Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.
Showing posts with label cerita pendek. Show all posts
Showing posts with label cerita pendek. Show all posts

Tuesday, 11 July 2017

[Cerpen]: "Minggat" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 9 Juli 2017)
 
    Aku memutuskan menumpang kendaraan orang saja, ketimbang jalan kaki sekian kilo jauhnya. Aku jelas tidak akan sanggup. Lagi pula aku juga baru melahirkan, meski bayi yang seharusnya tumbuh itu malah mati sia-sia. Jadi, dalam kondisi nyaris putus asa, aku pergi dengan membawa sedikit barang dan secara sadar meninggalkan suamiku yang kasar. Dengan seseorang memberiku tumpangan, tidak lagi kehidupanku seburuk yang sudah-sudah.
    "Aku harus segera keluar dari area sini, sebelum suamiku tahu dan akhirnya diriku kembali dibawa pulang," kataku ke seorang sopir truk yang kucegat.
    Sopir truk itu kelihatannya berbudi luhur. Dia berkacamata dan bertampang seperti tidak pada tempatnya. Maksudku, sejauh yang aku tahu, sopir truk biasanya adalah para lelaki hidung belang yang senang melihat wanita cantik atau setidaknya senang dengan pikiran kotor mereka tentang wanita. Dan entah bagaimana aku tahu sopir berkacamata ini bukan jenis lelaki yang seperti itu.
    Tentu saja aku harusnya sadar betapa tidak semua sopir truk adalah hidung belang. Tidak semua lelaki adalah setan. Tidak semua dari mereka bertangan besi sebagaimana suamiku selama ini. Jadi, dengan keyakinan baru yang kucoba memakluminya ini, aku pun naik ke truk tersebut dan mengucap terima kasih sebelum akhirnya sopir tersebut bertanya, "Ke mana tujuan Anda?"
    "Wah, saya juga tidak tahu."
    Pada saat itu truk sudah melaju dan jalanan di kiri kanan yang berupa hutan. Sopir berkacamata itu tidak bertanya apa-apa selain menawariku air minum dan sepotong roti isi cokelat. Dia bilang, sebenarnya baru pertama kali ini melewati hutan ini dan bertemu seorang wanita yang lari ketakutan dari suaminya sendiri.

[Cerpen]: "Maria Pergi ke Angkasa" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Analisa Medan, Minggu, 9 Juli 2017)
 
    1/
    Sejak kecil saya bercita-cita pergi ke angkasa. Tapi banyak orang mengira saya gila dan menyuruh saya ke dokter; siapa tahu otak saya rusak atau mungkin di tempurung kepala saya tidak ada otak sama sekali. Kecuali astronot, kata mereka, tidak ada yang bisa ke angkasa!
    Saya tahu saya bisa ke angkasa, walau bukan astronot dan belum pernah ke sana, kata saya. Suatu hari nanti, lihatlah, saya ke sana seperti Bapak saya.
    Bukannya mendukung, mereka malah tertawa. Padahal mereka tahu Bapak saya di angkasa. Beberapa hari setelah itu, saya ditaruh di kandang babi. Baunya tidak enak dan saya berak di sana, juga kencing dan makan di sana. Semua saya lakukan di sana setelah saya ditangkap dan dipukuli ramai-ramai. Saya dipasung karena melukai siapa pun yang meledek saya.
    Akhir-akhir itu sebilah pisau tidak lepas dari tangan. Sembari memandang angkasa, saya genggam pisau itu erat-erat dan menjilatnya. Dalam setiap jilatan, saya merasa ada Bapak di angkasa.
    "Wahai Bapak," kata saya, "coba turun dan bilang ke mereka kalau gadis sepertiku, betapapun tak berotak, juga bisa ke angkasa."
    Tetapi, Bapak yang konon mati dan dikubur entah di mana, tidak bisa menjawab.

