Wellcome!

Anda memasuki dunia aneh. Siapkan diri sebelum memulai. Jika tidak kuat, di sebelah sana ada kamera, juga di sebelah sini. Lambaikan tangan Anda dan kami akan segera menjemput.

Friday, 17 November 2017

[Cerpen]: "Otobiografi Pohon" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Majalah Femina edisi 30/2017)
 
Pohon-pohon ingin bicara, tetapi mereka tidak punya keberanian. Kalau saja semua pohon di dunia berani bicara, mungkin dunia akan berbeda. Sayangnya, pohon-pohon menahan diri untuk bicara. Dan kau cuma bisa dengar daun-daunnya bergesekan. Itulah cara pohon menggumam, bukan bicara. Dan bila kau melihat pohon bergoyang-goyang, maka ia sedang berpikir.
Jangan sebut angin, karena ia tidak tahu urusan. Di kota ini, pepohonan bergerak atas kehendak pohon itu sendiri. Memang benar angin mampir ke pucuk daun, tapi ia sekadar bergelayut sebelum pergi. Asal kau tahu, angin sangat tolol. Kerjaannya main ke sana kemari dan kalau salah jalan, jadi kambing hitam.
Teman Ibu mengajariku berbagai nama angin yang aneh. Namanya sulit disebut, karena saking bagusnya, tapi nasib angin tidak lebih baik dari toilet. Angin tidak cuma dibenci, tetapi juga dikutuk karena membunuh banyak nyawa. Semua mati oleh angin. Aku rasa, ia pantas dibenci. Dan teman Ibu itulah angin, meski bukan hanya dia angin di kehidupan kami.

[Cerpen]: "Warisan Terakhir Kolektor Gigi" karya Ken Hanggara


(Dimuat di Tribun Jabar edisi Minggu, 5 November 2017)
 
Cukup lama juga Brenda menjadi kolektor gigi. Ia mengaku mendapat banyak gigi ketika masa perang masih berlangsung. Itu bertahun-tahun lalu, ketika dia masih sangat muda, karena sekarang kami sudah menyebutnya bau tanah.
Orang-orang tidak suka Brenda. Dari dulu hampir selalu begitu. Brenda penganut aliran sesat, Brenda si pemuja setan, dan lain-lain. Tuduhan serius tidak pernah Brenda masukkan hati. Sejak muda sudah tidak punya banyak teman, dan saat tubuhnya menua, kurasa ia tidak lagi memiliki teman, kecuali aku.
"Mereka hanya tidak betul-betul mengerti," katanya selalu, ketika ada yang cukup dekat dengannya mengingatkan akan kebencian semua orang terhadapnya. Brenda tidak pernah cemas memikirkan itu.

Thursday, 9 November 2017

Gaya Bekerja Para Penulis Tak Pernah Sama

Kalau ada teman yang bertanya tentang bagaimana membuat cerpen yang baik atau bertanya soal trik-trik tertentu, jawaban yang saya berikan lahir dari bagaimana cara saya membuat cerpen. Soal apakah jawaban itu bakal nyambung dengan gaya bekerja teman saya tersebut, saya tidak ikut campur, sebab proses kreatif tiap orang bisa berbeda-beda.

Kejarlah Dirimu Sendiri, Bukan Orang Lain

Iri dengki pada kesuksesan orang lain, yang berujung pada tindakan-tindakan negatifmu demi mengejar orang tersebut, hanya akan membuatmu rugi. Selain cepat tua dan berisiko terserang penyakit jantung dan stroke, kamu juga akan susah lepas dari pengaruh orang itu. Kamu akan selalu merasa saling kejar-kejaran dengan orang tersebut, padahal sebenarnya yang harusnya kamu lawan adalah dirimu sendiri.

Menulislah Biar Kewarasanmu Terjaga

Saya pernah dengan begitu yakin mengatakan pada seorang teman, "Kalau saya tidak menulis, mungkin saja saya bakal gila."

Untuk sesaat, teman saya itu tampak terpana, dan beberapa detik kemudian segera saya tambahi kalimat yang boleh jadi agak ganjil tadi, "Gila karena bosan maksudnya. Bahkan bisa saja bukan cuma jadi gila, tetapi mati karena bosan oleh hidup yang begini-begini saja."

Teman saya menatap saya dengan kepercayaan penuh, dan saya tahu itu dari pancaran matanya. Dia sepenuhnya setuju karena ikut mengalaminya. Bagi kami yang menjadikan menulis bukan hanya sebagai ajang penemuan jati diri atau mencari tambahan uang jajan, melainkan juga ditujukan untuk kebaikan orang lain, setidaknya orang terdekat dulu, menulis adalah obat untuk banyak hal. Saya pribadi lebih termotivasi bahwa apa yang saya upayakan saat menulis adalah demi orang tua, dan dampak yang saya rasakan sungguh luar biasa.

Sesekali Kita Perlu Pura-Pura Nggak Paham

Ada cerita lucu ketika saya sedang training di sebuah perusahaan nasional yang berpusat di Jakarta. Karena saya ikut interview dan test-nya di wilayah Jakarta, maka nama saya pun tercantum dalam daftar pegawai baru dari area ibukota. Dalam masa training yang berlangsung beberapa minggu itu, ada banyak pegawai dari daerah-daerah lain yang mengikuti proses seleksi sejak awal di kantor-kantor cabang.

Nah, tentu saya tahu rekan-rekan mana saja yang berasal dari Surabaya, kota asal saya, sehingga saya mencoba membaur dengan mereka. Ketika itu, secara tidak terduga, salah satu dari mereka yang tampak agak urakan meledek saya dengan bahasa Suroboyoan, yang kira-kira berarti, "Makhluk yang satu ini ngapain ikutan nimbrung?"

Tentang Teman Lama yang Membuat Saya Enggan Menyerah

Kejadian-kejadian kecil di sekitar kita sering kali, secara aneh dan tanpa kita sadari, berpengaruh besar bagi kehidupan kita di masa mendatang. Contohnya ketika saya mengenal seorang teman saat di Jakarta. Saya kenal dia secara tidak sengaja, yakni karena kami kebetulan mengenal teman yang sama, sehingga pada satu kesempatan di suatu weekend, bersama teman-teman lain, saya dan dia pergi ke tempat futsal. Perkenalan ini berlanjut ke omong-omong panjang, karena sepatu saya rusak sehingga tidak ikut bermain, sedangkan dia memang sengaja tidak ikut main. Hanya datang dan menonton saja. Jadi, kami berdua dan seorang teman lain duduk di tepi lapangan dan membahas hal-hal apa pun.

Teman baru ini ternyata cukup ramah saat diajak mengobrol, walau kelihatannya pendiam dan tertutup. Pada akhirnya saya tahu dia orangnya terbuka pada beberapa hal terkait impiannya. Dia pernah, karena tidak punya kenalan dan buntu ide, mengajak saya kolaborasi di audisi IMB jilid 1. Karena saya sudah punya grup, jadi saya tolak ajakan dia dengan halus. Dia tidak masalah. Dia bisa tampil sendirian. Hanya saja, ketika hari audisi, dia tidak datang entah dengan alasan apa.

Kualitas Karya Tidak Ditentukan dari Seberapa Lama Karya tersebut Dibuat

Lamanya waktu pengerjaan sebuah karya tidak menjamin karya itu pasti berhasil dari segi kedalaman makna. Karya yang dibuat dalam kurun waktu singkat bisa saja malah lebih dalam dari itu. Ini yang saya yakini.

Selama apa pun karya dibuat (atau sengaja dilama-lamakan biar kelihatan keren), kalau perenungan tentang isinya kurang dihayati sebelum karya itu mulai digarap, hasilnya akan hambar. 

Pedekate Butuh Modal, Bung!

Suatu hari saya dan seorang teman pergi ke toko pakaian. Kami membeli kaos, kemeja, jaket, dan celana panjang sesuai dengan selera masing-masing dan tentu saja bayarnya sendiri-sendiri. Sekembali ke tempat parkir, setelah membayar belanjaan di kasir tentunya, teman saya terlihat sedih dan saya langsung tahu penyebabnya. Pasalnya dia sok kenal sok dekat dengan mbak-mbak kasir yang lumayan cantik, meski sudah bercincin (yang kemungkinan sudah punya pasangan), dan saya tahu itu sebab kasir yang melayani saya hanya berjarak satu kasir dari kasir cantik tadi.

Kepada saya, teman saya mengaku, "Seandainya tadi aku tahu kalau bakal begini."

"Lho, memangnya kenapa?" tanya saya. Dalam pikiran, saya sudah curiga bahwa teman saya keburu sakit hati bahkan sebelum pedekate, sebab mbak-mbak cantik itu bercincin dan cincinnya adalah pertanda dia sudah ada yang punya.

Menikmati Hidup sebagai Full Time Writer

Sudah hampir setahunan ini saya benar-benar hidup sebagai full time writer, karena mencari pekerjaan baru belum ada yang cocok. Jadi cari rezeki hanya dari nulis di media-media, membuka jasa editing, nulis di blog, nulis skenario, dan sekitarnya, serta tentu saja menjual buku (karya sendiri) via online

Alhamdulillah selalu diberi kelancaran. Ada saatnya harus benar-benar bersabar menahan beberapa keinginan sederhana seperti menambah koleksi bacaan, sebab "gaji" pekerjaan ini tidak datang secara rutin pada tanggal tertentu. Apalagi punya tanggungan bayar cicilan motor dan sebagainya, yang harus didahulukan daripada keinginan-keinginan pribadi tersebut.

Cara Bersikap Ala Kaum Bumi Bulat di Medsos

Kebanyakan orang memang suka ribet dan cari-cari urusan. Tidak suka dengan pendapat/
prinsip orang lain di status medsos orang itu sendiri, ya cukup diam dan abaikan. Unfollow bila dirasa prinsipnya itu mengganggumu, atau remove atau malah blokir sekalian. Toh status dia tidak mengganggu kehidupan nyatamu dan juga tidak membuatmu rugi secara fisik ataupun non-fisik.

