Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Wednesday, 20 March 2019

[Cerpen]: "Sabda Tuhan di Kepala Orang Gila" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Jawa Pos, Minggu, 17 Maret 2019)

    Aku ingin makan, tetapi tidak punya uang. Jadi, kuminta uang kepada semua orang di pasar. Setiap kutemui punggung seseorang, aku berdoa supaya hati orang itu diketuk sedemikian rupa oleh-Nya, sehingga membantuku yang sedang kelaparan. Lalu kutepuk punggung itu, dan dengan wajah memelas, kukatakan kalimat ini dengan begitu syahdu: "Minta uang dong?"
    Aku tahu, mungkin jika tidak makan hari ini aku masih hidup. Baru sampai besok lusa, jika aku benar-benar tidak makan apa pun, aku akan mati di pasar ini, atau di mana pun yang tidak jauh dari pasar ini.
    Sulit membayangkan akan mati seperti apa dan di mana, jika Anda hidup sebatang kara di suatu pasar, dan bermata juling, dan berotak separuh sapi, dan berbadan sebesar badak. Itulah aku, dengan segala ciriku. Hidup sendiri di pasar, pindah dari satu kota ke kota lain, hanya untuk makan.
    Seharusnya orang kasihan kepadaku dengan mata julingku yang sulit membuatku bekerja di mana pun. Aku gampang lelah dan tidak beres menggarap hampir semua hal. Misalnya, aku tidak bisa menghitung dengan pas, dan mungkin juga tidak dapat bekerja di tempat fotokopian, dengan tugas memencet-mencet tombol mesin fotokopi.
    Aku sering membatin, bahwa mungkin Tuhan menciptakanku untuk ini; terkadang beberapa hal sulit diterima, tetapi kuyakin memang begitulah adanya, yaitu aku dicipta sebagai sarana manusia lain menuju surga. Aku didesain Tuhan menjadi pengemis yang dapat membangkitkan gairah kemanusiaan orang-orang. Aku dirancang sedemikian rupa oleh-Nya agar orang-orang tidak lupa sedekah. Jika sudah begitu, surga bakalan mereka dapat.

Monday, 11 March 2019

[Cerpen]: "1000 Tahun Demi Maria" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Haluan edisi Minggu, 10 Maret 2019)

    Ada alasan-alasan tertentu yang membuatku ingin tetap di sini. Aku tidak akan ke mana-mana dan terus di sini sampai tua. Aku akan tetap bertahan hingga seribu tahun di tempat yang sama dan mungkin sambil menyesali perasaan yang tak pernah dia dengar. Tentu, tidak ada cerita ini seandainya aku tidak pernah tahu di bumi ini pernah hidup seorang Maria.
    Aku tidak tahu nama gadis itu sebenarnya. Aku hanya spontan menyebutnya Maria. Kupikir nama itu cocok untuknya dan mudah diingat. Jadi, tidaklah salah menyebutnya Maria. Dia begitu cantik dan menyerupai bidadari ketimbang manusia.
    Ketika kukatakan soal Maria, tidak semua orang percaya. Di sini tidak ada bidadari. Ini sarang setan dan bidadari ada kalau engkau pergi seribu mil jauhnya. Itu pun kalau beruntung!

[Cerpen]: "Perempuan Seteguh Karang" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Tabloid NOVA edisi 1618/XXXI 25 Februari - 3 Maret 2019)

    Kamarku berada di lantai dua. Ada balkon yang menghadap barat, sehingga setiap sore sepulang kerja, aku dapat menikmati sunset sekaligus memandangi foto anak-anak. Sesekali kuhirup aroma masakan dari jendela sebelah; tetanggaku, perempuan sebatang kara yang sudah cukup tua dan kuanggap sebagai tanteku sendiri, sedang membuat kue kering. Biasanya ia datang setiap sore untuk menikmati sunset bersamaku di sini sambil minum teh dan makan kue kering.
    Foto-foto tadi kutata dengan rapi di meja dekat jendela menuju balkon. Tidak ada yang tidak bertanya foto siapa saja itu. Semua teman sesama pekerja yang mampir ke sini atau tetanggaku tadi, selalu bertanya-tanya bagaimana anak-anakku itu? Apakah selucu yang di foto? Atau, beberapa kali lebih lucu? Mereka memang lucu. Aku bahkan tidak bosan menangis karena rindu kepada mereka. Di antara foto anak-anakku, terdapat foto almarhum suamiku. Perbedaan foto suamiku dengan foto anak-anak: tidak pernah ada yang bertanya lebih lanjut tentangnya.