Friday, 9 June 2017

[Cerpen]: "Sampai Tua dan Mati" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Lombok Post edisi Minggu, 4 Juni 2017)
 
    Setiap malam aku selalu berjalan berkeliling rumah mewah peninggalan almarhum suamiku. Biasanya satu malam kuhabiskan menelusuri ruang tertentu dalam rumah, tapi aturan itu tidak selalu berlaku. Kadang-kadang aku hanya suka berjalan saja dari ruang satu ke ruang berikut, tanpa memikirkan apa-apa, sampai azan subuh terdengar.
    Rumah ini memang sangat besar. Setiap ruangnya bahkan dapat menampung lebih dari lima puluh orang, jika memang dibutuhkan. Hanya saja, sejak kami menikah, sebab aku tidak bisa mengandung bayi, rumah ini tetap sepi. Beberapa pembantu memang ikut tinggal di sini, tapi mereka tidak dapat meramaikan rumah.
    Suatu ketika, sebelum meninggal, suamiku mengeluh, "Betapa sia-sianya rumah ini. Kita tidak bisa memenuhi ruang-ruangnya dengan banyak orang, kecuali tamu-tamuku yang kadangkala datang sekadar untuk keperluan bisnis."
    Aku sendiri tahu aku tumbuh dari keluarga tak berpunya. Beberapa kerabatku gila, dan semua orang tahu itu, sehingga pergaulan di desa dengan orang-orang sekitar tidak memberiku banyak kenyamanan. Keluargaku sendiri tidak peduli soal itu, meski semua orang menganggap kami keluarga tertutup dan tidak bisa diharapkan.

[Cerpen]: "Hotel Tua" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto edisi Minggu, 4 Juni 2017)
 
    Ada yang tidak beres di kepala resepsionis yang memberiku kunci kamar nomor 21. Ia tidak ramah dan tidak sepenuhnya mengerti yang kukatakan, dan hanya mengangguk sekenanya saat kubilang, "Teman saya tadi datang."
    Tentu kujelaskan identitas temanku tersebut, beserta segala ciri, yang kutahu sangat mudah dihafal oleh siapa pun yang tidak temanku kenal. Temanku itu memang unik; dia seniman yang senang menyebut coretan-coretan tak berarti sebagai barang berharga dan suatu hari nanti dapat digunakan untuk membeli dunia. Ia juga senang bicara dan pamer bahwa karyanya sering dipamerkan secara eksklusif di tempat-tempat terkenal, di dalam maupun luar negeri. Intinya, tidak ada yang harusnya merasa kesulitan mengenali orang macam temanku.
    Bagaimana dapat kusebut beres? Bahkan, untuk mengenali seniman seunik itu saja, seorang resepsionis tidak mampu? Ia cuma menggeleng dan mengangkat sebelah tangan tanda tidak tahu.
    Tetapi, aku tidak protes atau bertanya lagi pada resepsionis aneh itu. Aku putuskan langsung ke kamar nomor 25, yang tidak jauh dari nomor kamar yang kusewa. Temanku baru saja mengirim pesan, "Di kamar 25."
    Tepat saat itu, resepsionis yang kubicarakan justru mengangkat telepon dan mulai mengobrol panjang lebar dalam bahasa santai, seakan-akan tidak ada tamu di depannya. Seakan-akan aku tidak dianggap atau seakan-akan hotel ini semacam toilet umum yang dapat dipakai sesuka hati oleh siapa pun dan untuk keperluan apa pun. Aku tidak tahu hotel macam apa yang kusinggahi sebagai tempat bermalam ini, tapi mungkin memang cocok untuk tujuanku kemari. Dan barangkali memang hotel rusuh macam inilah yang temanku dambakan.

Friday, 26 May 2017

[Cerpen]: "Lelaki di Halte yang Kelak Menjadi Legenda" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Tribun Jabar edisi Minggu, 21 Mei 2017)
 
    Di suatu halte, seorang lelaki sedang berdiri menunggu kekasihnya. Ia berdiri tanpa alasan yang lebih baik selain menunggu seorang kekasih, meski telah banyak yang tahu bahwa kekasihnya sudah meninggal setahun lalu dalam kebakaran. Lelaki itu barangkali sudah gila, tetapi anggap saja dia waras dan hantu kekasih yang datang di saat tertentu adalah kenyataan.
    Bicara tentang kenyataan, aku sadari banyak kenyataan kadang terdengar aneh atau tidak masuk akal. Termasuk soal si lelaki yang menunggu kekasihnya di halte. Lelaki itu tidak pernah menyebut nama, tapi setiap orang di sepanjang jalan ini mengenalnya dan akan bersaksi pernah melihat pacar lelaki itu mati di depan mata mereka.
    "Dia benar-benar sudah mati. Tubuhnya gosong dan kaku, dan sekarang lelakinya menunggu di halte seperti apa yang dulu mereka janjikan," tutur salah seorang saksi.
    Bicara tentang janji, ada fakta yang membuatku ingin menangis, yakni janji lelaki itu adalah janji terakhirnya. Ia mungkin tahu betapa meninggalnya sang kekasih di suatu tempat di ujung jalan ini adalah cara takdir mencegahnya menepati janji, dan saat semua seharusnya mulai kembali seperti semula—jasad gadis itu selesai dikubur dan ditangisi, dan roda kehidupan di sekelilingnya bergeliat sekali lagi—lelaki kekasihnya tetap diam di tempat.