Kamu punya hak untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak kamu sukai. Tetapi, jangan lupa pula bahwa orang tadi juga punya hak untuk mengungkapkan pendapatnya, seaneh apa pun itu.

Sepuluh Tahun yang Lalu, Saya Berpikir tentang "Sepuluh Tahun yang Akan Datang"

Ketika masih sering-seringnya latihan ngeband pada tahun 2007-2008 lalu, saya berpikir, "Sepuluh tahun dari sekarang, mungkin band ini bakalan makin solid dan boleh jadi terkenal sehingga punya album atau minimal single yang laris di radio-radio."

Saat itu saya masih kelas sebelas dan memendam banyak impian, utamanya di band yang sedang saya dan teman-teman rintis. Tidak ada pikiran saya bakal menulis prosa atau skenario--yang pada akhirnya memang terjadi. Menulis memang salah satu cita-cita saya, tapi menjadi anak band juga cita-cita saya. Posisi keduanya sama-sama kuat, dan karena lingkungan lebih mendukung ke arah seni musik, maka ngeband adalah alternatif bagi saya untuk istirahat sejenak dari pikiran-pikiran sumpek sebagai anak sekolah (dengan cinta monyet, teguran ortu, PR yang selalu menumpuk, guru-guru yang kadang mengerikan, dan lain sebagainya).

Berbeda Pandangan Tidak Harus Selalu Dijauhi

Ada teman FB yang kalau bikin status isinya cuma hal-hal berbau sinis atau apatis terhadap hampir segala segi kehidupan, dan yang membuatnya terlihat sebagai pribadi arogan di mata saya adalah: baginya pendapatnya selalu benar dan ucapan orang lain yang bertentangan pasti salah.

Sejak berteman dengannya di FB, memang sudah begitu wataknya yang saya tahu, tetapi saya tidak pernah terpikir untuk meremove, apalagi memblokirnya, sebab dia tidak pernah memaksakan orang lain harus patuh pada pendapatnya. Dia hanya memegang teguh pendapatnya sendiri tanpa mengutak-atik prinsip orang lain--entah meski pada akhirnya dia bisa saja berpikir semua orang yang tidak setuju padanya adalah goblok permanen (toh pemikirannya sendiri adalah urusan dia, bukan?).

Teman Lama yang Hobi Melengos

Ada teman saya dari masa TK hingga SMP yang rumahnya tidak jauh dari rumah saya. Hanya beda dusun. Tapi, tiap kali berpapasan di jalan, sejak kami SMA dulu, dia selalu melengos seakan tidak pernah kenal atau pura-pura tidak melihat. Faktanya, tidak pernah ada masalah apa pun di antara kami. Dia juga bukan penggemar FPI (sama seperti saya). Bahkan dia sering bercanda dengan saya sejak TK hingga SMP. Suatu sore menjelang maghrib, saya ke minimarket dan beli sesuatu, lalu di kasir dia antre di belakang saya. Begitu saya noleh, dia langsung berpaling muka. Saya tidak tahu apa masalah orang ini?

Wednesday, 8 November 2017

Manusia dengan Panggungnya Masing-Masing

Kelebihan dan kekurangan di diri kita itu sama saja. Keduanya sama-sama cobaan. Hanya wujud dan rasanya yang berbeda. Masih sombong setelah dapat begitu banyak hal baik (dan keberuntungan)? Masih putus asa setelah berkali-kali sial?

Kita punya panggung masing-masing. Panggung-panggung ini berbeda antara satu orang dan lainnya. Hari ini kamu masih muda lalu buka bisnis dan kaya raya dua bulan kemudian, tapi boleh jadi sepuluh tahun lagi temanmu yang sepantaran baru mencapai kekayaan materinya.

Membaca Urusan Selera, Jadi Boleh Pilih-Pilih Dong?

Saya selalu butuh buku bacaan. Tapi tidak semua buku dapat saya baca. Hanya yang saya butuhkan untuk menambah ilmu (ketika riset, misalnya, atau ketika ingin belajar sesuatu saja) dan untuk memuaskan selera baca. Di luar urusan itu, bacaan lain yang saya konsumsi hanyalah berita di koran. Itu pun tidak semua saya baca. Jadi, ketika datang ke suatu toko buku, saya hanya akan berada di spot yang itu-itu saja, kecuali jika posisi rak yang memenuhi selera baca saya dipindah. Ketika seorang teman menghadiahi buku, akan saya cegah dia, dan memintanya menghadiahkan itu ke orang lain, kalau buku tersebut tidak sesuai selera baca saya.

Proses Produksi Cerpen di Pabrik Cerpen

Setiap cerpen yang saya buat nyaris tidak mengalami pembacaan ulang sebelum saya kirim ke media atau perlombaan. Itu bukan berarti saya tidak bertanggung jawab atau tidak ingin memastikan apa pun yang baru saja saya kerjakan, tetapi proses memahami isi cerita yang saya tulis sudah saya lakukan sebelum saya benar-benar menulisnya. Dengan kata lain, sepotong ide yang muncul langsung membuat saya memikirkan banyak hal, dan hal-hal ini selalu berakhir ke satu arah saja, misalnya: bahwa kita tidak seharusnya mengadili seseorang atas pilihan hidupnya.

Pondasi cerita ini kemudian saya pegang dan saya membuka laptop untuk menulis opening secara acak, tentang peristiwa entah apa, tentang isi kepala seseorang yang entah siapa atau bagaimana, tentang situasi di lokasi yang entah di mana, dan lain sebagainya. Menulis opening secara acak membantu saya dalam membangun plot secara utuh tanpa terkekang. Dari yang hanya berupa pondasi dari secuil ide dan pesan moral, saya mampu membuat banyak kemungkinan soal tokoh dan peristiwa dalam cerpen dengan memulainya secara acak.

Seiseng-isengnya Kegiatan Menulis Harus Tetap Punya Tujuan

Menulis cerita termasuk cara saya dalam bersenang-senang. Tujuan ini hanya bisa tercapai ketika saya merasa lega akan apa yang saya tulis. Jika tidak, maka saya hanya akan merasa ini bukan bersenang-senang. Itulah kenapa saya tidak pernah bisa ikut kegiatan menulis cerpen bersambung dengan banyak teman (yang sering kali sekadar iseng belaka). Dulu pernah sekali, tapi setelah itu tidak lagi.

Walau iseng pun, bagi saya, menulis harus tetap melahirkan kelegaan. Sementara, kelegaan yang saya maksud tidak mampu saya rasakan ketika berbagai kepala tumpah ruah dalam satu cerita. Saya hanya akan merasa lega jika apa yang dihasilkan (sekalipun itu iseng) adalah sesuatu yang benar-benar sesuai keinginan saya. Maksudnya, cerita itu sendiri harus sesuai keinginan saya.

Hadiah untuk Penulis Muda/Pemula

Hadiah terbanyak yang didapat penulis (muda/pemula) Indonesia pada umumnya adalah permintaan tentang buku terbarunya yang mestinya digratiskan oleh orang-orang tidak tahu diri.

Saking banyaknya hadiah macam ini, penulis (muda/pemula) susah kaya, kecuali sambil jualan tahu bulat, atau punya bisnis persewaan barang-barang bermanfaat (seperti sikat gigi dan bantal atau apa pun), atau mengencani anak anggota dewan, dan lain-lain.

Menjadi Tempat Curhat

Meski tidak terlalu suka berkeluh kesah atau curhat ke orang-orang terdekat, saya menyadari betapa banyak yang menjadikan saya tempat curhat, orang yang pemikirannya dianggap melahirkan banyak solusi, atau ruang yang dipercayai untuk berkeluh-kesah tanpa takut didengar oleh pihak-pihak yang tak diinginkan. Kepercayaan ini sungguh besar dan saya selalu menghargai itu. Tentunya apa yang dibicarakan pada saya tidak melulu soal menulis, tapi juga hal-hal seputar kehidupan, yang kadang kala membuat saya merasa bahwa orang-orang ini melihat saya sebagai semacam psikiater, konsultan, atau--dalam beberapa kasus--dukun.

Lebih Baik Pabrik Cerpen Ketimbang Pabrik Hoax

Pendiri, para pegawai, serta klien-klien pabrik hoax itu kira-kira bagaimana isi hati dan pikiran mereka, ya? Maksudnya, kecuali mereka sinting, tentu mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu dosa. Menyebarkan kabar dusta = dosa. Memfitnah orang lain = dosa juga.

Apa yang para produsen hoax ini pikirkan dan rasakan jika tidak sedang mengerjakan sebuah "hoax" atau anggaplah sedang libur, lalu saat itu sibuk mengasuh anak mereka atau mungkin duduk mesra-mesraan bareng suami/istri mereka; apakah mereka tahu uang yang dihasilkan dari memproduksi hoax itu, yang dimakan keluarga mereka, akan berdampak buruk suatu hari nanti? Mereka mencintai orang-orang terdekat ini, tetapi secara sadar memberi makan mereka dengan uang hasil perbuatan macam itu. Bagaimana pikiran dan perasaan mereka?

[Cerpen]: "Cara Mati yang Sulit Dipercaya" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Radar Mojokerto edisi Minggu, 5 November 2017)
 
Aku tidak yakin akan pulang malam ini. Bahkan, aku juga tidak yakin apakah bisa pulang dalam beberapa hari atau bahkan beberapa bulan ke depan. Secara tidak sengaja, setelah ketahuan mencuri perhiasan di rumah mantan majikanku, aku bunuh dua orang. Mereka satpam dan pembantu yang memergokiku sesudah beraksi.
Tentu aku tidak berniat menghabisi siapa-siapa. Aku hanya masuk rumah mewah mantan majikanku demi sekotak perhiasan, yang kukira sebagian besarnya adalah hakku. Sejak dulu aku bekerja pada orang yang tidak manusiawi dan sering menahan hakku sebagai body guard-nya. Jadi, mencuri sedikit hartanya kurasa tidak akan masalah.
Sayangnya, aku sial. Si satpam dan pembantu yang berbuat tidak senonoh di salah satu kamar memergokiku keluar dari kamar majikan mereka. Sebelum mereka membuat kebisingan, kuhabisi dua orang itu dengan pedangku. Di ruang lain, kudengar mantan majikanku berteriak dan meminta sang istri untuk sembunyi di kamar.

