Skip to main content

[Cerpen]: "Sepulang dari Penjara" karya Ken Hanggara


(Dimuat di Solopos, Minggu, 3 Juni 2018)  

 Beberapa dekade setelah dipenjara, Mudakir keluar dalam keadaan tidak memiliki apa-apa. Untuk pertama kalinya dia merasa tersesat di dunia yang tak lain adalah tempat kelahirannya. Dunia itu seakan direbut oleh zaman dan diubah jadi dunia robot dengan segala macam hal di luar nalar.
    Mudakir hanya dapat berdiri kaku setelah taksi menurunkannya di depan lapangan, yang dulu dia tahu sebagai bioskop milik sahabat dekatnya. Tentu saja sahabatnya telah mati; ia dengar kabar ini dua puluh satu tahun yang lalu, sebelum kunjungan terakhir dia dapatkan dari istrinya yang kemudian meminta dicerai. Setelah itu, Mudakir tak pernah mendengar kabar apa pun tentang dunia luar.
    Secara teknis, Mudakir sebatang kara sejak dua puluh satu tahun yang lalu, yakni sejak sebelas tahun dia ditahan gara-gara membunuh si pembuat onar di lingkungan tempat dia tinggal. Entah bagaimana hakim menjatuhinya hukuman empat puluh tahun penjara, tetapi baik Mudakir maupun keluarganya, tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya tahu betapa pembuat onar tersebut memiliki hubungan khusus dengan tokoh yang sangat terpandang di kota ini.
    Sekarang, semua sudah berlalu. Musim demi musim berhasil Mudakir lalui tanpa sedikit pun merasa terbebani. Dia sudah pasrah setelah mendapat surat dari sang istri yang meminta dicerai. Dia juga sudah terlalu pasrah ketika hari demi hari usai surat itu diterima, keluarga dan para sahabatnya tidak ada seorang pun yang sambang. Sampai di suatu titik, dia tahu dia tidak lagi terhubung dengan dunia luar, karena orang-orang yang ia kenal di luar sana telah melupakannya.
    Kini, setelah bebas, Mudakir tidak tahu harus tinggal di mana. Ia hanya dapat ingat ia memiliki seorang teman baru, yang dia kenal di penjara kira-kira empat belas tahun lalu, yang keluar dari penjara lebih dulu. Barangkali saja dia dapat meminta bantuan ke teman tersebut, berupa kerjaan dan tempat tinggal untuk orang yang tidak lagi muda.
    Hanya saja, teman baru itu sendiri jarang mengunjunginya setelah bisnisnya melaju pesat, dan terakhir kali datang berkunjung ke penjara, dia memberinya alamat yang kini sedang Mudakir cari.
    "Alamatnya tidak jauh dari tanah lapang di mana dulu bioskop milik sahabat saya yang lain dibangun," kata Mudakir ke seorang penjual minuman ringan di tepi jalan.
    Orang itu hanya mengangguk-angguk tanda mendengar seluruh yang dia ucapkan, tetapi tidak benar-benar tahu bagaimana caranya dapat membantu. Alamat yang teman baru Mudakir berikan tidak akurat, karena tempat itu hanyalah gedung kosong yang tak digunakan selama bertahun-tahun.
    Seorang pembeli minuman lain, yang secara tidak sengaja mendengar obrolan itu pun menyahut, "Apa ada informasi yang lebih spesifik tentang teman Bapak tersebut?"
    "Oh, ada. Dia punya bisnis yang melaju pesat. Bisnis minyak wangi!"
    Si pembeli dan penjual minuman tersebut pun saling pandang, dan tampaknya tak bisa memberi bantuan yang berarti. Dan memang benar, mereka sama-sama tidak tahu di sekitar sini ada pebisnis minyak wangi yang sukses. Pembeli minuman itu bahkan meyakinkan Mudakir bahwa sejak kecil dia sudah tinggal di kawasan sini.
    "Kalaupun ada pebisnis minyak wangi, tentu saya pernah dengar slentingan tentang orang itu. Tetapi, sejauh yang saya tahu, tidak pernah ada pengusaha minyak wangi di daerah sini."
