konsisten. Dan jika sudah konsisten, terbukti kita orang yang tekun. Kalau sudah begitu, tidak perlu cemas dengan kegagalan, karena ada saatnya rezeki dari menulis akan didapat. Kan kita sudah konsisten; tinggal menunggu waktu saja dan tidak henti belajar.

Dari awal ini sudah harus diyakini. Jika kita tidak kunjung dapat rezeki dari menulis, sementara kenyataannya kita memang tidak konsisten berusaha (untuk tidak menyebut kata 'malas'), ya berarti niat ingin sukses jadi penulis hanya ikut-ikutan atau cuma ingin gaya di depan teman-teman, dan rezeki kita mungkin bukan dari jalan menulis.

Langit Mencatat Perjuangan Orang-Orang Jujur

Sedih ada kasus plagiasi lagi yang mencuat belakangan ini. Rasanya belum juga ada penggila kesuksesan instan yang jera. Dari waktu ke waktu polanya hampir selalu begini: ketahuan, ramai, pelaku meminta maaf, ramai, surut, dilupakan. Atau begini: ketahuan, ramai, pelaku menghilang, dilupakan. Dan itu terus berputar seperti fase-fase di atas ditempel di sebuah roda. Rodanya tidak berhenti menggelinding karena tidak ada rem.

Apa yang mereka, para plagiator itu, pikirkan?

Ketika kita selesai menulis cerpen, misalnya, lalu terbit di sebuah koran, maka biasanya kita bahagia dan bangga. Benarkah? Karya orisinal tampil, sebut saja oleh penulis A, maka sangat wajar dia merasa bangga. Apalagi jika baru menapaki dunia literasi. Perasaan semacam itu sudah pasti manusiawi.

"Baper" Itu Wajar, tapi Jangan Overdosis

Ini dari curhatan seorang teman wanita. Dia mengeluh soal usahanya membantu orang lain yang dianggapnya sia-sia. Saya heran apa yang dia maksud sia-sia. Lalu dia dengan kesal menjawab, "Orang itu nggak bilang terima kasih. Aku membantu sepenuh hati, begitu beres langsung ditinggal pergi! Gak ada basa-basi. Sesulit itu bilang terima kasih, ya?!"

Saya sejenak diam. Saya melihat teman saya ini penulis yang berbakat. Saya tidak menyangka dia berkata seperti itu. Mungkin karena melihat saya diam, dia bertanya soal pendapat saya. Maka saya jawab sesuai yang saya yakini, bahwa ada atau tidaknya ucapan terima kasih, bagi saya, sekiranya saya telah membantu orang lain, tidak terlalu penting. Ucapan itu bukankah semacam penghargaan atau pengakuan dari sesama manusia?

"Lalu?" tanya teman ini setelah saya diam kembali.

Tulus-TidakTulus, Itu Bukan Urusan Anda

Pernah suatu ketika dengan teganya seorang teman menuduh saya tidak tulus dalam menulis, dan terlalu berambisi. Saya tanyakan apa arti kata 'tulus' dan 'ambisi' baginya, tapi dia tidak menjawab. Dia memang senang mengalihkan obrolan dari satu topik ke topik lain, dalam selisih waktu yang lumayan pendek; benar-benar mengingatkan saya pada tokoh Holden yang agak kacau di "The Catcher in The Rye"-nya J.D Salinger. Tapi tentu saja dia bukan Holden.

Saya sendiri tidak tahu apakah saya tulus dalam menulis atau tidak, tetapi saya sadar betul apa yang saya lakukan saat menulis adalah seperti pertemuan dengan orang tercinta. Saya tidak betah jika harus berhenti menulis dua hari, karena sakit misalnya. Saya juga merasa berat dan berdosa, jika belum juga menulis apa pun sampai jam satu siang misalnya. Itulah kenyataannya.

Menambah Kualitas Bacaan = Syarat Mutlak Penulis

Jika ingin menjadi penulis yang baik, bukan hanya soal harus konsisten menulis. Tambah juga bacaan di rumah dengan yang lebih berkualitas dan berbobot. Membaca buku yang itu-itu saja membuatmu stuck di tempat. Anggap saja belajar.

