Skip to main content

[Cerpen]: "Doa Ibu" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Tabloid NOVA edisi 1595/17-23 September 2018)
 
    Sudah dua tahun aku menganggur dan tidak juga dapat pekerjaan. Ibu satu-satunya orang yang bersabar melihatku berusaha. Tapi, aku lebih sering berdiam di kamar dan di depan laptop kutulis beberapa hal menjadi semacam cerita. Aku tidak tahu akan kubawa ke mana tulisan-tulisan itu, tetapi di lubuk hati, kuharap tulisanku terbit sehingga aku mendapat uang agar orang tidak memandangku remeh.
    Sebagai perempuan yang tak pernah berpacaran dan punya sedikit teman, aku tidak terlalu bahagia ketika keluar rumah. Ibu sering menyuruhku pergi entah ke mana, jika tidak ada kegiatan berburu pekerjaan di job fair atau hal-hal semacam itu. Biasanya aku hanya mengajak satu teman, atau sendirian, dan di toko buku kuhabiskan setengah hari untuk berkeliling dari rak ke rak dengan membawa rasa sepi yang sesak.
    Aku tahu apa yang kulakukan tidak berarti apa-apa. Ijazahku seakan tidak berguna. Melamar kerja ke sana kemari pun tidak dapat panggilan. Di pertemuan keluarga besar, setiap orang menyerbu dengan pertanyaan ini-itu, seakan hiburan bagi mereka, dan yang paling sering kudengar adalah saran agar aku segera menikah.
    Perempuan tidak terlalu sulit memulai, begitu kata mereka. Ya, kalau aku paham seluk beluk lelaki atau dapat kuambil sembarang lelaki yang bisa dan mau menikahiku, seperti ketika dahulu kita mengambil permen yang kita suka dari stoples.
    Sayangnya, hidup tidak seperti memungut permen. Memilih calon pendamping tidak semudah itu.
    Aku malas berkumpul dengan keluarga besar adalah karena hal ini, tapi Ibu selalu membelaku dan membesarkan hatiku.
    Kubilang kepada Ibu, "Aku tidak suka dibandingkan dengan sepupu-sepupu yang lebih dulu menikah, padahal mereka lebih muda. Dan mereka juga tidak kuliah, bahkan beberapa di antaranya setelah lulus SMA langsung dilamar. Aku tidak seperti mereka, Bu!"
    Ibu cuma bisa menyabarkanku. Tidak ada Ibu seputih ibuku di dunia ini, kukira. Itu karena aku anak semata wayangnya, tetapi beliau tak terlihat tertekan jika saja beberapa anggota keluarga besar "menyerangku" seperti biasa.
    Entah kenapa, aku merasa mereka memang menyerangku. Semacam cara agar aku terlihat kalah dan pecundang. Aku tak tahu apa masalah saudara-saudara Ibu. Sepertinya mereka membenci Ibu dan keluarganya. Ayahku meninggal sejak aku masih kecil. Ibuku bekerja membanting tulang demi menyekolahkanku setinggi ini, dengan jualan nasi bungkus dan menerima pesanan kue kering. Aku tidak tahu kenapa semua saudara Ibu yang kaya dan hidup makmur berkat suami mereka, yang juga tahu betapa hidup Ibu tidak mudah, seakan bahagia jika kami menderita.
    Ibu tidak berpandangan seperti itu.
    "Kamu saja yang sensitif," selalu itu yang Ibu katakan.
    Aku tidak sensitif, tetapi bisa menilai motif di balik sikap pura-pura dan sok peduli mereka. Semua itu karena mereka bahagia aku tidak kunjung sukses dan jadi beban bagi ibuku. Setahuku memang mereka membenci kami. Hanya saja, aku tak tahu sebabnya, dan Ibu tidak pernah bercerita apa-apa kepadaku soal itu.
    Aku ingin sukses. Semua orang tentu saja menginginkan itu. Setiap manusia lahir ke bumi dibekali semacam naluri untuk memilih segala yang terbaik bagi dirinya. Aku pun ingin segala sesuatu yang terbaik datang padaku.
    Ketika itu, lulus SMA, ada polisi datang melamarku. Dia anak orang terpandang dan kaya, hingga saudara-saudara Ibu sempat menaruh kagum padaku. Indriana menarik hati lelaki terpandang. Itu yang selalu mereka perbincangkan. Tapi, bagiku ketika itu, yang terbaik bukanlah menjadi istri seorang lelaki terpandang. Atau sebut saja belum sejauh itu. Yang terbaik bagiku adalah mimpi menjadi wanita karier.
    Aku tidak pernah tertarik dengan lelaki mana pun. Tidak pernah jatuh cinta. Jika hampir semua sahabatku di sekolah pernah berpacaran, bahkan ada yang sampai beberapa kali putus, cuma aku satu-satunya yang tidak. Mereka pun menjulukiku putri malu yang kesepian.
    Ketika itu impianku menjadi sarjana dan wanita karier begitu besar dan menggebu. Lulus SMA dengan nilai terbaik, yang kupikirkan cuma satu: bagaimana aku bisa kuliah? Beasiswa? Lalu, apa lagi? Segalanya pun kulakukan untuk mimpiku. Sedangkan, polisi yang melamarku itu, sama sekali tidak kupikirkan.
