Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Monday, 28 November 2016

[Cerpen]: "Membenci Rumah Baru" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Radar Jember, Minggu, 13 November 2016)

Sering kali Maria mengeluh dan berkata bahwa dia tidak ingin tinggal di rumah itu. Aku katakan padanya, "Kita sudah kehabisan uang, dan tidak mungkin kita kembalikan rumah yang sudah telanjur kubeli."
Rumah itu bukan rumah tua dan bobrok. Bangunannya masih kokoh dan orang hanya akan berpikir tinggal di rumah macam itu adalah tinggal di semacam surga. Aku suka rumah itu, dan begitupun anak kami, Brenda, sehingga ketika pertama kali bocah itu kuajak kemari, yang ia bisikkan padaku di dalam mobil saat kami pulang adalah, "Itu benar-benar mirip istana, dan apakah Papa memang ingin membeli rumah itu?"
Aku janji pada Brenda, bahwa kami memang akan membeli rumah mirip istana itu, dan tentu saja Maria senang melihat anak kami senang. Brenda berjingkrak-jingkrak dan melupakan makan siangnya, dan bahkan tidak menengok anjing kecilnya yang manis.
Maria tidak berpikir apa-apa dan setuju saja dengan semua urusan yang kutangani sendiri bersama pemilik rumah dan notaris. Segalanya berlangsung lancar, dan akhirnya rumah itu pun resmi menjadi milik kami.

Friday, 25 November 2016

[Esai]: "Kita Hidup dalam Bilik Zaman" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Rakyat Sultra edisi Sabtu, 5 November 2016)
 

Generasi muda saat ini hidup di dalam bilik-bilik pembatas zaman. Maksudnya, di antara generasi satu ke generasi lainnya selalu ada pembatas yang membedakan. Semasa saya kecil, misalnya, dapat dengan mudah ditemukan bocah-bocah bermain berbagai permainan tradisional. Namun, hal tersebut amat susah kita temukan di zaman serba gadget ini.
Dahulu anak-anak lebih merasa takut berbuat salah, ketimbang hari ini, seakan itu dosa yang harus dihindari. Jikapun tak terhindarkan, harus "tidak boleh ada yang tahu". Dahulu, jika anak-anak berbuat salah dan ketahuan, kemudian ditegur oleh orang yang lebih tua, pasti menunduk dan tidak berani menatap mata si penegur. Beda dengan hari ini. Kondisi sebaliknya lebih banyak kita temui, meski tidak semua begitu. Anak-anak lebih "lepas" dalam membantah dan berargumen.
Perkembangan pola pikir manusia dari waktu ke waktu berpengaruh besar. Itu bermula dari berkembangnya teknologi dan informasi. Berbagai ilmu dan pengetahuan lebih mudah diakses saat ini ketimbang dulu. Tidak bisa dimungkiri kecerdasan anak yang tumbuh cepat berkat kemajuan zaman bisa menjadi sesuatu yang membanggakan orangtua, namun juga bisa menjadi boomerang. Anak-anak harus tetap berada dalam kontrol. Ibarat robot yang semakin berjalan waktu akan semakin canggih, kontrol yang dibutuhkan lebih ketat, karena segala sesuatu yang centang-perenang di dalam robot itu jauh lebih kompleks.

Wednesday, 23 November 2016

[Cerpen]: "Jamuan Mariana" karya Ken Hanggara

 (Dimuat di Radar Jember, Minggu, 9 Oktober 2016)

Aku pingsan tiga jam setelah melihat lelaki yang tidak kukenal mati tertabrak truk. Orang-orang tahu tidak ada hubungannya kecelakaan itu denganku, dan aku juga bukan korban kecelakaan, tetapi mereka tetap menolongku. Aku dibawa ke rumah perempuan bernama Mariana, dan dia menungguiku sampai sadar.
Aku tidak tahu bagaimana orang-orang membawaku kemari, tentu saja. Aku tidak sadarkan diri saat mereka menggotongku kemari. Ketika bangun, kulihat wajah Mariana bersinar oleh lampu kamar. Ia berdaster dan rambutnya beraroma melati.
Bagaimana aku bisa tahu aroma itu datang dari rambutnya, karena ia membungkuk dan mendekat ke arah wajahku untuk memastikan aku benar-benar sadar. Aku memang sudah sadar dan kaget. Ia tak kukenal. Setelah mengenalkan namanya, Mariana bertanya apakah aku lapar.