    Mantan napi itu pun terlihat semakin kebingungan dan akhirnya duduk kelelahan di dekat penjual minuman. Mudakir mencoba mengingat-ingat kiranya ada seseorang di suatu tempat, seseorang yang lain, yang dapat membantunya setidaknya untuk memberi tempat berteduh selama beberapa waktu.
    Tidak. Mudakir tidak menemukannya. Otaknya, sekalipun sudah tua, masih bekerja dengan baik. Ia bukan sejenis lelaki tua pikun yang kepayahan untuk sekadar mencari beberapa ingatan penting yang dia butuhkan dalam saat-saat genting.
    Karena tidak tahu apa yang akan dia lakukan, Mudakir bertanya begitu saja pada si pembeli minuman tadi, yang tampaknya baru saja pulang dari sebuah kegiatan santai di akhir pekan, tentang apakah orang tersebut bisa memberinya pekerjaan?
    Si pembeli, yang sejak tadi tampak prihatin pada Mudakir, mengatakan, "Mungkin Bapak bisa mampir sebentar ke rumah saya?"
    "Maksudnya?"
    "Ya, kita pergi ke rumah saya. Bisa?"
***
    Mudakir tidak tahu apa yang dia lakukan; menumpang mobil seseorang yang betul- betul asing adalah sebuah hal baru baginya. Orang ini tentu saja jauh lebih muda dari. Ia menyadari, mau tidak mau, pada saatnya nanti, orang yang entah akan memberinya satu bantuan ini, pasti mendengar tentang dirinya yang pernah dipenjara.
    Jadi, tanpa membuang waktu, Mudakir segera mengakui betapa dia kebingungan mencari tempat di mana dia bisa berteduh dan mencari rezeki, karena begitu keluar dari penjara, dia baru sadar betapa dirinya benar-benar sebatang kara di dunia ini.
    "Dulu saat masih di penjara, meski sudah dicerai istri dan sudah pula dijauhi semua kerabat dan teman-teman saya, saya tidak merasa sebatang kara. Ada banyak yang jauh lebih buruk dari saya. Lagi pula, saya juga punya banyak teman di penjara." Mudakir terdiam sejenak, sebelum melanjutkan, "Sekarang situasinya sangat lain. Di luar penjara, saya baru tahu bagaimana rasanya sebatang kara. Bahkan, saya sempat lupa betapa saya ini sebenarnya memang sebatang kara!"
    Orang itu mendengarkan pengakuan Mudakir dengan saksama, tetapi tidak secuil pun kalimat tanggapan keluar.
    Begitu tiba di rumah orang itu, yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Ivan, Mudakir lagi-lagi hanya dapat berdiri kaku. Ivan mengajaknya masuk ke ruang tamunya, sebab tidak mungkin mereka membicarakan tentang banyak hal di halaman depan.
    "Apa Anda punya semacam pekerjaan untuk saya? Saya bersedia mengerjakan apa pun, karena saya tahu fisik saya masih kuat," kata Mudakir sembari melangkah masuk mengikuti Ivan yang berjalan lebih dulu.
    Ivan bilang, Mudakir akan dia beri bantuan, tetapi bukan pekerjaan. Hanya berupa tempat tinggal dan makan secara teratur setiap hari. Terdengar aneh tentu saja. Mudakir bertanya, apa latar belakang Ivan melakukan hal demikian?
    "Anda hanya perlu tinggal dan beristirahat di tempat yang saya sediakan, dan Anda tidak perlu pergi ke tempat kerja," kata Ivan tanpa memandang mata Mudakir.
    Mudakir tidak mendapat penjelasan apa-apa selama beberapa hari itu, meski Ivan telah memberinya tempat tinggal, berupa rumah yang terletak tak jauh dari rumah Ivan, dan tentu saja makanan yang menyehatkan.
    Mudakir tak terlalu sering melihat Ivan di sekitar sini, tetapi dia sering disambangi oleh istri Ivan yang bisu, sehingga tidak bisa mengajaknya berbicara, kecuali tersenyum. Istri Ivan adalah orang yang sangat baik di mata Mudakir, sebab perempuan itulah yang menyiapkan makanan untuknya setiap hari.
    Tentu bantuan yang luar biasa dari orang-orang asing ini membuat Mudakir tidak nyaman. Ia bertanya kepada Ivan, dengan kegigihan yang juga tidak kalah luar biasa, tetapi ia tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan.