[Cerpen]: "Pengelana dan Uang Ajaib" karya Ken Hanggara

Dimuat di basabasidotco, Jumat, 19 Mei 2017)
 
    Sudah bertahun-tahun jauhnya aku berkelana, tetapi uang di koperku tidak pernah habis. Aku suka berkhayal suatu hari nanti uangku habis dan aku bisa mulai beristirahat di tempat yang tenang dan jauh dari peradaban sampai tua.
    Aku sering berkhayal dan tertawa senang selama proses berkhayal ini, tetapi ketika sadar dan tahu keadaanku yang jauh dari cerita khayalan itu, aku mulai mual. Tidak ada pilihan selain melanjutkan perjalananku. Mungkin aku tidak ditakdirkan berhenti. Meski kubagi-bagikan semakin banyak uang ke semakin banyak orang, Tuhan tidak ingin aku berhenti.
    Aku tak ingat kapan pertama kali pergi meninggalkan rumahku dengan membawa koper berisi banyak uang. Aku bahkan tak ingat bentuk teras rumahku, yang mungkin saja sekarang sudah lapuk atau roboh dan digantikan oleh bangunan semacam mall. Aku tak pernah pulang sejak keberangkatanku yang pertama, dan segera mengetuk satu demi satu pintu untuk membagikan uang.

Tuesday, 16 May 2017

[Cerpen]: "Sihir Bola" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Bromo edisi Minggu, 14 Mei 2017)
  
  Bola yang menggelinding di pinggir lapangan akhirnya berhenti. Anak-anak saling rebutan mengambil dan melemparkannya ke seorang pemain tengah, Mugeni namanya, agar dapat kesempatan diajak main minggu depan.
    Tapi tentu bagi Mugeni mereka tidak selevel. Tingkatnya jauh di atas dukun paling sakti di kampung. Tidak ada yang lebih pandai mengendalikan bola ketimbang dirinya, termasuk angin.
    Sore ini angin berembus lumayan kencang dan menjatuhkan beberapa motor dan sepeda pancal di parkiran. Lapangan busuk, kata Bung Dakir, rekan setim Mugeni, yang sering kali iri pada orang yang dibilang sahabatnya sendiri itu.
    Mugeni memang sakti. Kalau kata orang, kesaktiannya setara legenda Maradona, meski sesungguhnya ia memang sakti dalam arti sebenar-benarnya. Tapi, pemain tengah top turnamen ini tidak mau sibuk-sibuk membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia guna menunjukkan makna kata 'sakti' secara nyata, demi penegasan diri. Tidak. Cukup Bung Dakir saja yang tahu.

[Cerpen]: "Murah Mart" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Rakyat Sumbar edisi Sabtu, 29 April 2017)
   
 Orang kecil mesti pilih-pilih kalau mau belanja, harus hemat. Apalagi anak-anakku nakal. Mereka maunya makan yang enak-enak. Anak dapat rangking, orangtua mana yang tak bangga? Aku juga mau anak-anakku pintar, berprestasi. Tapi, bagaimana kami beli makanan enak yang konon mahal? Sekadar tahu tempe saja sulit. Mereka merengek dan bertanya kapan Ibu belikan makanan enak? Atau, kapan kami rangking satu?
    Suatu waktu, temanku Nani mengajakku ke suatu tempat. Yang lewat di pikiranku adalah: dia mengajakku ke rumah bosnya. Tempat itu luas. Ada beberapa truk terparkir. Kok bisa Nani punya pekerjaan sampingan tanpa takut ketahuan bos kami? "Bukan, Mar. Ini bukan rumah bos baruku. Ini rumah Pak Dermawan," jawabnya usai kuberondong dia dengan berbagai pertanyaan.

