Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.
Showing posts with label remaja. Show all posts
Showing posts with label remaja. Show all posts

Wednesday, 22 October 2014

[Cerpen]: "Antara Sunrise dan Sunset" karya Ken Hanggara



Matahari belum muncul, tapi kami sudah siap menyambut kedatangannya. Satu-dua kendaraan melintas, melewati jalanan sepi tempat mobilku berhenti. Kurang dari sepuluh menit, jalanan mulai ramai. Mereka yang baru turun dari bus atau kendaraan lain yang terparkir, langsung berjalan santai menuju arah terbitnya hari.
"Ayo, guys, cepat! Loe mau ketinggalan momen paling berharga sepanjang hidup loe?" lontar temanku penuh semangat. Orang-orang yang tak kami kenal—yang berjalan persis di sebelah mobilku—serempak menoleh dan bisik-bisik ke sesama mereka, saling tertawa. Kami mengangguk. Memang dasar si Damar lebay. Langit 'kan masih gelap? Masih ada waktu untuk bisa menikmati sunrise. Tapi karena pembawaannya memang begitu, apa boleh buat.

Tuesday, 15 April 2014

[Cerpen]: "Sebelas Januari" karya Ken Hanggara



*Ini cerpen pertamaku. Dibuat beberapa tahun yang lalu. Jadi harap maklum bila ada kesalahan di sana-sini. Yang penting, nikmati saja ceritanya. :)

Kudengar dari tempatku berdiri suara Bu Ida bertalu-talu terdengar ke seluruh sudut sekolah, mempersilakan para orangtua murid untuk segera memasuki ruangan rapat karena acara akan segera dimulai.
Hari pembagian rapor.

Saturday, 22 March 2014

[Cerpen]: "Diorama Botol Bernyawa Satu" - kolaborasi Ken Hanggara dengan Ma'arifa Akasyah




#1      Perabotan magnalium telah siap membawa tubuh kuning mudaku ke tanah impian. Kuhirup komplementer segar di sela jemariku yang merendah suhunya. Kukembangkan bibir yang tak kumengerti harus meletakkan titik tengahnya dengan elevasi atau depresi. Raut Flo, sahabat terbaik yang akan segera kutinggal bersama asakku di bumi pertiwi, menampakkan guratan dahi di atas matanya yang sembab. Berkali-kali ia memelukku tanpa kata.

[Cerpen]: "Jakarta, Saksi Surat Terakhirmu" karya Ken Hanggara




Senja yang menggantung di langit barat seolah sengaja menepikan diriku jauh dalam lamunan. Ada sepetik harapan yang terselip di sana. Tidaklah mudah untuk diraih namun cukup indah dipandang bagi siapa pun yang tengah kasmaran. Tidaklah tampak berujung karena mata angin pun tiada memihak padaku, juga gadis itu. Tidak juga sesederhana lipatan kain sarung yang melingkar di sekitar leherku yang dekil. Membayangkan hari perpisahan antara kami, tak pernah membuatku merasa sedikit lebih baik. Justru perih itu terulang kembaliberputar dalam mozaik adegan yang tersusun rapi di sela gulungan pita film.

Thursday, 28 November 2013

Cinta dari Segelas Teh Hangat


Cerpen ini tulisan lama yang belum dipublikasikan. Cerita konyol yang sebagiannya berasal dari kisah nyata. Selamat membaca! :D