[Cerpen]: "Sisa Cinta" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Bromo edisi Minggu, 24 Februari 2019)

    Seorang pria berdoa kepada Tuhan supaya dia tidak lagi memiliki cinta di hatinya. Jika saja masih ada sisa-sisa cinta di seluruh bagian hatinya, biarlah itu berubah menjadi kebencian atau sekalian dihapus dan tak perlu menjadi apa-apa. Pria itu lalu memikirkan bentuk cintanya yang tiba-tiba menjadi segenggam debu; ia akan tertiup ke sana kemari dan tidak lama lagi hilang tanpa bekas. Debu-debu itu tentu tak benar-benar hilang dari semesta, melainkan akan menyisa sebagai butiran yang tiada punya arti, karena terpisah dari asalnya dan kini sendiri begitu saja. Sebutir debu, menurutnya, sama saja dengan bukan apa-apa.
    Tapi, mungkin saja, sisa-sisa cinta itu berubah menjadi kebencian. Bagaimana jika Tuhan mengabulkan permintaan yang satu itu? Anggap saja bentuk cinta yang tersisa itu kini serupa setangkai mawar. Sesuatu yang terlihat indah, namun ia dapat melukai setiap orang dengan duri. Pria itu senang membayangkan cinta yang dulu dia miliki menjadi luka bagi setiap orang tanpa tebang pilih.

[Cerpen]: "Mengantar Utami Pulang" karya Ken Hanggara

Gambar dari deviantart.com
(Dimuat di nyimpang.com pada 24 Februari 2019)

    Akhirnya Utami pergi tanpa pamit. Aku mencarinya ke seluruh bagian kota busuk ini, karena tidak yakin gadis itu dapat menahan godaan bunuh diri. Dengan menumpang mobil butut pinjaman dari seorang teman, kutelusuri bagian-bagian kota yang selama ini tidak pernah kulewati.
    Aku tidak terlalu yakin melakukan ini, tetapi sebagai laki-laki yang mengakibatkan dia datang ke kota ini dan berharap mendapatkanku sebagai suaminya, aku rasa akulah yang akan dimintai lebih banyak keterangan di kantor polisi jika saja Utami nanti bunuh diri. Dan bagiku, semua itu sangat kubenci. Pasalnya, Utami kemari bukan karena upaya menggoda yang kuperbuat, melainkan dorongan kedua orang tua kami. Inilah alasanku selalu membenci perjodohan.
    Keterpaksaan ini menjadi siksaan tersendiri di kepalaku. Selama nyaris dua jam, di seluruh pojok-pojok tergelap, mobil yang kutumpangi berasa menyusut setiap detik, dan aku membayangkan bangku kemudi ini lama-lama dapat membuatku mati terjepit.
    "Jika saja itu bisa terjadi, aku lebih suka mati terjepit ketimbang harus menemukan Utami mati tergantung di suatu pohon atau tiang jembatan!" pikirku seketika. Aku tahu itu agak kasar, tapi memang itulah yang dapat kuharapkan terjadi.
    Tentu saja, aku masih menyayangi nyawaku sendiri dan tidak mungkin bunuh diri. Jika saja aku dapat hidup berpuluh-puluh tahun lagi, akan kuserahkan segalanya, asal tak ada kejadian mengerikan seperti menemukan jasad wanita yang kutolak secara halus hingga nekat menghabisi dirinya sendiri. Jika saja boleh berharap, yang terbaik yang bisa kuharapkan adalah Utami tidak perlu mati dan aku dapat melanjutkan kehidupanku seperti biasa.