[Cerpen]: "Sebuah Tempat yang Barangkali Tak Ada di Peta" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Minggu Pagi edisi Jumat, 3 November 2017)
 
Ada sejuta hal yang membuat seseorang memutuskan lari dari rumah dan kampung halamannya dan tak pernah kembali, tetapi jika saja alasan-alasan itu berupa batu-batu kerikil, aku hanya akan memungutnya satu, dan batu kerikil tersebut tidak lebih menarik ketimbang yang lain.
Aku lari dari rumah dengan alasan sederhana: aku bosan dengan kehidupanku. Aku yakin di luar sana ada banyak peluang yang memungkinkanku tumbuh menjadi sosok yang lain dari ibu atau ayahku. Aku yakin kehidupanku tersita di suatu tempat yang jauh dari kampung halamanku, bahkan sesaat setelah Tuhan menitipkan ruhku ke janin yang mulai siap di rahim ibuku.
Aku tidak tahu dari mana pikiran ini datang, tetapi aku percaya tempat ini bukanlah tempatku dan aku tidak akan dapat mencapainya dengan hanya duduk pasrah. Akhirnya, aku kabur pada suatu malam dengan membawa barang-barang seadanya.

Sunday, 29 October 2017

[Cerpen]: "Surga Kiriman Tuhan" karya Ken Hanggara

(Dimuat di basabasi.co pada Jumat, 27 Oktober 2017)
 
    Aku terbangun dan menemukan tubuhku berada di tepi jurang. Jurang ini bukanlah jurang biasa, karena dalamnya sungguh tak terkira, sehingga yang bisa kulihat hanyalah kegelapan di bawah sana. Kubayangkan seseorang akan hancur serupa bubur kalau saja jatuh dari atas sini. Dan kurasa sebaiknya aku harus pergi sesegera mungkin agar tidak tersandung.
    Aku tidak tahu dari mana pikiran macam ini datang: kesialan selalu datang tanpa disangka-sangka. Siapa tahu, entah karena angin badai atau mendadak tanah di bagian tepi jurang ini ambrol, pada akhirnya aku jatuh dan hancur lebur di bawah sana?
    Aku mundur beberapa langkah, lalu berjalan setelah membalikkan badan dan tahu betapa sejauh mata memandang hanya ada pasir. Aku tidak ingat apa pun yang terjadi sebelum ini. Barangkali seseorang menculikku atau apa, tetapi itu mustahil. Aku tidak terlibat kejadian-kejadian yang bisa menjadi alasan bagi siapa pun untuk mencelakaiku. Aku juga bukan orang kaya.

[Cerpen]: "Pemasungan Mudakir" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Sulbar, Sabtu, 21 Oktober 2017)
 
    Dalam suatu kebakaran empat tahun silam Mudakir selamat, tetapi otaknya tidak seberes dahulu. Dia menjadi gila setelah melihat pacarnya sendiri terbakar hidup-hidup, sementara dirinya cedera dan tidak berdaya menolong siapa pun.
    Pada saat kejadian itu, aku tidak di kota ini. Aku masih memiliki pekerjaan di kota lain sebagai asisten editor di majalah ternama, namun setelah ditimbang ulang mengenai keadaan ibuku yang kesepian, sebab seluruh saudaraku telah menikah, aku pun kembali ke kota ini dengan pekerjaan baruku di sebuah kantor periklanan.
    Perkenalanku dengan Mudakir sebenarnya bukan terjadi baru-baru ini. Tentu saja, dia teman lamaku. Aku lahir dan tumbuh di kota ini, sehingga ketika kembali ke rumah yang berisi ibuku seorang, lalu kudengar kabar teman lamaku itu menjadi gila, aku pun sedih.
    Ibu bercerita dengan begitu jelas bagaimana Mudakir menjalani hari-hari awalnya setelah kebakaran. Anak itu murung dan sering bicara sendiri, bahkan tidak jarang dia memukul kepalanya dengan batu bata.
    Suatu kali, karena dikhawatirkan Mudakir tidak mampu menahan hasrat melukai diri dengan benda-benda yang jauh lebih berbahaya, keluarga dan warga sepakat untuk memasungnya.

[Cerpen]: "Pohon Uang" karya Ken Hanggara


Gambar dari pixabay.com
(Dimuat di litera.id pada Sabtu, 21 Oktober 2017)

    Sejak keluar dari penjara, sulit bagiku mencari pekerjaan. Aku berkeliling ke setiap bagian kota kecil ini, tetapi tidak satu pun orang sudi mempekerjakanku. Akhirnya, aku hanya berakhir di depan televisi busukku, satu-satunya harta berharga yang tak disentuh oleh siapa pun selama aku dipenjara (karena benda itu sudah tua dan tidak mungkin laku dijual), dan menonton acara-acara tidak bermutu, lalu tidur sambil menahan lapar dari waktu ke waktu.
    Uang tabunganku selama bekerja menggotong tumpukan kertas atau membungkus produk-produk mebel di penjara tidak akan bertahan lebih dari dua tahun. Pada akhirnya semua uangku akan habis, dan jika itu terjadi, bagaimana caraku melanjutkan hidup?
    "Andai saja di dunia ini ada pohon uang, tentu tidak akan ada penjara. Orang-orang bisa menanam pohon uang mereka sendiri sehingga tidak perlu ada kekacauan di muka bumi," pikirku suatu ketika.

[Cerpen]: "Gadis Cenayang" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Bromo, Minggu, 22 Oktober 2017)
 
    Kenakalan Lili belum sampai di vas bunga Oma yang pecah. Ia tidak juga berhenti setelah pembantu kami terpincang-pincang dengan kaki berlumur darah; berkat pecahan beling vas yang sengaja Lili pasang di bawah tempat tidur Bi Minah.
    Anak itu anak setan, itu yang Mama bilang. Mulanya kukira aku salah dengar, tapi Mama mengulang lagi dan lagi, "Memang anak setan, ya." Selalu begitu. Dan anehnya, Lili tidak pernah merasa terganggu dengan ucapan ini, atau ia justru terlihat bahagia dan semakin menjadi-jadi.
    Aku tujuh belas tahun, Lili empat tahun di atasku. Semua teman-teman Lili, tentu saja sibuk mengejar apa yang mereka cita-citakan, tapi tidak kakakku. Ia sibuk bermain bunga di teras rumah kami sejak putus sekolah beberapa tahun silam. Atau setengah hari ia habiskan waktu di halaman belakang untuk memberi makan ikan-ikan.
    Lili seakan hidup di dunianya sendiri dan kami tidak bisa mencegahnya, atau tidak bisa memberinya batas antara nyata dan khayal, antara kebenaran dan fantasi. Lili tidak akan bisa sembuh, itulah yang Papa katakan.

Tuesday, 17 October 2017

[Cerpen]: "Masih Bernyawa" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Banyuwangi, Minggu, 15 Oktober 2017)
 
    Tubuhku sudah sangat rusak dan aku tahu itu. Aku dapat merasakan sesuatu yang jahat menggerogoti tubuhku menit demi menit, dan mungkin besok lusa aku sudah mati. Kubayangkan organ tubuhku habis dimakan benda jahat yang entah berbentuk apa, yang berada di rongga badanku, kemudian aku seperti mumi. Aku tahu, jika aku mati tidak ada yang peduli. Aku membusuk dengan cepat dan mengering seperti daun rontok. Tak ada yang menangis.
    Aku masih hidup. Heran juga. Kenapa tidak ada yang membunuhku saja? Kenapa aku hidup jika harus semenderita ini? Di sini tidak ada tempat hangat. Semua rumah dan gedung menutup diri dari gelandangan sepertiku. Aku bukan penjahat, tetapi Anda tidak boleh percaya begitu saja kepada orang yang datang tanpa pekerjaan, juga tanpa sanak famili. Memang begitu seharusnya. Kiranya orang-orang sangat tepat memperlakukanku begitu. Hei, manusia, jangan pedulikan aku agar kalian tidak celaka! Seakan itulah yang kemudian ingin kukatakan ke seluruh orang yang kutemui.
    Di kota ini aku sendirian dikarenakan satu hal yang tidak bisa kukatakan. Aku tidak punya tempat tinggal tetap karena uangku habis. Sebelumnya aku bekerja di satu tempat yang membuat tenagaku terkuras. Aku membungkus dan membungkus kado setiap hari. Aku berangkat selepas subuh dan pulang dua belas jam kemudian. Aku pergi ke pabrik pengemasan laknat itu, dan di sana aku terus membungkus. Kertas-kertas kado itu tidak berguna, kataku dalam hati, tetapi terus saja kubungkus berbagai kado dan kulihat setiap lembar kertas tertawa di depanku. Aku tahan emosiku. Kalau aku tidak membungkus, aku dipecat dan tidak makan.