    Begitulah bagaimana akhirnya lelaki itu menyerah mendapatkanku, dan kini sudah menikah dengan teman lamaku semasa SD. Aku tahu karena ia mengundangku, dan di acara resepsi pernikahan itu, sang polisi terus memandangiku dengan penuh penyesalan. Aku tak pernah menyesal, jika memang sesuatu yang bukan takdirku, tidak kudapatkan. Ibu juga tak pernah menyalahkanku atas sesuatu yang dianggap kegagalan atau bahkan kemunduran oleh keluarga besarnya.
    "Indriana tidak jadi nikah sama polisi itu. Dasar gadis nggak tahu diuntung. Kalau dia anakku, wah ... sudah kuomeli! Kalau perlu dipaksa, ya paksa saja!" kata salah satu bibiku.
    Aku dengar langsung kalimat itu, diucapkan keras-keras di depan ibuku dan semua anggota keluarga lain dalam sebuah pertemuan di hari lebaran. Bukannya hati memutih dan suci, bibi-bibiku semuanya hampir melubangi hatinya sendiri dengan penyakit yang mengerikan. Tentu, Ibu hanya menunduk dan tersenyum.
    Ibu sering berdoa. Ia selalu berdoa untukku, untuk yang terbaik bagi anak semata wayangnya. Tapi, aku gagal memenuhi harapannya, dan bahkan gagal mencapai yang dahulu kuimpikan. Setelah menjadi sarjana, aku yang tidak juga dapat pekerjaan ini serasa ksatria yang siap berperang, tapi sesaat setelah masuk ke laga peperangan, ksatria itu kehilangan senjata.
    Aku tak memiliki senjata apa-apa, selain kekuatan mengebalkan perasaan dari sakit hati akibat cibiran mereka, juga ide-ide tidak berguna yang pada akhirnya cuma menjadi setumpuk kertas sampah. Cerita-cerita yang kutulis itu tidak pernah terbit dan tidak ada satu pun yang menghasilkan uang.
    Ibu sering menyarankanku untuk keluar rumah dan mencari kenalan atau apalah. Ia kira, dengan memperluas pergaulan, aku bisa meraih apa yang kuimpikan. Suatu malam aku tidur sambil menyembunyikan tangisku. Pasalnya, malam itu, di meja belajarku, Ibu datang memelukku dari belakang.
    Ibu berbisik dengan suara lembutnya, "Hidup ini perlu sesekali santai, Nak. Tetapi bukan artinya kita bersenang-senang setiap hari. Maksud Ibu, kamu tidak usah pikirkan apa yang orang lain pikirkan tentangmu. Mereka belum tentu benar, dan boleh jadi apa yang kamu pikirkan tidak benar. Yang terpenting, jalani apa yang ada hari ini dengan sebaik mungkin."
    Aku resapi kalimat itu, dan kurasa benar yang Ibu bilang. Tak perlu memikirkan yang orang lain katakan tentangku yang tak juga berhasil keluar dari cangkang ibuku. Tak perlu memikirkan kapan aku sukses dan berganti menaungi ibuku yang selama dua puluh tahun lebih menjagaku dengan segenap daya dan upayanya. Yang terpenting adalah: lakukan segalanya dengan usaha terbaik.
    Dengan membawa pikiran positif ini, beberapa hari setelah meyembunyikan tangis itu, aku tenang menjalani hidup. Duduk di depan laptop, apa yang kutulis menjadi lebih bermakna. Kurasa, kondisi hati dan pikiran baik membuat segalanya menjadi jernih.
    Dua bulan kemudian, setelah hampir menyerah dan berhenti menulis, kudengar kabar salah satu cerita pendekku terbit di salah satu majalah perempuan ternama. Yang berikutnya, aku lebih percaya diri. Satu demi satu ceritaku pun terbit dan namaku mulai dikenal sebagai penulis fiksi. Karena inilah aku punya lebih banyak teman, yang pada akhirnya menggiringku ke pekerjaan bagus di penerbitan ternama.
    Sejak perubahan besar ini, yang berlangsung kurang lebih setahun, keluar rumah bukan menjadi siksaan tertentu. Aku kini bisa berkeliling di toko buku, dari rak ke rak, dengan membawa rasa percaya diri penuh. Salah satu naskahku terbit menjadi buku dan diminati pembaca. Sesekali aku menghadiri launching buku teman-teman yang kukenal di media sosial. Ada banyak penulis dan komunitas penulis yang kukenal di Facebook. Semua itu memompa semangat dan keyakinanku, bahwa seburuk apa pun keadaanku pada suatu hari, Tuhan tidak akan memperburuk itu selama aku mau berusaha.
    Berkat menulis, aku bertemu calon suami yang sesuai dambaan Ibu. Ia penulis dan pengusaha yang sukses. Ia rajin beribadah dan tidak banyak tingkah. Keluarga besar Ibu tentu memujiku, dan aku tahu kali ini mereka benar-benar berbeda.
    Beberapa di antara mereka, sepupu-sepupuku itu, yang sudah nikah dan tengah mengalami beberapa guncangan dalam rumah tangga, datang kepadaku untuk meminta saran. Aku membantu mereka sepenuh hati. Hubungan keluarga kami pun tidak seburuk di masa lalu.
    Suatu malam, setelah sekian tahun, Ibu kembali memelukku dari belakang. Ibu tak berkata apa-apa, hanya menangis terharu. Aku tahu, semua itu tidak cukup mengungkap segala perasan yang ingin Ibu tumpahkan.
    Maka, kupeluk balik Ibu dan kukatakan, "Ini berkat Ibu. Tanpa doa dan restu Ibu, Indri tidak akan begini."