    Ivan hanya mengatakan, "Saya senang saja membantu Anda yang tidak mempunyai keluarga, Pak."
    Bagi Mudakir, jawaban itu memang kurang memuaskan, karena alangkah mustahil, bahkan bagi orang tulus seperti Ivan, untuk bisa begitu saja menampung seseorang yang sama sekali asing, apalagi status sebagai mantan napi memungkinkan Mudakir berbuat hal-hal yang tidak diinginkan.
    Kemustahilan ini lama-lama membuat Mudakir tidak tahan dan bermaksud pergi ke suatu tempat entah di mana, yang jauh dari tempat ini. Dia tahu, dunia luar berbeda dari dunianya sebelum masuk penjara.
    Dunia luar pada hari ini adalah dunia yang sarat teknologi canggih, yang bagi Mudakir setara benda-benda dari luar angkasa. Dia bahkan tidak bisa menelepon dengan telepon umum di tepi jalan. Untuk menelepon, dia harus membawa-bawa sebuah benda pipih yang bersinar dan sangat asing, yang tentu saja tidak dia miliki.
    Pada suatu sore, setelah istri Ivan pamit pulang, Mudakir memutuskan kabur tanpa tujuan. Ia mulai yakin di luar sana akan dapat menemukan pekerjaan dari siapa pun, dan ia tidak harus mengaku-ngaku sebatang kara. Mungkin dia hanya perlu mengatakan saat ini dia baru saja keluar dari penjara dan butuh pekerjaan. Seseorang sudah pasti berpikir betapa semangatnya dia, sehingga sudi memberinya pekerjaan.
    Hanya saja, sebelum Mudakir benar-benar pergi, Ivan sudah mencegatnya dan dia terlihat menangis tersedu-sedu. Apa yang terjadi sebenarnya bukanlah kebetulan. Ivan telah mendengar kisah pilu Mudakir di penjara, yang terjebak di sana selama beberapa dekade akibat menghabisi seorang pembuat onar.
    "Dari mana Nak Ivan tahu?" tanya Mudakir dengan bergetar.
    "Saya dengar semua dari almarhum bapak saya, yang juga mendengar kisah Anda dari almarhum kakek saya, Markoni."
    Ivan pun membongkar ini, meski dari awal harusnya ia telah melakukannya. Ivan hanya belum siap saja. Dan sekarang, tentu saja dia siap.
    Mudakir, tanpa meminta penjelasan lebih jauh, tahu arah pengakuan Ivan. Markoni adalah teman dekatnya yang mempunyai bioskop legendaris tersebut. Malam itu, empat puluh tahun lalu, bersama Markoni yang saat itu telah mempunyai anak satu dan istrinya hamil dua bulan, dia mendatangi rumah sang pembuat onar dan membunuhnya.
    "Orang-orang hanya tahu Anda sendiri pelakunya, padahal almarhum kakek saya juga turut ambil bagian," kata Ivan dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi. "Kakek saya tahu dia amat berdosa karena membiarkan Anda terjebak di penjara sendirian, dan dia sendiri tidak berdaya karena Anda menghilangkan bukti-bukti keterlibatannya demi menyelamatkan keluarganya, yang tentu saja berimbas pada kehidupan baik yang kini saya dapatkan. Saya cucu Markoni dan saya mendengar semua itu tanpa kurang satu kata pun! Dan inilah akibat semua yang telah terjadi. Saya mohon Bapak jangan pergi dari sini. Tinggallah di sini dan habiskan masa-masa tua Anda di sini!"
    Mudakir benar-benar tidak dapat berucap apa pun.
    Kisah Mudakir, yang disampaikan kakek Ivan, membuat ayahnya mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut jika suatu hari Mudakir pulang. Itu termasuk mendidik Ivan dengan cara lurus; tidak melupakan orang yang secara berani berkorban demi semua orang di lingkungan mereka. Sekarang, ayah Ivan telah meninggal, tetapi wasiat itu, tentang membantu Mudakir sepulang dari penjara, benar-benar dijalankan oleh cucu Markoni tanpa kurang sepatah kata pun. [ ]
   