Monday, 9 October 2017

[Cerpen]: "Surga Pembangkang" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Kompas, Minggu, 8 Oktober 2017)
 
    Herman bermain-main di dalam tubuhku. Ia bajak laut dan aku cangkang raksasa. Ia membawa sepuluh prajurit terakhir di hari menjelang kiamat, lalu bersembunyi dalam cangkang—dalam aku—bersama kesepuluh prajuritnya.
    "Sekarang kamu putuskan sebaiknya mengusir kami atau tidak. Sebab kalau sudah telanjur sembunyi, sampai sembilan bulan kami tidak keluar," kata Herman padaku.
    Aku tidak ingin dia pergi, maka kukatakan terserah pada mereka.
    Begitulah, Herman dan sepuluh lelaki gagah perkasa tidur dalam cangkangku pada satu malam. Tubuh mereka hangat dan basah. Aku sesak napas karena tubuhku ini tidak terlalu luas untuk menampung terlalu banyak manusia.
    Suatu hari Herman bertanya kenapa aku merenung. Kujawab aku lelah, tetapi tidak sekali-kali membayangkan ingin membuang Herman dari hidupku. "Kau jadi bagianku, aku bagianmu," kataku.
    Herman menambahkan betapa kami memang satu, sekalipun sepuluh prajurit yang ia bawa turut bersembunyi dalam cangkangku.

[Cerpen]: "Tentang Api, Anjing, dan Nabi" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Koran Tempo, Sabtu, 7 Oktober 2017)
 
    Seandainya aku Nabi Ibrahim, pastilah tubuhku tidak matang dilahap api. Aku dan api kawin di bawah perjanjian abadi. Kulit, daging, tulang belulang, dan api menyatu. Dalam suatu hukuman, aku bersenang-senang, namun pura-pura mati. Begitulah. Aku segar tapi bergetar. Aku girang tapi mengerang. Bisakah?
    Dari sana, dari tubuh manusiaku, darah memancar memandikan bumi orang suci. Seakan lidahku menggeliat—padahal pisau belum kering menebas indera perasa —kata-kata sumbar berserakan: Bakar, bakar, bakar!
    Aku tidak takut—seandainya aku nabi dan kondisi seburuk itu datang: orang-orang menggotong kayu buat membakarku. Aku tidak takut sebagaimana dulu saat Ayah mengancam mengikatku semalam di bawah pohon nangka karena kedapatan merokok.

[Cerpen]: Roh-roh di Tangan Mariana" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Bali Post, Minggu, 8 Oktober 2017)
 
    Di tangan Mariana bersemayam roh-roh dari zaman purba. Roh-roh itu keluar pada malam hari dan mencari makan. Apa yang kau pikirkan soal makanan dan roh jahat? Ya, roh-roh di tangan gadis manis itu, yang entah berjumlah berapa puluh, amat sangat jahat. Tidak ada seorang pun—betapapun mereka berusaha—bisa selamat seandainya satu roh di suatu malam berjanji menelan jiwa seseorang.
    Mariana mula-mula tidak sadar kemampuannya—atau lebih tepat disebut kutukan? Ia gadis biasa yang bekerja menjaga toko bunga di tepi suatu kota. Ia juga tidak punya kepentingan apa-apa, sementara banyak orang di sekitar membicarakan soal raja baru mereka yang rakus dan tamak.
    "Itu tidak penting buat saya," katanya santai. "Selama saya masih bisa makan, raja boleh bersikap semaunya."
    Tentu Mariana tidak sekejam yang orang bayangkan, jika mereka tahu di tangan dia ada roh-roh jahat yang keluar untuk makan, serta jika mereka juga tidak tahu betapa gadis itu belum sadar akan keberadaan roh-roh itu, sedangkan mereka dengar kalimat itu. Orang pasti akan menudingnya dan membawanya ke lapangan kota untuk diikat dan dibakar ramai-ramai. Tapi, tidak banyak yang orang ketahui di sini, kecuali kematian demi kematian yang terjadi setiap malam. Dan di setiap kematian, tak ada satu pun jejak dapat kau baca.
    Roh-roh jahat bekerja dengan sangat rapi dan tersembunyi. Bahkan, si gadis yang tangannya disemayami mereka sejak belasan tahun silam, tidak tahu padatnya aktivitas para roh jahat pemakan jiwa manusia.
    Mariana mendengar selentingan—karena ia tinggal di tepi kota, dekat desa tempat kaum marginal bermukim—bahwa para saudagar yang dekat dengan raja, mati tiba-tiba. Tubuh mereka digantung di puncak gedung paling tinggi dan bergoyang-goyang tertiup angin karena kering. Tubuh-tubuh itu tak ubahnya bunga yang terisap saripatinya hingga kerontang. Para petinggi kerajaan, termasuk raja, marah dan curiga. Ada konspirasi di luar sana, begitu yang mereka pikir, sehingga banyak orang tidak bersalah ditangkap dan dihukum mati tanpa bukti.

[Cerpen]: "Stasiun Berhotel" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 1 Oktober 2017)
 
    Aku tidak ingat pernah naik ke sebuah kereta, tetapi malam itu seseorang di sisiku membangunkanku dan bilang kalau kereta sampai di stasiun terakhir. Aku bangkit dari kursiku dan melihat punggung beberapa penumpang terakhir turun dari gerbong ini, gerbong yang tidak pernah kuingat pernah masuk ke dalamnya. Tetapi, aku berada di dalamnya.
    Untuk beberapa saat aku berdiri dan menoleh ke sana kemari sambil memegangi kepalaku yang berat. Aku bayangkan aku bermimpi dan belum seutuhnya sadar, hingga seseorang lain, yang ada di dunia nyata, membangunkanku ulang. Tetapi lelaki di sisiku masih di sana dan berkata, "Kau gila, Bung?"
    Ia mengajakku turun dan menganggapku gila. Kereta itu, katanya, tidak berangkat, kecuali ke neraka. Jika Anda tetap di gerbongnya, Anda dibawa ke neraka dan tidak bisa balik. Anda mau di neraka selamanya? Ia bilang, itulah kenapa di stasiun terakhir semua orang turun dan buru-buru pergi. Tidak ada yang tidak, sekalipun sangat mengantuk dan ingin tidur.

Friday, 29 September 2017

[Cerpen]: "Hukum Para Kurcaci" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Padang Ekspres, Minggu, 24 September 2017)
 
    Para kurcaci tidak cukup dengan hanya kau beri sebutir dua butir kelereng; mereka meminta lebih, bahkan yang mustahil bisa kau beri, sampai kau tak bisa lagi memberi.     Tentu Maria tak tahu hukum itu. Ia hanya tahu bahwa kaum kurcaci mungil tak berdaya. Ia bisa menang sekali tepuk, begitu ia pikir. Anak itu benar-benar celaka kalau saja ia tak punya jepit rambut, sesuatu yang belum pernah para kurcaci miliki.
    "Itu buat kami!" kata mereka menunjuk puncak kepalanya.
    Maria tersesat di dunia aneh. Dunia yang seperti alam mimpi, tetapi terasa nyata. Anak itu yakin sedang bermimpi. Bertemu puluhan kurcaci yang lucu, bahkan kadang tolol, sehingga bisa dibayangkan betapa dia akan menjadi ratu yang boleh menyuruh ini-itu.
    Maria bosan disuruh-suruh. Di rumah disuruh Mama mengerjakan segala jenis hal, dari yang wajib hingga yang bahkan seekor semut tidak akan mati bila ia tidak lakukan. Maria tak mengerti kenapa Mama suka sekali memberi perintah.

[Cerpen]: "Pasca Kematian Ikan-ikan" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Rakyat Sumbar edisi Sabtu-Minggu, 23-24 September 2017)
 
    Ikan-ikan di akuariumnya mati. Ia pikir, memang bukan saatnya lagi memelihara ikan. Selain karena daya hidupnya sebagai orang terbuang kian menipis, ia juga tak lagi punya banyak uang buat mengurus ikan-ikan hias.
    Sejak itu, Mudakir, sang mantan buangan, memutuskan hidup sebatang kara seperti seharusnya, atau seperti yang selayaknya terjadi sejak bertahun-tahun silam. Ikan-ikan yang sudah mati itu, demi Tuhan, jadi kawan terakhir Mudakir.
    Mudakir tidak punya kawan lagi sejak bebas dari penjara, kecuali berbagai macam hewan rumahan yang ia pelihara, yang datang pergi silih berganti karena maut. Di sini, di tempat yang belasan tahun ia tempati, orang tidak tahu ia salah apa di masa mudanya. Hidup begitu lama, terlalu lama bagi seorang bermasa lalu kelam. Ia malas menghidupi hari dengan makanan sehat dan pola hidup beriman.
    Mudakir biasa bangun jam delapan atau sembilan pagi, menguap lebar-lebar dan membuka jendela kamar sampai cahaya matahari membuat mata tuanya pedih. Lalu, memakai singlet dan celana pendek, ia ke warung di pertigaan. Pertigaan itu dekat gang utama, dan rumah yang Mudakir tempati berjarak tiga rumah dari gang yang dimaksud.

[Cerpen]: "Tetangga" karya Ken Hanggara




(Dimuat di Solopos, Minggu, 10 September 2017)
 
    Aku terpaksa harus pindah kamar kost setelah suatu hari seorang gadis ditemukan tewas di kamar kostnya, yang hanya berjarak semeter dari kamar lamaku. Aku yang tak tahan dengan cerita hantu, segera cuti, dan menghabiskan esoknya untuk berkeliling ke sekitar pabrik demi mencari kost baru.
    Memang, kematian gadis yang dilatarbelakangi dendam itu belum tentu membawa cerita mistis, tapi dia dekat denganku, dan kami sering berbagi problem. Misalnya suatu hari gadis itu mendapat masalah dengan pacarnya dan wajahnya dipukul dengan keras sampai lebam. Tak ada yang tahu itu, kecuali aku.
    "Lapor saja ke polisi," saranku, sebagaimana biasanya.
    "Aku sayang dia, dan tidak mungkin kubiarkan dia dijebloskan ke penjara."
    Sungguh sebuah jawaban yang membuatku jengkel sekaligus kasihan padanya. Tak tahu berapa banyak jawaban serupa yang selalu kudengar, dan tak tahu juga bagaimana bisa aku tahan terhadap cerita-cerita yang hampir selalu berakhir sama.