Membaca bacaan yang tadinya bukan seleramu itu seperti rekreasi ke tempat baru. Kadang menyenangkan, tetapi bisa juga memusingkan. Tidak apa. Yang penting buku-buku yang dibaca tidak melulu buku soal patah hati, misalnya. Tidak cukup uang untuk beli? Bisa pinjam ke perpustakaan. Bacaan bermutu juga bisa didapat dengan saling tukar buku bacaan dengan teman penulis. Maksudnya tukar untuk saling meminjami, dan nanti harus dikembalikan, jangan disobek-sobek, lalu dicampur air putih dan diaduk jadi bubur kertas untuk kamu konsumsi.

Konsisten Menulis karena Cinta

Di awal mengenal dunia literasi, lalu berniat menekuninya, mungkin kau pernah/sering merasa takut jika akan menulis sesuatu. Kau takut gagal merampungkan tulisan, meski cuma satu halaman. Kau juga takut tulisanmu jadi jelek dan dibuang ke tempat sampah oleh siapa pun yang membacanya. 

Lalu di hari-hari berikutnya kau mengira kegiatan menulis cukup mengerikan. Mau pergi ke meja belajar untuk menulis ide-ide hebatmu saja, berasa pergi ke dokter untuk disuntik tiga kali berturut-turut di tempat yang sama, dan itu bukan suntikan anestesi. Belum apa-apa, membayangkannya saja kau sudah lemas dan meriang. Atau sebut saja bentuk ketakutan-ketakutan lain, yang membuatmu mulai malas, dan akhirnya tidak produktif, bahkan memutuskan, "I'm done!"

Sunday, 17 July 2016

Menulis Membuatmu "Kaya"

Suatu hari, beberapa tahun silam, di dompet saya hanya ada beberapa ribu rupiah. Saya belum lama keluar dari pekerjaan yang sebetulnya enak, karena gajinya besar. Pada saat itu untuk lulusan SMA, gaji sebesar itu hampir mustahil didapat. Tapi karena tidak bahagia, saya memutuskan berhenti. Suatu hari itu, kejadiannya tidak jauh dari sekolah SMP saya. Karena belum dapat pekerjaan baru, saya mencari informasi lowongan kerja di warnet. Tidak tahu kenapa, mengingat kondisi dompet saya yang makin memprihatinkan, sementara uang tabungan tidak mungkin saya pakai terus-terusan, saya tiba-tiba berpikir ingin mencari tambahan uang dengan cara lain. Yang pertama melintas di pikiran: saya harus menulis.

Ketika itu saya sadar, bahwa memang uang yang saya bayangkan tidak bisa langsung didapat. Menulis adalah menabung. Uang hasil jerih payah baru bisa dinikmati setelah menjalani proses panjang. Saya sudah tahu itu, meski belum benar-benar terjun ke dunia literasi. Siang itu, saya putuskan saya terjun. Saya pikir saya harus total jika ingin memperoleh tabungan ekstra di masa mendatang. Itu pun jika saya sukses menjadi penulis. Untuk itu, saya bertekad tidak ingin berhenti.

Maka, siang itu juga, saya berjanji akan mencintai dunia literasi sampai tua dan bahkan sampai mati. Ini bukan main-main. Saya merasakan gejolak yang luar biasa. Semacam jatuh cinta jenis lain. Ada motivasi-motivasi tersendiri, selain tabungan ekstra tadi, yang saya kejar dengan menulis: saya ingin berguna bagi orang lain. Sebelumnya, saya merasa belum begitu berarti di kehidupan ini. Kadang saya bertanya, "Untuk apa saya lahir ke dunia ini?" Tahun-tahun itu masa kelabu saya. Kesedihan akibat kegagalan bertubi-tubi membuat saya merasa hidup di badan manusia lain.

Siang itu, di sebuah warnet tua, saya mendapat pencerahan. Bahwa saya harus menulis untuk lepas dari keresahan. Saya harus bangkit dan menolak kalah. Saya merasa saya belum berbuat apa-apa, jadi saya harus segera berbuat. Mumpung kesadaran ini muncul.