Thursday, 4 May 2017

[Cerpen]: "Pencuri Otak" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Malang Post edisi Minggu, 30 April 2017)

    Berita itu menggemparkan: Jun kehilangan otak. Sudah pasti, otak itu dicuri orang. Ia bocah pintar, jauh lebih pintar ketimbang anggota dewan, barangkali. Maka segenap pasukan dikerahkan demi menyisir seluruh tempat. Tugasnya: mencari di manakah otak Jun.
    Tidak ada petunjuk. Pencarian buntu di hari keempat. Hujan tidak putus-putus, dan Pak RT—sebagai pemegang komando misi pencarian otak sang jenius—jatuh sakit sore itu. Tugas berat gagal total dan ia terancam jadi omongan.
    Tak ada yang lebih geram ketimbang Pak RT. Seseorang mencuri otak orang jenius. Kalau Jun mati, bisa celaka. Tidak ada lagi liputan TV, tidak ada lagi wisata dadakan para penggemar ilmu pengetahuan, serta tentu tidak ada lagi pemasukan buat kas RT.
    Jun sekarat di kamarnya empat hari.
    Ibunya cuma bisa menangis. Tidak ada saksi ketika kejadian. Mungkin saja pencuri itu masuk kamar Jun tengah malam dan diam-diam membelah otaknya. Sebagai orang jenius, Jun disayangi, tapi sampai sejauh itu belum satu pun orang diberi izin memeriksa luka di kepalanya.
    Ibu Jun berkata sinis, "Luka apa? Jangan bicara luka. Sayalah yang terluka di sini. Tidak ada Jun, saya tidak makan!"
    Orang-orang mafhum betapa sejak bapak Jun mati, yang cari uang di keluarga itu cuma Jun. Selain membuka les privat, jenius itu menerima uang dari tampil di televisi dan seminar. Kakaknya yang pemalas bergantung pada Jun. Kerjaan si kakak sehari-hari menembak burung dan dijual di pasar. Uangnya dipakai judi—atau menyewa pelacur.

Saturday, 15 April 2017

[Cerpen]: "Neraka di Kepala Mama" karya Ken Hanggara

 (Dimuat di Sumut Pos edisi Minggu, 9 April 2017)

    Bagi anak di seluruh dunia, rumah adalah tempat teraman, tetapi bagi Sani, rumah itu neraka. Tempat orang jahat membuat siksaan supaya anak sepertinya jera dan tidak meminta mainan.
    Sani tidak punya mainan, tetapi dia ingin. Seperti teman-teman di sekolah, Sani berharap suatu hari Papa pulang dan membawakannya mainan. Mungkin sebuah remote control, atau paling tidak papan monopoli, sehingga di permainan yang seru, dia bisa belajar berhitung.
    Bagi Mama, Sani anak bodoh. Sani itu bencana. Mama berulang kali bilang kepada semua orang tentang hal ini dan terus menerus meyakinkan mereka. Tentu saja, mereka seakan percaya bahwa Sani adalah tsunami dalam hidup mamanya. Mainan apa pun tak akan berguna bagi anak itu.
    "Gara-gara Sani, suamiku mati. Gara-gara anak sial itu sekarang hidupku miskin!" kata Mama selalu.

Thursday, 6 April 2017

Dibuka Pre Order Kumpulan Cerpen Tema Cinta: "Babi-Babi Tak Bisa Memanjat"



Buku terbaru saya ini siap kamu miliki. Isinya 17 cerita cinta dari berbagai sudut pandang. Ada cinta pada dunia, pada kekasih, atau apa pun. Semua tentang cinta. Tentu saja tidak semua cinta dalam buku ini bisa atau bahkan harus dipahami. Beberapa malah tak perlu. Bukankah memang selalu begitu?

