Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Friday, 26 May 2017

[Cerpen]: "Pengelana dan Uang Ajaib" karya Ken Hanggara

Dimuat di basabasidotco, Jumat, 19 Mei 2017)
 
    Sudah bertahun-tahun jauhnya aku berkelana, tetapi uang di koperku tidak pernah habis. Aku suka berkhayal suatu hari nanti uangku habis dan aku bisa mulai beristirahat di tempat yang tenang dan jauh dari peradaban sampai tua.
    Aku sering berkhayal dan tertawa senang selama proses berkhayal ini, tetapi ketika sadar dan tahu keadaanku yang jauh dari cerita khayalan itu, aku mulai mual. Tidak ada pilihan selain melanjutkan perjalananku. Mungkin aku tidak ditakdirkan berhenti. Meski kubagi-bagikan semakin banyak uang ke semakin banyak orang, Tuhan tidak ingin aku berhenti.
    Aku tak ingat kapan pertama kali pergi meninggalkan rumahku dengan membawa koper berisi banyak uang. Aku bahkan tak ingat bentuk teras rumahku, yang mungkin saja sekarang sudah lapuk atau roboh dan digantikan oleh bangunan semacam mall. Aku tak pernah pulang sejak keberangkatanku yang pertama, dan segera mengetuk satu demi satu pintu untuk membagikan uang.

[Esai]: "Membaca Membuka Jendela Dunia" karya Ken Hanggara


(Dimuat di Rakyat Sultra edisi Senin, 15 Mei 2017)
Membaca membuka jendela dunia. Ungkapan ini sudah sering kita dengar, tapi di kehidupan nyata, tidak semua dari kita mampu menerapkan makna sebenarnya di balik ungkapan tersebut.
Ini didasari oleh mindset yang sejak awal sudah salah. Barangkali kita bisa dengan mudah menyebut 'membaca itu untuk membuka jendela dunia', tapi faktanya kita sendiri enggan menghabiskan waktu untuk membaca, karena beberapa faktor seperti malas, tak ada waktu, dan sebagainya.
Dari kebiasaan, akhirnya timbul halangan tersendiri di diri kita, bahwa membaca itu bukan hal utama dalam hidup atau bukan sesuatu yang bersifat universal. 'Membuka jendela dunia' pun jadi sekadar suatu ungkapan yang hanya betah berkelindan di bibir, tanpa pernah diterapkan di kehidupan sehari-hari.
Kenyataan di lapangan menunjukkan betapa sebagian mahasiswa atau guru justru tidak punya hobi membaca. Mindset membaca sama dengan belajar, atau membaca adalah tugas sekolah, atau bahkan membaca hanyalah usaha menghasilkan nilai-nilai akademik, menempatkan posisi 'membaca' ke kedudukan yang tidak terjangkau di mata sebagian orang. Membaca pun lantas dianggap sesuatu yang formal belaka, yang perlu dilakukan demi tujuan akademik semata, dan tidak lebih dari itu.

Tuesday, 16 May 2017

[Cerpen]: "Sihir Bola" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Bromo edisi Minggu, 14 Mei 2017)
  
  Bola yang menggelinding di pinggir lapangan akhirnya berhenti. Anak-anak saling rebutan mengambil dan melemparkannya ke seorang pemain tengah, Mugeni namanya, agar dapat kesempatan diajak main minggu depan.
    Tapi tentu bagi Mugeni mereka tidak selevel. Tingkatnya jauh di atas dukun paling sakti di kampung. Tidak ada yang lebih pandai mengendalikan bola ketimbang dirinya, termasuk angin.
    Sore ini angin berembus lumayan kencang dan menjatuhkan beberapa motor dan sepeda pancal di parkiran. Lapangan busuk, kata Bung Dakir, rekan setim Mugeni, yang sering kali iri pada orang yang dibilang sahabatnya sendiri itu.
    Mugeni memang sakti. Kalau kata orang, kesaktiannya setara legenda Maradona, meski sesungguhnya ia memang sakti dalam arti sebenar-benarnya. Tapi, pemain tengah top turnamen ini tidak mau sibuk-sibuk membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia guna menunjukkan makna kata 'sakti' secara nyata, demi penegasan diri. Tidak. Cukup Bung Dakir saja yang tahu.

[Cerpen]: "Murah Mart" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Rakyat Sumbar edisi Sabtu, 29 April 2017)
   
 Orang kecil mesti pilih-pilih kalau mau belanja, harus hemat. Apalagi anak-anakku nakal. Mereka maunya makan yang enak-enak. Anak dapat rangking, orangtua mana yang tak bangga? Aku juga mau anak-anakku pintar, berprestasi. Tapi, bagaimana kami beli makanan enak yang konon mahal? Sekadar tahu tempe saja sulit. Mereka merengek dan bertanya kapan Ibu belikan makanan enak? Atau, kapan kami rangking satu?
    Suatu waktu, temanku Nani mengajakku ke suatu tempat. Yang lewat di pikiranku adalah: dia mengajakku ke rumah bosnya. Tempat itu luas. Ada beberapa truk terparkir. Kok bisa Nani punya pekerjaan sampingan tanpa takut ketahuan bos kami? "Bukan, Mar. Ini bukan rumah bos baruku. Ini rumah Pak Dermawan," jawabnya usai kuberondong dia dengan berbagai pertanyaan.

Thursday, 4 May 2017

[Cerpen]: "Pencuri Otak" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Malang Post edisi Minggu, 30 April 2017)

    Berita itu menggemparkan: Jun kehilangan otak. Sudah pasti, otak itu dicuri orang. Ia bocah pintar, jauh lebih pintar ketimbang anggota dewan, barangkali. Maka segenap pasukan dikerahkan demi menyisir seluruh tempat. Tugasnya: mencari di manakah otak Jun.
    Tidak ada petunjuk. Pencarian buntu di hari keempat. Hujan tidak putus-putus, dan Pak RT—sebagai pemegang komando misi pencarian otak sang jenius—jatuh sakit sore itu. Tugas berat gagal total dan ia terancam jadi omongan.
    Tak ada yang lebih geram ketimbang Pak RT. Seseorang mencuri otak orang jenius. Kalau Jun mati, bisa celaka. Tidak ada lagi liputan TV, tidak ada lagi wisata dadakan para penggemar ilmu pengetahuan, serta tentu tidak ada lagi pemasukan buat kas RT.
    Jun sekarat di kamarnya empat hari.
    Ibunya cuma bisa menangis. Tidak ada saksi ketika kejadian. Mungkin saja pencuri itu masuk kamar Jun tengah malam dan diam-diam membelah otaknya. Sebagai orang jenius, Jun disayangi, tapi sampai sejauh itu belum satu pun orang diberi izin memeriksa luka di kepalanya.
    Ibu Jun berkata sinis, "Luka apa? Jangan bicara luka. Sayalah yang terluka di sini. Tidak ada Jun, saya tidak makan!"
    Orang-orang mafhum betapa sejak bapak Jun mati, yang cari uang di keluarga itu cuma Jun. Selain membuka les privat, jenius itu menerima uang dari tampil di televisi dan seminar. Kakaknya yang pemalas bergantung pada Jun. Kerjaan si kakak sehari-hari menembak burung dan dijual di pasar. Uangnya dipakai judi—atau menyewa pelacur.