[Cerpen]: "Ikan-ikan di Balik Jendela Bulat" karya Ken Hanggara

(Dimuat di detik.com, Sabtu, 9 September 2017) 

  Aku melihat jendela bulat itu. Ikan-ikan berkejaran. Biru jernih melenakan. Sama seperti dulu. Hanya mungkin tidak ada anak-anak. Tidak ada teriak dan gelayut manja.
    "Ikan-ikan itu mungkin seperti kita, saling bertanya bagaimana cara makhluk di balik jendela ini makan, atau apa yang mereka pikirkan tentang kita?"
    Aku tidak bisa melupakan kalimat itu. Kalimat yang kamu pakai untuk membuat anak-anak terpana, merajuk ingin melihat pemandangan lain dari sudut lain, yang lebih menakjubkan dan ajaib.
    Ah, ikan-ikan penuh warna. Keindahan bahari kusuka, tapi kamu jelas salah meski lebih pintar. Aku malu. Apa yang kamu tanyakan padaku? Apa aku seorang peneliti? Kacamata tebal ini kudapat karena terlalu sering aku berpikir soal uang. Kerja, kerja, kerja. Dan aku bukan peneliti. Setiap manusia harus memberi jaminan untuk dirinya sendiri. Jaminan bahagia di hari tua.

Thursday, 7 September 2017

[Cerpen]: "Identitas Eksekutor" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Majalah Simalaba edisi 02/31 Agustus 2017)
 
    Lemari itu dulu milik lelaki Belanda yang gila. Orang itu menyimpan kepala para pribumi dalam lemari tersebut selama beberapa tahun. Tentu setelah kepala-kepala itu dicuci dan diawetkan ke stoples berisi cairan khusus. Tidak ada satu orang pun tahu di lemari itu terdapat banyak kepala, bahkan para pembantu yang berjumlah tujuh. Tidak ada yang tahu pula apa motif si Belanda menyimpan kepala orang pribumi yang mati ia bunuh.
    Ketika pria Belanda itu ditemukan meninggal dan tubuhnya setengah membusuk di kamar, mereka menguburnya dan menemukan dalam lemari tua itu ada puluhan kepala manusia. Para pembantu tidak mau mengurus rumah dan lemari mengerikan itu, tetapi mereka mengambil beberapa keping emas sebagai pesangon. Tidak ada anak dan istri membuat rumah si Belanda sinting terbengkalai. Semak belukar dan binatang-binatang liar merajai tempat itu.

Thursday, 31 August 2017

[Cerpen]: "Bus Menuju Peradaban" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 27 Agustus 2017) 

    Seandainya semua bus di dunia hilang, apakah mungkin Mariana masih pergi dari sini? Aku tidak dapat membayangkan sepelik apa urusan mereka yang senang mencari masalah, tetapi enggan menghadapi dan lebih memilih lari, jika semua bus di dunia ini hilang?
    Seandainya itu terjadi, aku tentu senang. Ketika bus-bus tersebut mendadak lenyap, mereka yang akan lari dari tanggung jawabnya akan berpikir ulang, "Kiranya aku dapat mencuri mobil!"
    Barangkali kesialan macam itu tidak terjadi di tempat lain, tapi aku tahu, di dusun ini, kekayaan adalah hal mustahil, kecuali seseorang membawa ilmu sihir di tubuhnya. Sayangnya, orang-orang terlalu beriman untuk tidak tahan terhadap godaan yang tidak terlalu berpengaruh dalam hidup mereka. Sebuah mobil, misalnya, tidak akan memiliki arti di sini, di suatu dusun yang bahkan untuk mengayuh sepeda pun tidak semulus yang kita bayangkan.

[Cerpen]: "Biar Hilang Ditelan Bumi" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Malang Voice, 27 Agustus 2017)
 
    Aku berharap di sekitar sini, suatu hari nanti, terjadi gempa bumi, sehingga kerak bumi retak dan menelan Jeni ke dalamnya. Aku benar-benar berharap kejadian buruk itu terjadi, meski mencintainya.
    Sebenarnya sejak lama aku mencintai Jeni, tapi kurasa dia tak terlalu suka padaku. Dia selalu mengabaikanku di depan orang-orang dan memaksaku merahasiakan seluruh hubungan kami. Tentu saja, 'seluruh' seharusnya kurang tepat, tetapi karena Jeni punya penyakit, kadangkala aku harus berperan menjadi sosok yang lain.

Monday, 28 August 2017

[Cerpen]: "Doa Imo" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Fajar Makassar edisi Minggu, 27 Agustus 2017)
 
    Imo tahu, ia tidak mungkin lari dari para bocah. Pikirnya, dasar bocah kurang ajar. Padahal sekolah, tetapi kelakuan seperti ini? Tentu saja ia tidak berani bicara, atau sebut saja tidak sanggup. Kalaupun bicara, juga tidak akan didengar para bocah itu. Imo cuma ditendang, disiram air es, dan diludahi. Berbagai ledekan datang bertubi-tubi.
    Imo berjalan dan terus berjalan, meski kakinya pincang. Ia menyisir pinggir jalan raya, dan anak-anak tadi masih membuntut. Satu atau dua melempar kerikil. Tetapi yang lain kotoran sapi. Di dekat situ memang ada kebun dan kandang. Kebetulan sekali. Imo merasa hujan bakal turun dan semoga saja bocah-bocah biadab itu pulang, sehingga ia bisa berteduh sekalian di kandang.
    Tapi, brengsek. Mereka tidak pulang dan merebut tempat berteduh yang di-booking Imo dalam pikiran. Memang susah kalau segala ucapan hanya mampir di kepala, belum sempat keluar. Lagi-lagi, kalau keluar, bukannya didengar, malah jadi sasaran empuk kelakuan nakal.

[Cerpen]: "Menelusuri Identitas Lely" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Bromo edisi Minggu, 20 Agustus 2017)
 
    Mudakir berkenalan dengan seorang gadis yang kemudian dia cintai diam-diam. Ia, si gadis itu, tidak bernama. Mudakir tidak peduli meski gadis itu bersumpah tidak akan pernah menyebutkan namanya kepada siapa pun di kota yang baru dia singgahi ini.
    "Memangnya kamu datang dari mana?" tanya Mudakir.
    "Sebuah tempat yang tidak ingin kamu bayangkan."
    Maka, akhirnya Mudakir menyebut gadis itu Lely. Tentu saja nama itu tidak sama persis dengan nama asli sang gadis, dan gadis itu tahu Mudakir tidak akan pernah tahu nama aslinya. Tebakan itu hanya demi memudahkan lelaki itu saat memanggilnya.
    Ketika kami bertemu, yang kuperhatikan dari gadis itu hanya rambutnya. Beberapa helai rambut panjangnya tampak putih seperti uban. Rambut panjang itu seharusnya bisa menjadi indah jika dirawat dengan benar. Lalu, aku curiga bahwa gadis ini mungkin tak cocok untuk Mudakir, karena mungkin dia bukan perempuan baik-baik. Sejauh yang aku tahu, Mudakir selalu mengajak berkenalan gadis mana pun yang kiranya berpeluang dia jadikan istri.

[Cerpen]: "Lena dan Cintanya yang Keras Kepala" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Sumut Pos edisi Minggu, 20 Agustus 2017)
 
    Lena mengajakku kawin lari, karena sudah tak tahan dengan desakan keluarganya yang memintanya menikah dengan orang selain diriku. Aku memang sadar betapa tidak ada kelebihan satu pun di diriku yang patut membuat Lena bangga. Bahkan seharusnya dia malu memiliki pacar sepertiku, yang tidak punya kerjaan tetap dan tidak jelas masa depannya. Hanya saja, sejujurnya aku juga mencintainya dan begitu pula Lena; tak ada di antara kami yang sanggup melepas satu sama lain. Aku pikir ikatan ini terjalin begitu kuat sejak hubungan haram itu kami gelar di suatu kasur di kamar kostku yang kusewa dengan upaya mati-matian,
    Pada hari itu rasanya aku dan Lena telah menyatu dan sulit dipisahkan. Serasa ada tali temali gaib yang jatuh dari langit dan menjerat tubuh kami berdua, lalu kami bersatu menjadi satu badan dengan dua jiwa. Tentu saja ini agak berlebihan, mengingat tak ada di antara kami yang menyukai puisi. Aku hanya senang saja membayangkan bahwa ada ikatan gaib antara kami berdua, dan tidak ada seorang pun yang mampu memotong tali itu, bahkan dengan cara-cara paling berani.

Wednesday, 16 August 2017

[Cerpen]: "Mariana Memutuskan Mati" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Malang Post edisi Minggu, 13 Agustus 2017)
 
    Mariana memutuskan mati. Ia sudah jengkel hidup sebagai penyanyi malam, yang tidak jarang menghadapi gerayangan lelaki nakal atau bos yang bilang performance-nya kurang inilah, kurang itulah—padahal ia tampil sebaik dan semaksimal mungkin, atau teguran tetangga kostnya yang dikenal suka bikin gosip, "Dapat om baru, nih?"
    Kalau tidak salah, sudah empat tahun Mariana memendam rindu pada Ibu dan dua adiknya di kampung. Ia menjalani berbagai jenis pekerjaan, salah satunya penyanyi malam. Ia hibur pengunjung kafe dengan suara indah, sekaligus—kalau ada yang mau dan sanggup bayar—bisa diajak ke mana pun dari pukul 23.00 hingga sebelum subuh.