[Cerpen]: "Markonah ke New York dan Tak Kembali" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto edisi Minggu, 2 April 2017)
 
    Mugeni bercerita tentang pacarnya yang pergi ke New York dan tak kembali. Dari awal ini memang tidak wajar, karena setahuku Mugeni tidak pandai berbahasa Inggris. Teman-teman lain mengira ia semakin sinting.
    "Tapi benar, pacarku itu minggat ke New York!" katanya selalu.
    Mugeni memang begitu. Jangan heran jika suatu hari kau lihat dia duduk di depan kios fotokopi Haji Samak, dan dia memegang sendok plastik sambil berkhayal dengan itu ia bisa terbang menjemput pacarnya. Mugeni mengaku sang pacar pintar berbahasa Inggris dan berdarah asli Jombang. Lulus SMA, si pacar terbang ke New York untuk sebuah cita-cita. Mugeni mengenal pacarnya ketika ia membeli buku bekas di Surabaya.
    Aku sendiri tidak begitu percaya waktu mendengar cerita ini. Coba saja kau pikir, setan mana membisiki Mugeni hingga ia rela menghabiskan uangnya yang tidak banyak itu demi sebuah buku?
    Mugeni berkeluh kesah, ia butuh buku tentang cara menarik hati perempuan. Dan di hari yang sama, ketika dengan semangat ia menelusuri setiap rak buku di suatu jalan dekat Stasiun Pasar Turi, ia bertemu Makonah.
    Pertemuan dengan Markonah, yang konon pintar berbahasa Inggris, sempat bikin si Mugeni hilang arah. Mugeni biasa bantu-bantu jadi tukang parkir di sebuah mini market, dan saat itu sebuah mobil hendak mundur setelah pembelinya selesai membeli sebotol air mineral. Karena Mugeni melamun, sebuah motor yang muncul dari gang menyambar bodi belakang mobil tersebut hingga penyok dan si orang kaya yang hanya membeli air mineral di mini market pun ngamuk tak keruan. Pengendara motor kena maki, Mugeni kena damprat.

[Cerpen]: "Suatu Malam Ketika Para Anjing Bosan Menjadi Anjing" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Padang Ekspres edisi Minggu, 2 April 2017)
 
    Barangkali anjing-anjing bosan menjadi anjing. Pada suatu malam, mereka ketuk pintu kamarku, dan ketika kubuka pintu dengan setengah mengantuk, yang kusaksikan adalah sekelompok manusia berkepala anjing.
    Sebenarnya tetap saja mereka adalah anjing, karena aku sadar betul untuk apa aku hidup di rumah busuk ini seorang diri. Aku mengurus anjing-anjing yang telantar karena sejak dilahirkan memang sudah liar, atau beberapa dari mereka dibuang oleh pemiliknya gara-gara sakit. Aku mencintai anjing dan untuk alasan itulah kulakukan ini.
    Jadi, aku tinggal bersama belasan anjing yang kurawat dengan sangat baik, lalu pada suatu malam, mereka ada di depan pintu kamarku dan berdiri dengan badan tegap. Aku membayangkan kegilaan menyerangku. Setelah Maria pergi dan menikah dengan mantan kekasihnya yang politisi, aku kira hidupku mungkin berakhir tidak lama lagi.
    Suatu ketika, di meja pojok salah satu kafe, aku menyendiri dan membatin, "Dulu kamu pernah berjanji padaku untuk merawat anjing-anjing itu sampai tua, dan kita tidak perlu memiliki anak, sebab anjing-anjing juga tahu dan memahami kasih sayang. Anjing juga mengerti arti kesetiaan."

[Cerpen]: "Hilangnya Anak Penjaga Mercusuar" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Suara  NTB edisi Sabtu, 1 April 2017)
 
    Aku berdoa Brenda tidak hilang atau mati dimakan binatang buas di hutan itu. Aku tahu aku bermimpi melihatnya terbang di antara dahan-dahan, dan hinggap pada puncak mercusuar yang ada di tepi tebing, persis di sisi hutan sebelah selatan. Aku tahu mimpi tidak selalu memproyeksikan kenyataan, tetapi kurasa tidak ada salahnya berdoa.
    Aku terus berdoa. Dari pagi hingga malam, dan sesekali mengutuki kelalaianku di saat menjaga anakku sendiri. Brenda tidak pernah mengerti nasihat-nasihat soal hutan dan binatang buas. Dia hanya tahu di luar sana ada begitu banyak kejadian dan hal aneh. Dan baginya, itu dapat mengusir rasa bosan.
    "Kamu jangan ke sana," kataku berkali-kali, tetapi aku tahu, di tiap anggukan dan diamnya, Brenda menyimpan rencana-rencana.