    Gempol, 2016-2018

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media.

Most Favourable:

Mengirim Cerpen ke Media Massa & Kumpulan Alamat E-mail Cerpen Media se-Indonesia

Banyak pertanyaan tentang bagaimana cara mengirim tulisan (khususnya cerpen) ke media massa. Jawabannya tidak sesingkat pertanyaannya. Untuk itulah, kali ini saya sajikan secara lengkap tata cara mengirim tulisan (khususnya cerpen) ke media massa yang selama ini saya terapkan. Selain itu, saya juga akan membagi kumpulan e-mail puluhan media yang ada di Indonesia lengkap dengan syarat dan ketentuan masing-masing. Di bawah ini adalah tata cara mengirim cerpen ke media. Untuk kumpulan alamat e-mail media, bisa kamu download di akhir postingan.

Menahan Mulas di Dalam Kelas

Tiba-tiba kepikiran nulis hal memalukan yang pernah terjadi di hidupku. Yah, bagi kalian, siapa pun yang gak sengaja membaca tulisan ini, di mana pun kalian berada, silakan tertawa sepuasnya, meski nanti yang kutulis belum tentu lucu. Dan setelah puas tertawa, kudoakan semoga kalian terhibur. Apa sih hal memalukan itu? Gak kuat nahan BAB di dalam kelas. Gimana ceritanya bisa begini, mulanya pas sehari sebelum kejadian. Waktu itu aku masih SMP. Ibu beli sekaleng biskuit Nissin rasa kepala, eh, kelapa. Tahu, 'kan? Yang kalengnya warna item , terus biskuitnya berbentuk persegi panjang gepeng? Nih, kukasih gambarnya biar gak susah jelasin .