Saturday, 5 August 2017

[Cerpen]: "Mampir" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Minggu Pagi, edisi Jumat, 28 Juli 2017)
 
    Ben tidak ingin pulang buru-buru, karena gadis kenalannya mengajaknya mampir. Kami menumpang mobilnya dan mulai mengutuk dalam hati, "Betapa anjing kurap ini belum berubah!"
    Semua selalu dalam pengawasanku. Bos meminta kami, aku dan Janus, mengawasi anaknya, Ben, yang sering berbuat ulah. Anak itu bukan semacam bayi yang tersesat di dunia baru, tetapi manusia dari golongan paling keparat yang bisa kau temui.
    Gadis yang dikenal Ben di pesta malam itu adalah Sarmila, yang datang dari suatu desa jauh, yang pergi merantau ke kota dan terjebak di gemerlap dunia malam. Konon, Sarmila sukses dari memeras keringatnya tanpa ampun sebagai penyanyi, dan hasilnya adalah rumah mewah yang bakal kami sambangi.
    "Kita tidak harus mengikutinya," bisik Janus dengan putus asa, sewaktu kami pergi ke tempat parkir. Ben berjalan di depan kami sambil membantu Sarmila karena gadis itu setengah mabuk.

Friday, 28 July 2017

[Cerpen]: "Menelusuri Identitas Diana" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Tabloid Apakabar Indonesia edisi 10/XII 22 Juli - 4 Agustus 2017)
 
    Pagi hari itu terasa lain. Aku bangun dan merasa dadaku sesak. Aku tahu selama ini tidak pernah mengalami gangguan pernapasan. Aku bangkit dari tempat tidur dan mulai berpikir tentang Diana, perempuan yang kusukai diam-diam, tetapi belum kukenal sama sekali.
    Diana mendekam di kepalaku sebulan terakhir, dan kurasa bayang wajahnya sukar hilang dari sana hingga kami benar-benar saling mengenal dan dapat kuungkap perasaan cintaku kepadanya.
    Barangkali memang ini terdengar aneh; aku jatuh cinta pada perempuan yang tidak kukenal, bahkan tidak kutahu sama sekali riwayat hidupnya. Aku juga tidak tahu apakah Diana putri dari keluarga baik-baik, ataukah keluarganya termasuk keluarga tidak beres. Tak ada informasi apa pun tentang Diana, selain namanya, yang kudapat secara rahasia dari seorang tetangga.
    Ini terjadi sebulan terakhir. Aku mencintai seorang gadis yang melintas di jalanan depan apartemenku, dan sejak itu kuputuskan untuk mencari tahu di mana dia tinggal. Tak terlalu sulit membuntuti Diana, sehingga dengan segera kutahu di mana dia tinggal. Pada akhirnya aku juga tahu jam-jam berapa saja saat dia pergi ke mini market sekadar berbelanja kebutuhan pokok setiap empat hari sekali, juga ke mana saja dia berkendara dengan motornya setiap pagi.

[Cerpen]: "Operasi Balas Dendam" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Koran Merapi Pembaruan, Jumat, 21 Juli 2017)
 
    Aku lupa kapan pernah melihat perempuan itu. Ia duduk di sisi tempat tidurku dan memberiku air. Ia bilang, aku harus minum agar tidak mati, dan kalau aku mati, ia tidak bisa menuntut balas. Aku tidak tahu kalau ia menyimpan dendam padaku, bahkan aku tak ingat pernah membuat suatu kesalahan sehingga ia pantas menuntut balas.
    "Aku tidak pernah melukaimu atau membuat gara-gara. Aku tidak pernah berdosa kepadamu," kataku.
    Ia tertawa dan menyuruhku minum. Selesai minum, tubuhku jadi semakin remuk. Aku tidak tahu kenapa bisa ada di tempat asing ini. Kamar yang pengap dan temboknya penuh noktah cokelat. Bau bangkai tikus merebak dari kolong tempat tidur. Barangkali ini tempat yang si perempuan siapkan untuk menuntut dendam yang tidak kutahu apa. Kubayangkan di luar kamar terdapat berbagai macam alat siksaan yang bisa membuatku cacat. Atau jangan-jangan, ia akan membunuhku?
    "Kamu memang tidak pernah salah," katanya kemudian. Ia menyelimutiku dengan kain sarung berbau apek. "Tapi tidak semua kesalahan mengendap begitu saja di kepala dan tidak hilang sampai seribu tahun. Kadang-kadang, kesalahan tak berarti yang kamu lakukan bisa menjadi begitu besar bagi orang lain."
    Aku tak tahu maksud ucapannya, tetapi memutuskan diam. Kupikir perempuan ini sinting dan aku sedang dikurung di rumah orang sinting. Istriku di rumah pastilah tahu aku tidak pulang tepat waktu dan segera menghubungi polisi dan orang-orang yang bisa membantunya mencariku. Aku dalam daftar orang hilang. Tidak lama lagi, perempuan sinting ini ditangkap, setelah tentu dengan mudah semua orang itu menemukan di mana aku ditawan.

[Cerpen]: "Perjalanan Pulang Paling Aneh" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Malang Post, Minggu, 16 Juli 2017)
 
    Malam itu hujan deras. Aku terjebak di halte dekat kantor, yang tidak terlalu ramai di atas jam sepuluh malam. Sudah beberapa hari ini bos marah besar karena baru tertipu orang kepercayaannya. Para pegawai bawahan sepertiku yang akhirnya kena imbasnya. Demi apa pun, masalah-masalah harus dibereskan, dan tindakan ini pun mengorbankan waktu setiap orang.
    Harusnya aku tahu. Membawa motor adalah hal utama sejak bos menambah daftar kerjaan yang harus kuselesaikan dalam sehari. Setumpuk berkas berisi data-data tahun lalu harus kuteliti ulang di tengah upaya mengambil tindakan hukum atas penipuan oleh orang kepercayaannya tadi. Aku tidak pernah bekerja sampai lupa waktu seperti kali ini. Aku bahkan tidak ingat jam berapa terakhir kali menyeduh kopi di pantry.

Tuesday, 11 July 2017

[Cerpen]: "Minggat" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu, 9 Juli 2017)
 
    Aku memutuskan menumpang kendaraan orang saja, ketimbang jalan kaki sekian kilo jauhnya. Aku jelas tidak akan sanggup. Lagi pula aku juga baru melahirkan, meski bayi yang seharusnya tumbuh itu malah mati sia-sia. Jadi, dalam kondisi nyaris putus asa, aku pergi dengan membawa sedikit barang dan secara sadar meninggalkan suamiku yang kasar. Dengan seseorang memberiku tumpangan, tidak lagi kehidupanku seburuk yang sudah-sudah.
    "Aku harus segera keluar dari area sini, sebelum suamiku tahu dan akhirnya diriku kembali dibawa pulang," kataku ke seorang sopir truk yang kucegat.
    Sopir truk itu kelihatannya berbudi luhur. Dia berkacamata dan bertampang seperti tidak pada tempatnya. Maksudku, sejauh yang aku tahu, sopir truk biasanya adalah para lelaki hidung belang yang senang melihat wanita cantik atau setidaknya senang dengan pikiran kotor mereka tentang wanita. Dan entah bagaimana aku tahu sopir berkacamata ini bukan jenis lelaki yang seperti itu.
    Tentu saja aku harusnya sadar betapa tidak semua sopir truk adalah hidung belang. Tidak semua lelaki adalah setan. Tidak semua dari mereka bertangan besi sebagaimana suamiku selama ini. Jadi, dengan keyakinan baru yang kucoba memakluminya ini, aku pun naik ke truk tersebut dan mengucap terima kasih sebelum akhirnya sopir tersebut bertanya, "Ke mana tujuan Anda?"
    "Wah, saya juga tidak tahu."
    Pada saat itu truk sudah melaju dan jalanan di kiri kanan yang berupa hutan. Sopir berkacamata itu tidak bertanya apa-apa selain menawariku air minum dan sepotong roti isi cokelat. Dia bilang, sebenarnya baru pertama kali ini melewati hutan ini dan bertemu seorang wanita yang lari ketakutan dari suaminya sendiri.

[Cerpen]: "Maria Pergi ke Angkasa" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Analisa Medan, Minggu, 9 Juli 2017)
 
    1/
    Sejak kecil saya bercita-cita pergi ke angkasa. Tapi banyak orang mengira saya gila dan menyuruh saya ke dokter; siapa tahu otak saya rusak atau mungkin di tempurung kepala saya tidak ada otak sama sekali. Kecuali astronot, kata mereka, tidak ada yang bisa ke angkasa!
    Saya tahu saya bisa ke angkasa, walau bukan astronot dan belum pernah ke sana, kata saya. Suatu hari nanti, lihatlah, saya ke sana seperti Bapak saya.
    Bukannya mendukung, mereka malah tertawa. Padahal mereka tahu Bapak saya di angkasa. Beberapa hari setelah itu, saya ditaruh di kandang babi. Baunya tidak enak dan saya berak di sana, juga kencing dan makan di sana. Semua saya lakukan di sana setelah saya ditangkap dan dipukuli ramai-ramai. Saya dipasung karena melukai siapa pun yang meledek saya.
    Akhir-akhir itu sebilah pisau tidak lepas dari tangan. Sembari memandang angkasa, saya genggam pisau itu erat-erat dan menjilatnya. Dalam setiap jilatan, saya merasa ada Bapak di angkasa.
    "Wahai Bapak," kata saya, "coba turun dan bilang ke mereka kalau gadis sepertiku, betapapun tak berotak, juga bisa ke angkasa."
    Tetapi, Bapak yang konon mati dan dikubur entah di mana, tidak bisa menjawab.

Friday, 9 June 2017

[Cerpen]: "Sampai Tua dan Mati" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Lombok Post edisi Minggu, 4 Juni 2017)
 
    Setiap malam aku selalu berjalan berkeliling rumah mewah peninggalan almarhum suamiku. Biasanya satu malam kuhabiskan menelusuri ruang tertentu dalam rumah, tapi aturan itu tidak selalu berlaku. Kadang-kadang aku hanya suka berjalan saja dari ruang satu ke ruang berikut, tanpa memikirkan apa-apa, sampai azan subuh terdengar.
    Rumah ini memang sangat besar. Setiap ruangnya bahkan dapat menampung lebih dari lima puluh orang, jika memang dibutuhkan. Hanya saja, sejak kami menikah, sebab aku tidak bisa mengandung bayi, rumah ini tetap sepi. Beberapa pembantu memang ikut tinggal di sini, tapi mereka tidak dapat meramaikan rumah.
    Suatu ketika, sebelum meninggal, suamiku mengeluh, "Betapa sia-sianya rumah ini. Kita tidak bisa memenuhi ruang-ruangnya dengan banyak orang, kecuali tamu-tamuku yang kadangkala datang sekadar untuk keperluan bisnis."
    Aku sendiri tahu aku tumbuh dari keluarga tak berpunya. Beberapa kerabatku gila, dan semua orang tahu itu, sehingga pergaulan di desa dengan orang-orang sekitar tidak memberiku banyak kenyamanan. Keluargaku sendiri tidak peduli soal itu, meski semua orang menganggap kami keluarga tertutup dan tidak bisa diharapkan.

