Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Tuesday, 23 February 2016

[Cerpen]: "Bung Panu" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Malang Post, Minggu, 21 Februari 2016)

Dalam sehari, saya lihat lelaki itu datang tiga kali. Pertama, jam delapan pagi. Kedua, sehabis zuhur. Terakhir, saat tukang tahu tek lewat dan memukul wajannya dengan ujung spatula: teng, teng, teng. Kalau Anda warga sini, pada saat suara-suara itu muncul, Anda sudah tahu bahwa jarum jam menunjuk angka tujuh dan matahari sudah lama tumbang.
Apa yang dia lakukan, saya tak tahu. Baru dua minggu saya tugas di sini, menjaga kantor cabang salah satu koperasi secara bergantian. Kadang pagi hingga sore, atau pindah shift: dari sore hingga malam. Maka saya tahu bagaimana lelaki itu gusar dan malu-malu duduk di seberang jalan, di bawah pohon jambu di waktu-waktu yang telah saya sebut. Kadang, ia bahkan masuk ke areal parkir dan berdiri canggung selama dua menit.
Saya tidak bisa bertanya pada yang bersangkutan seperti "Ada apa?" atau tuduhan tak mengenakkan: "Anda maling?" Saya tidak sekejam itu dan orang tahu ini prosedur. Sebagai penjaga keamanan, itulah tugas saya. Hanya saja, semua orang tahu lelaki itu tidak waras.

[Cerpen]: "Badut di Ujung Gang" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 21 Februari 2016)

Badut di ujung gang itu memikul sebuah karung. Maria, dengan segenap rasa takut, tidak berani lewat karena jalan satu-satunya pulang hanyalah itu. Ambil jalan memutar, tentu memakan waktu lama, lagi pula tidak bisa, karena ia gadis yang suka memakai rok dan tidak terbiasa memanjat tembok.
Jalan memutar itu mengitari sekitar empat belas rumah dalam satu blok dan Maria bisa mencapai sisi lain blok—atau sebut ujung gang yang satunya, tempat rumah besar yang atapnya terlihat dari sini berada—setelah memanjat tembok dusun.
Tembok itu entah kenapa dibangun, tinggi dan kokoh pula, padahal di kawasan sini jarang ada kasus pencurian atau perampokan. Di sini keamanan hampir selalu terjaga oleh kekompakan warganya dan Maria tahu itu. Ia kira, alasan ia dan ibunya beli rumah di sini adalah alasan yang satu itu.

Tips Menulis Cerpen yang Tak Biasa ala Ken Hanggara (Part 3): "Ending yang Membekas"

Dalam kesempatan ini saya akan bagikan tips menulis cerpen yang tak biasa dalam hal ending. Sebelumnya sudah saya bagikan pula tips menulis judul cerpen yang tak biasa dan tips menulis opening cerpen yang tak biasa
Ending adalah akhir sebuah cerita. Ending yang baik adalah yang membekas di hati pembaca. Yang namanya membekas, bisa menyenangkan, bisa juga menyebalkan. Intinya kita butuh menulis cerpen yang tak biasa, maka buatlah sesuatu yang juga tak biasa. Coba ingat kejadian apa yang paling berkesan dalam hidupmu. Pasti kebanyakan yang nyebelin. Iya atau iya? :p Kejadian menyenangkan lebih jarang kita ingat. Maka buatlah ending yang menyebalkan bagi pembaca.
    Lha kok malah gitu? Aya-aya wae Kakak ini!
Ini gak main-main. Ending menyebalkan yang saya maksud adalah ending yang menampar, ngagetin, kurang ajar, dan nggantung.
Kover buku "Silabus Menulis Cerpen Itu Gampang" karya saya.

    Berikut tips menulis cerpen yang tak biasa dalam hal ending:

Monday, 8 February 2016

[Cerpen]: "Kerajaan Semut di Kepala Mugeni" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Radar Surabaya, Minggu, 7 Februari 2016)



Pernah bagian dalam telingamu gatal? Kau tidak bisa menggaruk, tetapi juga tidak tahu bagaimana menghilangkan rasa gatalnya, sebab itu berpusat di jurang telinga. Tak terjangkau oleh batang cotton bud, apalagi jari kelingkingmu.
Ia tak tahu sejak kapan semut-semut nakal menginvasi kepalanya. Tahu-tahu pada suatu malam yang sialan, beberapa semut membangunkan Mugeni dari tidur. Tidak ada maksud membangunkan sebenarnya, tetapi semut-semut itu bicara bahasa manusia dan sepertinya membuat rencana besar guna menggulingkan sesosok manusia di hadapan mereka. Siapa tidak bangun oleh hal seaneh ini?
Kebetulan Mugeni-lah yang tidur di dekat semut-semut ini. Dan para semut nakal tidak sadar suara kecil mereka cukup membangunkan manusia dengan indera pendengar setajam Mugeni.

[Cerpen]: "Maria Pergi ke Lubang Kelinci" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Padang Ekspres, Minggu, 7 Februari 2016)

Maria tahu di kebun belakang rumah Nenek ada lubang rahasia. Tidak besar, hanya seukuran bola sepak. Di lubang itu hidup kelinci-kelinci berdasi. Karena itu, bila Mama mengajaknya pergi ke rumah Nenek, Maria bilang tidak enak badan. Maria tidak suka ke rumah Nenek, bukan karena perempuan tua itu jahat, melainkan betapa ia bisa mati kalau lebih lama di kebun. "Kelinci-kelinci," katanya, "bukan teman yang baik!"
Mama tidak percaya ucapan Maria soal kelinci yang tidak baik. Seorang tetangga bernama Leli, setahun lebih tua dari Maria dan suka mengajaknya main bola bekel bila sedang hari libur, punya kelinci lucu di rumahnya. Dan Leli setiap hari bermain dengan kelinci itu dengan riang gembira. Apanya yang tidak baik?

Tuesday, 2 February 2016

Tips Menulis Cerpen yang Tak Biasa ala Ken Hanggara (Part 2): Opening yang Menjerat



Sebelumnya sudah dibahas tips menulis cerpen yang tak biasa dalam hal judul. Kali ini giliran saya bagikan tips menulis cerpen yang tak biasa dalam hal opening.
Kalau judul ibarat penampilan luar, maka opening adalah tingkah laku. Attitude! Bayangin, kamu ketemu orang baru, kenalan baru. Kelihatannya sih asyik, seru, baik, ramah, sopan... ah, pokoknya perfect lah. Eh, ternyata, setelah kenal beberapa menit aja, kamu udah bosen hanya karena cara bicara dia yang tidak sopan atau kurang ajar.
Nah, judul yang bagus saja tidak cukup untuk cerpenmu. Itulah gunanya tips menulis cerpen yang tak biasa. Opening yang bagus itu penting. Karena sejak kalimat-kalimat pertama, orang akan tahu dia mau atau tidak meneruskan membaca cerpenmu. Maka, opening harus tak biasa, menjerat, nendang, mengundang penasaran, menggugah perasaan, dan menyimpan kejutan.