Skip to main content

Posts

Cerpen: "Sang Model" karya Ken Hanggara

"Sang Model" Ilustrasi cerpen "Sang Model" oleh Ken Hanggara   (Dimuat di tamanfiksi.com, edisi 05, September 2015) Begitu Sanjaya berkemas pulang, Marlina—model yang sempat naik daun sepuluh tahun lalu, yang tenggelam, tak lagi muncul karena masalah narkoba—menarik lembut lengannya. Mata mereka beradu beberapa detik, dan berhenti karena ingat mereka tidak bisa bertemu lama di luar jam kerja. Sanjaya, atau biasa dipanggil San, atau cukup dengan Jay saja, beringsut dan mengambil perlengkapannya yang jatuh berguling di lantai semenit lalu. "Apa kamu datang lagi?" Wanita itu bertanya setengah cemas, tapi lebih terkesan pasrah. Tahun-tahun yang gemilang telah pudar. Barangkali tidak akan bisa kembali, meski ia berharap bisa memancing satu-dua kenangan lama menjadi suatu hal yang real . "Entah." San menjawab pendek. "Tidak bisa tidak. Aku belum dapat salinannya." Marlina tersenyum dan melirik penuh arti, menyimpulkan sendi

Cerpen: "Bayi Berbalut Kain Gorden Warna Krem" karya Ken Hanggara

"Bayi Berbalut Kain Gorden Warna Krem" Ilustrasi cerpen "Bayi Berbalut Kain Gorden Warna Krem" oleh Ken Hanggara (Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 20 September 2015) Seonggok bayi berbaring di tumpukan sampah. Entah bayi siapa. Dia menangis karena pagi begitu dingin. Dia menjerit karena lapar. Dia bergetar karena ingin tahu siapa yang menaruhnya di situ sehingga kulitnya jadi gatal-gatal, atau ingin tahu siapa ibu-bapaknya yang dengan tega menelantarkannya. Bayi itu berbalut kain gorden warna krem. Dibungkus begitu saja bagaikan lemper, lalu diletakkan di atas kardus bekas wadah Indomie yang sudah ditata sedemikian rupa. Tak ada yang tahu ada bayi di situ, karena tumpukan sampah ada di tepi kampung, dekat rawa-rawa, dekat tanah kosong yang dirimbuni pepohonan bambu. Bayi itu menangis dan menangis, sehingga misal ada yang dengar dan orang itu membawa dendam, bisa sirna saking kuatnya getaran kemanusiaan yang terkandung dalam suara si bayi. Orang itu

Cerpen: "Tipu Daya" karya Ken Hanggara

"Tipu Daya" Ilustrasi cerpen "Tipu Daya" oleh Ken Hanggara (Dimuat di Radar Banyuwangi, Minggu, 6 September 2015)   Kali kesekian eranganmu mencabik gendang telingaku. Darah melukis sungai pada dingin wajah bidadari setengah iblis, tapi kau belum puas. Kau lepaskan dan hempaskan kesal dari balik bukit kembarmu lewat sebilah pisau. Ya, pernah kutanam cinta dan rasa nafsu di kedua bukit itu, dulu. Lalu kamu pasrah dan diam, bahkan menikmati hari-hari terakhir keberadaan suamimu yang sama sekali tak kau cintai. Kepadaku waktu itu kau berkata penuh tekanan, "Segera kerjakan!" Dalam gemingku, kenangan terpancar dari bening bola matamu. Seakan Tuhan dan iblis bersatu padu dalam suatu rekayasa imajinatif. Suatu hal yang mustahil. Kau duduk di bangku pusat kerumunan kru dan perkakas shooting . Dari balik topi lebar, kau titah segala-galanya dengan telunjuk berkuku merah. Kau bersandar angkuh sebagaimana sutradara bekerja.