Tuesday, 14 March 2017

[Cerpen]: "Cermin Manipulasi" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Radar Banyuwangi edisi Minggu, 12 Maret 2017)

Sarmila senang melihat cermin besar dipajang di ruang tengah rumahnya. Ia tidak memesan cermin. Tetapi ia pikir, mungkin ini dari penggemar. Orang yang memendam perasaan suka, yang tidak berani berbicara padanya. Orang yang lama dirindukan, tetapi tidak kunjung datang.
"Dia pasang cermin ini diam-diam," Sarmila menduga. "Dia kirim cermin ini tanpa memberitahuku, sehingga saat aku bertanya siapa yang menaruh cermin hebat ini di sini, dia datang melamarku."
Sarmila bahagia dengan kesimpulan yang belum tentu benar ini. Alih-alih ke kamar mandi, dia berpose di depan cermin, membebat handuk di kepala seakan-akan mahkota, jalan lenggak-lenggok persis peragawati di televisi. Dipandangi wajahnya lamat-lamat. Cantik, ia berbisik. Geli didengar, tetapi enak. Dicobanya ekspresi menggoda biduanita desa—yang ia anggap pelacur, atau ekspresi polos nan lugu yang banyak digemari para pemuda.
Senyum mengembang di bibir setebal martabak itu. Bola matanya berputar ke sana kemari mengamati tiap inci cermin 60 x 100 senti. Menarik napas dalam-dalam, Sarmila terharu. "Orang itu paham diriku sebagai wanita yang ingin dimengerti. Beginilah lelaki sejati. Ia tahu wanita dan memang ia pantas mendapatkanku."

[Cerpen]: "Bertamu ke Rumah Maria" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Riau Realita, Selasa, 7 Maret 2017)
  
  Tubuhku berdarah- darah dan aku tidak mau membuat masalah lagi. Tadi pagi aku mungkin masih bisa bersombong, tetapi barusan nyawaku nyaris melayang, dan suatu perasaan takut segera menyergapku. Anak-anakku masih sangat kecil, dan aku pun juga masih menyayangi istriku. Jadi, kuputuskan menyudahi semua ini. Kesombongan hanya untuk orang-orang yang ingin mati cepat. Aku tidak ingin mati cepat.
    Aku mungkin masih bisa mencari sedikit peruntungan di kampung sepi ini. Untung saja, setelah berlari begitu lama, dengan mengerahkan segenap tenaga, dapat kuhindari serbuan massa yang marah gara-gara kucuri sepeda motor bagus di depan warung nasi. Aku tidak hafal kawasan situ, karena memang cukup jauh dari rumahku. Sengaja kucari target di titik yang tidak memungkinkan istriku tahu aku sampai mencuri hanya untuk menutupi ketidaksanggupanku membiayai kebutuhan dapur.

Monday, 6 March 2017

[Cerpen]: "Berharap Dijemput Malaikat" karya Ken Hanggara

 (Dimuat di Sumut Pos edisi Minggu, 5 Maret 2017)

    Aku malas disuruh- suruh mandi setiap pagi dan ditendang mamaku dan tidak boleh main video game lebih lama. Padahal, Papa membelikan itu untukku. Mama tak peduli dan terus menyuruh-nyuruh sehingga aku semakin benci. Maka, suatu pagi aku berharap semoga saja Tuhan mengirim malaikat untuk menjemputku dan membawaku ke tempat jauh.
    Gagasan soal malaikat memang sudah lama ada di kepalaku. Tapi Mama tidak suka aku berkhayal, dan hanya akan bilang, "Imo, bersihkan mulutmu! Jangan melongo kalau makan!"
    Aku tidak suka memakan sayur, tetapi mamaku senang memaksa. Sayur bagus buat kesehatanmu, supaya tidak loyo dan pintar, katanya. Padahal, mamaku sering memukul kepalaku dan berkata betapa aku adalah anak terbodoh di dunia.
    Aku tidak suka Mama, tetapi Papa jarang pulang. Sekalinya pulang, lebih banyak bertengkar dengan Mama dan aku selalu duduk di depan pintu kamarku sambil melihat mereka seakan dua orang itu bertarung dalam video game. Aku pegang Papa, dan Leli, anjing pudelku, boleh pegang Mama. Tidak ada joystick untuk Leli, sebab video game tidak diciptakan untuk anjing. Jadi, Papa selalu menang.