Tidak butuh waktu semenit, setelah "hidayah" tadi mampir, saya segera mencari informasi lomba menulis di Google. Hasilnya saya digiring ke perkenalan dengan grup-grup menulis online yang pada saat itu ada yang sudah besar, ada pula yang baru berdiri. Sampai sekarang, grup-grup tersebut (yang ketika itu saya kenal) masih aktif dan terus melahirkan bibit-bibit penulis baru.

Sejak itu saya mulai lebih paham apa saja yang harus dan penting penulis lakukan agar mau sukses: konsisten. Oleh teman sekomunitas, di masa-masa awal menulis, saya sudah dianggap produktif hanya karena mencoba menulis setiap hari (minimal sehari satu halaman dari jenis tulisan apa pun). Saya tidak tahu kenapa hati saya jadi jauh lebih bahagia, meski uang di dompet masih segitu-gitu saja. Ketika akhirnya dapat job, saya lebih "gila" lagi dalam menulis. Mengenal lebih banyak teman dari komunitas-komunitas lain, saya lebih "gila" dan "gila".

Apa yang saya dapat? Kegagalan dalam lomba? Sering juga. Kemenangan? Ada beberapa. Uang? Sedikit demi sedikit, alhamdulillah. Jadi korban penipuan? Oh, tentu saja pernah. Saya bahkan pernah nyaris mendapat hadiah penghargaan bergengsi, yang luar biasa, namun dibatalkan sepihak hanya karena miskomunikasi antara dewan juri. Penghargaan yang batal itu, barangkali dapat membuat sebagian keluarga dan tetangga saya, yang meragukan aktivitas menulis saya, menjadi takjub. Bahkan, seorang teman pun sempat mengaku, "Jujur saja. Gue masih heran. Kok bisa kamu menang?" Saya memang menang. Tapi "level" hadiah diturunkan, namun sampai sekarang hak saya belum saya dapatkan. Tentu saja, bagi kawan yang membaca status ini dan tahu maksudnya, saya minta tidak perlu dibahas. Ini sekadar berbagi pengalaman, sebab beberapa rekan di luar sana, terkadang meributkan sesuatu yang harusnya dapat disederhanakan, atau meributkan sesuatu yang nilainya tidak lebih berharga ketimbang waktu yang nantinya terbuang percuma. Bukankah lebih baik kembali berkarya? Jika misal suatu hari kita terluka oleh pihak tertentu, jauhi saya perselisihan.

Semua kejadian itu lekat di kepala saya. Saya tidak akan lupa. Tapi, saya tidak terlalu terbawa emosi dengan semua itu. Saya biarkan mengalir. Semua yang terjadi saya anggap proses dan saya menikmatinya meski harus berdarah-darah. Saya jalani saja kecintaan pada menulis ini, dan menyimpan keyakinan bahwa kelak kehidupan saya akan jauh lebih baik ketimbang jika saya memutuskan berhenti menulis.

Tidak sedikit juga cibiran saya dapatkan. Pertanyaan tentang kualitas dan kuantitas juga tentu saya alami. Apalagi sekadar muncul pihak-pihak yang seolah sengaja datang untuk membuat masalah, misal secara terang-terangan menulis tentang diri saya (bukan karya saya) dengan sudut pandang subjektif dan tidak seratus persen sesuai fakta. Seorang teman berkomentar tentang tulisan macam itu. Ia bilang itu menjijikkan dan benar-benar menghina saya. Tapi, apa yang saya lakukan? Saya abaikan saja dan saya kembali berkarya.

Tentu saya tidak akan mengabaikan jika tulisan yang dibuat adalah untuk mengkritik karya saya, bukan menghina/melecehkan secara personal. Kritik untuk karya ini lumayan sering saya dapat. Dari yang paling tajam, sampai yang kelewat halus (untuk tidak menyebutnya munafik), semua saya dapat. Dengan senang hati, saya terima semua itu. Saya resapi, karena toh berguna juga untuk perbaikan karya ke depan. Di antara para"kritikus" ini, tidak bisa dimungkiri, beberapa sengaja datang hanya untuk menghina karya saya. Lalu, apa saya marah? Oh, tidak. Hinalah sesuka hati karya seseorang, tapi jangan sampai menghina orangnya. Yang seperti ini bisa saya terima.