    Gempol, 2017-2018

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), dan Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018).

Most Favourable:

Mengirim Cerpen ke Media Massa & Kumpulan Alamat E-mail Cerpen Media se-Indonesia

Banyak pertanyaan tentang bagaimana cara mengirim tulisan (khususnya cerpen) ke media massa. Jawabannya tidak sesingkat pertanyaannya. Untuk itulah, kali ini saya sajikan secara lengkap tata cara mengirim tulisan (khususnya cerpen) ke media massa yang selama ini saya terapkan. Selain itu, saya juga akan membagi kumpulan e-mail puluhan media yang ada di Indonesia lengkap dengan syarat dan ketentuan masing-masing. Di bawah ini adalah tata cara mengirim cerpen ke media. Untuk kumpulan alamat e-mail media, bisa kamu download di akhir postingan.

Menahan Mulas di Dalam Kelas

Tiba-tiba kepikiran nulis hal memalukan yang pernah terjadi di hidupku. Yah, bagi kalian, siapa pun yang gak sengaja membaca tulisan ini, di mana pun kalian berada, silakan tertawa sepuasnya, meski nanti yang kutulis belum tentu lucu. Dan setelah puas tertawa, kudoakan semoga kalian terhibur. Apa sih hal memalukan itu? Gak kuat nahan BAB di dalam kelas. Gimana ceritanya bisa begini, mulanya pas sehari sebelum kejadian. Waktu itu aku masih SMP. Ibu beli sekaleng biskuit Nissin rasa kepala, eh, kelapa. Tahu, 'kan? Yang kalengnya warna item , terus biskuitnya berbentuk persegi panjang gepeng? Nih, kukasih gambarnya biar gak susah jelasin .

[Esai]: "Tere Liye yang 'Segala Warna'" karya Ken Hanggara

Sumber gambar: pinimg.com (Dimuat di basabasi.co , 19 November 2015) Dunia literasi menuntut pegiatnya selalu kreatif. Ya, kita tahu banget itu. Tetapi, mengapa kita tak bisa selalu kreatif, ya? Melihat deretan buku di rak toko, mestinya sudah lebih dari cukup mendorong para penulis muda seperti saya untuk (segera) bisa beradaptasi secara kreatif. Pikir punya pikir, saya akhirnya menyadari bahwa fakirnya kreativitas kita disebabkan kita kurang piknik! Mari tanya Tere Liye, kenapa para penulis perlu piknik? Jawabnya akan sangat simpel: dengan piknik, pikiran menjadi segar, pengetahuan bertambah luas, dan dengan sendirinya kreativitas akan selalu berkembang. Setelah membaca novel-novel Tere Liye, saya kian yakin bahwa beliau ini hobi piknik. Tanpa piknik, nama beliau tidak mungkin sebesar kini. Agak sok tahu memang, tapi sudahlah jangan didebat. Apa belum capek juga berdebat-debat setiap saat tentang segala hal, yang sebagiannya jelas hanya membuatmu terlihat sangat luc