Cerpen: "Orang-orang di Balik Jeruji" karya Ken Hanggara

"Orang-orang di Balik Jeruji" Ilustrasi cerpen "Orang-orang di Balik Jeruji" oleh Ken Hanggara   (Dimuat di Radar Bromo, Minggu, 30 Agustus 2015) Aku tak peduli seorang pembunuh sekalipun berada di dekatku. Aku juga tak peduli andai dia membunuhku detik itu. Aku tak kenal takut. Ketakutan adalah bagian dari keseharianku. Tempat di mana aku hidup adalah tempat orang-orang terjebak oleh dosa mereka sendiri. "Kenapa kau ada, kalau hanya untuk membuat manusia sepertiku terbuang?" tanya Gusti, lelaki kurus yang sebulan ini lebih sering mengerang di pojokan. Menangisi ibu di kampung. "Untuk mengajarimu banyak hal," tukasku. Ada tawa dari sisi gelap ruangan. Tawa dari bibir yang direkayasa Tuhan guna menghisap darah sesama. Dialah kematian, pembunuh yang tujuh hari terakhir melengkapi kami. "Kenapa? Bukankah kau menginjak puncak lebih tinggi?" tanyaku sinis. "Maksudmu?" " K au tahu. Dia domba tolol dan kau

Cerpen: "Memanjat Langit" karya Ken Hanggara

"Memanjat Langit" Ilustrasi cerpen "Memanjat Langit" oleh Ken Hanggara (Dimuat di Radar Banyuwangi, Minggu, 23 Agustus 2015) Sumarno tahu kalau ia tidak berhenti memanjat langit, pada akhirnya ia juga tetap akan berhenti di satu titik, karena tidak ada lagi yang bisa dipanjat di atas sana. Namun tentu saja, memanjat semacam ini tidak akan mudah, karena selain ada banyak orang yang menonton, hingga membuatnya agak grogi, mereka juga pasti bakal berteriak dan melakukan apa saja agar tujuannya tidak tercapai. Ia pandangi tempat itu dari tempatnya kini berdiri, sebuah tempat yang sudah tidak bisa dipanjat lagi, andai ia benar-benar akan memanjat dan terus memanjat tanpa berhenti. Matahari bersinar garang. Teriknya menyengat kulit Sumarno yang kelam, membuatnya tampak mengilap, bagaikan patung berlumurkan oli. Ia menoleh kiri dan kanan. Daun-daun kering diterbangkan angin. Terdengar bunyi mesin motor butut dari jauh. Beberapa bocah tampak baru pulang dari

Cerpen: "Ditolak Bumi" karya Ken Hanggara

Ilustrasi cerpen "Ditolak Bumi" oleh Ken Hanggara "Ditolak Bumi" ( Dimuat di Minggu Pagi (KR Grup), Jumat, 21 Agustus 2015)   Malam itu kampung dilanda hujan lebat. Laut seolah tumpah dari langit. Lentera menggantung layu, berkali-kali padam oleh angin. Hanya dengan bantuan senter—atau sesekali cahaya petir—seseorang bisa melihat dengan jelas. Semua itu tak menghalangi kedatangan pelayat ke rumah Sukarman. "Tapi hujan terlalu deras. Apa tidak bisa kita tunggu satu-dua jam dulu?" Mursid si penggali liang lahat mengajukan usul. Sebagian setuju. Tak mungkin mereka menerabas hujan disertai angin kencang, apalagi dengan membawa keranda mayat. "Kita tidak bisa nunggu. Jenazah ini harus dimakamkan malam ini!" tukas Samijan, ketua RT.

Cerpen: "Patuh" karya Ken Hanggara

Ilustrasi cerpen "Patuh" oleh Ken Hanggara "Patuh" (Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 16 Agustus 2015) Martini mencengkeram lengan kemejaku. Seperti dulu. Rasa-rasanya kenangan itu berputar. "Tapi pastikan, Bung," bisikku pada diri sendiri, "ini bukan saat yang tepat untuk tangis-tangisan!" Meski begitu, aku tahu tiap wajah yang mengamati dari jauh, sebelum lenyap ditelan gelap kotak jendela jajaran rumah kardus, mulai bertanya-tanya: Kesedihan macam apa yang wanita itu bawa? Atau mungkin: Setan itu lagi, ya? Martini, sebagaimana kenangan, akan selalu manis dan harum. Aku simpan dia di balik jaket kulit tebal dengan beberapa lubang bekas sulutan rokok teman main judi. Dia cengkeram lengan kemejaku, tak peduli sobek, tak peduli kutampar wajahnya. Tapi dia tahu aku tak 'kan begitu malam ini. Dan memang tak akan. Bedaknya rata. Dan malam yang dingin ini membuatnya pucat. Malam penuh kenangan. "Sudah kubilang mestinya kamu