[Cerpen]: "Lelaki Pengupas Apel yang Membawa Ibu Pergi" karya Ken Hanggara

 (Dimuat di Sumatera Ekspres edisi Sabtu, 4 Maret 2017)

    Meli gila setelah Ibu pergi tanpa meninggalkan pesan terakhir. Dalam suatu mimpi, adikku itu melihat Ibu pergi bersama lelaki berdasi yang suka makan apel. Dia memang bercerita apa adanya:
    "Si lelaki membawa buah apel ke mana-mana dan mengupasnya tepat depanku, di pinggir jalan, di tengah keramaian pengguna trotoar. Seakan-akan apel itu adalah rokok dan orang tidak perlu heran melihat tingkahnya!"
    Meli selalu melihat lelaki berdasi tersebut mengupas apel di dalam mimpinya. Tapi ia tidak mampu mengingat wajah si lelaki. Aku bosan meminta Meli menggambar wajah lelaki yang suka mengupas apel tersebut, karena siapa tahu kami dapat petunjuk tentang keberadaan Ibu.
    Meli tidak ingin menyentuh buku gambar, meski kami semua tahu, dahulu sebelum Ibu pergi, dia suka menggambar. Buku gambar hadiah nomor satu sebelum berbagai boneka dan mainan favorit anak perempuan.
    "Kamu paling pintar menggambar. Kenapa tidak mau menggambar wajah si lelaki yang suka mengupas apel?" tanyaku.
    Meli tidak memberi jawaban. Ia terus menerus bercerita dalam banyak kesempatan tentang mimpinya bertemu si lelaki dengan apel di tangannya. Suatu kali Ibu bersama si lelaki tersebut, tetapi di lain mimpi, hanya si lelaki yang dilihat adikku.

Monday, 27 February 2017

[Cerpen]: " Mayat di Dekat Pohon Pisang yang Menjelma Jadi Malaikat" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Harian Waktu edisi Jumat, 24 Februari 2017)

Kepada Bapak kukatakan, "Sugeni sudah mati." Lalu dia berdiri dan menghadapku dan bertanya dikubur di mana tubuh orang sinting itu. Kubilang, "Di dekat pohon pisang di belakang rumah Mak Nah."
Tanpa banyak cincong, Bapak mengambil parangn dan keluar. Aku mengekornya seakan bajuku yang bernoda darah sama sekali tidak membuatku mual atau tidak juga membuatku berpikir aku harus segera mandi dan ganti baju agar tetangga tidak ada yang curiga. Bapak sendiri tidak peduli karena tahu sejak awal aku tidak suka pada Sugeni.
Dulu Sugeni memperkosa kambingku. Aku tahu ada yang tak beres pada kambing itu. Suatu malam aku bermimpi kambing itu menjelma jadi perempuan jelek berjanggut dan berbau badan tidak enak. Si perempuan mengadu padaku bahwa Sugeni sang pacar telah minggat setelah menanam tubuh manusia di dalam tubuhnya. Di mimpi itu aku bertekad, bahwa kelak Sugeni harus mati di tanganku.

Tuesday, 21 February 2017

[Cerpen]: "Menguak Identitas Bertha" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Flores Sastra (17 Februari 2017) & Malang Post (19 Februari 2017))

    Bertha sering memberiku tumpangan, tetapi aku tidak pernah tahu di mana rumah gadis itu. Ia hanya bilang, "Di suatu tempat yang tidak pernah kamu pikirkan." Tentunya aku semakin penasaran, apalagi sering saat aku kehabisan bus atau taksi, karena pulang kemalaman, tiba-tiba dia lewat dan berhenti begitu saja sembari membuka pintu depan mobilnya dan berkata, "Ayo, kuantar!"
    Pertama kali Bertha memberiku tumpangan kira-kira setahun silam, dan pada saat itu kami belum saling mengenal. Dia berhenti begitu saja karena melihatku berdiri diam di pinggir jalan, dan membuka pintu depan mobil dan bertanya ke arah mana rumahku. Aku bisa mengantarmu, katanya waktu itu. Karena sama-sama perempuan, kupikir aku bisa menumpang mobilnya. Sejak itu, bantuan berupa tumpangan gratis selalu gadis itu berikan setiap aku kesulitan mendapat kendaraan.