Suatu kali, dalam pertemuan dengan beberapa teman lama, saya dipuji karena kini dianggap sukses jadi penulis. Saya bilang, "Saya belum apa-apa, karena masih butuh banyak belajar." Memang begitulah kenyataannya. Setiap hari kita butuh belajar. Hari demi hari kita dipersilakan memilih antara mendaki puncak cita-cita, ataukah berhenti karena lelah? Saya rasa kita tidak perlu berhenti, karena sebenarnya puncak itu ada di akhir jatah hidup.

Orang bijak berkata, "Jangan salahkan Tuhan jika Anda mati dalam keadaan miskin." Maka, marilah menjadi kaya. Kaya itu bukan sekadar soal uang seperti yang dibahas di atas, tetapi juga soal hati.

Menulis Memang Harus Konsisten, Tapi ...

Menulis memang harus konsisten. Rasa malas memang harus dilawan. Namun, jika kita tidak sanggup, sebaiknya jangan dipaksa. Ada saatnya kita merasa kitalah ruh dari sebuah tulisan sehingga apa pun yang terjadi di sekitar kita, menulis jadi tidak terasa. Seperti mesin yang bekerja tak kenal lelah, kita terus dan terus menulis. Namun ada saatnya juga kita ditolak mentah-mentah oleh tulisan yang akan kita garap, sehingga bahkan separagraf pun terasa berat. Mau jadi ruh tidak bisa. Jangankan ruh, jadi kulit si tulisan saja tidak diizinkan.

Maka, menulislah sesuai kemampuan. Memang harus dipaksa tubuh dan jiwa agar bangun dari rasa malas, tetapi jika semangat sudah ada lalu otak tidak mendukung secara maksimal, sebaiknya break dulu beberapa jam, atau mungkin sehari dua hari. Baca-baca buku yang kita sukai atau jalan ke tempat menyenangkan atau lakukan apa pun yang membuat otak rileks.

Saya sendiri, meski bisa menulis 4-5 cerita per hari, ada saatnya tidak sanggup menulis sama sekali. Bila saya merasa ada yang menghambat, saya putuskan libur dulu. Mengerjakan tulisan dengan otak tertekan justru mengacaukan apa yang kita mau tulis. Sebab, sekalipun pabrik cerpen berdiri di kepala saya, saya pun juga manusia. Kadang satu tulisan per hari atau tidak sama sekali patut disyukuri. Menyadari sampai di mana batas kita dan memanage kemampuan otak yang Tuhan berikan, adalah salah satu cara untuk menjaga konsistensi.

Bukankah jika lelah kita mudah jenuh? Maka, janganlah menulis di saat otak sudah waktunya diistirahatkan. Kalau kita terus paksa, jangan-jangan kita malah pingsan dan sakit dan berpikir menulis sama dengan menyiksa diri.

Lawan rasa malas. Tapi kenali batas dirimu. Pahami saat mesin di kepalamu bekerja maksimal, sebab pada hari itulah kamu tahu seberapa ajaibnya menjadi ruh dari apa yang kamu tulis. Kalau jiwa raga sudah maksimal namun tidak juga menulis, berarti kamu cuma ikut-ikutan dan latah karena melihat temanmu jadi penulis. Memang begitu. Orang jatuh cinta kan bukan karena latah? Kamu belum tentu jatuh cinta pada orang yang membuat hati temanmu kepincut.

Sunday, 3 July 2016

Buka Bersama Setelah Tiga Tahun Vakum

Acara buka bersama yang sejak sebulan lalu dirancang oleh teman-teman SMA di grup WA terlaksana juga hari ini. Walaupun sempat muter-muter dan tersesat di Perumahan Mutiara Citra Asri, Tanggulangin (padahal sudah bertanya ke seorang warga dan satpam), saya termasuk peserta yang tidak terlambat, sekalipun tiba sekitar lima belas menit sebelum bedug maghrib.

Ya, memang tidak banyak yang hadir. Tapi belasan orang berkumpul setelah tiga tahun berturut-turut tidak ada acara buka bersama, cukup menggembirakan dan patut disyukuri. Tadinya saya berharap semua teman bisa hadir, tapi agaknya mustahil. Kesibukan membuat jarak beberapa dari kami kian jauh dan entah bagaimana bisa memenggal jarak itu dan mengembalikan seperti pada masa SMA dulu.