[Esai]: "Tere Liye yang 'Segala Warna'" karya Ken Hanggara

Sumber gambar: pinimg.com (Dimuat di basabasi.co , 19 November 2015) Dunia literasi menuntut pegiatnya selalu kreatif. Ya, kita tahu banget itu. Tetapi, mengapa kita tak bisa selalu kreatif, ya? Melihat deretan buku di rak toko, mestinya sudah lebih dari cukup mendorong para penulis muda seperti saya untuk (segera) bisa beradaptasi secara kreatif. Pikir punya pikir, saya akhirnya menyadari bahwa fakirnya kreativitas kita disebabkan kita kurang piknik! Mari tanya Tere Liye, kenapa para penulis perlu piknik? Jawabnya akan sangat simpel: dengan piknik, pikiran menjadi segar, pengetahuan bertambah luas, dan dengan sendirinya kreativitas akan selalu berkembang. Setelah membaca novel-novel Tere Liye, saya kian yakin bahwa beliau ini hobi piknik. Tanpa piknik, nama beliau tidak mungkin sebesar kini. Agak sok tahu memang, tapi sudahlah jangan didebat. Apa belum capek juga berdebat-debat setiap saat tentang segala hal, yang sebagiannya jelas hanya membuatmu terlihat sangat luc

[Esai]: "Membangun Budaya Membaca Melalui Tanda Baca" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Surabaya, Minggu, 27 Maret 2016)       Media sosial dewasa ini, terutama Facebook, menumbuhkan bibit-bibit "penulis" baru. Bagaimana tidak begitu? Facebook kini tidak sekadar sebagai sarana update status seputar aktivitas sehari-hari, tetapi juga forum diskusi, fasilitas penampungan berbagai opini, serta tentu saja media untuk promosi bisnis.     Bibit-bibit "penulis" dalam hal ini bukan hanya mereka yang memang berniat ingin menjadi penulis sungguhan (konon, mereka yang menulis dan terbit dalam bentuk buku atau dimuat di media masa, itulah yang disebut sebagai penulis; terlepas dari pro dan kontra pendapat ini), melainkan juga mereka yang ingin sekadar bicara. Dan bagai riuh rendah suara di pasar tradisional, kita menemukan alangkah banyak suara-suara yang tidak berharap jadi tenar dalam upaya publikasi di bidang literasi, namun sekadar berangan ingin didengar.

Review Buku: "Ketabuan di Tengah Penjunjungan Tata Krama"

        Judul buku: Nyai Gowok     Penulis: Budi Sardjono     Kategori: Novel dewasa     Penerbit : Diva Press     ISBN : 978-602-255-601-5     Terbit : Mei 2014     Tebal : 332 halaman         Bagus Sasongko, pemuda belasan tahun, yang ketika itu sudah mulai memasuki masa akil baligh , sedang gundah gulana sebab kejadian yang akhir-akhir ini ia alami. Irawan (kakak kandungnya) beserta Kang Bogang (tukang rawat kuda di rumah ayahnya), belakangan menggodanya tentang keharusan seorang bocah yang beranjak dewasa untuk belajar mengenal seks dan seluk beluk tubuh wanita dewasa.

[Cerpen]: "Surga Pembangkang" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Kompas, Minggu, 8 Oktober 2017)       Herman bermain-main di dalam tubuhku. Ia bajak laut dan aku cangkang raksasa. Ia membawa sepuluh prajurit terakhir di hari menjelang kiamat, lalu bersembunyi dalam cangkang—dalam aku—bersama kesepuluh prajuritnya.     "Sekarang kamu putuskan sebaiknya mengusir kami atau tidak. Sebab kalau sudah telanjur sembunyi, sampai sembilan bulan kami tidak keluar," kata Herman padaku.     Aku tidak ingin dia pergi, maka kukatakan terserah pada mereka.     Begitulah, Herman dan sepuluh lelaki gagah perkasa tidur dalam cangkangku pada satu malam. Tubuh mereka hangat dan basah. Aku sesak napas karena tubuhku ini tidak terlalu luas untuk menampung terlalu banyak manusia.     Suatu hari Herman bertanya kenapa aku merenung. Kujawab aku lelah, tetapi tidak sekali-kali membayangkan ingin membuang Herman dari hidupku. "Kau jadi bagianku, aku bagianmu," kataku.     Herman menambahkan betapa kami memang satu, sekalipun sepuluh prajuri