Skip to main content

Telusuri Dulu Kenyataannya, Baru Menilai Seseorang

Suatu ketika saya bertemu artis yang dulu sempat saya kagumi karena kepribadian dan aktingnya. Waktu itu kami sama-sama syuting di Persari, studio besar di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan. Saya masih peran kecil-kecilan dan dia peran utama. 

Saya tidak sampai berpikir bakal ada jembatan antar-kasta, mengingat kebaikan dia di saat wawancara atau menghadiri undangan talkshow di layar kaca. Ternyata saya salah besar. Artis ini seratus delapan puluh derajat berbeda jika ditemui di dunia nyata. Ia tidak ramah dan bahkan cenderung menganggap saya tidak ada. Padahal saya cukup cerdik mengambil momen menyapanya ketika kami di musala selesai salat magrib; lagi pula saya menyapanya dengan wajar dan tidak dengan cara memalukan. 

Di saat sikap cuek dan tidak menganggap saya itu muncul, dia sibuk ketawa-ketiwi dengan artis lain yang saya tahu bersahabat dengannya. Saya perhatikan artis lain ini agak tidak enak melihat teman artisnya mencueki seorang penggemar, tetapi sejak itu, sejak 'foto bareng' terpaksa yang ia berikan untuk saya, tidak ada lagi kekaguman. Semua luntur tiada sisa.

Sebelumnya saya sempat bertemu artis lain yang tidak begitu saya kagumi, tetapi setelah kami salat dhuhur bareng, saya jadi kagum. Ia tidak sombong, padahal sebelum jadi artis juga keluarganya sudah kaya raya. Begitulah manusia, yang tidak bisa kita duga-duga wujud aslinya, tak peduli sekeren atau seburuk apa, kalau belum bertatap muka.

Cukup kecewa saya ketika justru pertemuan pertama dengan artis yang saya kagumi tidak seperti harapan. Sejak itu, saya tidak lagi minta foto bareng dengan artis mana pun (cukup sekali itu saja), sekalipun bertemu artis yang saya kagumi. Mungkin sebatas ngobrol sudah lebih dari cukup untuk disyukuri. Obrolan dengan beberapa artis rendah hati membayar kekecewaan saya.

Maka, jangan gegabah menilai orang sebelum kita benar-benar tahu kenyataannya.

Comments