[Cerpen]: "Hotel Tua" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto edisi Minggu, 4 Juni 2017)
 
    Ada yang tidak beres di kepala resepsionis yang memberiku kunci kamar nomor 21. Ia tidak ramah dan tidak sepenuhnya mengerti yang kukatakan, dan hanya mengangguk sekenanya saat kubilang, "Teman saya tadi datang."
    Tentu kujelaskan identitas temanku tersebut, beserta segala ciri, yang kutahu sangat mudah dihafal oleh siapa pun yang tidak temanku kenal. Temanku itu memang unik; dia seniman yang senang menyebut coretan-coretan tak berarti sebagai barang berharga dan suatu hari nanti dapat digunakan untuk membeli dunia. Ia juga senang bicara dan pamer bahwa karyanya sering dipamerkan secara eksklusif di tempat-tempat terkenal, di dalam maupun luar negeri. Intinya, tidak ada yang harusnya merasa kesulitan mengenali orang macam temanku.
    Bagaimana dapat kusebut beres? Bahkan, untuk mengenali seniman seunik itu saja, seorang resepsionis tidak mampu? Ia cuma menggeleng dan mengangkat sebelah tangan tanda tidak tahu.
    Tetapi, aku tidak protes atau bertanya lagi pada resepsionis aneh itu. Aku putuskan langsung ke kamar nomor 25, yang tidak jauh dari nomor kamar yang kusewa. Temanku baru saja mengirim pesan, "Di kamar 25."
    Tepat saat itu, resepsionis yang kubicarakan justru mengangkat telepon dan mulai mengobrol panjang lebar dalam bahasa santai, seakan-akan tidak ada tamu di depannya. Seakan-akan aku tidak dianggap atau seakan-akan hotel ini semacam toilet umum yang dapat dipakai sesuka hati oleh siapa pun dan untuk keperluan apa pun. Aku tidak tahu hotel macam apa yang kusinggahi sebagai tempat bermalam ini, tapi mungkin memang cocok untuk tujuanku kemari. Dan barangkali memang hotel rusuh macam inilah yang temanku dambakan.

Friday, 26 May 2017

[Cerpen]: "Lelaki di Halte yang Kelak Menjadi Legenda" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Tribun Jabar edisi Minggu, 21 Mei 2017)
 
    Di suatu halte, seorang lelaki sedang berdiri menunggu kekasihnya. Ia berdiri tanpa alasan yang lebih baik selain menunggu seorang kekasih, meski telah banyak yang tahu bahwa kekasihnya sudah meninggal setahun lalu dalam kebakaran. Lelaki itu barangkali sudah gila, tetapi anggap saja dia waras dan hantu kekasih yang datang di saat tertentu adalah kenyataan.
    Bicara tentang kenyataan, aku sadari banyak kenyataan kadang terdengar aneh atau tidak masuk akal. Termasuk soal si lelaki yang menunggu kekasihnya di halte. Lelaki itu tidak pernah menyebut nama, tapi setiap orang di sepanjang jalan ini mengenalnya dan akan bersaksi pernah melihat pacar lelaki itu mati di depan mata mereka.
    "Dia benar-benar sudah mati. Tubuhnya gosong dan kaku, dan sekarang lelakinya menunggu di halte seperti apa yang dulu mereka janjikan," tutur salah seorang saksi.
    Bicara tentang janji, ada fakta yang membuatku ingin menangis, yakni janji lelaki itu adalah janji terakhirnya. Ia mungkin tahu betapa meninggalnya sang kekasih di suatu tempat di ujung jalan ini adalah cara takdir mencegahnya menepati janji, dan saat semua seharusnya mulai kembali seperti semula—jasad gadis itu selesai dikubur dan ditangisi, dan roda kehidupan di sekelilingnya bergeliat sekali lagi—lelaki kekasihnya tetap diam di tempat.

[Cerpen]: "Pengelana dan Uang Ajaib" karya Ken Hanggara

Dimuat di basabasidotco, Jumat, 19 Mei 2017)
 
    Sudah bertahun-tahun jauhnya aku berkelana, tetapi uang di koperku tidak pernah habis. Aku suka berkhayal suatu hari nanti uangku habis dan aku bisa mulai beristirahat di tempat yang tenang dan jauh dari peradaban sampai tua.
    Aku sering berkhayal dan tertawa senang selama proses berkhayal ini, tetapi ketika sadar dan tahu keadaanku yang jauh dari cerita khayalan itu, aku mulai mual. Tidak ada pilihan selain melanjutkan perjalananku. Mungkin aku tidak ditakdirkan berhenti. Meski kubagi-bagikan semakin banyak uang ke semakin banyak orang, Tuhan tidak ingin aku berhenti.
    Aku tak ingat kapan pertama kali pergi meninggalkan rumahku dengan membawa koper berisi banyak uang. Aku bahkan tak ingat bentuk teras rumahku, yang mungkin saja sekarang sudah lapuk atau roboh dan digantikan oleh bangunan semacam mall. Aku tak pernah pulang sejak keberangkatanku yang pertama, dan segera mengetuk satu demi satu pintu untuk membagikan uang.

[Esai]: "Membaca Membuka Jendela Dunia" karya Ken Hanggara


(Dimuat di Rakyat Sultra edisi Senin, 15 Mei 2017)
Membaca membuka jendela dunia. Ungkapan ini sudah sering kita dengar, tapi di kehidupan nyata, tidak semua dari kita mampu menerapkan makna sebenarnya di balik ungkapan tersebut.
Ini didasari oleh mindset yang sejak awal sudah salah. Barangkali kita bisa dengan mudah menyebut 'membaca itu untuk membuka jendela dunia', tapi faktanya kita sendiri enggan menghabiskan waktu untuk membaca, karena beberapa faktor seperti malas, tak ada waktu, dan sebagainya.
Dari kebiasaan, akhirnya timbul halangan tersendiri di diri kita, bahwa membaca itu bukan hal utama dalam hidup atau bukan sesuatu yang bersifat universal. 'Membuka jendela dunia' pun jadi sekadar suatu ungkapan yang hanya betah berkelindan di bibir, tanpa pernah diterapkan di kehidupan sehari-hari.
Kenyataan di lapangan menunjukkan betapa sebagian mahasiswa atau guru justru tidak punya hobi membaca. Mindset membaca sama dengan belajar, atau membaca adalah tugas sekolah, atau bahkan membaca hanyalah usaha menghasilkan nilai-nilai akademik, menempatkan posisi 'membaca' ke kedudukan yang tidak terjangkau di mata sebagian orang. Membaca pun lantas dianggap sesuatu yang formal belaka, yang perlu dilakukan demi tujuan akademik semata, dan tidak lebih dari itu.

Tuesday, 16 May 2017

[Cerpen]: "Sihir Bola" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Bromo edisi Minggu, 14 Mei 2017)
  
  Bola yang menggelinding di pinggir lapangan akhirnya berhenti. Anak-anak saling rebutan mengambil dan melemparkannya ke seorang pemain tengah, Mugeni namanya, agar dapat kesempatan diajak main minggu depan.
    Tapi tentu bagi Mugeni mereka tidak selevel. Tingkatnya jauh di atas dukun paling sakti di kampung. Tidak ada yang lebih pandai mengendalikan bola ketimbang dirinya, termasuk angin.
    Sore ini angin berembus lumayan kencang dan menjatuhkan beberapa motor dan sepeda pancal di parkiran. Lapangan busuk, kata Bung Dakir, rekan setim Mugeni, yang sering kali iri pada orang yang dibilang sahabatnya sendiri itu.
    Mugeni memang sakti. Kalau kata orang, kesaktiannya setara legenda Maradona, meski sesungguhnya ia memang sakti dalam arti sebenar-benarnya. Tapi, pemain tengah top turnamen ini tidak mau sibuk-sibuk membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia guna menunjukkan makna kata 'sakti' secara nyata, demi penegasan diri. Tidak. Cukup Bung Dakir saja yang tahu.

[Cerpen]: "Murah Mart" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Rakyat Sumbar edisi Sabtu, 29 April 2017)
   
 Orang kecil mesti pilih-pilih kalau mau belanja, harus hemat. Apalagi anak-anakku nakal. Mereka maunya makan yang enak-enak. Anak dapat rangking, orangtua mana yang tak bangga? Aku juga mau anak-anakku pintar, berprestasi. Tapi, bagaimana kami beli makanan enak yang konon mahal? Sekadar tahu tempe saja sulit. Mereka merengek dan bertanya kapan Ibu belikan makanan enak? Atau, kapan kami rangking satu?
    Suatu waktu, temanku Nani mengajakku ke suatu tempat. Yang lewat di pikiranku adalah: dia mengajakku ke rumah bosnya. Tempat itu luas. Ada beberapa truk terparkir. Kok bisa Nani punya pekerjaan sampingan tanpa takut ketahuan bos kami? "Bukan, Mar. Ini bukan rumah bos baruku. Ini rumah Pak Dermawan," jawabnya usai kuberondong dia dengan berbagai pertanyaan.