[Cerpen]: "Doa Ibu" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Tabloid NOVA edisi 1595/17-23 September 2018)       Sudah dua tahun aku menganggur dan tidak juga dapat pekerjaan. Ibu satu-satunya orang yang bersabar melihatku berusaha. Tapi, aku lebih sering berdiam di kamar dan di depan laptop kutulis beberapa hal menjadi semacam cerita. Aku tidak tahu akan kubawa ke mana tulisan-tulisan itu, tetapi di lubuk hati, kuharap tulisanku terbit sehingga aku mendapat uang agar orang tidak memandangku remeh.     Sebagai perempuan yang tak pernah berpacaran dan punya sedikit teman, aku tidak terlalu bahagia ketika keluar rumah. Ibu sering menyuruhku pergi entah ke mana, jika tidak ada kegiatan berburu pekerjaan di job fair atau hal-hal semacam itu. Biasanya aku hanya mengajak satu teman, atau sendirian, dan di toko buku kuhabiskan setengah hari untuk berkeliling dari rak ke rak dengan membawa rasa sepi yang sesak.     Aku tahu apa yang kulakukan tidak berarti apa-apa. Ijazahku seakan tidak berguna. Melamar kerja ke sana kemari pun tidak dap

[Esai]: "Membangun Budaya Membaca Melalui Tanda Baca" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Surabaya, Minggu, 27 Maret 2016)       Media sosial dewasa ini, terutama Facebook, menumbuhkan bibit-bibit "penulis" baru. Bagaimana tidak begitu? Facebook kini tidak sekadar sebagai sarana update status seputar aktivitas sehari-hari, tetapi juga forum diskusi, fasilitas penampungan berbagai opini, serta tentu saja media untuk promosi bisnis.     Bibit-bibit "penulis" dalam hal ini bukan hanya mereka yang memang berniat ingin menjadi penulis sungguhan (konon, mereka yang menulis dan terbit dalam bentuk buku atau dimuat di media masa, itulah yang disebut sebagai penulis; terlepas dari pro dan kontra pendapat ini), melainkan juga mereka yang ingin sekadar bicara. Dan bagai riuh rendah suara di pasar tradisional, kita menemukan alangkah banyak suara-suara yang tidak berharap jadi tenar dalam upaya publikasi di bidang literasi, namun sekadar berangan ingin didengar.

Review Buku: "Ketabuan di Tengah Penjunjungan Tata Krama"

        Judul buku: Nyai Gowok     Penulis: Budi Sardjono     Kategori: Novel dewasa     Penerbit : Diva Press     ISBN : 978-602-255-601-5     Terbit : Mei 2014     Tebal : 332 halaman         Bagus Sasongko, pemuda belasan tahun, yang ketika itu sudah mulai memasuki masa akil baligh , sedang gundah gulana sebab kejadian yang akhir-akhir ini ia alami. Irawan (kakak kandungnya) beserta Kang Bogang (tukang rawat kuda di rumah ayahnya), belakangan menggodanya tentang keharusan seorang bocah yang beranjak dewasa untuk belajar mengenal seks dan seluk beluk tubuh wanita dewasa.

[Cerpen]: "Surga Pembangkang" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Kompas, Minggu, 8 Oktober 2017)       Herman bermain-main di dalam tubuhku. Ia bajak laut dan aku cangkang raksasa. Ia membawa sepuluh prajurit terakhir di hari menjelang kiamat, lalu bersembunyi dalam cangkang—dalam aku—bersama kesepuluh prajuritnya.     "Sekarang kamu putuskan sebaiknya mengusir kami atau tidak. Sebab kalau sudah telanjur sembunyi, sampai sembilan bulan kami tidak keluar," kata Herman padaku.     Aku tidak ingin dia pergi, maka kukatakan terserah pada mereka.     Begitulah, Herman dan sepuluh lelaki gagah perkasa tidur dalam cangkangku pada satu malam. Tubuh mereka hangat dan basah. Aku sesak napas karena tubuhku ini tidak terlalu luas untuk menampung terlalu banyak manusia.     Suatu hari Herman bertanya kenapa aku merenung. Kujawab aku lelah, tetapi tidak sekali-kali membayangkan ingin membuang Herman dari hidupku. "Kau jadi bagianku, aku bagianmu," kataku.     Herman menambahkan betapa kami memang satu, sekalipun sepuluh prajuri