Thursday, 17 November 2016

[Cerpen]: "Mugeni si Pengukur Jalan" karya Ken Hanggara




(Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 30 Oktober 2016)

Warung Cak Sul penuh. Seperti biasa, Mugeni duduk-duduk di seberang. Di dekat situ ada selokan dan dia kencing seperti seekor anjing tak berdosa. Pemuda itu jongkok membelakangi warung, dan begitu dirasa air kencing siap disembur, ia bergidik seakan turun salju di kepalanya.
Pemandangan menjijikkan.
Beberapa yang tidak tahu Mugeni, menyingkir dan mengira dia gila. Tapi, Mugeni waras dan memang tidak kenal malu. Tidak tahu siapa yang menggunting urat malunya. Setahu warga, dari dulu memang dia sudah begitu.
"Kencing tempatnya di WC, bukan selokan," tegur Markoni, orang yang biasa beli nasi goreng di Cak Sul.
Bersama pacarnya yang masih kelas dua SMA, Markoni suka beli nasi goreng di sini. Sepiring berdua alangkah romantis. Tetapi kehadiran Mugeni sering kali merusak suasana.

Tuesday, 15 November 2016

[Cerpen]: "Dakir" karya Ken Hanggara

(Dimuat di basabasi.co pada Jumat, 28 Oktober 2016)

    Pabrik sarung itu berdiri sejak zaman Belanda. Di belakang pabrik berdiri rumah- rumah penduduk dengan petak kebun yang ditanami berbagai kebutuhan pokok seperti singkong, ketela, cabai, kemangi, dan berbagai sayur-mayur. Kebanyakan warga di sini mencari nafkah dengan cara itu: bercocok tanam. Tidak ada sawah, karena tanah milik warga sejak tahun 1990-an dibeli sekelompok pendatang dari Jakarta. Kini, di kawasan tersebut, berjarak sekira dua ratus meter dari pabrik ke arah selatan, terdapat kompleks perumahan elite tempat Chris dan orangtuanya tinggal.
    Chris membaca sejarah desa ini dari seorang berkepala plontos yang kemudian jadi sahabat karibnya. Dakir, begitulah orang menyebut nama pemuda itu. Kependekan dari Mudakir. Ia tidak punya bapak dan ibu karena mereka minggat dan tidak pernah balik. Dulu kakek dan neneknya PKI.
    "Kakekku mati disembelih di depan bapakku," begitu kata Dakir pada Chris, ketika dua sahabat itu pertama kali saling berjabat tangan.
    Chris tidak mempersoalkan apakah Dakir anak komunis, atau apa si botak itu anak alien atau bahkan anak setan paling busuk di neraka jahanam. Dakir terlalu baik untuk dibenci. Lagi pula, ia sahabat yang setia dan mau berkorban demi menjaga persahabatan. Tak peduli pengorbanan paling absurd sekalipun.

Tuesday, 1 November 2016

[Cerpen]: "Koh Lim" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Malang Post, edisi Minggu, 23 Oktober 2016)
    Urusan menyimpan kenangan sudah jadi ahlinya sejak puluhan tahun silam, sejak jauh sebelum aku menyukai apa yang orang sebut mie biting, semacam jajan bocah SD, yang terbuat entah dari apa, menyerupai batang lidi dan bisa dimakan dan terasa gurih serta asin. Kini aku lupa apa itu mie biting, tepatnya tidak begitu ingat apakah pernah di dunia ini ada semacam jajan berbentuk batangan lidi ini.
    "Berarti, waktu itu ia sangat tua?" sela Johan.
    "Ia bahkan lebih tua dari sejarah keluarga ini."
    Kami duduk di beranda dan Johan sedang memegang kunci motor yang baru dibeli kemarin lusa, oleh papinya yang sukses. Hadiah biar rajin belajar. Aku tidak setuju dengan cara itu; memberi hadiah begitu, tapi Johan adalah anak dari anakku, dan biarlah anakku mendidiknya dengan caranya.
    Sebagai kakek, aku punya sesuatu yang tidak kalah penting dari hadiah itu. Inilah caraku memasukkan pengaruhku ke cucu-cucuku. Aku punya segudang cerita yang tiap sore mereka tagih. Cucu-cucuku senang mendengar ceritaku, tentang apa pun atau siapa pun, yang kadang masuk akal, namun tidak jarang juga menyerupai dongeng.