Thursday, 4 May 2017

[Cerpen]: "Pencuri Otak" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Malang Post edisi Minggu, 30 April 2017)

    Berita itu menggemparkan: Jun kehilangan otak. Sudah pasti, otak itu dicuri orang. Ia bocah pintar, jauh lebih pintar ketimbang anggota dewan, barangkali. Maka segenap pasukan dikerahkan demi menyisir seluruh tempat. Tugasnya: mencari di manakah otak Jun.
    Tidak ada petunjuk. Pencarian buntu di hari keempat. Hujan tidak putus-putus, dan Pak RT—sebagai pemegang komando misi pencarian otak sang jenius—jatuh sakit sore itu. Tugas berat gagal total dan ia terancam jadi omongan.
    Tak ada yang lebih geram ketimbang Pak RT. Seseorang mencuri otak orang jenius. Kalau Jun mati, bisa celaka. Tidak ada lagi liputan TV, tidak ada lagi wisata dadakan para penggemar ilmu pengetahuan, serta tentu tidak ada lagi pemasukan buat kas RT.
    Jun sekarat di kamarnya empat hari.
    Ibunya cuma bisa menangis. Tidak ada saksi ketika kejadian. Mungkin saja pencuri itu masuk kamar Jun tengah malam dan diam-diam membelah otaknya. Sebagai orang jenius, Jun disayangi, tapi sampai sejauh itu belum satu pun orang diberi izin memeriksa luka di kepalanya.
    Ibu Jun berkata sinis, "Luka apa? Jangan bicara luka. Sayalah yang terluka di sini. Tidak ada Jun, saya tidak makan!"
    Orang-orang mafhum betapa sejak bapak Jun mati, yang cari uang di keluarga itu cuma Jun. Selain membuka les privat, jenius itu menerima uang dari tampil di televisi dan seminar. Kakaknya yang pemalas bergantung pada Jun. Kerjaan si kakak sehari-hari menembak burung dan dijual di pasar. Uangnya dipakai judi—atau menyewa pelacur.

Saturday, 15 April 2017

[Cerpen]: "Neraka di Kepala Mama" karya Ken Hanggara

 (Dimuat di Sumut Pos edisi Minggu, 9 April 2017)

    Bagi anak di seluruh dunia, rumah adalah tempat teraman, tetapi bagi Sani, rumah itu neraka. Tempat orang jahat membuat siksaan supaya anak sepertinya jera dan tidak meminta mainan.
    Sani tidak punya mainan, tetapi dia ingin. Seperti teman-teman di sekolah, Sani berharap suatu hari Papa pulang dan membawakannya mainan. Mungkin sebuah remote control, atau paling tidak papan monopoli, sehingga di permainan yang seru, dia bisa belajar berhitung.
    Bagi Mama, Sani anak bodoh. Sani itu bencana. Mama berulang kali bilang kepada semua orang tentang hal ini dan terus menerus meyakinkan mereka. Tentu saja, mereka seakan percaya bahwa Sani adalah tsunami dalam hidup mamanya. Mainan apa pun tak akan berguna bagi anak itu.
    "Gara-gara Sani, suamiku mati. Gara-gara anak sial itu sekarang hidupku miskin!" kata Mama selalu.

Thursday, 6 April 2017

Dibuka Pre Order Kumpulan Cerpen Tema Cinta: "Babi-Babi Tak Bisa Memanjat"



Buku terbaru saya ini siap kamu miliki. Isinya 17 cerita cinta dari berbagai sudut pandang. Ada cinta pada dunia, pada kekasih, atau apa pun. Semua tentang cinta. Tentu saja tidak semua cinta dalam buku ini bisa atau bahkan harus dipahami. Beberapa malah tak perlu. Bukankah memang selalu begitu?

[Cerpen]: "Markonah ke New York dan Tak Kembali" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Radar Mojokerto edisi Minggu, 2 April 2017)
 
    Mugeni bercerita tentang pacarnya yang pergi ke New York dan tak kembali. Dari awal ini memang tidak wajar, karena setahuku Mugeni tidak pandai berbahasa Inggris. Teman-teman lain mengira ia semakin sinting.
    "Tapi benar, pacarku itu minggat ke New York!" katanya selalu.
    Mugeni memang begitu. Jangan heran jika suatu hari kau lihat dia duduk di depan kios fotokopi Haji Samak, dan dia memegang sendok plastik sambil berkhayal dengan itu ia bisa terbang menjemput pacarnya. Mugeni mengaku sang pacar pintar berbahasa Inggris dan berdarah asli Jombang. Lulus SMA, si pacar terbang ke New York untuk sebuah cita-cita. Mugeni mengenal pacarnya ketika ia membeli buku bekas di Surabaya.
    Aku sendiri tidak begitu percaya waktu mendengar cerita ini. Coba saja kau pikir, setan mana membisiki Mugeni hingga ia rela menghabiskan uangnya yang tidak banyak itu demi sebuah buku?
    Mugeni berkeluh kesah, ia butuh buku tentang cara menarik hati perempuan. Dan di hari yang sama, ketika dengan semangat ia menelusuri setiap rak buku di suatu jalan dekat Stasiun Pasar Turi, ia bertemu Makonah.
    Pertemuan dengan Markonah, yang konon pintar berbahasa Inggris, sempat bikin si Mugeni hilang arah. Mugeni biasa bantu-bantu jadi tukang parkir di sebuah mini market, dan saat itu sebuah mobil hendak mundur setelah pembelinya selesai membeli sebotol air mineral. Karena Mugeni melamun, sebuah motor yang muncul dari gang menyambar bodi belakang mobil tersebut hingga penyok dan si orang kaya yang hanya membeli air mineral di mini market pun ngamuk tak keruan. Pengendara motor kena maki, Mugeni kena damprat.

[Cerpen]: "Suatu Malam Ketika Para Anjing Bosan Menjadi Anjing" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Padang Ekspres edisi Minggu, 2 April 2017)
 
    Barangkali anjing-anjing bosan menjadi anjing. Pada suatu malam, mereka ketuk pintu kamarku, dan ketika kubuka pintu dengan setengah mengantuk, yang kusaksikan adalah sekelompok manusia berkepala anjing.
    Sebenarnya tetap saja mereka adalah anjing, karena aku sadar betul untuk apa aku hidup di rumah busuk ini seorang diri. Aku mengurus anjing-anjing yang telantar karena sejak dilahirkan memang sudah liar, atau beberapa dari mereka dibuang oleh pemiliknya gara-gara sakit. Aku mencintai anjing dan untuk alasan itulah kulakukan ini.
    Jadi, aku tinggal bersama belasan anjing yang kurawat dengan sangat baik, lalu pada suatu malam, mereka ada di depan pintu kamarku dan berdiri dengan badan tegap. Aku membayangkan kegilaan menyerangku. Setelah Maria pergi dan menikah dengan mantan kekasihnya yang politisi, aku kira hidupku mungkin berakhir tidak lama lagi.
    Suatu ketika, di meja pojok salah satu kafe, aku menyendiri dan membatin, "Dulu kamu pernah berjanji padaku untuk merawat anjing-anjing itu sampai tua, dan kita tidak perlu memiliki anak, sebab anjing-anjing juga tahu dan memahami kasih sayang. Anjing juga mengerti arti kesetiaan."

[Cerpen]: "Hilangnya Anak Penjaga Mercusuar" karya Ken Hanggara

(Dimuat di Suara  NTB edisi Sabtu, 1 April 2017)
 
    Aku berdoa Brenda tidak hilang atau mati dimakan binatang buas di hutan itu. Aku tahu aku bermimpi melihatnya terbang di antara dahan-dahan, dan hinggap pada puncak mercusuar yang ada di tepi tebing, persis di sisi hutan sebelah selatan. Aku tahu mimpi tidak selalu memproyeksikan kenyataan, tetapi kurasa tidak ada salahnya berdoa.
    Aku terus berdoa. Dari pagi hingga malam, dan sesekali mengutuki kelalaianku di saat menjaga anakku sendiri. Brenda tidak pernah mengerti nasihat-nasihat soal hutan dan binatang buas. Dia hanya tahu di luar sana ada begitu banyak kejadian dan hal aneh. Dan baginya, itu dapat mengusir rasa bosan.
    "Kamu jangan ke sana," kataku berkali-kali, tetapi aku tahu, di tiap anggukan dan diamnya, Brenda menyimpan rencana-rencana.

Tuesday, 14 March 2017

[Cerpen]: "Cermin Manipulasi" karya Ken Hanggara



(Dimuat di Radar Banyuwangi edisi Minggu, 12 Maret 2017)

Sarmila senang melihat cermin besar dipajang di ruang tengah rumahnya. Ia tidak memesan cermin. Tetapi ia pikir, mungkin ini dari penggemar. Orang yang memendam perasaan suka, yang tidak berani berbicara padanya. Orang yang lama dirindukan, tetapi tidak kunjung datang.
"Dia pasang cermin ini diam-diam," Sarmila menduga. "Dia kirim cermin ini tanpa memberitahuku, sehingga saat aku bertanya siapa yang menaruh cermin hebat ini di sini, dia datang melamarku."
Sarmila bahagia dengan kesimpulan yang belum tentu benar ini. Alih-alih ke kamar mandi, dia berpose di depan cermin, membebat handuk di kepala seakan-akan mahkota, jalan lenggak-lenggok persis peragawati di televisi. Dipandangi wajahnya lamat-lamat. Cantik, ia berbisik. Geli didengar, tetapi enak. Dicobanya ekspresi menggoda biduanita desa—yang ia anggap pelacur, atau ekspresi polos nan lugu yang banyak digemari para pemuda.
Senyum mengembang di bibir setebal martabak itu. Bola matanya berputar ke sana kemari mengamati tiap inci cermin 60 x 100 senti. Menarik napas dalam-dalam, Sarmila terharu. "Orang itu paham diriku sebagai wanita yang ingin dimengerti. Beginilah lelaki sejati. Ia tahu wanita dan memang ia pantas mendapatkanku."